Hidup Evelyn hancur sejak kepergian ayahnya. Diasingkan ke Kota Vespera yang kumuh dan divonis mati dalam hitungan bulan, ia memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya. Tapi seutas tali tambang yang lapuk justru menggagalkan niatnya, menyeretnya masuk ke dalam dunia supranatural yang selama ini tersembunyi.
Darah Evelyn membawa rahasia besar. Ia adalah seorang Multi-Mate yang terikat pada empat penguasa ras immortal terkuat: Naga, Demon, Elf, dan Mermaid.
Di tengah sisa umurnya yang kian menipis, Evelyn terjebak dalam perebutan takdir cinta, perebutan kekuasaan antar-ras, dan konspirasi masa lalu yang perlahan terkuak. Ikuti kisah megah sekuel ketiga dari semesta Alan the Pegasus dan Mnemosyne: The Lost Memory dalam: The Emerald and Her Four Mates.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Doa Seorang Anak yang Sekarat
"Aku memang sedang bertugas menjaga tempat ini, Nona. Di sekitar hutan ini ada banyak sekali makhluk usil berkeliaran. Karena itulah aku berada di sini," jawab Lula dengan kekehan kecil yang terdengar ganjil.
Evelyn semakin heran mendengarnya. "Oh, begitu rupanya. Perkenalkan, Nek. Namaku Evelyn Moonshade. Aku sebenarnya tersesat di sekitar bukit ini dan tidak sengaja sampai ke rumah ini."
"Iya, aku tahu. Tapi ada satu hal yang ingin kukatakan padamu..." Lula melangkah maju selangkah, menatap lekat-lekat wajah Evelyn untuk waktu yang cukup lama. Pandangannya tampak menembus langsung ke dalam jiwa gadis itu.
"Kau... tidak seharusnya ada di dunia ini... ah, maksudku, kau tidak seharusnya berada di tempat ini, Nak," ucap Lula dengan nada suara yang mendadak berubah berat dan misterius. "Aku bisa melihat jika sisa hidupmu tidak akan lama lagi. Sebaiknya kau segera kembali ke dunia asalmu. Dengan begitu kau akan sembuh, dan penyakit di kepalamu itu akan hilang sepenuhnya... Percayalah padaku. Cepat atau lambat, takdir yang agung akan segera menjemputmu... Putri..."
Evelyn seketika tertegun. Napasnya tercekat mendengar ucapan sang nenek yang secara akurat mengetahui tentang penyakit mematikan di otaknya. Namun, belum sempat ia mencerna rentetan kalimat ganjil tersebut, Lula sudah berbalik dan melangkah pergi begitu saja, menyatu dengan kabut dan kegelapan malam Hutan Perak yang pekat.
Evelyn terpaku di tempatnya berdiri, menatap jalan setapak yang kini kosong. "Apa... apa maksud perkataannya tadi?" bisiknya bingung, sementara rasa dingin mendadak merayap di tengkuknya.
Evelyn akhirnya memutuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah. Malam yang kian larut dan kabut yang semakin pekat membuat nyalinya ciut, apalagi setelah sayup-sayup terdengar suara lolongan serigala dari kejauhan. Hutan Vespera seolah sedang memperingatkannya untuk tidak bermain-main dengan kegelapan.
Namun, begitu melangkah kembali ke dalam kamar, Evelyn tidak mendapati pria berambut merah itu di atas ranjangnya.
"Kemana dia?" gumamnya heran, mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan.
"Apa yang sedang kau cari?" sahut sebuah suara bariton yang tiba-tiba memecah kesunyian.
Evelyn terlonjak kaget seraya spontan mencengkeram dadanya yang berdegup kencang. "Astaga! Kau mengagetkanku saja!"
Melihat sosok Benjamin yang sudah berdiri di ambang pintu sambil bersedekap dada, Evelyn buru-buru melangkah mundur ke area kamarnya sendiri. Ia mengambil jarak aman karena tidak ingin memicu omelan dari pria yang menurutnya ketus dan cerewet itu.
