Alya—gadis 20 tahun, terpaksa bekerja menggantikan ibunya yang sakit keras. Ia menjadi seorang pelayan di sebuah mansion mewah milik seorang pria kaya yang terkenal dingin dan arogan.
Suatu hari keduanya bertemu.
Maxime, pemilik rumah tersebut jatuh cinta pada gadis itu dan memintanya untuk menikah dengannya.
Namun, Alya menolak, karena merasa dipermainkan oleh pria itu.
Pria itu tidak menyerah, ia melakukan segala cara untuk mendapatkan hatinya.
Apakah pria itu akan berhasil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Delapan
Alya masih melanjutkan bacaannya tanpa jeda. Ia mulai merasa lelah dan bosan. Lidahnya terasa kelu, karena membaca tanpa henti.
Perutnya mulai meronta, minta untuk di isi. Pagi tadi, ia tidak sempat sarapan karena bangun kesiangan. Bahkan, bekal yang dibawakan oleh ibunya, belum sempat ia sentuh karena pekerjaan yang tidak ada hentinya.
"Tuan. Ini sudah waktunya makan siang. Saya akan menyiapkan makanan untuk Anda." ucap Alya, mencari alasan yang terdengar masuk akal.
"Tidak perlu. Aku sudah meminta kepala pelayan untuk mengurusnya. Lanjutkan saja membacanya!" perintah Maxime, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.
"Iya, Tuan."
Pundak Alya seketika merosot, kehilangan tenaga.
Pria ini sepertinya sedang menyiksaku. pikir Alya kesal.
Ia lalu lanjut membaca, walaupun suaranya terdengar sedikit serak karena kehausan.
Tok!Tok!Tok!
Terdengar suara ketukan dari luar pintu ruangan.
"Masuk!" perintah Maxime tanpa menoleh, seolah ia tahu siapa yang saat ini berdiri di balik pintu yang tertutup rapat itu.
Pintu ruangan terbuka. Kepala pelayan masuk dengan dua orang pelayan wanita yang masing-masing membawa nampan berisi makanan di tangannya.
Mereka tak lain adalah Sinta dan Lani, pelayan yang tadi sempat bersitegang dengannya.
Wajah kedua gadis itu tampak datar, nyaris tanpa ekspresi. Atas perintah dari kepala pelayan, mereka menyajikan makanan yang di bawa ke meja di sudut ruangan.
Gerakan kedua gadis itu tampak cekatan, nyaris tanpa suara yang mengganggu, pelan, dan penuh kehati-hatian.
Setelah selesai, tanpa banyak kata, kepala pelayan dan kedua gadis itu keluar dari ruangan.
Ruangan itu kembali sunyi. Bahkan, jemari tangan Maxime tidak lagi bergerak di atas keyboard.
Ia menoleh ke arah Alya, tersenyum tipis, penuh makna.
"Temani aku makan siang." ucapnya santai, tidak tegas seperti biasanya.
"Hah... makan siang bersama?" tanya Alya, ingin memastikan.
"Iya. Ayo!" pria itu berdiri dari kursinya, langkahnya tenang namun penuh wibawa saat berjalan lebih dulu ke arah sofa.
Kata-kata itu jelas bukan sebuah ajakan, melainkan sebuah perintah yang tidak bisa di bantah.
Alya terdiam sejenak. Ia memperhatikan punggungnya yang sudah menjauh dari meja kerjanya.
Ketika pria itu duduk di sofa, ia menatap Alya yang hanya membeku di tempatnya, menatapnya ragu.
"Kenapa masih duduk di sana? Kemari!" Ia menepuk sisi sampingnya, "Duduk di sini!"
Alya berdiri tegak, namun langkah kakinya terlihat penuh keraguan, seolah tak yakin, jika dirinya akan pantas untuk duduk bersebelahan dengan majikannya itu.
Ia tidak langsung duduk, malah berdiri dan menyisakan sedikit jarak di antara mereka.
Melihat gadis itu yang tidak kunjung duduk, membuat Maxime sedikit kesal. Ia menatapnya tajam, seolah sedang mengatakan sesuatu tanpa suara.
"Duduk." ucapnya akhirnya, singkat, namun tegas.
Jemari Alya saling bertaut, gugup. Ia menelan ludah, lalu perlahan duduk di sampingnya.
Pria itu terlalu banyak memakan tempat duduk dan hanya menyisakan sedikit ruang untuknya. Sehingga Alya terpaksa merapat ke sudut sofa, agar tidak bersentuhan dengan lututnya yang jenjang.
"Makanlah! Aku tidak punya banyak waktu untuk menunggu. Pekerjaan kita masih banyak." lanjut Maxime, suaranya terdengar rendah, namun sarat dengan ancaman.
Alya terpaksa melahap makanan di hadapannya, walau setiap gigitan terasa hambar di mulutnya.
"Bagaimana keadaan ibumu?* tanyanya tiba-tiba, disela-sela makan siang mereka yang sunyi.
