NovelToon NovelToon
VENA - AIR YANG MATI

VENA - AIR YANG MATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Fantasi
Popularitas:147
Nilai: 5
Nama Author: Catnonimous

Aris hanyalah seorang petugas instalasi pipa bawah tanah yang dibayar murah untuk melakukan pekerjaan kotor yang dihindari semua orang. Namun, upah rendahnya tidak sebanding dengan apa yang ia temukan.
Seekor tikus yang berubah setelah meminum tetesan air dari pipa.
Tubuhnya mengeras lalu meledak tapi sisa tubuhnya masih bisa bergerak.
Apakah benar hanya tetesan air itu yang membuat tikus itu berubah?
Bagaimana dengan manusia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Catnonimous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 : Kota yang mulai berubah

Di dalam gedung kementerian, suasana jauh dari kata tenang. Sejak pagi, para pejabat tinggi dan staf ahli tidak hanya terpaku pada masalah air. Ruang rapat utama dipenuhi dengan perdebatan mengenai krisis bahan pokok yang mulai merangkak naik. Telepon terus berdering, laporan dari berbagai daerah masuk bersamaan, menuntut keputusan cepat. Namun, di tengah tumpukan berkas penting lainnya, laporan hasil uji laboratorium air dari dinas kesehatan menjadi prioritas yang paling mendesak untuk segera diumumkan ke publik.

Siang harinya, juru bicara kepresidenan mengadakan siaran pers mendadak yang disiarkan langsung melalui seluruh kanal televisi dan media sosial. Dengan raut wajah serius, ia mengumumkan status darurat air bersih untuk wilayah kota. Ia menjelaskan bahwa infrastruktur air sedang mengalami kendala teknis yang serius. Sebagai langkah awal, pemerintah memutuskan untuk membatasi distribusi air bersih; setiap keluarga hanya dijatah satu galon air bersih per hari melalui posko-posko bantuan yang akan ditentukan secepatnya.

Kondisi di lapangan berubah menjadi kekacauan dalam hitungan jam. Di supermarket dan toko-toko retail, rak yang biasanya penuh dengan air mineral botolan kini kosong melompong. Warga yang panik melakukan aksi borong, membuat stok cadangan air habis seketika. Harga air di tingkat pengecer melonjak drastis, hingga lima kali lipat dari harga normal. Bahkan, perusahaan air daerah mulai mematikan aliran ke sektor-sektor tertentu untuk menghemat pasokan yang tersisa.

Krisis ini memicu kemarahan publik. Di beberapa titik pusat kota, warga mulai berkumpul dan melakukan aksi protes. Mereka membawa jeriken dan galon kosong sebagai simbol kesulitan yang dihadapi. "Air sumur kami hitam dan bau, air pemerintah pun tidak cukup!" teriak salah satu orator di tengah kerumunan.

Ketegangan meningkat karena warga tidak memiliki alternatif lain. Air sumur yang biasanya menjadi tumpuan kini benar-benar tidak bisa dikonsumsi atau bahkan sekadar digunakan untuk mandi. Kota yang biasanya sibuk dengan aktivitas ekonomi, kini lumpuh oleh satu kebutuhan dasar yang hilang. Antrean panjang di truk tangki air pemerintah sering kali berakhir dengan kericuhan karena warga khawatir tidak kebagian jatah air harian mereka. Kota benar-benar sedang berada di titik nadir krisis air bersih.

......................

Di tengah tekanan publik yang semakin memanas, pemerintah mengumumkan sebuah langkah strategis untuk meredakan krisis. Mereka berencana membangun instalasi penyulingan air sementara di waduk besar yang terletak di pinggiran kota. Berdasarkan pengecekan awal, air di waduk tersebut dinyatakan bebas dari kandungan berbahaya yang menghantui sumur warga, namun pemerintah tetap menegaskan perlunya uji laboratorium mendalam sebelum air tersebut benar-benar didistribusikan bahkan di sekeliling waduk tersebut sudah di jaga ketat oleh aparat gabungan.

Bersamaan dengan itu, sebuah seruan terbuka dikeluarkan: pemerintah membutuhkan relawan untuk membantu pembangunan sambungan pipa darurat dari waduk menuju pusat kota.

Kabar ini sampai ke telinga warga di sekitar termasuk Aris, Liora dan tetangga-tetangganya. Sore itu, Aris dan Liora sedang berkumpul bersama Pak RT dan Pak Heru di depan toko. Radio kecil milik Pak RT menyiarkan pengumuman tentang pendaftaran relawan tersebut.

"Ris, kamu tidak mau coba jadi relawan disana?" ujar Pak RT bertanya sambil menepuk bahu Aris. "Kamu punya pengalaman instalasi pipa, meskipun tidak lama tapi tenagamu sangat dibutuhkan di sana. Ini bukan cuma soal membantu pemerintah, tapi soal menyelamatkan nyawa tetangga-tetanggamu juga."

Pak Heru mengangguk setuju. "Benar, Ris. Kami semua di sini kesulitan air. Kalau kamu ikut, setidaknya ada orang yang kami kenal yang memastikan semuanya baik-baik saja."

