NovelToon NovelToon
HIDUPKU

HIDUPKU

Status: tamat
Genre:Bad Boy / Persahabatan / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:688.2k
Nilai: 4.8
Nama Author: ina corlet

Novel ini adalah karya pertama yang saya yakini bikin kepala pusing disebabkan typo, alur membagongkan, hal hal diluar nurul, dan cerita klise yang freak. saya sangat ingin merevisi karya ini tetapi rasa malas ini menguasai tubuh tanpa ampun. jadi maafkan cerita yang memusingkan ini rakyat ku!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ina corlet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEPUTUSAN

Pintu itu terbuka perlahan,

dan kedua lelaki itu menatap penuh penasaran. Namun alih-alih sosok yang mereka bayangkan, justru Kiara yang muncul di ambang pintu.

Sejenak waktu seperti berhenti. Tatapan keduanya langsung membeku.

Apakah dia mendengar… semuanya?

Wajah mereka berubah panik. Dengan kikuk, mereka mempersilakan Kiara masuk.

“Ah… rupanya kamu. Kari, dan duduklah,” ucap Sana, suaranya terdengar tidak stabil.

“Kelihatannya kau sudah lebih baik? Syukurlah… aku benar-benar khawatir. Kami ingin bicara sesuatu denganmu!” ujar Tomi.

Bruk.

Tendangan Sana menghantam tulang kering Tomi, tajam dan penuh isyarat—bahwa ini bukan saatnya.

“Khm…”

Kiara berdehem, bibirnya yang manis terangkat membentuk senyuman tipis yang sulit diterjemahkan.

“Tidak apa,” katanya pelan namun menusuk. “Aku sudah mendengar pembicaraan kalian dari luar kamar. Maaf… karena aku mendengarnya tanpa terlewat satu kata pun.

San… apa kau benar-benar tidak suka kalau aku menjadi kakak iparmu, hah?”

Nada menggoda Kiara justru membuat udara terasa semakin berat.

“Bukan begitu. Kau salah paham,” jawab Sana tergesa.

“Benarkah? Jadi kau menyetujui… kalau Kak Tomi menikahiku?”

“Ah… ituu. Terserah kalian. Aku tidak akan ikut campur. Kalau kalian mau, lakukan saja. Jangan pikirkan aku.”

Kiara mendengus pelan, hampir seperti tertawa getir.

“Dasar manusia bodoh. Di situasi seperti ini, kenapa kau justru mendukung hal sekonyol itu? Apa kau benar-benar ingin aku jadi iparmu?”

“Kii—”

Tomi tak sempat menyelesaikan kalimatnya.

“Kak,” Kiara menyela lembut, namun matanya bergetar. “Ini bukan salahmu. Ini hanya… kesalahan. Dan aku tidak akan pernah menyetujui pernikahan itu, karena memang ini bukan dosa yang kau perbuat.

Kesalahan kecil ini—harus ada seseorang yang menerimanya dengan sadar. Dan kalau dia menolak… aku tetap hidup, Kak.

Kau kira aku akan mati karena ini? Kau terlalu meremehkanku.”

Senyum tipisnya mengandung luka yang tertahan.

“Jika jiwaku memang pecundang, meski begitu, mengakhiri hidup bukanlah jalan keluar. Aku masih kuat.

Lagipula kau sudah punya kekasih. Dia cantik, terdidik, baik… bagaimana mungkin aku menahanmu demi keegoisanku? Aku tidak akan pernah melakukan itu.

Jadi… tolong hormati keputusanku.”

Tomi dan Sana memeluk Kiara. Pelukan itu bukan sekadar haru—melainkan rasa bersalah yang menumpuk, rasa kagum, juga rasa kehilangan akan kekuatan seorang perempuan yang seharusnya tidak pernah dipaksa menanggung beban seberat itu.

“Tapi Ki… jika kau hamil… bagaimana?”

Pertanyaan itu menggantung seperti bayangan gelap. Tatapan keduanya saling bertemu, sama-sama takut mendengar jawaban Kiara.

“Aku akan menerimanya,” jawab Kiara mantap. “Kalau benar dia ada dalam tubuhku… dan aku harus menjaganya seorang diri… itu bukan dosa.

aku ingin dia lahir dengan cinta. Meski hanya dariku seorang.

Jika Tuhan menakdirkannya, aku akan mencintainya dengan seluruh hidupku. Agar dia tidak perlu mencari-cari cinta dari siapa pun.”

Sana menunduk, suaranya lirih. “Apa itu tidak egois untuknya?”

Kiara menggeleng pelan. “Yang egois adalah… jika aku tidak menerimanya. Jika aku menghilangkannya dari dunia ini."

