NovelToon NovelToon
Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Zhao Fei yang dijuluki Yang Mulia Petir Abadi, tewas ditikam murid kesayangannya sendiri setelah 10.000 tahun berkuasa di Alam Dewa.

Namun ternyata hukum karma memberinya kesempatan kedua. Rohnya dikirim ke dunia bawah, masuk ke tubuh seorang pemuda sampah dari keluarga miskin yang tidak punya bakat, tidak punya harga diri, dan tidak ada wanita yang mau menikahinya.

Kekuatan petirnya lenyap. Akar spiritualnya tertidur dan dirinya harus memulai semuanya dari nol.

Tapi dendam seorang dewa tidak pernah padam. Janji pada pemilik tubuh asli pun juga tidak akan diingkari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Tabib Wen

Malam sudah turun sepenuhnya tepat ketika orang itu akhirnya muncul dari balik pepohonan. Langkahnya bukan seperti seseorang yang datang untuk menolong manusia yang sudah bergantungan terbalik selama beberapa jam. Sedangkan usianya sulit ditebak. Wajahnya penuh kerutan tapi matanya tajam, seperti batu tua yang dilihat dari dekat ternyata masih berkilau.

Pertama yang dilakukannya adalah membuat perapian alih-alih melepaskan Zhao Fei. Siapa pula yang menduga akan berakhir seperti ini?

Dia mengumpulkan ranting-ranting kering, menumpuknya di antara dua batu besar, lalu menyalakannya dengan batu api yang dikeluarkan dari sakunya. Api menyala kecil, tumbuh menjadi besar, menghangatkan udara malam yang sudah mulai menggigit.

Kemudian dia duduk di samping harimau putih itu.

Tangannya bergerak ke kepala harimau tersebut, mengelus di antara dua telinganya yang besar dengan sangat... sangat... familiar. Harimau yang tadi masih menatap Zhao Fei dengan mata lapar itu tiba-tiba mendengkur.

"Sudahlah BaoBao. Dia terlalu kurus untuk menjadi mangsamu malam ini."

Harimau itu merebahkan kepalanya di atas kedua cakarnya, mata kuning yang menyala itu akhirnya benar-benar menutup.

Sementara Zhao Fei, dari posisinya yang terbalik dengan kepala beberapa meter di atas tanah, memandang adegan itu dengan perasaan yang tidak mudah dideskripsikan. Harimau itu milik orang ini? pikirnya. Dan orang ini belum sedikit pun berniat menurunkanku.

Orang itu pun mulai bercerita.

Entah kepada siapa. Mungkin kepada BaoBao yang sudah setengah tidur. Mungkin kepada api di depannya. Mungkin kepada malam itu sendiri.

"Harimau ini kutemu waktu masih sekecil anak kucing," katanya sambil menatap api. "Induknya sudah mati, tidak jelas kenapa. Mungkin diburu orang, mungkin mati karena sakit." Dia menggeleng. "Kubawa pulang lalu ku beri makan tulang ikan karena tidak punya yang lain. Dia makan juga, waktu itu." Tawa pendek keluar. "Sekarang kalau kuberi tulang ikan, dia malah menatapku seperti penghinaan."

Zhao Fei tidak menanggapi karena tidak ada yang bisa dia lakukan selain mendengarkan.

"Ada pasien dua tahun lalu," orang itu melanjutkan, melompat ke topik lain tanpa jembatan apa pun. "Datang dengan penyakit yang sudah dua puluh tabib menyerah. Kulitnya biru di bagian punggung, napasnya seperti udara yang melewati lubang kecil." Dia tertawa tiba-tiba, agak keras, sampai tersedak sedikit. "Kuhitung-hitung, dia perlu ramuan dari dua puluh delapan bahan berbeda yang tidak ada satu pun di antara mereka yang bisa tumbuh di tempat yang sama. Tiga hari kutunggu kiriman dari pedagang yang berbeda, dan akhirnya dia sembuh." Tawanya lolos lagi. "Tapi waktu dia sudah sembuh, dia malah minta dikurangi satu bahan karena rasanya pahit. Pahit! Orang hampir mati masih protes soal rasa?! Sungguh lucu sekali manusia-manusia itu."

Cerita demi cerita keluar dari mulutnya. Tentang ramuan yang gagal dan menghasilkan warna yang tidak terduga. Tentang muridnya yang dulunya bodoh tapi sekarang entah di mana sampai cuaca di Gunung Cemara yang tidak bisa diprediksi.

