NovelToon NovelToon
RED FLAG

RED FLAG

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: ujang Bonang@_@

​"Jangan dekat-dekat mereka, Mika. Saka dan Devan itu red flag berjalan!"
​Mika selalu menertawakan peringatan itu. Bagi Mika, Saka—si bad boy ugal-ugalan yang hobi balapan, dan Devan—si ketua OSIS berprestasi yang kelihatan sempurna, adalah dua sahabat terbaiknya sejak kecil.
​Namun, zona nyaman itu hancur total di hari ulang tahun Mika yang ke-17.
​Sore hari, Saka membawanya kabur dengan motor gede dan menuntut agresif, "Gue muak jadi sahabat lo. Mulai hari ini, lo cewek gue!"
​Belum sempat Mika bernapas, malam harinya Devan justru mengunci pergelangan tangan Mika di sudut sepi, berbisik dingin dengan senyum manisnya, "Jangan pernah terima Saka, Mika. Atau aku bikin hidup cowok itu hancur."
​Dua cowok paling populer di sekolah mendadak membuka topeng mereka. Sifat posesif, dominan, dan manipulatif yang selama ini disembunyikan kini berbalik menjerat Mika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ujang Bonang@_@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Bayang-Bayang Beasiswa

****

Malam semakin larut ketika minibus perak yang dikendarai Reno dan anak-anak pangkalan IPS akhirnya berhenti dengan mulus di jalur belakang rumahku. Sepanjang perjalanan memutar melewati jalan-jalan tikus kota, pikiranku sama sekali tidak bisa tenang. Setiap kali mobil berguncang melewati aspal yang berlubang, jantungku ikut berdegup kencang karena mengkhawatirkan apa yang sedang terjadi antara Saka dan mobil hitam misterius di ujung komplek sana.

"Neng Mika, udah sampai dengan aman nih. Langsung naik ke atas lewat tangga balkon ya, jangan mampir-mampir ke teras depan," ucap Reno sambil menengok ke belakang, memberikan instruksi terakhir dengan nada suara yang sangat protektif khas anak-anak pangkalan.

"Makasih banyak ya, Ren, buat bantuan kalian sore ini," ucapku tulus seraya membuka pintu mobil dan bergegas turun menembus dinginnya angin malam yang menusuk tulang.

Aku berjalan mengendap-endap di antara rimbunnya pohon mangga samping rumah, lalu menaiki satu per satu undakan tangga besi darurat dengan gerakan yang sangat pelan agar tidak menimbulkan suara gaduh. Begitu kakiku menapak di lantai balkon, aku segera menggeser pintu kaca dan menyelinap masuk ke dalam kamarku yang sunyi. Tanpa menyalakan lampu utama, aku langsung berjalan menuju jendela besar, menyibak tirai tipis dengan jari yang bergetar, lalu melempar pandangan lurus ke arah jalanan komplek di bawah.

Sepi. Tidak ada tanda-tanda keberadaan motor sport hitam milik Saka ataupun mobil sedan mewah milik keluarga Devan di sekitar persimpangan dekat tiang lampu jalan. Sisa-sisa ketegangan sore tadi seolah menguap begitu saja bersama pekatnya kegelapan malam, menyisakan ruang hampa di dalam dadaku yang kian dipenuhi oleh rasa cemas yang tak berkesudahan.

Aku berjalan lesu menuju meja belajar, menyalakan lampu meja yang temaram, lalu melempar tas ranselku ke atas tempat tidur. Aku merosot duduk di atas kursi kayu, menatap lekat-lekat ke arah pergelangan tangan kananku. Di sana, gelang perak dengan bandul bintang kecil pemberian Saka masih melingkar dengan indah. Sentuhan logam dinginnya entah mengapa tidak lagi memberikan rasa aman yang mutlak seperti tadi siang di koridor sekolah. Kalimat ancaman Devan yang diceritakan kembali oleh Saka di depan lab fisika tadi seolah bergema berulang kali di dalam isi kepalaku bagai kaset rusak yang menyiksa mental.

*Beasiswa kuliah.*

Kata itu terasa begitu berat dan menghantam telak pertahanan egoku malam ini. Devan benar-benar tahu di mana titik lemah terbesar di dalam hidupku. Yayasan pendidikan yang selama ini menjanjikan bantuan dana penuh untuk kelanjutan studiku di universitas impian tahun depan ternyata berada di bawah subsidi langsung dari perusahaan besar milik keluarga besar Dirgantara. Hubungan beracun yang kukira sudah bisa kupatahkan di dalam sekolah lewat bantuan wewenang Pak Malik, ternyata memiliki akar gurita yang jauh lebih dalam dan tak tersentuh di ranah ekonomi dunia nyata.

