NovelToon NovelToon
Jatuh Dan Bangkit Kembali

Jatuh Dan Bangkit Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Balas Dendam / Showbiz
Popularitas:858
Nilai: 5
Nama Author: Arssya Assyi

Pernikahan lima tahun yang sia-sia, Liana Varella adalah seorang anak yang menjadi pembayaran utang ayahnya. Diusianya yang menginjak sembilan belas tahun, seharusnya dia melanjutkan kuliahnya, namun kini dia terikat oleh pernikahan yang hancur.

Suaminya, Alistair Sterling yang menjanjikan cinta hingga mati. Kini membawa seorang wanita lain dari keluarga konglomerat, hanya dalam waktu tiga tahun pernikahan. Dengan mudahnya dia membawa wanita lain ke rumah tangga mereka.

Hanya karena satu alasan, Liana dikira "Mandul" oleh keluarga Sterling hingga dihina, dan di abaikan keluarga besar itu. Di ambang ujung jurang, seseorang muncul dihidup Liana, dan berkata.

"Mengapa Tidak Bercerai?"

Liana tertegun, lalu berpikir keras hingga akhirnya dia sadar. Selama ini untuk apa dia bertahan jika suaminya menganggap dia tidak ada?

Penasaran? Ayo baca selengkapnya! Bahasa campuran, baku dan non baku....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arssya Assyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

C008: Bersiap

...Selamat Baca...

***

Keesokan harinya, sinar matahari pagi yang cerah menerobos masuk lewat jendela-jendela besar kamar Liana, membangunkannya dengan lembut.

Udara pagi terasa segar dan wangi bunga. Liana bangkit dari tidurnya, merasakan tubuhnya jauh lebih bugar dan hatinya jauh lebih ringan dari biasanya.

Ia ingat jelas apa yang harus dilakukannya hari ini.

Tangan kanannya meraba saku gaun tidurnya, lalu mengeluarkan sebuah kartu nama putih polos yang masih ia genggam erat sejak kemarin malam.

Kartu nama dari Alexander. Nama pengacara terbaik dan paling dipercaya. Dan kemungkinan sudah disewa Alexander, untuk mengutamakan Liana.

Liana berjalan mendekat ke meja kerja barunya, duduk di kursi yang nyaman, lalu mengambil ponsel barunya yang sudah disiapkan Alexander.

Ia mengetikkan nomor yang tertera di kartu itu dengan jari yang mantap, tidak ada lagi rasa ragu atau takut.

Suara sambungan telepon berdering, dan tak lama kemudian terdengar suara sopan dari seberang sana.

"Selamat pagi, ini kantor hukum Tuan Ardian. Ada yang bisa saya bantu?"

Liana menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, bibirnya mengukir senyum tegas dan penuh harapan.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin, wanita yang dulu tak berdaya, kini siap merebut kembali haknya.

"Selamat pagi. Nama saya Liana Varella... saya ingin bertemu dan memulai proses pengajuan perceraian."

Kalimat itu terucap jelas, tegas, dan bebas. Di luar jendela, matahari bersinar semakin terang,

Seolah merayakan langkah pertama sang Ratu yang telah jatuh, dan kini bangkit kembali dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari sebelumnya.

Panggilan telepon itu berakhir. Di seberang sana, suara ramah namun tegas milik Tuan Ardian,

Pengacara kepercayaan Alexander, sudah menentukan jadwal pertemuan mereka hari itu juga.

"Baiklah, Nona Liana. Kita bertemu pagi ini saja ya, tepat pukul delapan di Kafe Peace. Tempat itu tenang, privat, dan aman untuk kita berdiskusi panjang lebar."

Liana menurunkan ponselnya, menatap jam dinding di sudut ruangan. Jarum jam baru menunjukkan pukul lima pagi.

Udara pagi yang segar mulai menyelinap masuk lewat celah jendela yang sedikit terbuka, membawa serta aroma tanah basah dan bunga mawar dari taman bawah.

Masih ada waktu cukup lama sebelum jam pertemuan tiba, dan Liana bertekad memanfaatkan waktu itu sebaik-baiknya.

Liana bangkit berdiri, napasnya terasa ringan dan penuh semangat. Hari ini adalah hari besar.

Hari di mana ia akan resmi memutuskan ikatan yang membelenggunya selama lima tahun.

Disisi lain kota, di sebuah kantor hukum megah, Tuan Ardian baru saja meletakkan ponselnya. Dia baru saja menutup telpon dari Liana, dan menatap foto Liana yang Alexander kirim.

"Tuan Alexander... Kalau sudah jatuh cinta, dia dengan cepat mempersiapkan semuanya, bahkan menyewa saya yang sudah memiliki pekerjaan yang menumpuk." gumam pria itu menghela nafasnya, lalu menoleh ke arah dokumen dokumen di mejanya.

Dokumen itu penuh untuk tugas dan pekerjaannya, tapi Alexander memintanya mengutamakan Liana. Akhirnya dia bersiap memesan kafe dan bersiap untuk melakukan tugasnya.