Zhao Fei mendengarkan semuanya saat kepalanya terus terasa pusing karena posisi terbalik, tapi setidaknya api di bawah cukup hangat untuk mencegah udara malam dari benar-benar masuk ke tulang-tulangnya.

Orang ini bisa bercerita sepanjang malam tanpa merasa perlu berhenti.

Setelah cerita yang entah sudah berapa bab panjangnya, orang itu akhirnya mendongak.

"Kau dari mana, nak?"

"Sekte Garuda Putih," kata Zhao Fei. "Sedang dalam tugas, dan sedang mencari seseorang."

"Tugas sekte." Orang itu mengulang kata-katanya seperti mengunyah sesuatu. "Dengan pedang pendek murahan seperti itu?"

Lantas dia berdiri. Tangannya bergerak ke arah tas yang selama ini Zhao Fei pertahankan dengan susah payah di antara kedua lengannya. Dengan satu isyarat tangan, dia mampu meyakinkan pemuda itu untuk melepaskan tasnya karena tidak punya pilihan. Setelah itu barulah orang asing itu membuka tas dan mulai menggeledah isinya.

Zhao Fei mengikuti gerakan itu dengan mata yang sudah mulai terbiasa dengan segala hal aneh yang terjadi malam ini.

Orang itu mengeluarkan lumut yang Zhao Fei ambil dari sarang monster tadi. Lumut itu bagian tepinya keemasan, bagian tengahnya gelap seperti arang yang dipoles. Orang itu pun membolak-baliknya di tangannya dengan gerakan yang sangat hati-hati.

"Mau kau apakan ini?" tanyanya.

"Sebagai bukti penyelesaian tugas sekte. Kalau tidak ada, aku tidak dapat upah. Kalau tidak ada upah, tidak ada bekal untuk perjalanan selanjutnya."

Orang itu mengangkat satu alis dan bibir bawahnya bersamaan, ekspresi yang entah artinya tertarik atau meremehkan atau keduanya sekaligus. Dia duduk kembali di dekat api, tapi kali ini dengan lumut itu masih di tangannya.

"Lumut Giok Langit," katanya. "Kalau kau bawa mentah-mentah ke sekte, mereka akan kasih kau dua koin perak paling banyak. Tidak lebih." Suaranya berubah menjadi lebih serius. "Tapi jika diolah dengan benar, dicampur akar lingzhi tua dan madu hutan yang diambil sebelum matahari terbit, lumut ini bisa menjadi ramuan penutup luka dalam yang bahkan tabib kota besar tidak selalu punya stoknya."

Dia menjelaskan prosesnya dengan detail. Suhu yang tepat. Urutan pencampuran. Berapa lama harus didiamkan sebelum digunakan. Semua itu keluar dari mulutnya dengan kelancaran seseorang yang sudah melakukan hal yang sama ribuan kali.

Sedangkan Zhao Fei mendengarkan karena ada sesuatu di cara orang ini berbicara tentang ramuan yang terasa sangat otoritatif. Pengetahuan yang bukan hanya hafalan, tapi benar-benar dipahami dari dalam.

"Namamu siapa?" tanya orang itu tiba-tiba.

"Zhao Fei."

Orang itu mengangkat dagunya sedikit. "Aku Wen. Orang-orang memanggil aku Tabib Wen."

Zhao Fei terdiam setelah mendengar nama itu.

"Kau yang aku cari," kata Zhao Fei. "Ibuku sudah lama sakit. Tidak ada satu pun tabib yang bisa menyembuhkannya. Karena itulah aku masuk sekte, mengambil tugas ke jalur ini, karena aku perlu menemuimu."

Tabib Wen menatapnya dari bawah. Ekspresinya tidak berubah, tapi matanya melakukan sesuatu yang berbeda dari tadi. Mengamati. Menilai.

"Kenapa aku harus percaya padamu?"

"Karena aku sudah bergelantungan terbalik di atas kepalamu selama hampir dua setengah jam dan masih belum memohon sekali pun," kata Zhao Fei. "Apakah itu cukup?"

Tabib Wen menatapnya beberapa saat lagi sebelum sudut bibirnya bergerak.

Dia merunduk, mengambil sebongkah batu kecil dari tanah di dekat kakinya. Batu itu tajam di salah satu sisinya. Dia memegangnya di antara dua jari, mengukur sudut dengan mata yang terlihat sangat terbiasa melakukan hal seperti ini, sanpai batu itu dilempar ke atas. Melesat tepat mengenai tali yang mengikat pergelangan kaki Zhao Fei.