Aris terdiam, tampak ragu. Matanya sempat melirik ke arah Liora yang sejak tadi hanya terdiam dengan gurat kecemasan di wajahnya. Liora tahu persis apa yang mereka temukan di bawah gorong-gorong, sesuatu yang lebih dari sekadar "kendala teknis."

"Bisa beri kami waktu sebentar? Saya ingin bicara dengan Aris," sela Liora kepada para tetangga.

Liora mengajak Aris masuk ke dalam toko agar pembicaraan mereka tidak terdengar. Liora langsung menatap Aris dengan serius. "Kamu yakin mau ikut? Ingat apa yang kita lihat di bawah sana?. Tikus? kecoa? Kalau kamu bergabung sebagai relawan, kamu akan bersentuhan langsung dengan infrastruktur yang mungkin sudah terkontaminasi."

"Aku tahu, Liora. Aku juga takut," jawab Aris pelan. "Tapi kita tidak bisa cuma diam melihat warga mengantre air sambil marah-marah setiap hari. Kita juga butuh air bersih, kan?"

Liora menghela napas. "Masalahnya, sampai sekarang Dokter Ferdi belum memberi kabar soal sampel itu. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya kita hadapi. Bagaimana kalau proyek penyulingan ini justru jadi jalan bagi cairan itu untuk menyebar lebih luas?"

Aris menatap tangannya yang biasa memegang kunci pipa. Keraguan sempat menyelimutinya, namun mental nya mulai mengambil alih. "Justru karena itu aku harus ikut. Kalau aku ada di dalam proyek itu, aku bisa melihat langsung apa yang dilakukan pemerintah dan apakah ada hal aneh lagi disana. Ini untuk kepentingan warga juga kan."

Melihat tekad di mata Aris, Liora akhirnya mengangguk perlahan, meski rasa cemasnya tidak sepenuhnya hilang. "Baiklah. Kalau itu keputusanmu, tetap bawa ponselmu, dan jangan ambil risiko sendiri."

Aris mengangguk mantap. Ia keluar menemui para tetangganya yang masih menunggu. "Pak RT, saya putuskan untuk ikut. Besok pagi saya akan pergi mendaftar jadi relawan."

Keputusan itu disambut oleh tetangganya, tanpa mereka tahu bahwa Aris sedang melangkah masuk ke dalam yang jauh lebih berbahaya dari sekadar proyek konstruksi biasa.

......................

Di sisi lain kota, di dalam sebuah bangunan tua yang luas dan pengap, cahaya biru dari layar televisi menjadi satu-satunya penerangan yang dominan. Bangunan itu tampak seperti bekas pabrik tekstil yang sudah lama ditinggalkan, namun di dalamnya tersimpan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada emas di tengah kondisi saat ini.

Tiga orang pria duduk santai di kursi plastik yang kusam, mata mereka terpaku pada layar televisi yang sedang menayangkan berita utama. Di layar, seorang wartawan melaporkan dengan nada cemas dari depan balai kota.

"...Krisis air bersih semakin mencekam. Pemerintah kini mulai membatasi distribusi air dan menyerukan warga untuk tetap tenang sembari menunggu pembangunan instalasi darurat di waduk. Antrean warga mulai mengular di setiap titik pembagian..."

Salah satu pria, yang duduk di tengah dengan kaki terangkat ke meja, menyeringai lebar. Ia meraih remote dan mengecilkan volume televisi.

"Dengar itu? 'Tetap tenang' katanya," pria itu mencibir, lalu tertawa pendek. "Mereka tidak tahu kalau ketenangan adalah barang paling mahal sekarang."

Dua temannya ikut terkekeh. Salah satunya berdiri, berjalan menuju sudut ruangan dan menepuk barisan galon yang berjajar rapi.

Di setiap sudut ruangan itu, ratusan galon air bersih tertumpuk tinggi hingga menyentuh langit-langit. Bukan hanya itu, di bagian atas bangunan yang terbuka, terlihat bayangan empat toren air berkapasitas raksasa yang sudah terisi penuh.

"Kita akan jadi raja di kota yang kehausan ini," sahut pria yang berdiri, matanya berkilat penuh keserakahan. "Pemerintah cuma bisa kasih satu galon per keluarga? Kita punya ribuan. Orang-orang akan merangkak ke sini dan memberikan apa saja asal tenggorokan mereka tidak kering."

Pria ketiga, yang sejak tadi diam, menyesap kopi dari cangkirnya dengan gestur angkuh. "Biarkan mereka membangun pipa darurat itu. Sampai pipa itu selesai, harga air kita sudah cukup untuk membeli kebebasan kita selamanya."

Gelak tawa mereka pecah, bergema di ruangan pabrik yang dingin itu. Sebuah tawa yang terdengar licik dan picik, merayakan penderitaan jutaan orang yang berada tepat di balik dinding bangunan mereka. Di sana, di tengah tumpukan air yang melimpah, rasa kemanusiaan telah lama menguap, digantikan oleh rencana busuk yang mulai matang.

...****************...

1
Anak_misterius😑
bagus novel nya👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!