—**—

Satu minggu berlalu sejak malam kelam itu. Hari ini, Tuan Yas duduk termenung di ruang kerjanya. Pria yang biasanya dingin, tegas, dan tak tersentuh… kini tampak seperti seseorang yang dihantui oleh bayangannya sendiri.

“Hans… beberapa hari ini aku selalu merasa bersalah?” suaranya pecah, tidak seperti biasanya.

“Mungkin Anda hanya lelah, Tuan.” jawab Hans, ragu.

“Tapi kata-kata Tomi… terus terngiang. Bagaimana kalau gadis itu benar-benar mengandung anakku? Apa aku… tidak akan melihatnya?”

Hans terdiam sebelum akhirnya menjawab hati-hati.

“Apakah Tuan ingin memastikan keputusan wanita itu?”

“Maksudmu…?”

“Maaf, tapi keputusan Anda waktu itu… mungkin membuatnya merasa semuanya adalah aib. Jika benar dia hamil… ada kemungkinan dia akan menghilangkannya.

Dan menurutku… dia tidak sanggup menghadapi semuanya sendirian.”

Tuan Yas menatap kosong, wajahnya seperti dihantam pukulan berat.

"Apa dia akan melakukan hal yang sama jika lelaki itu bukan aku? Dia bahkan tidak meminta uangku. Tidak mencariku untuk menuntut tanggung jawab. Itu… yang membuatku merasa bersalah.

Seharusnya kau menyelesaikan ini dan memberinya uang. Agar hidupku kembali tenang.”

“Baik, Tuan. Akan segera saya usahakan.”

Setelah percakapan itu, Hans segera melacak keberadaan Kiara. Begitu menemukan alamatnya, ia langsung melajukan mobil menuju rumah sederhana itu.

Beberapa hari setelah tinggal di rumah Tomi, Kiara memutuskan pulang. Ia tidak ingin terus berhutang budi. Ia ingin menata hidupnya sendiri.

Tak lama, Hans berhenti di depan rumah Kiara. Ia mengetuk pintu dengan sopan.

Tok tok tok.

“Permisi.”

Kiara—yang mengira itu kurir—segera membuka pintu.

“Iya, sebentar—”

Cklek.

Kiara terpaku. Di hadapannya berdiri seorang pria berpakaian rapi, tampan, berwibawa—sosok yang jelas bukan kurir makanan.

“Maaf, apa anda mencari seseorang?”

Senyum hangat Hans justru membuat Kiara semakin waspada.

"Saya mencari nyonya Kiara!”

“Benar… itu namaku. Tapi aku tidak mengenalmu. Mungkin kau mencari orang lain?”

“Saya yakin tidak. Bisakah Anda melihat foto ini?”

Hans mengeluarkan selembar foto.

Foto pria yang wajahnya menghantui tidur Kiara.

Wajah yang merenggut sesuatu yang tak tergantikan.

Wajah yang tidak pernah kembali untuk meminta maaf.

Tubuh Kiara langsung melemas. Tenggorokannya tercekat.

“Untuk apa kau mencariku?” tanyanya dengan nada yang berusaha tetap tegar.

“Bolehkah saya masuk? Ada hal penting yang harus saya sampaikan.”

“Pergi. Aku tidak punya waktu.”

“Saya Hans, sekretaris pribadi Tuan Ilyas Gunawan. Panggil saya apa pun yang Anda inginkan.”

Kiara terdiam. Amarahnya mencoba meluap, namun ia menelannya. Ia tahu ia tidak mungkin menang melawan laki-laki ini.

Ia hanya bisa mendengarkan apa yang akan disampaikan.

Bersambung…

1
Aulia Hayalan
satu kata untukmu Tiara" bodoh"
Yusria Mumba
bagus kiara pergi yng jauh, daripada, dsiksa,
Yusria Mumba
ceritanya sedih banget,
Yusria Mumba
puny suami tapi hidup kagura sensarah
Yusria Mumba
kasiang kiara tertekan terus,
Yusria Mumba
semangat kiara,
Yusria Mumba
kasiang kita, ny
Yusria Mumba
yang sabar kiara,
Yusria Mumba
kasiang kiana,
Yusria Mumba
kasiang,
Masri Masri
paling yas termakan oleh kebucinanya sendiri
samara
Luar biasa
Jeankoeh Tuuk
apakah itu Kiara
apa Kiara hilang ingatan
Jeankoeh Tuuk
penasaran....
apa
kelakuan deff
Jeankoeh Tuuk
cinta Yas mulai tumbuh
Jeankoeh Tuuk
Yas mulai sadar ....
Jeankoeh Tuuk
luluhnya suatu kebencian
Jeankoeh Tuuk
begitu cemburunya yas
Jeankoeh Tuuk
ada kemajuan
Jeankoeh Tuuk
hati Yas tersentuh melihat kesedihan Kiara istrinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!