NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Mamba Hitam

Rahasia Sang Mamba Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Joko Joko

Ayla Prameswari, instruktur latihan keras dengan nama sandi Mamba di Pulau Seraya, terpaksa kembali ke Jakarta setelah sinyal misterius Berkas 531 muncul dekat keluarga kandungnya. Di rumah mewah Prameswari, ia berhadapan dengan orang tua yang lebih menyayangi Alina, anak angkat yang pandai bersandiwara lembut. Ternyata yayasan amal keluarga menyembunyikan jalur obat eksperimen ilegal berdarah. Saat Ayla menyelidiki, Arga Wiratama, penyidik khusus yang pernah ia tembak tiga tahun lalu, datang menawarkan kerja sama. Antara dendam masa lalu, rahasia keluarga, dan kasus mematikan—siapa yang sebenarnya bersembunyi di balik topeng baik hati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joko Joko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 08 - Parkiran Belakang

Sore itu orientasi selesai lebih cepat untuk kelompok animasi.

Secara resmi, karena panitia harus melakukan evaluasi internal.

Secara tidak resmi, karena Bu Ratri muak melihat Dimas, Vira, dan Alina menangis bergantian seperti audisi drama kampus.

Nisa berjalan di samping Ayla menuju gerbang.

“Aku masih deg-degan,” katanya.

Ayla menggigit es krim yang dibeli dari minimarket kampus. “Kenapa?”

“Kenapa? Ayla, kamu hampir bikin senior perang saudara.”

“Tidak hampir. Mereka belum cukup pintar untuk perang.”

“Itu bukan hal yang menenangkan.”

Ayla melihat ponsel. Pesan dari Maya masuk.

Arga Wiratama menanyakanmu lewat jalur resmi. Hati-hati. Dia bukan polisi biasa.

Ayla membalas: Aku tahu. Bahunya pernah kutembak.

Balasan Maya datang cepat.

Tentu saja. Kenapa aku masih terkejut?

Ayla menyimpan ponsel.

Nisa meliriknya. “Kamu dijemput?”

“Tidak.”

“Mau naik ojol lagi?”

“Mungkin.”

“Aku biasanya lewat parkiran belakang, lebih dekat ke halte. Mau bareng?”

Ayla berhenti sebentar.

Parkiran belakang.

Dalam struktur tempat seperti kampus, parkiran belakang selalu punya fungsi yang sama di seluruh dunia: tempat orang bodoh mencoba mengancam orang yang mereka kira lebih lemah.

“Boleh.”

Nisa tampak senang. “Ayo.”

Mereka berjalan melewati gedung studio, kantin kecil, lalu lorong samping yang mulai sepi. Mahasiswa baru lain kebanyakan keluar lewat gerbang utama. Di parkiran belakang, hanya ada beberapa mobil, motor, dan pohon besar yang membuat sudut-sudut tertentu tidak terlihat dari pos satpam.

Ayla mencium masalah sebelum melihatnya.

Empat laki-laki berdiri dekat tembok. Bukan mahasiswa baru. Usia awal dua puluhan. Pakaian mereka kasual, tetapi sepatu dan cara berdiri mereka bukan tipe anak kampus yang sekadar nongkrong.

Nisa langsung melambat.

“Ayla...”

“Di belakangku.”

“Apa?”

“Sekarang.”

Nisa menurut tanpa bertanya lagi.

Salah satu laki-laki maju. Rambutnya dicat cokelat, senyumnya miring. “Ayla Prameswari?”

Ayla menghabiskan es krim, lalu membuang stik ke tempat sampah kecil di dekat tiang.

“Kalau salah orang, kalian malu.”

Pria itu tertawa. “Galak juga. Kami cuma mau ngobrol.”

“Biasanya orang yang mau ngobrol tidak menunggu di parkiran sepi.”

“Kamu bikin teman kami menangis.”

“Temanmu siapa?”

“Kak Vira.”

Nisa berbisik, “Itu senior tadi.”

Ayla mengangguk. “Kak Vira punya selera buruk dalam memilih tukang pukul.”

Wajah pria itu mengeras.

Laki-laki kedua mengangkat ponsel, mulai merekam.

Ayla melihatnya dan tersenyum.

“Bagus. Rekam dari awal.”

Pria pertama melangkah lebih dekat. “Dengar, ya. Di kampus ini, jangan sok jago. Kak Alina orang baik. Kak Vira juga. Kamu anak baru, tahu diri sedikit.”

Ayla menatapnya. “Kamu dibayar berapa?”

“Apa?”

“Untuk bicara sepanjang ini.”

Pria itu kehilangan sabar. Tangannya terulur hendak mendorong bahu Ayla.

Ayla bergerak.

Tidak cepat menurut standar Besi Kelabu. Sangat cepat menurut standar parkiran kampus.

Dia menangkap pergelangan pria itu, memutar sedikit, lalu menekan titik di siku. Tubuh pria itu langsung berlutut dengan wajah berubah kesakitan.

