Mereka mengenalnya sebagai gadis cupu—pendiam, berkacamata, selalu sendiri, dan sering diremehkan. Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah polosnya, tersembunyi sosok paling berbahaya di kota.
Saat malam tiba, dia berubah menjadi ketua mafia yang dingin dan tak tersentuh. Dengan tatapan tajam dan langkah penuh wibawa, semua orang tunduk pada satu perintahnya. Bukan hanya itu, dia juga CEO muda dari perusahaan terbesar yang menguasai berbagai industri.
Cantik, cerdas, dan mematikan.
Dia tidak pernah membalas hinaan dengan kata-kata—dia membalasnya dengan kekuasaan.
Dulu mereka menertawakan gadis cupu itu.
Sekarang, mereka bahkan takut menatap matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Oktavianiputri77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Detik yang Salah
Perpustakaan lama SMA Wijaya terasa lebih sunyi dari biasanya.
Bukan sunyi yang tenang.
Tapi sunyi yang menekan.
Seperti ruangan itu sedang menyembunyikan sesuatu di antara rak-rak kayu tua yang berderit pelan setiap kali udara bergerak.
Di balik rak buku bagian tengah, Anya Clarissa berdiri diam.
Matanya terpejam sebentar.
Menghitung.
Bukan waktu.
Tapi kemungkinan.
Langkah Arsen masih terdengar dari arah yang berbeda, tapi semakin mendekat.
Dan itu berarti satu hal:
dia sudah tidak lagi hanya mencari.
dia sudah mengunci posisi.
“Kalau kamu di sini…”
Suara Arsen terdengar pelan dari sisi lain rak.
“…berarti kamu memang sengaja tidak keluar.”
Anya tidak menjawab.
Tangannya perlahan meraih buku di rak paling bawah.
Gerakan kecil.
Terlalu normal.
Tapi justru itu yang membuatnya berbahaya.
Di luar gedung.
Sistem keamanan sekolah masih dalam mode stabil.
Namun di ruang kontrol Rafardhan Group—
Baskoro menatap layar dengan tegang.
“Sensor perpustakaan menunjukkan pergerakan tidak wajar, Tuan.”
Arsen tidak menjawab dari awal.
Karena sekarang ia sudah tidak melihat layar.
Ia melihat dunia nyata.
Langsung di depan matanya.
Arsen melangkah lebih dekat ke rak.
Satu tangan menyentuh kayu.
Dingin.
“Kalau ini hanya kebetulan…” gumamnya pelan, “…kenapa semua kebetulan selalu mengarah ke kamu?”
Hening.
Tidak ada jawaban.
Namun Arsen tersenyum kecil.
Bukan senyum kemenangan.
Tapi senyum seseorang yang akhirnya yakin dia tidak salah arah.
Di sisi lain rak.
Anya membuka matanya perlahan.
“Dia terlalu dekat,” suara Tulus masuk pelan di earpiece.
Anya tidak bergerak.
“Biarkan.”
“Queen, jaraknya hanya satu rak.”
Anya menutup buku yang ia pegang.
“Justru itu.”
Arsen berhenti tepat di ujung rak.
Sekarang hanya dipisahkan oleh kayu tipis.
Ia bisa mendengar napas.
Bukan dari dirinya.
Tapi dari sisi seberang.
Pelan.
Terkontrol.
Terlalu stabil untuk seseorang yang seharusnya “takut”.
Arsen mengangkat tangan.
Menekan rak.
Sedikit dorongan.
Kayu berderit.
Dan—
celah kecil terbuka.
Cahaya masuk.
Dan di baliknya—
bayangan seseorang terlihat jelas.
Anya berdiri di sana.
Kepalanya sedikit tertunduk.
Kacamata bulatnya menutupi sebagian wajah.
Topeng sempurna.
Namun untuk sepersekian detik—
Arsen melihat sesuatu yang berbeda.
Bukan ketakutan.
Bukan kebingungan.
Tapi…
ketenangan yang terlalu dalam.
Seperti lautan yang tidak pernah tersentuh badai.
“Ketemu,” bisik Arsen.
Anya langsung bergerak.
Bukan mundur.
Tapi menyamping.
Satu langkah cepat.
Membuat posisi mereka tidak sejajar lagi.