Di lemari belakang kursi kantornya, ada sebuah bingkai foto. Wajah yang familiar, satu memasang wajah datar satu lagi memasang wajah ceria, berfoto bersama di sebuah pengunungan.

Dan sebuah tanda tangan di bagian bawahnya, "Alex & Ardian best friend forever" itu adalah foto Alexander yang masih muda, dan Ardian yang juga masih muda, sedang mendaki gunung Litural.

...****************...

Disisi Liana, setelah panggilan berakhir.

Ia melangkah masuk ke dalam kamar mandi pribadi yang mewah dan bersih, berukuran sebesar kamar tidur biasa, dengan dinding berkeramik berwarna krem lembut dan perlengkapan yang berkilau bersih.

Di sana, di bawah pancuran air hangat yang jernih, Liana perlahan menanggalkan pakaian tidurnya satu per satu.

Tubuhnya yang ramping namun berisi, kulitnya yang putih bersih dan halus, kini bebas dari segala ikatan dan aturan ketat yang dulu membatasi caranya berpakaian atau merawat diri.

Ia memutar keran, dan aliran air hangat langsung menyembur keluar dari kepala pancuran, membasahi seluruh tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Air itu terasa begitu nikmat, seolah setiap tetesnya sedang membersihkan sisa-sisa debu, rasa sakit, dan kepahitan yang menempel bertahun-tahun lamanya.

Liana membiarkan air itu membasuh wajahnya, membiarkan rasa nyaman itu meresap, lalu mulai mengusap sabun lembut ke seluruh kulitnya, mengharumkan dan melembutkannya.

Kemudian, ia mengambil sampo beraroma bunga melati kesukaannya, menggosoknya lembut ke rambutnya hingga berbusa lebat, memijat kulit kepalanya dengan santai dan lega.

Setelah merasa cukup dan segar kembali, Liana membilas seluruh busa hingga bersih sempurna.

Ia mematikan keran, mengambil handuk tebal berwarna putih bersih, dan mengeringkan tubuhnya perlahan.

Saat ia keluar dari kamar mandi, rambut hitam panjangnya yang lurus dan tebal tergerai bebas menutupi punggungnya.

Warna hitam pekat rambut itu kini tampak berkilauan indah, seolah memantulkan cahaya,

Menjadi semakin lembap, halus, dan berwarna gelap pekat berkilau karena sudah dicuci bersih dan terawat baik.

Dulu, ia jarang punya waktu atau suasana hati yang baik untuk merawat diri sepuas ini. Sekarang, rambutnya pun ikut merayakan kebebasannya.

Liana berjalan menuju ruang ganti, membuka lemari besarnya. Ia memilih pakaian untuk pergi keluar hari ini.

Ia tidak ingin terlihat berlebihan, tapi juga tidak ingin terlihat lemah. Ia mengambil sebuah gaun sederhana berpotongan A,

Berwarna biru muda lembut, berbahan katun halus yang jatuh hingga di bawah lutut. Potongannya sederhana, lengan pendek, lehernya berbentuk V kecil sopan,

Namun cara gaun itu membungkus tubuhnya justru membuat sosoknya terlihat sangat anggun, elegan, dan memancarkan pesona alami yang luar biasa.

Gaun itu tidak menutupi keindahan tubuhnya, justru sebaliknya, gaun itu menjadi kanvas yang menonjolkan kecantikannya yang asli.

Ia kembali ke meja rias, duduk di depan cermin besar. Tangan kanannya menyambar alat pengering rambut.

Ia mulai menyalakan alat itu, suara dengungan halus terdengar memenuhi ruangan saat ia mulai mengeringkan helai demi helai rambut hitamnya yang berkilau itu.

Di tengah kegiatannya itu, pintu kamar terdengar diketuk pelan lalu terbuka perlahan.

Masuklah Alexander.

Pria itu baru saja selesai mandi juga. Rambut hitamnya masih sedikit basah dan berantakan, wajahnya tampak segar dan bersih, namun pakaiannya belum rapi sepenuhnya.

Ia mengenakan kemeja putih polos berkualitas tinggi, tapi kerahnya masih berdiri tegak berantakan di lehernya.

Di luar kemeja itu, ia sudah mengenakan jas hitamnya, tapi dasi bergaris-garis halus berwarna emas dan hitam di lehernya belum terikat dengan rapi, masih menjuntai longgar dan berantakan.

Ia terlihat tampan luar biasa dengan gaya santai namun berwibawa itu, jauh lebih manusiawi dan dekat dibanding saat ia berpakaian rapi dan kaku.

Alexander berjalan mendekati Liana tanpa bicara, senyum hangat terukir di bibirnya.

Dengan mudahnya ia mengambil alih alat pengering rambut dari tangan wanita itu, serta sebuah sisir besar.

"Sini biar aku saja," bisiknya lembut di telinga Liana.

Liana tersenyum malu namun membiarkan saja. Ia kembali melanjutkan kegiatannya merawat wajah,

Sementara tangan-tangan besar Alexander bergerak cekatan namun sangat lembut di belakang kepalanya.