“Aduh! Lepas!”

Ayla menunduk. “Aku belum mulai.”

Tiga lainnya bergerak.

Nisa menjerit kecil.

Ayla menarik pria pertama sebagai penghalang, menendang lutut laki-laki kedua sampai dia jatuh, lalu merebut ponselnya sebelum menyentuh aspal. Laki-laki ketiga mencoba memukul dari samping. Ayla menghindar setengah langkah dan menepuk tengkuknya dengan buku jari. Tidak keras, tetapi cukup membuatnya kehilangan keseimbangan dan menabrak mobil.

Alarm mobil berbunyi nyaring.

Laki-laki keempat berhenti.

Ayla menatapnya.

“Lanjut?”

Dia menggeleng cepat.

“Pintar.”

Semua terjadi kurang dari sepuluh detik.

Nisa berdiri dengan mulut terbuka.

Ayla melepaskan pria pertama. Dia jatuh terduduk, memegang tangan sendiri.

“Kalian tidak patah,” kata Ayla. “Jangan drama.”

Pria kedua yang lututnya kena tendang mengumpat. “Kamu gila!”

Ayla membuka ponsel yang tadi dipakai merekam. Layarnya belum terkunci. Video berjalan dari awal. Dia memutar ulang sekilas. Sudutnya jelas memperlihatkan mereka mengadang lebih dulu.

“Lumayan.”

Pria pertama panik. “Balikin!”

Ayla memasukkan ponsel itu ke saku jaket.

“Ambil di kantor satpam.”

Dia menoleh pada Nisa. “Ayo.”

Mereka baru berjalan beberapa langkah ketika suara perempuan terdengar.

“Ayla!”

Vira muncul dari ujung parkiran bersama Dimas dan dua panitia lain. Wajahnya panik, tetapi begitu melihat empat laki-laki itu tergeletak, paniknya berubah menjadi kemarahan.

“Kamu ngapain?!”

Ayla berhenti. “Olahraga ringan.”

Dimas berlari ke arah laki-laki yang terduduk. “Kalian nggak apa-apa?”

Vira menatap Ayla dengan mata merah. “Kamu benar-benar kasar. Mereka cuma mau bicara.”

Nisa langsung bersuara, walau suaranya gemetar. “Mereka menghadang kami. Satu orang mau dorong Ayla.”

“Kamu temannya, pasti membela dia,” kata Vira.

Ayla mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menggoyangkannya.

“Ada video.”

Wajah Vira berubah lagi.

Dimas berdiri. “Video apa?”

“Video teman-teman Kak Vira mengadang mahasiswa baru di parkiran belakang.”

Vira cepat berkata, “Mereka bukan temanku. Aku cuma kenal.”

Ayla menatapnya.

“Cepat sekali putus hubungan.”

Pria berambut cokelat menatap Vira dengan marah. “Vir, kamu bilang cuma suruh nakut-nakutin.”

Semua orang diam.

Dimas menoleh pada Vira. “Apa?”

Vira pucat. “Aku... aku tidak...”

Ayla menekan play.

Suara pria itu terdengar jelas di video: Kamu bikin teman kami menangis. Kak Vira.

Lalu adegan dia mengulurkan tangan lebih dulu.

Dimas melihat video itu sampai selesai. Wajahnya berubah dari marah menjadi bingung, lalu kecewa.

“Vira.”

Vira menangis. “Aku cuma kesal. Dia mempermalukan aku di depan semua orang. Aku tidak menyuruh mereka menyentuhnya.”

Ayla berkata, “Kalau begitu kamu harus memilih orang yang lebih patuh.”

Nisa menatap Ayla dengan ekspresi: tolong jangan bantu memperburuk.

Suara langkah cepat datang dari arah gedung. Bu Ratri muncul bersama dua satpam.

“Apa lagi sekarang?”

Nada suaranya lelah.

Ayla mengangkat tangan. “Bu, saya menjalankan versi kampus.”

Bu Ratri melihat empat laki-laki di tanah, Vira menangis, Dimas pucat, Nisa gemetar, lalu Ayla yang tampak paling santai.

“Versi kampus yang mana?”

“Bukti dulu.”

Ayla menyerahkan ponsel.

Bu Ratri menonton video. Wajahnya makin gelap. Dia menatap satpam. “Bawa mereka ke pos. Hubungi kepala keamanan kampus.”

Vira menangis lebih keras. “Bu, saya salah. Tapi jangan lapor polisi. Saya bisa kena sanksi.”

Bu Ratri menatapnya dingin. “Kamu membawa orang luar untuk mengintimidasi mahasiswa baru. Kamu masih memikirkan sanksi?”

Dimas tidak berkata apa-apa.

Alina datang beberapa menit kemudian, tampaknya setelah menerima kabar. Dia berlari kecil dengan wajah cemas.

“Apa yang terjadi?”

Vira langsung melihatnya seperti melihat penyelamat. “Lin...”

