Kamila Larasati, seorang gadis cantik yang pintar, kritis, keras kepala dan punya pendirian kuat persis seperti ayahnya yang seorang Jendral TNI. Kamila menentang perjodohan yang dilakukan ayahnya dengan bawahannya. Dia tidak ingin mengikuti jejak kakaknya yang kehidupan pernikahannya terlalu banyak aturan.
Kamila masih sangatlah muda. Dia masih ingin bebas menikmati masa mudanya dengan berbagai pengalaman yang bermakna.
Sampai pada suatu hari, dia bertemu dengan Mahardika Pratama yang seorang preman kampung. Kejadian yang tak terduga menjadi awal pertemuan mereka hingga seiring berjalannya waktu tumbuhlah rasa cinta diantara mereka. Tapi ada sebuah rahasia yang sempat menggoyahkan perasaan Kamila. Apakah akhirnya cinta mereka akan bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akira Fan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 : Suara Mencurigakan
Setelah membantu ibunya Veni mencuci piring. Kamila dan Veni memutuskan untuk beristirahat lebih awal. Perjalanan yang cukup jauh membuat badan mereka terasa pegal-pegal.
"Ayo kita tidur Mil, aku ngantuk banget. Besok aku ajak kamu jalan-jalan keliling kampung," ucap Veni sambil merebahkan tubuhnya dikasur sederhananya.
"Oke, aku juga ngantuk banget nih," Kamila pun menyusul merebahkan tubuhnya dikasur yang sama dengan Veni.
Rumah Veni hanya memiliki tiga kamar tidur. Satu kamar bapak ibunya, satu kamar Veni yang berada di tengah sedang satunya lagi kamar kakaknya Veni yang hanya dihuni saat dia dan suaminya menginap.
Bisa saja sementara waktu Kamila tidur dikamar kakaknya Veni, tapi dia sendiri yang memilih untuk tidur sama Veni. Dia merasa nggak enak kalau tidur dikamar kakak Veni. Bagaimana pun pasti ada privasi kakaknya disana. Kamila takut mengetahui sesuatu yang nggak seharusnya dia ketahui. Beda kalau dikamar Veni, diantara mereka hampir tidak ada rahasia sama sekali saking dekatnya.
Malam ini Bapaknya Veni tidak pulang kerumah, beliau menginap dirumah saudaranya. Sudah menjadi tradisi ketika ada yang punya hajat maka para laki-laki berjaga semalaman. Mereka berkumpul untuk menyelesaikan persiapan acara besok, ada juga yang sekedar bersenda gurau atau pun ikut tidur ditempat. Hal ini dilakukan demi kelancaran acara pada waktu hari H.
Berhubung bapaknya Veni masih ada hubungan saudara dekat, beliau juga ikut tuan rumah dalam menjamu tamu. Sebenarnya ibunya Veni harusnya juga menginap, berhubung Veni dan Kamila baru datang beliau tidak bisa menginap karena kasihan sama mereka berdua jika harus dirumah sendirian.
Desas desus sempat terdengar bahwa kampung mereka sedang tidak aman. Terdengar kabar bahwa ada salah satu warga yang bertemu dengan sekelompok orang mencurigakan yang berkeliaran di wilayah kampung mereka. Katanya mereka terlihat sangar dan menakutkan.
"Aku harus memastikan semua rumah sudah terkunci semua. Bapak kan sedang tidak ada dirumah," gumam Bu Minah ibunya Veni saat dia hendak berisitirahat.
Beliau memeriksa pintu dan jendela rumah, memastikan semuanya sudah terkunci. Kemudian mematikan lampu dapur dan lampu ruang tengah. Menyisakan lampu teras dan lampu kecil untuk diruangan agar tidak terlalu gelap.
Setelah dipastikan semua terkunci beliau pun masuk kamar untuk beristirahat. Beliau juga merasa sangat lelah karena beberapa hari ini membantu beres-beres dan memasak untuk persiapan saudaranya yang punya hajat.
Waktu menunjukkan pukul 01.30. Malam didesa terasa sejuk walau tanpa kipas ataupun AC. Apalagi rumahnya kebanyakan masih sederhana dengan ventilasi alami. Sangat berbeda sekali dengan rumah dikota. Walaupun sudah memakai kipas atau AC terkadang masih terasa panas.
Kamila terbangun merasakan kantung kemihnya yang mulai penuh. Kemudian dia membangunkan Veni karena nggak berani ke kamar mandi sendiri. Suasana malam yang sepi dan gelap menciutkan keberaniannya untuk keluar kamar sendiri.
"Ven, bangun. Anterin aku pipis," Kamila menggoyang-goyangkan tubuh Veni yang sudah terlelap dalam mimpi.
Beberapa saat Veni belum juga bangun. Kalau sudah tidur gadis itu memang cukup sulit dibangunkan. Melihat hal itu terpaksa Kamila memutuskan untuk pergi ke kamar kecil sendiri. Dengan berusaha mengumpulkan keberaniannya, dia pun berjalan perlahan ke arah pintu. Tapi baru beberapa langkah dia dikagetkan dengan sebuah suara.
