Di tengah kehidupan yang penuh hinaan dan kesulitan, Xiao Chen kecil hanya memiliki satu mimpi—menjadi pendekar pedang terhebat di dunia.
Tanpa bakat luar biasa maupun latar belakang kuat, ia menapaki jalan pedang dengan tekad yang tak pernah padam. Bagi Xiao Chen, pedang bukan sekadar senjata, melainkan guru yang mengajarkannya tentang rasa sakit, pengorbanan, dan arti kehidupan.
Namun di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, mampukah seorang anak dari keluarga buruk mengukir namanya hingga mengguncang langit dan bumi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Lu Xue'er
Wusss...
Secara mendadak, angin malam berembus dengan intensitas yang berbeda. Udara di sekitar batu tempat Xiao Chen duduk mendadak berubah menjadi sangat dingin, hingga setiap embusan napas Xiao Chen mengeluarkan uap putih.
Insting bertarungnya langsung bangkit. Xiao Chen berdiri dan memegang gagang pedang kayu latihannya, menatap waspada ke arah bayangan pohon.
Dari balik kegelapan yang diterangi cahaya bulan, seorang wanita berjubah putih bersih berjalan keluar dengan langkah yang teramat anggun.
Rambut hitam panjangnya berkibar lembut ditiup angin malam. Sebuah pedang panjang dengan hiasan perak tergantung di pinggangnya, memancarkan aura dingin yang membekukan rumput-rumput yang dilaluinya.
Xiao Chen tidak mengenali sosok itu dari rumor yang beredar luas di sekte: Lu Xue'er, Sang Pedang Es Suci.
Untuk beberapa saat, Xiao Chen terpana. Wajah wanita itu begitu cantik, dengan kulit seputih salju dan sepasang mata jernih yang tampak acuh tak acuh terhadap dunia. Kecantikannya berada di tingkat yang berbeda dari gadis-gadis desa atau murid luar yang pernah ia temui.
"Siapa kau?" Tanya Xiao Chen. Ia bisa merasakan perbedaan ranah kultivasi yang teramat jauh di antara mereka, wanita di depannya ini bisa membunuhnya hanya dengan satu gerakan.
"Tenanglah," suara Lu Xue'er terdengar jernih namun dingin seperti es. "Namaku Lu Xue'er. Aku adalah murid inti. Lebih mudahnya, aku adalah seniormu di sekte ini."
Mendengar konfirmasi tersebut, Xiao Chen segera menurunkan pedang kayunya dan menundukkan kepala, memberikan penghormatan resmi. "Maafkan ketidaksopanan saya, Senior Lu... saya tidak mengenali orang hebat sepertimu."
Ia menarik napas dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba berdegup tidak beraturan. "Jika boleh saya tahu... ada urusan apa orang sehebat Senior mendatangi tempat kumuh murid luar dan menemui adik seperguruan yang lemah ini?"
"Aku hanya penasaran," Lu Xue'er melangkah lebih dekat, sepasang mata indahnya menatap selidik ke seluruh tubuh Xiao Chen.
"Auramu... sangat berbeda dengan murid luar lainnya."
Xiao Chen segera mengalihkan pandangannya, memilih untuk menatap tanah dan menghindari kontak mata langsung dengan Lu Xue'er.
Ada perasaan aneh yang bergejolak di hatinya saat menatap wajah cantik itu, sebuah pesona alami yang mampu meluluhkan siapa saja yang memandangnya.
Lu Xue'er mengernyitkan alisnya melihat reaksi Xiao Chen. "Kenapa kau terus memalingkan matamu dariku? Apakah wajahku menakutkan bagi murid baru sepertimu?"
"Bukan begitu, Senior... saya hanya merasa tidak pantas menatap langsung seorang murid inti," dalih Xiao Chen pelan.
Lu Xue'er tidak mundur, ia justru melangkah hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa jengkal. Xiao Chen bahkan bisa mencium aroma harum bunga plum yang dingin dari tubuh wanita itu.
"Kau tahu? Saat pertarunganmu siang tadi... aku mendengar dari pedangku sendiri bahwa seluruh pedang di wilayah Murid Luar ikut bergetar hebat," Lu Xue'er mendekatkan wajahnya, menatap tajam langsung ke manik mata Xiao Chen dengan ekspresi penuh rasa ingin tahu.
"Apa sebenarnya yang sedang kau sembunyikan dariku, Adik Seperguruan?"
Xiao Chen menelan ludah dengan susah payah. Tekanan mental dari kedekatan ini membuatnya mundur dua langkah untuk menjaga jarak. "Saya benar-benar tidak tahu apa-apa, Senior. Mungkin getaran itu disebabkan oleh kekuatan besar yang dilepaskan oleh Instruktur Han Gu saat menghentikan arena."
Lu Xue'er menyipitkan matanya yang indah. Dari ekspresinya, jelas terlihat bahwa ia tidak memercayai jawaban dangkal tersebut. Namun, melihat ketegangan di wajah Xiao Chen, ia akhirnya menghela napas panjang dan menegakkan kembali tubuhnya.
"Siapa namamu?"