NovelToon NovelToon
SENI TRANSMUTASI TULANG PURBA

SENI TRANSMUTASI TULANG PURBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: 秋天(Qiūtiān)

Han jian merupakan seorang pemuda dari klan Han yang tidak dapat ber kultivasi sejak kecil sehingga menjadi bahan hinaan di klan Han, ia tidak dapat ber kultivasi dikarenakan ia tidak memiliki dantian seperti yang lain nya melain kan sebuah pusaran hitam yang di akibatkan karena dantian nya telah hancur, namun nasibnya berubah setelah menemukan sebuah fragmen tulang di makam ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 秋天(Qiūtiān), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: RATAPAN DI GERBANG UTARA

Lembah di kaki Gunung Salju Abadi masih bersimbah darah ketika sebuah kereta kuda mewah dengan lambang pedang bersilang perak melintas. Kereta itu milik Sekte Pedang Langit, otoritas tertinggi yang membawahi wilayah utara. Di dalamnya duduk Utusan Liu, seorang pria paruh baya dengan aura yang tajam dan tenang. Gerakan kereta terhenti ketika para pengawal menemukan sosok yang merangkak di tengah jalan salju—seorang pria tanpa anggota tubuh yang berfungsi, wajahnya hancur oleh embun beku dan air mata.

"Tolong... sampaikan... pada dunia..." rintih Han Zong, Tetua Ketiga Klan Han yang kini tak lebih dari onggokan daging bernapas.

Utusan Liu turun dari kereta. Matanya menyipit saat memeriksa luka di persendian Han Zong. Sebagai ahli tahap Pusaran Bumi tingkat puncak, ia bisa melihat bahwa kerusakan ini bukan disebabkan oleh senjata atau ledakan Qi. Ini adalah kehancuran struktur atom tulang yang dilakukan dengan presisi yang mengerikan.

"Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Liu, suaranya sedingin es di sekitarnya.

"Si... Si Sampah... Han Jian... Tanpa Dantian... Tulang Perak..." Setelah mengucapkan kata-kata itu, Han Zong jatuh pingsan.

Utusan Liu tertegun. Seorang kultivator tanpa dantian yang mampu menghancurkan pasukan elit dan melumpuhkan seorang tetua? Ini bukan lagi sekadar urusan internal sebuah klan kecil. Ini adalah anomali yang bisa mengancam tatanan dunia kultivasi yang sudah mapan selama ribuan tahun.

"Bawa dia ke markas Klan Han," perintah Liu kepada pengawalnya. "Aku ingin melihat sendiri pemuda bernama Han Jian ini. Jika benar dia memiliki teknik tulang kuno, Sekte Pedang Langit harus memilikinya."

Sementara itu, di sebuah gua tersembunyi yang hangat karena aktivitas geotermal di pedalaman hutan, Han Jian duduk bersila di atas batu datar. Tubuhnya dikelilingi oleh uap putih yang keluar dari pori-porinya. Setiap tarikan napasnya membuat udara di dalam gua bergetar pelan.

Di dalam tubuhnya, sebuah revolusi sedang berlangsung. Esensi dari Tulang Perak Langit telah sepenuhnya meresap ke dalam sumsumnya. Jika sebelumnya tulangnya hanya sekeras baja, kini mereka memiliki kualitas "abadi". Mereka tidak hanya kuat, tetapi juga mampu melakukan regenerasi instan dan menyimpan energi dalam kepadatan yang tak terbayangkan oleh kultivator biasa.

"Kau telah mencapai fondasi perak yang sempurna," suara kuno dari fragmen tulang hitam di telapak tangannya bergema. "Tapi ingat, perak adalah logam yang bisa meleleh jika api musuhmu terlalu panas. Untuk benar-benar tak terkalahkan, kau harus mencari 'Inti Giok Hitam' yang tersembunyi di bawah aula utama klanmu."

Han Jian membuka mata peraknya. Cahaya yang memancar dari pupilnya begitu kuat hingga membelah kegelapan gua. "Inti Giok Hitam? Jadi itulah alasan sebenarnya mengapa leluhur membangun klan di tempat itu?"

"Benar. Mereka membangun klan di atas jantung bumi untuk menekan energinya dan menggunakannya sebagai baterai Qi. Mereka mencuri hak milik bumi untuk mengisi wadah-wadah kecil mereka yang disebut Dantian. Ambil kembali apa yang mereka curi, dan tulangmu akan berevolusi menjadi Emas."

Han Jian berdiri. Gerakannya begitu halus namun setiap langkahnya meninggalkan retakan di lantai gua. Ia tidak merasa lapar, tidak merasa lelah. Seluruh sel tubuhnya kini hidup dari energi murni yang dipompa oleh sumsum tulangnya.

Ia berjalan keluar gua, menatap ke arah selatan, di mana kediaman utama Klan Han berada. Jaraknya masih puluhan mil, namun bagi Han Jian yang sekarang, itu hanyalah beberapa jam perjalanan.

Tujuh hari telah berlalu sejak pembantaian di lereng gunung. Atmosfer di kediaman utama Klan Han sangat mencekam. Kabar tentang kembalinya Han Zong dalam kondisi cacat telah menyebar seperti wabah. Ketakutan menyelimuti setiap murid, dari tingkat terendah hingga para instruktur.