Jika Devan nekat menggunakan pengaruh kekuasaan ayahnya untuk mencabut draf rekomendasi beasiswa tersebut hanya karena rasa sakit hatinya didepak dari jabatan Ketua OSIS, seluruh impian masa depanku untuk melanjutkan kuliah dipastikan bakal hancur lebur dalam sekejap mata. Orang tuaku yang hanya bekerja sebagai karyawan biasa tidak akan pernah mampu membiayai pengeluaran uang kuliah tunggal yang kian meroket tinggi setiap tahunnya.

Air mata yang sejak tadi kutahan di depan anak-anak IPS akhirnya luruh juga, membasahi permukaan meja belajar yang berdebu. Aku menenggelamkan wajahku di antara kedua lipatan tanganku, menangis sesenggukan dalam kesunyian kamar yang dingin. Aku merasa sangat tidak berguna. Di satu sisi, aku tidak ingin kembali masuk ke dalam sangkar emas penuh manipulasi psikologis yang dibuat oleh Devan. Namun di sisi lain, aku juga tidak sanggup jika harus melihat Saka terus-terusan mempertaruhkan nyawa dan masa depannya di atas aspal jalanan hanya untuk menghadapi kebiadaban taktik modal milik keluarga Devan di luar sekolah.

*Bzzzt... Bzzzt...*

Getaran panjang dari ponsel yang berada di dalam saku seragamku mendadak memecah keheningan kamar, mengejutkanku hingga refleks menegakkan tubuh. Dengan telapak tangan yang masih basah oleh air mata, aku merogoh benda pipih tersebut dan melihat layar yang menyala terang. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang sangat kuhafal.

Bukan Devan. Melainkan Saka Aditya.

Aku segera menggeser tombol hijau ke atas, lalu menempelkan ponsel itu ke telingaku dengan napas yang masih memburu tidak beraturan. "S-Saka? Lo udah di rumah?" tanyaku dengan suara yang serak dan tidak bisa menyembunyikan sisa tangisanku.

Hening sesaat di seberang sambungan telepon. Yang terdengar hanyalah hembusan napas berat dan deru angin malam yang samar, menandakan bahwa cowok itu tampaknya masih berada di pinggir jalan raya.

"Lo nangis, Mikaela?" suara bariton Saka yang berat dan dalam mendadak memotong kalimatku dengan nada yang sangat tajam, sarat akan intensitas emosi protektif yang seketika meletup-letup. "Si ular itu menghubungi lo lagi malam ini? Atau anak buahnya ada yang nekat mendatangi rumah lo lewat pintu depan?!"

"Enggak, Sak! Enggak ada yang menghubungi gue," jawabku cepat, mencoba sekuat tenaga menstabilkan pita suaraku agar dia tidak semakin panik. "Gue... gue cuma kepikiran soal ucapan Devan tentang beasiswa kuliah itu. Gue takut, Sak. Gue takut kalau masa depan gue bener-bener hancur karena masalah hubungan kita bertiga ini."

Saka kembali terdiam di seberang sana. Keheningan kali ini terasa begitu menekan, seolah-olah dia sedang menahan amarah yang luar biasa hebat agar tidak meledak dan menakutiku. Tak lama kemudian, suara raungan mesin motor sport-nya terdengar perlahan mematikan diri, digantikan oleh suara langkah sepatunya di atas jalanan yang sunyi.

"Dengar sekesali kalimat gue malam ini, Mik," tutur Saka dengan nada suara yang merendah, sangat lambat, namun memiliki penekanan tak terbantahkan yang langsung mengunci seluruh fokus kesadaranku. "Gue baru aja selesai mengusir Devan dan dua anjing penjaganya dari ujung jalan komplek rumah lo lima belas menit yang lalu. Gue udah pastikan jam tangan mewahnya kembali ke tangannya, dan gue juga udah kasih peringatan terakhir yang bener-bener keras tepat di depan wajahnya."

Saka menjeda kalimatnya sesaat, menarik napas dalam-dalam seolah sedang menyalurkan seluruh sisa kekuatan dan keagresifan tulus miliknya lewat getaran suara telepon pintar ini.

"Soal beasiswa kuliah lo... jangan pernah berani lo berpikir buat berjalan kembali masuk ke dalam kurungan emas milik Devan hanya karena lo takut miskin atau gak bisa kuliah tahun depan, Mikaela. Gue gak bakal pernah mengizinkan hal itu terjadi seumur hidup gue," geram Saka dengan nada posesif yang teramat pekat. "Sifat berandal gue di pangkalan IPS mungkin gak punya uang miliaran atau yayasan megah kayak keluarga Dirgantara. Tapi mulai malam ini, gue bersumpah bakal melakukan kerja sampingan apa saja di bengkel tua pasar lama, mengumpulkan setiap rupiah yang gue bisa, atau kalau perlu gue bakal minta bantuan seluruh jaringan anak-anak IPS buat mencarikan jalur beasiswa alternatif yang bersih dari modal keluarga Devan."

