NovelToon NovelToon
Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Diandra, seorang CEO tangguh, dikhianati oleh adik tirinya sendiri dan didorong dari lantai delapan hingga koma. Namun, maut belum menjemputnya. Jiwa Diandra terbangun di dalam tubuh Gia, seorang siswi SMA yang tewas setelah disiksa dan dibunuh oleh kekasihnya, Ferdian, beserta geng perundungnya.

​Terjebak dalam identitas baru yang rapuh, Diandra bersumpah akan menuntut balas. Ia tidak hanya akan menghancurkan Ferdian di sekolah, tapi juga merancang kejatuhan adik tirinya yang kini mengincar nyawa Pratama, suaminya sendiri.

​Tantangan terbesar Diandra bukan hanya kemiskinan Gia, melainkan meyakinkan Pratama bahwa jiwa istrinya ada di dalam tubuh gadis remaja tersebut. Di tengah skeptisisme sang suami, Diandra harus berpacu dengan waktu sebelum rencana pembunuhan berikutnya merenggut satu-satunya orang yang ia cintai.

​"Gia mungkin sudah mati, tapi Diandra baru saja dimulai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Mobil SUV hitam itu berhenti dengan tenang di depan gang rumah Anita.

Suasana malam yang sunyi seolah ikut menyimpan rahasia besar yang baru saja terungkap di dalam kabin mobil tersebut.

Diandra menoleh ke belakang, menatap Anita yang masih tampak linglung.

"Anita, dengarkan aku. Tolong rahasiakan semua ini sampai semuanya beres. Jangan ceritakan pada siapapun bahwa aku adalah Diandra, atau tentang kejadian di rumah sakit tadi. Nyawamu bisa terancam jika Mita tahu kamu terlibat."

Anita menelan salivanya, lalu mengangguk dengan mantap.

"Aku mengerti, Gi— maksudku, Bu Diandra. Aku berutang nyawa padamu hari ini. Aku akan tutup mulut."

Setelah Anita turun dan masuk ke rumahnya dengan langkah terburu-buru, Pratama kembali melajukan mobilnya.

Kali ini tujuannya adalah kawasan pinggiran kota, menuju rumah petak kecil yang kini menjadi tempat tinggal istrinya.

Sepanjang perjalanan, keheningan menyelimuti mereka.

Pratama berkali-kali melirik Gia dari sudut matanya.

Ia melihat raga seorang gadis remaja, namun ia merasakan kehadiran wanita tangguh yang telah mendampingi hidupnya selama bertahun-tahun.

Sesampainya di depan rumah petak yang kusam itu, Pratama mematikan mesin mobil.

Ia menatap bangunan tua di depannya dengan rasa miris.

"Sayang, apakah benar ini kamu? Aku masih tidak percaya. Bagaimana mungkin takdir sebercanda ini?"

Diandra menghela napas panjang. Ia tahu suaminya butuh lebih dari sekadar cerita untuk benar-benar yakin.

Ia mendekat ke arah Pratama, menatapnya dengan tatapan yang sangat intim, tatapan yang hanya mereka berdua pahami di balik pintu kamar mereka dulu.

"Mas, kalau celana dalam Batman tadi belum cukup membuktikan..." Diandra merendahkan suaranya, sebuah seringai nakal muncul di bibir Gia.

"Ingat tidak? Ada tahi lalat kecil tepat di sebelah 'gajah mungil'-mu itu, Mas. Tahi lalat yang selalu aku goda setiap kali kita—"

"Cukup! Cukup!" Pratama memotong dengan wajah yang mendadak merah padam.

Ia menutup wajahnya dengan satu tangan sambil tertawa kecil yang penuh rasa malu sekaligus lega.

"Oke, oke! Aku percaya! Hanya Diandra yang berani bicara sefrontal itu padaku."

Pratama menatap istrinya lagi, kali ini dengan mata yang berkaca-kaca.

Ia meraih tangan kecil Diandra dan menciumnya lama.

"Aku merindukanmu, Sayang. Sangat merindukanmu."

"Aku juga, Mas. Tapi sekarang kamu harus pergi," ucap Diandra sambil mengelus pipi Pratama.

"Mita mungkin sedang mencarimu sekarang. Jangan biarkan dia curiga. Besok, biarkan dia mendengar berita tentang 'siswi jenius' di sekolahku. Aku yakin dia akan segera menghubungiku untuk urusan sandi di Yogyakarta."