Pria itu mengeringkan sisa kelembapan rambutnya, menyisir helai demi helai hingga benar-benar kering, halus, dan jatuh indah.

Sentuhan tangan itu terasa begitu nyaman dan akrab, membuat hati Liana berdesir senang.

Sambil dibantu mengeringkan rambut, tangan Liana bergerak lincah mengoleskan produk-produk perawatan wajah.

Toner, pelembap, serum, hingga tabir surya, semuanya dioleskan dengan lembut dan teratur ke kulit wajah serta lehernya.

Kulitnya yang sejak dulu sudah halus, kini terlihat semakin cerah, bercahaya, dan segar karena rasa bahagia yang ia rasakan.

Setelah perawatan selesai, barulah ia mulai merias wajahnya. Tidak berlebihan, cukup riasan tipis saja yang menonjolkan keindahan aslinya.

Sedikit alas bedak untuk meratakan warna kulit, sedikit pemerah pipi agar terlihat segar dan merona alami, serta lipstik warna merah muda alami.

Hasil akhirnya di cermin membuat Liana tertegun. Wajahnya yang dulu sering pucat dan sedih, kini berubah drastis.

Matanya berbinar hidup, kulitnya bercahaya, dan senyumnya... senyumnya yang lepas dan bahagia itulah yang menjadi riasan terindah.

Ia tampak jauh lebih cantik, jauh lebih muda, dan jauh lebih berkarisma dibandingkan biasanya.

Ini bukan sekadar cantik biasa, ini adalah kecantikan seorang wanita yang bebas. Kecantikan yang lahir dari hilangnya belenggu dan rasa takut.

Alexander meletakkan alat pengering rambutnya, lalu mengambil alat pengeriting rambut. "Biar aku bantu sedikit lagi, biar rambutmu jatuh bergelombang indah," katanya lembut.

Dengan telaten dan penuh kehati-hatian, Alexander membantu mencatok ujung-ujung rambut panjang Liana hingga terbentuk gelombang-gelombang lembut yang jatuh indah membingkai wajah cantik wanita itu.

Hasilnya sempurna, sangat pas dan menambah keanggunan Liana berkali-kali lipat.

"Sudah selesai. Sangat indah," puji Alexander tulus sambil menatap pantulan Liana di cermin.

Alexander hendak berbalik pergi untuk merapikan sisa pakaiannya sendiri, namun tangan Liana bergerak cepat menahan lengan pria itu.

"Tunggu sebentar..." pinta Liana lembut sambil tersenyum geli melihat penampilan Alexander yang sedikit berantakan namun sangat tampan itu.

Ia berdiri dari kursinya, berjalan memutar hingga berhadapan tepat di depan dada Alexander.

Tangan mungilnya perlahan naik menyentuh kerah kemeja putih pria itu yang masih berdiri tegak. Dengan penuh kelembutan dan ketelitian,

Liana menurunkan kerah itu, merapikan lipatannya agar pas dan rapi di leher Alexander. Lalu, tangannya bergerak turun ke bagian dasi bergaris-garis yang masih berantakan itu.

Liana memegang kedua ujung dasi itu, menatap wajah Alexander lekat-lekat dengan senyum manis.

Tangannya bergerak lincah, mengikat, melilit, dan membentuk simpul dasi itu dengan rapi dan sempurna di leher pria itu.

Gerakan mereka begitu luwes, begitu akrab, seolah mereka sudah melakukan ini berulang kali selama bertahun-tahun persis seperti pasangan suami istri yang saling menyayangi dan melengkapi satu sama lain.

"Sudah... sekarang terlihat sempurna dan gagah," ucap Liana pelan sambil menepuk pelan dada bidang Alexander setelah pekerjaannya selesai.

Alexander hanya diam menatap wanita itu, matanya penuh rasa sayang yang tak terhingga.

Ia ingin sekali memeluk wanita itu saat itu juga, namun Liana sudah berbalik kembali ke meja riasnya, bersiap membawa barang-barang keperluannya.

Ia mengambil tas tangan berwarna putih gading yang serasi dengan gaunnya.

Satu per satu barang ia masukkan ke dalam tas itu: dompet kulit kecil miliknya, pulpen tinta hitam kesayangannya, ponselnya,

Kartu tanda penduduk, dan beberapa dokumen pribadi penting lainnya.

Namun, saat tangannya menyelusuri bagian dalam dompetnya, jari-jarinya menyentuh sebuah benda keras dan tipis. Itu sebuah foto.

Liana mengeluarkannya. Itu adalah foto dirinya bersama Alistair, foto kenangan pernikahan lima tahun lalu.

Di foto itu, Liana tersenyum terpaksa, sedangkan Alistair terlihat dingin dan tidak bahagia sama sekali. Foto itu adalah simbol dari lima tahun hidupnya yang sia-sia.

Liana menatap foto itu lama,Dulu, foto ini adalah bukti kegagalannya. Sekarang, ini hanyalah kertas usang yang akan segera ia bakar atau buang.

Matanya datar tanpa rasa sakit atau sedih lagi, hanya rasa bosan dan rasa ingin menutup bab ini sepenuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!