"Huh! Kau barusan keluar dari rumahku tanpa izin dan berkeliaran di halaman sesukamu. Kau lancang sekali!" cerocos Benjamin dengan dada yang naik-turun menahan emosi. "Bagaimana kalau tadi ada binatang buas atau makhluk kegelapan yang memangsa tubuh kurusmu itu, hah?! Kau mau membuatku menjadi tersangka karena membiarkan seorang manusia tewas di halamanku?"
Benjamin mendengus kasar, menatap nyalang netra hijau zamrud Evelyn. "Jangan mentang-mentang tadi aku mengusirmu, lalu kau bisa pergi keluyuran seenaknya. Kau tahu, di luar sana sangat berbahaya bagi manusia lemah sepertimu! Kau sudah bosan hidup, ya?!"
Evelyn hanya bisa terdiam menghadapi rentetan amarah pria itu. Ia tidak tahu saja bahwa di balik sikap ketusnya, Benjamin sebenarnya sangat panik. Beruntung ia selalu memasang barrier pelindung tingkat tinggi di sekeliling area rumah kayunya.
Untungnya lagi, Evelyn tadi hanya bertemu Lula sang Black Witch. Jika yang mendekati gadis itu adalah klan predator haus darah dari klan lain, Evelyn pasti sudah habis detik itu juga. Benjamin sendiri sebenarnya tidak benar-benar tidur; insting naganya yang protektif telah memaksanya untuk bangun dan membuntuti Evelyn diam-diam sejak gadis itu melangkah keluar pintu.
"Ck, kau cerewet sekali, Tuan! Kalau aku mati pun, apa urusannya denganmu? Lagipula kau tidak akan disalahkan. Kematianku pasti tidak akan ada kaitannya denganmu. Dasar pria aneh!" Evelyn mendengus kesal.
Ia langsung melompat ke atas ranjangnya sendiri, menarik selimut tebal hingga menutupi kepala, lalu membelakangi Benjamin yang masih berdiri mematung di ambang batas kamar mereka.
"Kau berani mengabaikanku?!" seru Benjamin, tidak percaya ada manusia yang berani bersikap tidak sopan kepadanya.
"Kau sendiri tadi juga mengabaikanku!" sahut suara Evelyn yang teredam dari balik selimut. "Lagipula kita ini tidak saling kenal. Urus saja urusanmu sendiri, Tuan. Jangan memedulikanku!"
"Dasar gadis keras kepala! Awas saja kau," geram Benjamin sambil menghentakkan kakinya gusar.
Mage Naga itu akhirnya menyerah. Ia kembali menaiki ranjangnya sendiri dan berbaring di sana. Sepasang netra hijau zamrudnya menatap tajam ke arah punggung Evelyn di seberang ruangan.
Tak sedetik pun ia memalingkan wajah, mengawasi setiap pergerakan sang gadis hingga perlahan-lahan napas Evelyn terdengar teratur—gadis itu telah tertidur lemas karena kelelahan emosional yang menderanya sepanjang malam.
BZZZZTTT!
Tepat menjelang dini hari, udara di sekitar mereka mendadak mendengung keras. Ruangan kamar Benjamin seketika bergetar hebat saat distorsi ruang spasial di antara mereka mencapai batasnya. Dalam satu kedipan mata, pendaran cahaya keemasan meredup dan kamar kumuh Evelyn menghilang sepenuhnya dari pandangan, kembali ke koordinat asalnya di Kota Vespera.
"Hah? Hilang?!" Benjamin tersentak kaget.
Ia langsung bangkit dan duduk di atas ranjangnya, menatap heran ke sekeliling dinding kamarnya yang kini telah kembali utuh dan kokoh seperti semula. Batas aneh yang menghubungkan rumahnya dengan kamar Evelyn telah lenyap tanpa bekas.