Pratama mengangguk berat. "Berjanjilah padaku, jangan ambil risiko terlalu besar. Jika terjadi sesuatu, tekan tombol darurat di ponsel yang akan Diko berikan besok pagi."

"Aku janji. Sekarang, pulanglah. Jaga tubuhku yang di rumah sakit itu, Mas. Karena suatu saat, aku ingin kembali ke sana."

Diandra berdiri di depan pintu rumah petaknya yang rapuh.

Ia memperhatikan mobil Pratama menghilang di kegelapan malam.

Kini, sang CEO yang terperangkap dalam tubuh siswi SMA itu melangkah masuk ke dalam rumahnya, menyiapkan rencana untuk menghancurkan musuh-musuhnya satu per satu.

"Mita, Ferdian. Selamat datang di neraka yang aku ciptakan," gumam Diandra sebelum menutup pintu.

Malam semakin larut di rumah petak itu, namun Diandra tidak berniat untuk memejamkan mata.

Di bawah temaram lampu bohlam yang berkedip, ia mulai menyusun "Papan Kematian".

Ia mengambil beberapa lembar kertas kusam dan menempelkannya di dinding triplek yang lembap.

Satu per satu, ia menempelkan foto yang ia dapatkan dari sosial media dan buku harian Gia.

Di urutan pertama, ia menaruh foto Kinanti. Gadis itu adalah pion yang digunakan Ferdian untuk menghancurkan Gia, sekaligus kunci untuk mengungkap jaringan perundungan di sekolah. Diandra mencoret wajah Kinanti dengan spidol merah.

"Kamu yang pertama akan jatuh, Kinanti. Sebelum aku memotong lidah Mita, aku akan mencabut kuku-kuku pengikutnya lebih dulu," desis Diandra dingin.

Sementara itu, di kantor pusat Pratama Group, Pratama duduk di kursi kebesarannya dengan wajah tegang.

Di hadapannya, Diko berdiri memberikan laporan terbaru.

"Pak, Tuan Wijaya sudah memberikan tenggat waktu 48 jam. Jika sandi logaritma di Yogyakarta tidak terbuka, kontrak akan diputus," lapor Diko.

Pratama menyandarkan punggungnya. Ia teringat percakapannya dengan Diandra di mobil tadi.

"Diko, umumkan ke seluruh divisi dan pasang iklan di media sosial. Katakan perusahaan sedang mencari ahli matematika atau peretas berbakat untuk memecahkan enkripsi tingkat tinggi. Siapa pun yang berhasil, akan mendapatkan posisi konsultan senior dan hadiah miliaran rupiah."

"Tapi Pak, bukankah ini terlalu berisiko bagi keamanan data?"

Pratama tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh rahasia.

"Lakukan saja. Aku sedang menunggu seseorang datang untuk menyelamatkan perusahaan ini."

Pratama menatap ke arah jendela, membayangkan istrinya yang kini berada di tubuh remaja.

Ia seolah bisa mendengar suara Diandra memanggilnya.

Kembali ke rumah petak, Diandra sedang menatap layar ponsel tua milik Gia.

Ia melihat iklan lowongan darurat yang baru saja dipasang oleh perusahaan Pratama.

"Suamiku, kamu benar-benar mengerti caraku bermain," gumam Diandra dengan senyum bangga.

Tanpa membuang waktu, Diandra mulai mengisi formulir pendaftaran secara daring.

Ia menggunakan nama samaran di formulir awal, namun ia melampirkan contoh pengerjaan algoritma yang hanya diketahui oleh jajaran direksi elit perusahaan.

Ia tahu, begitu Mita melihat metode pengerjaan itu, Mita akan panik sekaligus tertarik.

Mita yang bodoh dan haus kekuasaan pasti akan mencoba memanfaatkan "si jenius" ini untuk menutupi kesalahannya di depan Tuan Wijaya.

"Besok aku akan datang ke sana," ucap Diandra pada dirinya sendiri.

Ia menatap foto Mita yang ada di papan rencananya.

Besok, ia akan melangkah masuk ke gedung miliknya sendiri, duduk di ruang rapat yang ia bangun, dan berhadapan langsung dengan adik tirinya yang berkhianat.

