NovelToon NovelToon
Benih Sang Mafia

Benih Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Aksi / Drama
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸

Setelah ayahnya meninggal, Azalea hidup bagai pembantu di rumahnya sendiri di bawah kekejaman ibu dan kakak tirinya. Hingga suatu hari, Rosalinda menjual Azalea seharga miliaran rupiah kepada Daxon Ravenzo, penguasa mafia kejam.

Azalea diserahkan ke pria iblis itu bukan untuk menjadi istri, tapi hanya sebagai kandang pewaris. Daxon menginginkan tubuhnya hanya untuk melahirkan anak, tanpa cinta, tanpa belas kasihan.

"Kau kubeli untuk jadi BENIH keturunanku. Jangan bermimpi aku akan menyayangimu, karena bagiku... kau hanya alat."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

"Kenapa menatapku begitu?" tanya Daxon sambil tersenyum tipis, matanya tetap tertuju pada mangkuk di tangannya.

"Tidak menyangka... kau bisa melakukan hal selembut ini," jawab Azalea pelan, suaranya terdengar lebih ceria dibandingkan tadi. "Orang‑orang bilang kau dingin, keras, dan tidak punya belas kasihan. Tapi padahal..."

"Padahal apa?" potong Daxon sambil menyuapkan sendok berikutnya.

"Padahal kau bisa sangat perhatian, terutama padaku," lanjut Azalea, pipinya memerah sedikit.

Daxon berhenti sejenak, lalu mengusap lembut sudut bibir Azalea yang terkena sedikit bubur dengan ibu jarinya. Tatapannya dalam dan penuh rasa sayang.

"Karena hanya kaulah yang berhak melihat sisi ini, Azalea. Untuk orang lain, aku memang bisa menjadi sekejam yang mereka bayangkan. Tapi untukmu dan anak kita, aku akan menjadi apa pun yang dibutuhkan," ucapnya dengan nada tulus.

Azalea terdiam mendengar kata‑kata itu, hatinya terasa hangat sampai ke ulu hati. Ia menggenggam tangan Daxon yang sedang memegang sendok itu.

"Kau pergi ke mana tadi? Aku sempat mencarimu, tapi tidak melihatmu di sini," tanyanya penasaran.

Daxon menatapnya sebentar, memutuskan untuk tidak menceritakan detail kejam yang telah ia lakukan agar tidak membuat Azalea tertekan. Ia hanya menjawab dengan tenang.

"Hanya menyelesaikan beberapa urusan yang mengganggu. Sekarang semuanya sudah beres. Tidak ada lagi yang perlu kau khawatirkan. Keluarga Pradana tidak akan mengganggumu lagi." ucao Daxon.

Azalea mengangguk lega, meski ia tidak tahu persis bagaimana caranya, tapi percaya sepenuhnya pada Daxon. "Terima kasih... Daxon. Aku merasa aman selama ada di sisimu."

Daxon melanjutkan menyuapi bubur itu sampai habis, dengan sabar tanpa terburu‑buru. Setelah mangkuk kosong, ia meletakkannya di meja samping tempat tidur, lalu menyeka tangan Azalea dengan kain lembut.

"Istirahatlah lagi. Dokter bilang kau butuh tidur yang cukup agar cepat pulih. Besok jika kondisimu sudah membaik, kita boleh pulang ke mansion," ucapnya sambil menyelimuti tubuh Azalea dengan lebih rapat.

Azalea mengangguk perlahan, matanya mulai terasa berat. Sebelum terlelap, ia menggenggam erat ujung kemeja Daxon.

"Jangan pergi jauh lagi ya..."

"Aku tidak akan ke mana‑mana. Aku akan duduk di sini menemanimu sampai kau bangun lagi," jawab Daxon lembut, lalu mencium kening Azalea dengan penuh kasih sayang.

Setelah memastikan Azalea sudah terlelap pulas dengan napas yang teratur dan tenang, Daxon perlahan melepaskan genggaman tangan gadis itu dengan hati‑hati agar tidak membangunkannya. Ia berdiri dan melangkah pelan menuju sofa empuk yang tersedia di sudut ruangan rawat VIP.