Kieett
Kamila sempat berhenti, memastikan bunyi apakah itu tadi. Dia melihat ke sekeliling, saat Veni bergerak untuk berpindah posisi terdengar lagi bunyi tersebut yang ternyata berasal dari ranjang mereka.
"Fiuh, kirain apaan. Bikin kaget aja," gumam Kamila sambil mengelus dadanya yang sempat kaget tadi.
Akhirnya Kamila berhasil keluar kamar. Tapi untuk sejenak dia kembali menghentikan langkahnya. Suasana diluar kamar ternyata terlihat lebih gelap. Yang ada hanya lampu kecil diruang tengah. Kamila tidak bisa melihat dengan jelas sekitarnya. Dia melihat sekeliling untuk mencari saklar.
Dia berjalan pelan dengan meraba-raba tembok agar tidak menabrak sesuatu. Maklum dirumahnya walaupun saat malam juga lampu utama dimatikan tetapi sekitar ruangan masih terlihat dengan lampu sederhana.
Kamila berhenti sebentar, dia merasa ragu untuk melanjutkan niatnya. Dia ingin membangunkan Veni lagi. Kalau seperti itu terus dia mungkin akan mengompol ditempat saking takutnya.
"Ven, bangun dong. Temenin aku, diluar gelap banget. Aku nggak bisa lihat jalan," Kamila berusaha membangunkan Veni lagi dengan susah payah.
Akhirnya usahanya membawa hasil. Veni mulai membuka matanya, walau nyawanya belum terkumpul sepenuhnya dia pun bangun dan beranjak dari tempat tidurnya.
"Hmm, iya Mil. Sorry aku ngantuk banget soalnya," jawab Veni setengah sadar.
Dia pun berjalan keluar kamar dengan kekuatan yang tersisa. Menyalakan lampu utama. Dan mengantarkan Kamila ke kamar mandi. Kamila pun merasa lega akhirnya dia bisa pipis dikamar mandi. Dia sempat berfikir tadi dia akan mengompol kalau sampai dia tidak menemukan kamar mandi. Hehe
"Lega, untuk kamu bangun Ven. Kalau nggak mungkin aku ngompol tadi. Pasti besok aku malu banget kalau sampai itu terjadi," Kamila cengengesan teringat kejadian tadi.
"Ya udah, ayo tidur lagi. Aku masih ngantuk banget Mil," ajak Veni kembali berjalan menuju kamarnya.
"Oke, ayo Ven," jawab Kamila sambil mengangguk kecil.
Saat mereka baru beberapa langkah akan masuk ke kamar. Terdengar suara benda jatuh didapur.
Grumpyang
Kamila dan Veni pun kaget, mereka saling berpandangan. Dengan perlahan merekapun berjalan beriringan menuju sumber suara.
"Suara apa itu Ven?," tanya Kamila sedikit gugup.
"Nggak tahu Mil, coba kita lihat dulu deh biar tahu," ucap Veni berjalan pelan ke arah dapur.
"Kucing kamu kali Ven," Kamila menebak pelaku suara tadi.
"Ibukku nggak pelihara kucing Mil, atau jangan-jangan..," Veni tidak melanjutkan ucapannya.
"Huss, jangan mikir negatif dulu Ven. Tapi kita harus jaga-jaga juga sih," ucap Kamila akhirnya mulai terpengaruh ucapan Veni.
"Tuh kan, bawa itu!," Veni menunjuk sebuah kayu yang berada didekat pintu masuk ke dapur.
Mereka harus waspada jika itu adalah maling maka mereka bisa memukulnya dengan kayu tersebut. Walau mereka wanita mereka harus berani melawan kalau ada penjahat.
Mereka berjalan pelan seperti orang mau mencuri. Saat sampai dipintu masuk dapur, Veni memencet saklar lampu dapur. Dan saat lampu menyala mereka dikejutkan dengan keadaan dapur yang berantakan. Ada lauk yang bercecer dan piring yang menjadi wadahnya pun pecah.
Terlihat sosok pembuat onar tadi yang berlari saat melihat mereka. Dengan secepat kilat dia menerobos lubang kecil di pintu belakang rumah Veni.
"Dasar kucing kurang ajar, kirain maling tadi," umpat Veni sambil mengelus dadanya. Jantungnya masih berdetak tak beraturan.
"Tuh kan kucing, katanya ibumu nggak pelihara kucing. Tapi itu tadi apa?," ucap Kamila sedikit sewot.
"Itu tadi kucing tetangga Mil, kamu nggak lihat tadi dia lari keluar pas lihat kita berdua," sungut Veni nggak kalah sewot.
"Iya, iya maaf. Kita beresin itu dulu yuk, kalau udah kita tidur lagi! Besok takutnya kesiangan," ajak Kamila akhirnya. Veni pun hanya ikut karena dia juga masih ngantuk banget.