Mita mungkin merasa sudah memenangkan segalanya setelah mendorong Diandra dari lantai delapan. Namun besok, ia akan menyadari bahwa maut tidak membunuh Diandra, melainkan hanya memberinya wajah baru untuk membalas dendam dengan lebih kejam.

"Bersiaplah, Mita. Kursi CEO itu tidak pernah cocok untukmu," bisik Diandra sambil mematikan lampu, meninggalkan bayangan musuh-musuhnya yang tercoret merah di dinding.

Di sebuah lokasi yang dirahasiakan, jauh di bawah tanah gedung salah satu properti pribadi milik keluarga Pratama, sebuah bunker medis canggih telah disiapkan.

Aroma antiseptik bercampur dengan dinginnya udara dari sistem ventilasi yang sunyi.

Pratama berdiri mematung di balik kaca transparan yang tebal.

Matanya tak lepas menatap tubuh Diandra yang terbaring lemah di tengah ruangan.

Istrinya masih tampak seperti putri tidur yang terperangkap dalam balutan kabel dan selang penopang hidup.

"Sayang... bersabarlah sedikit lagi. Aku tahu jiwamu sedang berjuang di luar sana," bisik Pratama pelan. Suaranya serak karena kurang tidur, namun matanya memancarkan tekad yang membara.

Di luar ruangan kaca itu, penjagaan sangat ketat. Sepuluh pria berseragam taktis dengan senjata lengkap berdiri di setiap sudut koridor.

Diko telah memastikan bahwa hanya orang-orang dengan pemindaian retina dan sidik jari khusus yang bisa masuk.

Tidak boleh ada celah bagi Mita atau kaki tangannya untuk mendekat.

"Pak," suara Diko memecah keheningan dari arah pintu baja.

"Semua sudah siap. Sistem keamanan sudah ditingkatkan ke level maksimal. Tim dokter ahli saraf juga sudah bersiaga 24 jam."

Pratama mengangguk tanpa menoleh. "Bagus. Jangan biarkan satu lalat pun masuk tanpa seizinku. Nyawa istriku ada di tanganmu, Diko."

Sementara itu, di rumah petaknya, Diandra—dalam raga Gia—sedang menatap pantulan dirinya di cermin.

Ia memakai kemeja putih polos yang paling rapi milik Gia, dipadukan dengan celana kain hitam sederhana.

Meski pakaiannya murah, cara ia berdiri dan menatap cermin membuat pakaian itu tampak seperti busana kerja kelas atas.

Ia baru saja menerima notifikasi di ponselnya. Pendaftarannya telah diterima, dan ia diundang untuk tes kemampuan langsung di kantor pusat Pratama Group pagi ini.

"Hari ini adalah hari pertama kembalinya sang ratu," gumam Diandra.

Ia memasukkan kartu identitas Gia dan sebuah flashdisk kecil ke dalam tasnya.

Ia tahu, di gedung itu nanti, ia akan bertemu dengan Mita.

Adik tirinya itu pasti sedang kalang kabut karena sandi di Yogyakarta yang terkunci.

Mita pasti akan berada di sana untuk mengawasi siapa pun yang berpotensi membuka sandi itu, agar ia bisa mencuri kreditnya dan menyelamatkan mukanya di hadapan dewan direksi.

"Kamu ingin ahli matematika, Mita? Kamu akan mendapatkan lebih dari itu," desis Diandra.

Ia melangkah keluar dari rumah petak, mengunci pintu dengan mantap, dan berjalan menuju halte bus.

Setiap langkahnya bukan lagi langkah seorang siswi SMA yang tertindas, melainkan langkah seorang predator yang sedang menuju sarangnya untuk merebut kembali takhta yang dicuri.

Drama di kantor pusat akan segera dimulai, dan Diandra sudah menyiapkan panggung yang sempurna untuk menghancurkan Mita tepat di depan matanya sendiri.

1
Anne Soraya
lanjut
Tian Selli
lanjutannya mana ya
Tian Selli: judul nya apa?
total 2 replies
cici
seru kali smpek yg baca ikut panik tiap episode
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
my name is pho: iya kak 🥰
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjuttt
Asra
waah, makin menarik aja, next kak🙌💖
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Asra
semangat n ditunggu up nya lagi kak
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!