Ia pun duduk di sofa, menyandarkan punggungnya dan sedikit menekukkan kepala, mencoba beristirahat sejenak. Selama hampir dua hari ini ia tidak pernah benar‑benar memejamkan mata—terlalu banyak rasa takut, marah, dan pikiran yang berputar di kepalanya. Kelelahan itu akhirnya meluluhkan tubuhnya, dan dalam waktu singkat, Daxon pun terlelap dalam posisi duduk.

Meski tidur, tubuhnya tetap terlihat tegang seolah siap bangun kapan saja. Tangannya tergenggam erat di atas pangkuan, dan keningnya sesekali mengerut samar—mungkin masih terbawa bayangan kejadian mengerikan semalam. Namun begitu matanya terpejam, raut wajahnya yang biasanya dingin dan mengerikan terlihat lebih tenang, seolah hanya di tempat ini ia bisa melepaskan seluruh beban yang dipikulnya.

Beberapa jam kemudian, Azalea terbangun perlahan. Ia mengedipkan mata, lalu menoleh ke samping tempat tidur, tidak menemukan sosok Daxon di sana. Saat pandangannya beralih ke sudut ruangan, ia melihat Daxon sudah terlelap di atas sofa.

Ia tahu Daxon pasti tidak sempat beristirahat sama sekali sejak kejadian itu. Perlahan, dengan gerakan sangat hati‑hati agar tidak menimbulkan rasa sakit di perutnya, tapi perawat datang dan melihat Azalea yang berusaha bergerak untuk duduk.

"Kamu membutuhk–"

"Syutt! Aku meminta tolong kepadamu, pakaikan dia selimut. Nanti dia kedinginan." ucap Azalea nada membisik.

Perawat pun mengangguk paham, ia pun melakukan sesuai perintah Azalea. Setelah sudah ia pun berjalan mendekati Azalea dan memeriksanya.

...****************...

Keesokan harinya. Pagi itu, suasana di ruang rawat terasa lebih tenang. Tidak lama setelah sinar matahari masuk melalui celah jendela, pintu ruangan terbuka dan masuklah dokter kandungan yang menangani Azalea, diikuti oleh dua orang perawat.

Daxon yang sejak tadi sudah menjaga Azalea langsung berdiri menyambut mereka, matanya segera tertuju pada dokter dengan pandangan penuh harap.

"Selamat pagi, Tuan Daxon, Bu Azalea," sapa dokter itu ramah sambil mendekati tempat tidur.

"Selamat pagi, Dokter," jawab mereka serentak.

Dokter segera mulai memeriksa kondisi Azalea dengan teliti, mengukur tekanan darah, memeriksa apakah masih ada rasa nyeri di perut atau bagian tubuh yang terbentur saat jatuh didorong Valeria kemarin, lalu menggunakan alat pendengar detak jantung untuk memeriksa kandungannya. Ia menggerakkan alat itu perlahan di atas perut Azalea sambil mengerutkan kening sesekali, seolah mendengarkan dengan sangat saksama.

Setelah selesai, dokter menoleh ke salah satu perawat dan memberi isyarat. "Silakan lepaskan selang infusnya. Kondisinya sudah cukup membaik, tidak lagi membutuhkan cairan tambahan untuk pemulihan pasca benturan kemarin."

Perawat segera mendekat, bekerja dengan hati‑hati dan terampil melepaskan jarum infus dari punggung tangan Azalea, lalu menempelkan kapas dan plester kecil di bekas tusukannya.

Setelah semuanya selesai, dokter berdiri dan menatap Daxon serta Azalea dengan wajah yang tenang namun serius.

"Secara umum, kondisi ibu Azalea sudah membaik dengan sangat baik. Pendarahannya sudah berhenti, tekanan darahnya stabil, dan rasa nyeri akibat jatuh terbentur kemarin sudah mulai berkurang. Hari ini boleh pulang ke rumah untuk beristirahat lebih nyaman," jelas dokter itu.

Namun ia melanjutkan dengan nada yang lebih hati‑hati. "Hanya saja... saya minta kalian untuk datang kembali Senin lusa untuk pemeriksaan lanjutan. Sebab tadi saat saya mendengarkan, saya merasa detak jantung janin di dalam kandungannya terasa sedikit tidak beraturan dan terdengar agak aneh. Belum tentu ada masalah serius — kemungkinan besar hanya efek dari benturan kemarin — tapi saya ingin memeriksanya lebih jelas dengan USG agar kita bisa memastikan semuanya benar‑benar aman."