Air mataku kembali mengalir deras mendengar untaian janji nekat yang keluar dari mulut cowok *red flag* di seberang telepon. Rasa hangat yang luar biasa pekat seketika menjalar memenuhi seluruh rongga dadaku, mengusir dinginnya ketakutan yang sejak sore tadi mengurung mentalku. Saka... dia benar-benar tidak memiliki batas dalam hal memberikan perlindungan total bagi diriku. Sifat protektifnya yang ugal-ugalan dan cenderung agresif justru menjelma menjadi perisai paling kokoh yang tidak akan pernah bisa dibeli atau dihancurkan oleh draf modal mana pun di dunia nyata.

"Saka... tapi itu bakal berat banget buat lo," rintihku lirih, meremas ujung rok seragamku dengan erat.

"Gak ada kata berat dalam kamus hidup gue kalau itu urusannya tentang menjaga kebebasan lo dari genggaman si bangsat itu, Mik," balas Saka dengan kekehan lirih yang terdengar sangat seksi namun sarat akan ketegasan mutlak. "Tugas lo sekarang cuma satu: hapus air mata lo, tidur yang nyenyak malam ini, dan besok pagi berjalan masuk ke kelas MIPA dengan kepala tegak. Biarkan gue yang menjadi benteng pertahanan lo di luar dinding sekolah ini. Selama gelang bintang itu masih melingkar di tangan lo... lo adalah hak milik perlindungan gue yang gak boleh disentuh oleh siapa pun. Paham?"

"Iya, Sak. Gue paham. Makasih banyak ya," ucapku pelan, sebuah senyuman tulus akhirnya kembali terukir di sudut bibirku yang basah.

"Ya udah, gue matikan teleponnya. Gue mau jalan balik ke rumah sekarang. *Good night*, cewek keras kepala," ucap Saka sebelum akhirnya sambungan telepon terputus sepi.

Aku menurunkan ponsel dari telingaku, menatap layarnya yang perlahan menggelap menampilkan bayangan wajahku yang berantakan namun kini sudah dipenuhi oleh ketenangan yang baru. Sumbu konflik asmara berkarakter *red flag* antara Saka Aditya dan Devan Dirgantara kini telah resmi bergeser sepenuhnya dari ranah organisasi sekolah menuju ke medan perang dunia nyata yang melibatkan masa depan, ekonomi, dan harga diri keluarga di luar sana. Taktik Devan untuk memeras emosiku lewat jalur beasiswa memang sangat matang dan mematikan, namun keagresifan perlindungan tulus yang diberikan oleh si berandal patuh aturan malam ini membuktikan bahwa kami tidak akan pernah mundur selangkah pun sebelum permainan berbahaya ini selesai seutuhnya di dunia nyata. Aku merebahkan tubuhku di atas kasur dengan perasaan yang jauh lebih siap menghadapi badai baru apa pun yang akan melanda hubungan kami di esok hari.

### **Komentar Penulis (Author's Corner)**

> Intensitas ketegangan emosional dan konflik psikologis di luar dinding sekolah bener-bener dinaikkan ke level yang jauh lebih ekstrem di Bab 27 ini! Devan Dirgantara terbukti bukan cuma sekadar Ketua OSIS biasa, melainkan ancaman nyata berkekuatan modal besar yang siap menggunakan jalur beasiswa kuliah Mikaela sebagai alat pemerasan emosional terbaru di dunia nyata.

> Namun, respons perlindungan total, posesif, dan sangat nekat dari seorang Saka Aditya di bab ini bener-bener nunjukin esensi sejati dari karakter *red flag* protektif yang tulus dan bikin candu! Dia siap melakukan apa saja, termasuk bekerja keras di luar sekolah, demi menjaga agar Mikaela tidak kembali masuk ke dalam sangkar emas manipulasi milik Devan. Hubungan mereka sekarang udah benar-benar diuji oleh realitas dunia luar yang liar!

> Kira-kira langkah taktis baru apa yang bakal diambil oleh Saka bersama anak-anak pangkalan IPS untuk mematahkan dominasi modal keluarga Devan di bab berikutnya? Jangan lupa ya buat klik tombol **Like** di bawah, berikan **Vote** yang banyak untuk mendukung kelancaran kelanjutan cerita kita, dan ramaikan kolom **Komentar** dengan seluruh dukungan kalian buat perjuangan nekat Saka Aditya malam ini! Dukung terus perkembangan novel **RED FLAG** ya! Sampai jumpa di bab selanjutnya besok pagi, *keep reading and stay alert, guys!*

>

1
listia_putu
lanjut
Sri Dewi
terimakasih kaka jangan lupa promosikan ke teman nya soalnya ini novel pertamaku dengan genre ini jangan lupa di like ya kk
Indah Sari Nurwahyuningtyas
seru bngt panik dan rasa takutnya dapet dari ceritanya jadi yg baca ikut ngerasain jugaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!