Tali itu putus dalam satu gerakan bersih dan Zhao Fei jatuh cukup keras. Tubuhnya menghantam tanah dengan bunyi yang tidak elegan sama sekali, sisi bahunya mendarat duluan, diikuti sisa tubuh yang lain. Dia berbaring sebentar di tanah, merasakan aliran darah yang kembali normal di seluruh tubuhnya, kaki dan tangan yang mulai menunjukkan sensasi setelah kebas terlalu lama.

Kemudian dia bangkit. Duduk bersila di dekat api, menghadap Tabib Wen dari seberang.

Harimau itu membuka satu mata, melirik Zhao Fei, lalu menutupnya kembali.

Sedangkan jauh dari sana, di rumah keluarga Zhao yang berlokasi di pinggiran Klan Zhao, malam juga sudah larut.

Kamar tidur Zhao Kun dan istrinya gelap kecuali cahaya lilin kecil di sudut meja. Zhao Kun berbaring menatap langit-langit kamarnya dengan ekspresi orang yang pikirannya sedang lebih ramai dari luar.

Istrinya berbaring di sampingnya, tangannya bergerak pelan mengusap lengan suaminya.

"Sudah seminggu ini rumah terasa lebih tenang," katanya dengan nada yang berusaha terdengar santai. "Gimana ya? Mungkin karena lebih bisa bernapas akibat tidak ada yang mondar-mandir tidak jelas, tidak ada juga yang mengganggu pandangan."

Zhao Kun tidak menanggapi langsung. "Aku masih tidak habis pikir," menghela nafas. "Bagaimana sampah seperti dia bisa diterima di Sekte Garuda Putih?"

Istrinya mengerucutkan bibirnya untuk ikut berpikir.

"Kau ingat peta yang aku beri ke dia?" Zhao Kun menoleh ke langit-langit. "Ke Hutan Terlarang. Dia seharusnya tidak kembali dari sana." Nada bicaranya seperti seseorang yang sedang memecahkan teka-teki. "Tapi bisa-bisanya dia kembali dengan rusa besar di pundak dan sekarang diterima di sekte."

Istrinya diam lebih lama dari biasanya.

"Mungkin dia menemukan sesuatu di hutan itu," kata Zhao Kun. "Jimat, pusaka, entah apa. Sesuatu yang mengubahnya."

Istrinya menggeser tubuhnya sedikit, wajahnya kini menghadap suaminya. "Kau terlalu banyak berpikir," katanya, suaranya menjadi lebih manis. "Justru ini bisa menguntungkan kita. Kalau dia berhasil di sekte itu, suatu hari dia bisa kita mintai bantuan. Uang, koneksi, nama baik. Bukankah itu lebih berguna?"

"Tapi kalau dia gagal?"

"Kalau dia gagal, dia gagal." Bahunya mengangkat sedikit. "Setidaknya sekarang dia tidak ada di sini. Rumah lebih tenang... dan dengan mertua yang kondisinya seperti ini..." Kata-kata berikutnya hampir keluar tapi tertahan di ujung bibirnya. Hampir saja.

"Apa?"

"T-tidak." Istrinya cepat-cepat mengubah arah kalimatnya. "Maksudku aku bilang, dengan kondisi ibumu yang seperti ini, kita perlu memikirkan ke depannya. Pengobatan itu mahal, kan? Kita tidak bisa terus-terusan menguras kantong kita, dan ibumu juga tetap sembuh."

Zhao Kun menatap senyuman istrinya sebentar sebelum kembali menatap langit-langit.

Dari ujung koridor, suara batuk terdengar. Batuk kering, parau, yang sudah menjadi irama malam di rumah itu. Batuk Ming Lianhua, yang kamarnya paling jauh dari kamar ini, tapi suaranya tetap sampai menembus dinding tipis di antara mereka.

Istri Zhao Kun tidak menoleh ke arah suara itu. Matanya menatap titik yang tidak jelas di atas kepalanya, dan di sudut bibirnya, sangat singkat, tersungging sesuatu yang menyerupai senyuman.

Senyum yang tidak ada hubungannya dengan kebahagiaan, tapi kelicikan.

1
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
maaf Thor numpang komen,seorang dewa begitu mudahnya tewas di tikam tanpa ada penjelasan pake pusaka apa...supaya ada alasan logis koq bisa tewas begitu saja 🙏🙏🙏🙏
DanaBrekker: Terimakasih atas masukannya. ikuti terus perjalanan Zhao Fei ya... biar nanti ketemu alasannya 😄👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!