NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Hidup Arumi hancur saat ayahnya terjerat utang besar kepada keluarga konglomerat Wijaya. Untuk melunasi utang tersebut, ia terpaksa menikah dengan Renard, sosok miliarder dingin yang dikenal kejam dan penuh rahasia. Bagi Renard, Arumi hanyalah alat untuk memenuhi tuntutan keluarga. Namun, di balik topeng arogan dan gengsinya, Renard menyimpan sisi lembut yang ia sembunyikan dari dunia, termasuk hobi rahasia yang tidak sengaja terbongkar oleh Arumi. Tanpa Renard sadari, Arumi adalah sosok penyelamat masa kecil yang selama ini ia cari. Mampukah Arumi mencairkan hati sang miliarder sebelum masa kontrak pernikahan mereka berakhir dan rahasia masa lalu terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Retaknya Topeng Sang Miliarder

Sisa malam di jamuan makan keluarga besar Wijaya dilewati dalam keheningan yang mencekam. Tidak ada lagi yang berani melempar sindiran, apalagi mempertanyakan asal-usul keluarga Arumi.

Peringatan keras dari Renard bagai sebuah garis mati yang tabu untuk dilanggar jika mereka masih ingin menikmati posisi dan fasilitas dari Wijaya Group. Setelah formalitas penutup yang terasa kaku, Renard mengajak Arumi berpamitan.

Malam itu, Renard memilih untuk mengemudikan sendiri mobil sport dua pintu miliknya, memulangkan Pak Tarjo terlebih dahulu.

Di dalam kabin mobil yang mewah, keheningan yang tebal kembali merayap. Hanya terdengar deru halus mesin bertenaga tinggi dan ketukan ritmis lampu jalanan yang silih berganti menerangi wajah tegas Renard.

Arumi menatap ke luar jendela, mengamati gedung-gedung tinggi Jakarta yang perlahan menjauh. Jemarinya masih meremas pelan tas pesta kecil di pangkuannya. Setelah mengumpulkan keberanian, Arumi memutar tubuhnya sedikit, menatap profil samping wajah suaminya yang tampak seperti pahatan es.

"Tuan Renard," panggil Arumi pelan.

Renard tidak menoleh, matanya tetap lurus menatap jalanan di depan. "Apa?" jawabnya singkat dan dingin.

"Terima kasih untuk yang tadi," ucap Arumi tulus. Suaranya lembut, tanpa ada nada sarkasme yang biasa ia gunakan untuk membalas keangkuhan pria itu. "Anda tidak perlu bertindak sejauh itu untuk membela mendiang ayah saya di depan keluarga Anda. Tapi... Anda tetap melakukannya. Terima kasih."

Cengkeraman tangan Renard pada roda kemudi tampak mengetat selama sepersekian detik hingga kekaran urat tangannya terlihat jelas. Ia berdeham kecil, berusaha menetralkan suaranya yang mendadak kaku.

"Sudah kukatakan berulang kali, Arumi, jangan terlalu percaya diri," balas Renard dengan nada ketus yang menjadi tameng andalannya. "Aku melakukan itu bukan untuk membelamu atau ayahmu. Aku melakukannya demi harga diriku sendiri. Jika keluarga besarku menganggap mereka bisa menginjak-injakmu, itu artinya mereka meremehkan seleraku dan otoritas sahku sebagai kepala keluarga yang baru. Aku tidak akan membiarkan siapa pun merusak citra absolut yang sudah kubangun di Wijaya Group."

Arumi tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum tipis. Ia memperhatikan daun telinga Renard yang mulai merona kemerahan di bawah temaram lampu dasbor—sebuah tanda fisik yang selalu muncul setiap kali pria itu sedang berbohong atau merasa salah tingkah.

"Baiklah, kalau begitu. Demi citra absolut Anda," goda Arumi pelan, membuat Renard meliriknya tajam dengan tatapan jengkel yang justru terlihat tidak menakutkan lagi bagi Arumi.

Begitu mobil berhenti di pelataran kediaman mereka, Renard langsung turun dan melangkah cepat masuk ke dalam rumah, seolah-olah sedang melarikan diri dari atmosfer canggung yang melingkupi mereka sepanjang perjalanan. Arumi mengikuti dari belakang dengan langkah yang lebih santai.

Namun, saat Arumi baru saja melewati pintu lobi utama, ia mendengar suara gemerisik halus yang disertai tangisan ringkih dari arah dapur bersih di lantai satu.