Tetua Agung, Han Borong, duduk di singgasana aula utama dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua. Di sampingnya berdiri Utusan Liu dari Sekte Pedang Langit. Di depan mereka, Han Zong yang sudah diobati sedikit, diletakkan di atas tandu.

"Dia akan datang hari ini," bisik Han Borong, suaranya bergetar. "Dia bilang matahari tidak akan terbit untuk kita."

"Tenanglah, Tetua Han," ucap Utusan Liu sambil membelai gagang pedang peraknya. "Sekte Pedang Langit telah mengirim dua ahli tahap Transformasi Jiwa tambahan yang sedang dalam perjalanan. Tidak peduli seberapa kuat tulangnya, dia tetaplah satu orang. Di hadapan hukum langit dan ribuan pedang, dia hanya akan menjadi debu."

Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar dari arah gerbang utara.

BOOM!

Seluruh bangunan aula bergetar. Seorang penjaga berlari masuk dengan wajah pucat pasi, baju zirahnya hancur di satu sisi. "Dia... dia di sini! Dia menghancurkan gerbang utama hanya dengan sekali tendang!"

Han Borong berdiri, wajahnya penuh kemarahan dan ketakutan. "Aktifkan Formasi Penindas Seribu Gunung! Jangan biarkan dia melangkah ke aula!"

Di luar, Han Jian berjalan melewati puing-puing gerbang baja seberat sepuluh ton yang kini hancur berkeping-keping. Ia tidak berlari. Ia berjalan dengan tenang, tangan kosong, tanpa senjata apa pun. Di sekelilingnya, ratusan murid klan mengepung dengan pedang gemetar.

"Tembak!" perintah seorang kapten penjaga.

Ribuan anak panah yang diperkuat dengan energi Qi meluncur dari atas tembok, menutupi langit layaknya hujan hitam. Han Jian bahkan tidak mendongak. Ia hanya menghentakkan kaki kirinya ke tanah.

SHUUUU—

Gelombang tekanan perak meluas dari tubuhnya, membentuk kubah energi transparan. Anak-anak panah itu hancur menjadi serpihan kayu dan logam sebelum sempat menyentuh sehelai rambut pun dari kepala Han Jian.

"Kalian menyebut tempat ini rumah," suara Han Jian bergema, dingin dan tanpa emosi. "Bagiku, ini hanyalah kandang tempat kalian memelihara keserakahan."

Ia melayangkan satu pukulan ke udara ke arah barisan murid di depannya. Tekanan udara yang dihasilkan begitu masif hingga menciptakan jalur kosong di tengah kerumunan, melempar puluhan murid ke udara dengan tulang rusuk yang hancur.

Langkah demi langkah, Han Jian mendekati aula utama. Formasi Penindas Seribu Gunung yang diaktifkan mulai bekerja. Tekanan gravitasi di area itu meningkat sepuluh kali lipat, membuat tanah di bawah kaki Han Jian amblas sedalam beberapa inci. Namun, Han Jian justru tersenyum.

"Tekanan ini... terlalu ringan," gumamnya.

Ia memicu resonansi pada tulang punggungnya. Tubuhnya mulai memancarkan cahaya perak yang menyilaukan. Alih-alih tertekan oleh formasi, Han Jian justru "menelan" tekanan gravitasi tersebut dan menjadikannya beban tambahan untuk memperkuat daya hantam pukulannya.

Tepat di depan tangga aula, Utusan Liu keluar bersama Han Borong.

"Han Jian! Berhenti di sana!" teriak Utusan Liu, pedang peraknya terhunus, memancarkan aura suci. "Aku adalah utusan Sekte Pedang Langit. Menyerahlah sekarang, atau kau akan menghadapi murka seluruh sekte!"

Han Jian berhenti dan menatap Liu. Mata peraknya membuat sang utusan merasa seolah-olah jiwanya sedang ditelanjangi.

"Sekte Pedang Langit?" Han Jian bertanya pelan. "Apakah kalian juga yang memberikan racun Pemutus Akar kepada Han Borong untuk membunuh ibuku?"

Liu tertegun. Ia melirik Han Borong yang wajahnya menjadi sangat pucat. "Itu... itu urusan internal klan. Aku di sini untuk mengamankan ketertiban."

"Ketertiban yang dibangun di atas darah orang yang tidak bersalah tidak layak untuk dipertahankan," jawab Han Jian. Ia mengepalkan tangannya, dan cahaya perak di lengannya menjadi begitu padat hingga udara di sekitarnya mulai retak. "Hari ini, aku tidak hanya akan menghancurkan klan ini. Aku akan menunjukkan pada dunia bahwa 'langit' yang kalian puja bisa diruntuhkan oleh tangan kosong seorang sampah."

Dengan satu lompatan yang menghancurkan tangga batu aula, Han Jian melesat ke arah Utusan Liu dan Han Borong. Pertempuran yang akan menentukan nasib wilayah utara secara resmi pecah.

1
Malik Junjung
critanya trlalu ringkas...
Malik Junjung
yach... mnurut sy sich drpd ikut ujian kdewasaan mnding klwr dri klan... drod pmer kekuatn....
angin kelana
bab selanjutnya semoga lebih seru lg..
秋天(Qiūtiān): di tunggu ya teman teman
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!