Mendengar penjelasan itu, raut wajah Daxon langsung berubah tegang. Ia segera menggenggam tangan Azalea lebih erat, matanya menatap dokter dengan penuh kekhawatiran.

"Apakah berbahaya, Dokter? Apa maksudnya tidak beraturan?" tanyanya dengan nada yang sedikit tergesa.

Dokter mengangkat tangan menenangkan, lalu menjawab. "Tenang saja, ini hanya kewaspadaan. Bisa jadi hanya sementara karena guncangan saat jatuh. Tapi lebih baik kita periksa lebih teliti agar tidak ada hal yang terlewat. Selama di rumah, pastikan Azalea istirahat total, jangan banyak bergerak, hindari stres, dan jangan angkat beban berat apa pun."

Azalea pun menatap Daxon dengan wajah sedikit cemas, namun ia mencoba tersenyum lembut. "Mungkin memang hanya butuh waktu untuk memulihkan diri, kan?"

Dokter mengangguk setuju. "Benar. Jangan terlalu dipikirkan, yang penting dijaga dengan baik sampai jadwal periksa nanti. Jika ada rasa sakit yang hebat, pendarahan, atau keluhan lain sebelum hari itu, langsung bawa ke rumah sakit saja tanpa menunggu jadwal."

Setelah memberikan penjelasan lengkap dan menuliskan catatan perawatan di rumah, dokter dan perawat pun berpamitan keluar ruangan.

Begitu mereka pergi, Daxon segera mendekatkan wajahnya ke perut Azalea, lalu mengusapnya perlahan dengan penuh kehati‑hatian.

"Kita pulang sekarang, ya. Di mansion kau akan lebih tenang. Aku akan menjaga kalian berdua dengan lebih ketat lagi sampai pemeriksaan nanti," ucapnya dengan suara lembut namun penuh tekad.​

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Mia Camelia
semoga azalea dan anak nya selamat yaa😔
tega banget si valeria mpe celakai azalea😔😔😔
Mia Camelia
iiihhh...dasar ulat bulu jahat valeria, awas klo sampe azalea kenapa2, daxon siap beraksi🤣
Mia Camelia
ya ampun daxon posesif juga yaa😄
Mia Camelia
ciee..daxon terpesonaa juga🥰🥰🥰
Mia Camelia
hahaaha semua takut syaiton🤣🤣🤣
aldric paling penakut iiih🤣
Mia Camelia
azalea ngidam nya manja2 gitu,
rasaiin kau daxon beli sate ayam sana🥰😂
Miu.Nuha
ahahaha betul
Miu.Nuha
nah loh, azalea sejujur itu apa nggak mengkeret itu ibu dn anak 😅
Miu.Nuha
ibu dn anak cantik dn modis juga ya 😅
Mia Camelia
daxon sweet banget sih🥰🥰🥰
lanjut thor😄
ɴs_sᴀᴘᴜᴛʀɪ✍︎: oke kak
total 1 replies
Risa Virgo Always Beau
Daxon mematung karena ulah berani kamu Azalea
Risa Virgo Always Beau
Daxon cemas banget memikirkan Azalea yang ada di rumah
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Azalea bohong ya bilang dia punya kekasih
Risa Virgo Always Beau
Sepertinya Azalea hamil ya sampai mual gitu
Risa Virgo Always Beau
Azalea kamu setelah melakukan hubungan badan dengan Daxon langsung mau beli cimol ngga istirahat dulu
Risa Virgo Always Beau
Daxon sepertinya cemburu setelah Azalea menyebut kata kekasih
Risa Virgo Always Beau
Daxon menyuruh Azalea supaya akting jadi suami istri sungguhan di depan mamanya Daxon
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Daxon sudah menyuruh Azalea untuk bersandiwara menjadi suami istri sungguhan
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Daxon menjadikan Azalea tameng buat hindari perjodohan
Risa Virgo Always Beau
Ternyata setelah Azalea hamil dan melahirkan Daxon akan membuang Azalea kejam banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!