"Hmm... kondisinya sudah lebih baik dari sebelumnya, Tuan. Ibu sudah bisa beraktivitas, walaupun hanya aktivitas ringan." jelas Alya, tampak tegang.
"Apa ia masih perlu di kemoterapi?"
"Iya, Tuan." jawab Alya dengan suara tertahan. "Ibu masih harus menjalani dua sesi kemoterapi lagi... sebelum operasi dilakukan."
"Ah ... begitu, ya."Sahut pria itu pelan.
Suasana hening sejenak.
"Apa kau kesulitan dengan biayanya? Jika ya, katakan saja pada Pak Dul, dia akan mengurus segala pembiayaannya." lanjut Maxime, memberi penawaran padanya.
"Tidak perlu, Tuan. Terima kasih untuk tawarannya. Saya masih punya cukup uang untuk membayarnya." Alya menundukkan kepalanya, merasa canggung.
"Ya. Itu terserah padamu. Tapi, jika kau perlu bantuan, jangan ragu untuk mengatakannya. Biar bagaimanapun, ibu Junita sudah merawatku dengan baik selama ini."
"Iya, Tuan. Terima kasih atas perhatian Anda." sahut Alya, melanjutkan makannya.
🌺🌺🌺
Alya akhirnya keluar dari ruangan yang menyesakkan itu pada sore harinya.
Ia tampak melakukan sedikit perenggangan, menarik napas panjang, seolah baru saja terbebas dari beban yang menekan dadanya sejak tadi.
Masih ada pekerjaan yang menunggu, ia tak punya waktu untuk larut dalam kelelahan.
Ia melangkah cepat, menuruni anak tangga, seolah sedang dikejar oleh waktu.
Alya pergi ke dapur, untuk membantu menyiapkan makan malam bersama Bi Sari.
"Bibi!" sapa Alya, setelah melihat wanita itu sedang mencuci sayuran di wastafel.
"Kau sudah kembali. Apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanyanya.
"Sudah, Bi. Tuan sudah mengizinkanku untuk pergi." sahut Alya pelan.
Ia lalu mengambil alih pekerjaan Bibi Sari, mencuci sayuran itu.
"Tidak usah. Biar Bibi saja yang kerjakan. Tinggal di cuci sekali lagi, kok." larang wanita paruh baya itu cepat.
"Kau kupas saja bumbu yang sudah Bibi siapkan di atas meja." lanjutnya, memberi arahan.
"Oh, baiklah." ia lalu melangkah menuju meja, dan duduk di kursi, mulai mengupas bawang.
"Oh, lihat siapa yang sudah kembali dari ruang kerja Tuan." suara seorang gadis terdengar dingin, seolah sedang menyindirnya.
Gadis itu tak lain dan tak bukan adalah Sinta. Ia berhenti tepat di depannya. Sementara Lani, seperti biasa, berdiri dibelakangnya, menyunggingkan senyum tipis yang terkesan mengejek ke arah Alya.
Alya hanya diam. Terlalu malas untuk menanggapi ucapan wanita itu yang selalu saja ingin mencari-cari kesalahannya.
Ia tetap fokus pada pekerjaannya.
"Hah, lihatlah wajahnya yang menyebalkan itu." ucap Sinta sinis. Ia lalu mencondongkan tubuhnya, menatap Alya lebih dekat. "Apa kau pikir, kau sudah menjadi pelayan kesayangan Tuan muda?" tanyanya dengan nada sindiran yang tajam.
Alya hanya meliriknya sekilas, lalu kembali menatap bawang di tangannya. Ia tak peduli sedikitpun terhadap perkataannya yang terlalu mengada-ada.
"Sin, jangan-jangan ia juga berniat menggoda Tuan muda. Mungkin ia sedang berkhayal menjadi nyonya di rumah ini." timpal Lani, sengaja memanaskan keadaan.
"Ah, ucapanmu ada benarnya juga, Lan." sahut Sinta, dengan nada sinis. " Kemarin dia menggoda Bayu, sekarang ia juga ingin menggoda Tuan muda. Apa tukang kebun itu masih belum cukup untuk memuaskan hasratmu."
Dahi Alya tampak berkerut dalam, mulai terpancing dengan perkataannya yang terdengar tidak masuk akal.
"Apa maksudmu bicara seperti itu? Jangan sembarang menuduh ya!" balas Alya tidak senang.
"Halah... Jangan sok suci. Jelas-jelas aku melihat tukang kebun memberikan sebuah amplop padamu kemarin, sebelum kau pulang. Amplop itu berisi uang, kan?" Lani melangkah mendekat, menatap tajam ke arah Alya.
"Apa itu bayaran untukmu, karena sudah berhasil... memuaskan hasratnya?" lanjut Lani pelan, seolah berbisik di telinganya.
PLAK!!
🌺🌺🌺
mengalihkan duniakuu~