Benjamin sesaat terdiam, lalu menyunggingkan tawa sarkas yang dipaksakan. "Baguslah. Akhirnya gadis pembawa sial itu sudah enyah dari sini. Dengan begitu aku bisa tidur dengan tenang tanpa mendengar ocehan manusianya," gumamnya, berusaha menghibur diri sendiri.
Namun, begitu ia kembali merebahkan tubuh di atas kasur yang luas, sebuah perasaan asing mendadak merayap di relung dadanya.
Benjamin menyentuh dada kirinya yang terasa hampa. Jantung naganya tidak lagi berdegup abnormal, namun kesunyian rumah kayunya di atas bukit Hutan Perak malam ini mendadak terasa begitu menyiksa dan pekat.
"Kenapa... aku jadi seperti ini?" bisik Benjamin pada kegelapan langit-langit kamarnya. "Biasanya tempat ini memang selalu sepi, aku selalu sendirian, dan aku tidak pernah memedulikan siapa pun."
Ikatan takdir yang tak kasat mata telah menanamkan kerinduan yang mendalam di dalam jiwa sang Mage Naga, mengoyak ketenangan hidupnya yang telah berlangsung selama dua setengah abad hanya dalam waktu satu malam.
****
Keesokan paginya, tepat pukul lima subuh, Evelyn terbangun. Ia sempat tertegun sesaat, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang kembali tampak akrab. Kamar kumuhnya telah kembali ke posisi semula. Seolah didorong oleh sisa kepanikan semalam, ia bergegas turun dari ranjang dan melangkah cepat menuju pintu depan untuk memastikan apakah segel transparan itu masih mengurungnya.
CKLEK.
Dengan sekali putaran kenop, pintu kayu itu terbuka dengan sangat mudah. Hawa dingin khas fajar Vespera langsung menyergap wajahnya.
Evelyn mendesah lega, lalu kembali merapatkan daun pintu. "Baguslah, aku bisa keluar dan pergi mengikuti study tour sekolah. Ya... walaupun aku terpaksa harus memalsukan tanda tangan persetujuan Ibu," gumamnya getir.
Evelyn segera bergerak cepat. Ia merapikan kamarnya yang sempat berantakan akibat kekacauan semalam, lalu beralih ke dapur untuk menyiapkan sarapan seadanya dengan memanggang beberapa lembar roti yang tersisa. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, jarum jam telah menunjukkan pukul tujuh pagi.
Sebelum benar-benar melangkah keluar untuk berangkat ke Vesperanian High School, Evelyn menyempatkan diri masuk ke dalam kamar ibunya. Di sudut ruangan, ia menata meja kayu kecil, lalu meletakkan foto Karina tepat di sebelah foto mendiang ayahnya. Sebagai pelengkap, ia menaruh segelas air berisi setangkai bunga krisan putih—yang kebetulan tumbuh subur di halaman belakang rumah sewa mereka—di hadapan kedua bingkai foto tersebut.
Evelyn berdiri mematung, menatap paras Karina di dalam foto itu untuk waktu yang cukup lama.
"Ibu... maafkan aku," ucapnya lirih, suaranya bergetar menahan luapan emosi yang menyesakkan dada. "Aku tidak tahu jika selama ini Ibu sudah berjuang keras, bahkan merelakan nyawa demi melindungi anak tidak berguna seperti aku. Dan sialnya... anak ini justru akan segera mati."
Evelyn menyunggingkan senyum getir, menatap bergantian foto kedua orang tuanya yang kini telah tiada. "Maaf karena aku belum sempat membahagiakan kalian berdua. Sekarang, aku hanya meminta satu doa dari Ayah dan Ibu di sana. Semoga di sisa hidupku yang tinggal tiga bulan ini, aku bisa merasakan apa itu kebahagiaan... walaupun hanya untuk sebentar saja."