Alina memegang tangan Vira. “Vira, kamu kenapa?”

Bu Ratri berkata tegas, “Vira membawa orang luar untuk menghadang Ayla.”

Alina menutup mulut. “Ya Allah... Vira, kenapa kamu melakukan itu?”

Ayla bersandar pada tiang, menonton.

Vira menangis. “Aku cuma... aku cuma tidak terima dia memperlakukanmu seperti itu.”

Alina menggeleng, air mata muncul. “Aku tidak pernah minta kamu membelaku dengan cara begini.”

Sekali lagi.

Tameng yang sama.

Namun kali ini, Dimas menatap Alina dengan sedikit berbeda.

Mungkin karena pola itu mulai terlihat.

Ayla berkata pelan, cukup untuk didengar semua orang, “Kak Vira memang setia. Dua kali jatuh sendirian dalam satu hari.”

Alina menoleh. “Kak Ayla, tolong jangan memperkeruh keadaan.”

“Aku? Aku tadi mau pulang.”

Bu Ratri mengangkat tangan. “Cukup. Semua ikut ke ruang fakultas.”

Nisa mengangkat tangan pelan. “Bu, saya juga?”

“Kamu saksi.”

Nisa hampir menangis.

Ayla menepuk bahunya. “Tenang. Saksi biasanya tidak dipenjara.”

“Biasanya?”

“Aku belum hafal aturan kampus.”

Nisa tampak makin panik.

Mereka berjalan menuju gedung fakultas. Di belakang, satpam membawa empat laki-laki itu. Salah satunya masih mengeluh lutut sakit.

Ayla meliriknya. “Kalau mau pura-pura pincang, kaki yang sakit jangan ganti-ganti.”

Pria itu langsung diam.

Alina berjalan di depan bersama Vira. Bahunya tampak gemetar, seperti sangat terpukul.

Namun saat melewati kaca gedung, Ayla melihat pantulan wajah Alina.

Tidak sedih.

Marah.

Ayla tersenyum.

Bagus.

Topeng yang retak selalu lebih menarik daripada topeng yang sempurna.

Di ruang tunggu fakultas, Nisa duduk sambil memeluk tasnya. Dia beberapa kali membuka mulut, lalu menutup lagi.

Ayla meliriknya. “Kalau mau tanya, tanya.”

“Kamu tadi... sudah biasa menghadapi orang seperti itu?”

“Orang bodoh di parkiran?”

“Orang yang mau menyakitimu.”

Ayla diam sebentar.

Di Pulau Seraya, orang yang ingin menyakitinya tidak datang membawa ponsel untuk merekam. Mereka datang membawa senjata, kontrak pembunuhan, atau rasa putus asa yang membuat manusia lupa cara mundur.

Empat laki-laki tadi bukan ancaman.

Mereka hanya anak-anak besar yang percaya pada keberanian sewaan.

“Tidak semua orang yang mengancam bisa menyakiti,” kata Ayla.

Nisa menatapnya. “Tapi tetap saja menakutkan.”

“Untukmu, iya.”

“Untukmu?”

Ayla tersenyum. “Untukku, mengganggu jadwal pulang.”

Nisa menunduk, lalu tertawa kecil meski wajahnya masih pucat. “Aku tidak tahu harus khawatir atau kagum.”

“Pilih yang membuatmu tidak pingsan.”

Pintu ruang fakultas terbuka. Bu Ratri memanggil mereka masuk satu per satu. Saat nama Ayla disebut, seluruh koridor langsung diam.

Ayla berdiri.

Nisa memegang ujung jaketnya. “Ayla.”

“Hm?”

“Kalau nanti aku diminta jadi saksi, aku akan bilang yang sebenarnya.”

Ayla menatap tangan kecil yang menggenggam jaketnya itu.

Lalu dia mengangguk.

“Itu sudah cukup.”

1
Osie
masih penuh misteri tapi seru..gak bosan nulis up lanjutannya thor💪💪💪💪💪💪
Bonny Liberty
cerita elit,cerdas,no menyerang.. menye...semangat!!!!!
Osie
up lagi ya thoorr🙏🙏🙏🙏🙏 ceritanya bagus bangeett..suka suka suka suka
Osie
datang lagi 1 teman mamba🤣🤣 makin seruuu
Osie
thoor aku baca udah sampai bab ini lho..sumpeh bagus banget alur ceritanya..tapi sayang msh sepi..pdhal kereen abiiss/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/so haraoanku ini cerita sampai end..i hope
Osie
yaaacckk arga kenapa gak langsung di bogor aja sisurya nya..kabutkan dia
Osie
jangan bilang emaknya si ratna juga ikut terlibat
Osie
alina siap siap menuju lubang kematian
Osie
ayla dilawan..ya manaaa bisaaaa..mama cuuyy udah biasa membunuh dlm senyap
Osie
wwaaww aku aku gaya ayla..kereen abiizzz..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!