Arsen menoleh cepat.
Namun sudah terlambat—
Anya sudah berada di sisi lain rak.
Jarak kembali aman.
Topeng kembali utuh.
Arsen tertawa pelan.
Sangat kecil.
“Tadi itu hampir saja.”
Anya menunduk sedikit.
“Maaf, Kak. Aku hanya mencari buku.”
Arsen menatapnya lama.
“Di bagian rak kosong?”
Anya berkedip.
“…”
Satu detik.
Dua detik.
Lalu ia tersenyum kecil.
“Buku lama.”
Jawaban standar.
Terlalu rapi.
Terlalu aman.
Arsen melangkah keluar dari balik rak.
Sekarang mereka berhadapan langsung.
Tidak ada penghalang.
Tidak ada jarak.
Hanya udara tipis yang terasa semakin berat.
“Anya,” kata Arsen pelan.
“Iya, Kak?”
Arsen menatap matanya.
Lama.
Sangat lama.
Seolah mencoba menembus sesuatu di balik lensa itu.
“Aku akan tanya sekali saja.”
Suasana berubah.
Lebih dingin.
Lebih serius.
“Apa kamu benar-benar hanya siswa beasiswa biasa?”
Anya tidak langsung menjawab.
Tangannya yang memegang buku sedikit mengencang.
Sangat kecil.
Tapi Arsen menangkapnya.
Di earpiece Anya.
Tulus berbisik cepat.
“Queen, jawab netral. Jangan provokatif.”
Anya tetap diam.
Dan itu justru membuat Arsen semakin yakin.
“Kalau kamu tidak punya apa-apa untuk disembunyikan,” lanjut Arsen, “kenapa setiap kali aku mendekat, dunia di sekitarmu seperti menutup diri?”
Anya mengangkat wajah sedikit.
Matanya terlihat ragu.
Peran.
Sempurna.
“Kadang…” suaranya pelan, “…aku juga tidak mengerti, Kak.”
Jawaban aman.
Tapi Arsen tidak puas.
Tidak sedikit pun.
Ia melangkah satu langkah lebih dekat.
Sekarang jarak mereka sangat tipis.
“Kalau begitu,” kata Arsen pelan, “aku akan bantu kamu mengerti.”
Anya menahan napas.
Hanya sepersekian detik.
Tapi cukup untuk Arsen melihatnya.
Dan di saat itu—
alarm kecil di saku Anya bergetar.
Bip.
Bip.
Bip.
Tracker.
Arsen memasang sesuatu padanya.
Dan sekarang—
alat itu aktif di jarak sangat dekat.
Arsen menatap ke arah tas Anya.
Lalu tersenyum kecil.
“Hm…”
Suara itu rendah.
“Hampir lupa.”
Ia mengangkat tangan.
“Sepertinya aku meninggalkan sesuatu padamu.”
Waktu seolah berhenti.
Anya tidak bergerak.
Namun di dalam pikirannya—
semua skenario langsung terbuka.
Jika Arsen menyentuh tas sekarang…
kalau tracker ditemukan…
identitas mulai retak.
Tapi sebelum Arsen bergerak lebih jauh—
lampu perpustakaan berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Dan mati.
Gelap total.
“Queen!” suara Tulus masuk panik.
Namun Anya sudah tidak di tempat.
Arsen langsung menoleh.
“Anya?”
Sunyi.
Tidak ada jawaban.
Namun kali ini—
dia tidak tersenyum.
Karena untuk pertama kalinya…
dia benar-benar kehilangan jejaknya.
Di sudut gelap perpustakaan.
Anya berdiri diam.
Tangannya sudah melepas tracker dari tas.
Ia menatap benda kecil itu.
Lalu tersenyum tipis.
“Arsen…”
bisiknya pelan.
“Kamu hampir saja menyentuh garis yang salah.”
Dan dari kejauhan—
Arsen hanya berdiri dalam gelap.
Mata tajamnya tidak panik.
Tidak marah.
Tapi justru semakin yakin.
“Dia bukan hilang,” gumamnya.
“Dia sengaja menghilang.”
Ia tersenyum kecil.
“Menarik.”
kasih sedikit gaya relax deh... biar lebih nyantai bacanya🙏