"Meong… meong…"

Arumi mengernyitkan dahi. Suara itu terdengar sangat lemas dan gemetar. Tanpa memedulikan sepatu hak tingginya yang melelahkan, Arumi berjalan cepat menuju area dapur.

Di sana, di sudut dekat pintu akses menuju taman belakang, ia melihat anak kucing liar berbulu oranye semalam sedang meringkuk di atas lantai marmer yang dingin. Tubuhnya tampak menggigil hebat, dan bulunya yang kotor terlihat basah akibat embun malam yang pekat. Tampaknya makhluk kecil itu berhasil menyelinap masuk melalui celah pintu yang tidak tertutup rapat.

"Astaga, kamu kedinginan ya?" bisik Arumi iba. Ia segera berlutut, mengabaikan gaun malam mahalnya yang kini menyentuh lantai. Dengan hati-hati, ia mengangkat tubuh kecil yang gemetar itu ke dalam pangkuannya, berusaha memberikan kehangatan.

"Apa yang kamu lakukan di lantai dengan gaun itu, Arumi?!"

Suara bariton yang menggelegar seketika membuat Arumi tersentak. Renard berdiri di ambang pintu dapur, jasnya sudah dilepas dan dua kancing teratas kemejanya terbuka, memberikan kesan kasual yang berantakan namun tetap menawan. Matanya terbelalak menatap Arumi yang sedang memeluk anak kucing kotor tersebut.

"Tuan Renard, lihatlah. Kucing ini menggigil hebat," ujar Arumi panik, mengabaikan omelan suaminya. "Bulu-bulunya basah. Jika dibiarkan di luar semalaman, dia bisa mati kedinginan. Bisakah kita memberikan dia tempat berteduh di dalam rumah... hanya untuk malam ini saja?"

Renard memijat pelipisnya, ekspresi wajahnya tampak sangat frustrasi. "Apakah kamu sudah hilang akal? Rumah ini dipenuhi dengan barang-barang seni dan karpet bulu mahal. Aku tidak akan membiarkan hewan jalanan pembawa kuman merusak propertiku!" tegas Renard, melangkah mendekat dengan langkah berdentum.

Namun, saat matanya beralih menatap anak kucing yang kini mengeong lemah ke arahnya, tatapan tajam Renard mendadak goyah. Ada kilat kecemasan yang tertangkap jelas di matanya.

Arumi yang menyadari perubahan ekspresi itu langsung memanfaatkan situasi. "Tolonglah, Tuan Muda yang terhormat. Bukankah Anda sendiri yang bilang semalam bahwa Anda tidak ingin pekarangan Anda dipenuhi hama mati? Jika dia mati di sini, bukankah itu akan merepotkan pelayan Anda untuk membersihkannya?"

Renard mendengus kasar, tahu betul bahwa kalimatnya semalam kini berbalik menyerang dirinya sendiri. Ia mengepalkan tangannya, memalingkan wajah egois untuk menyembunyikan rasa gengsinya yang kembali runtuh.

"Sialan..." umpat Renard berbisik, lalu berjalan cepat menuju lemari penyimpanan di sudut dapur. Ia membuka laci bawah dan mengeluarkan sebuah handuk kecil berwarna putih bersih yang biasanya digunakan untuk mengelap peralatan makan kristal mewah.

Renard kembali mendekati Arumi, lalu merebut anak kucing itu dari pangkuan Arumi dengan gerakan yang diusahakan terlihat kasar namun sebenarnya sangat lembut. Ia membungkus tubuh kecil itu dengan handuk putih, lalu mulai menggosok bulu-bulunya yang basah dengan sangat telaten.

"Hanya untuk malam ini!" bentak Renard, menatap Arumi dengan mata elangnya yang kini kehilangan daya tariknya karena wajahnya yang memerah sempurna menahan malu.

"Besok pagi-pagi sekali, aku akan menyuruh asistenku membawanya ke dokter hewan dan mencarikannya tempat penampungan yang layak. Dan ingat, jika ada satu helai bulu pun yang menempel di sofa ruang tengah, aku akan memotong uang bulanan kuliahmu!"

Arumi yang masih duduk bersimpuh di lantai hanya bisa menatap pemandangan itu dengan hati yang menghangat. Di bawah lampu dapur yang temaram, seorang miliarder yang ditakuti di dunia bisnis kini tengah sibuk mengeringkan seekor kucing jalanan dengan handuk mahal, sambil terus menggerutu tentang harga diri dan reputasi.

Topeng dingin yang selama ini dipakai Renard telah retak sepenuhnya di hadapan Arumi, menyisakan sisi manusiawi yang begitu tulus.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!