NovelToon NovelToon
Di Jual 500 Juta, Istri Kontrak CEO Dingin

Di Jual 500 Juta, Istri Kontrak CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: TheDee

Judul:
Dijual 500 Juta: Istri Kontrak CEO Dingin

Deskripsi/Sinopsis:
Liana dijual bapak tirinya seharga 500 juta untuk jadi istri kontrak Arka Wijaya, CEO dingin yang lumpuh dan membenci semua orang.

Di rumah mewah itu, dia dipermalukan setiap hari. Disiram comberan, diusir ke gudang, dianggap sampah oleh Keluarga Wijaya.

Tapi yang tidak mereka tahu, di dalam tas lusuh Liana ada surat wasiat Ibu yang bisa mengguncang seluruh Keluarga Wijaya.
Surat yang menyebut nama Arka sebagai kunci atas kematian ayahnya 5 tahun lalu.

Dari gadis desa yang dihina, Liana akan berubah menjadi wanita yang ditakuti.
Dia datang bukan untuk tunduk. Dia datang untuk membalas dendam.

Pertanyaannya:
Apakah balas dendam itu akan membuat Arka jatuh cinta padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TheDee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

Pintu apartemen terbuka pelan, dan sebelum Nadin sempat mengucapkan terima kasih, ruangan kecil itu langsung dipenuhi suara tawa dan tepuk tangan. Bram, Rara, Maya, dan Arka berdiri berjejer membawa balon, kue kecil, dan sekantong kado bertuliskan “Untuk Baby Ezra”.

Mereka bukan orang asing. Mereka partner kerja untuk membantu Liana yang tiga bulan terakhir ikut bolak-balik pengadilan, bantu kumpulkan bukti, bahkan rela begadang nyari data lama buat kasus keadilan Ayah Liana. Wajah mereka lelah, tapi matanya berbinar melihat Nadin pulang membawa Ezra.

“Selamat datang pulang, Kak Nadin! Selamat datang juga, Baby Ezra!” seru Rara sambil nyamperin, matanya berkaca-kaca.

Bram langsung mengulurkan boneka kelinci besar. “Ini dari kita berempat. Biar Ezra nggak merasa sendiri pas tidur.”

Maya jongkok di depan Nadin, nyentuh ujung selimut Ezra pelan. “Kak, makasih ya. Kalau bukan Kak Nadin yang berani ngomong jujur di pengadilan, mungkin kasus Ayah Liana nggak bakal jalan. Ezra itu berkah buat kita semua.”

Arka yang biasanya pendiam cuma mengangguk, lalu menaruh kotak kayu kecil di meja. “Tempat simpan foto pertama Ezra. Bikin sendiri, biar ada kenangan.”

Nadin menahan napas. Hendra memang berbuat jahat pada keluarga Liana, namanya udah tercoreng di berkas pengadilan. Tapi hari ini, nggak ada cemoohan. Yang ada cuma pelukan hangat dan tatapan yang bilang, ‘kamu keluarga kami’.

Ibu Sinta, yang baru turun dari kereta pagi tadi, maju sambil mengusap air mata. “Makasih ya, Nak. Kalian baik banget sama anak dan cucu saya.”

Liana langsung memeluk mamanya Nadin erat. “Bu, kita satu keluarga sekarang. Nadin itu udah kayak kakak buat kami semua.”

Nadin menatap satu per satu. Bram yang usil, Rara yang cerewet tapi tulus, Maya yang selalu bawa cemilan, Arka yang diam tapi selalu ada. Mereka nggak peduli darah nggak sama. Mereka anggap Nadin kakak, sama seperti mereka anggap Nadia adik kandung Nadin.

Suasana jadi hangat. Kue dipotong, foto diambil, Ezra digendong bergantian sampai dia tertidur pulas. Tawa mereka mengisi sudut apartemen yang selama ini terasa kosong.

Tapi waktu nggak bisa berhenti.

Setelah perayaan selesai, Liana menggenggam tangan Nadin. “Kak, besok aku sama Arka balik ke kota. Sidang terakhir Ayah udah selesai, kita harus urus rumah di sana.”

Nadin mengangguk, menahan sesak. “Hati-hati di jalan. Jaga diri kalian berdua.”

Maya, Bram, dan Rara ikut pamit. “Kita balik kerja kayak biasa ya, Kak. Tapi kapan aja Kak Nadin butuh, tinggal chat. Kita dateng.”

Malam itu, apartemen kembali sepi. Tapi rasanya beda.

Di atas meja, kado-kado masih tertata rapi. Di pangkuan Ibu Sinta, Ezra tidur nyenyak. Di sampingnya, Nadia sudah tertidur di sofa.

Nadin duduk di pinggir kasur, menatap anaknya. Untuk pertama kali, dia ngerti… keluarga itu bukan soal siapa yang nggak pernah salah.

Keluarga itu soal siapa yang tetap milih tinggal, meski punya seribu alasan buat pergi.

Nadin duduk di pinggir ranjang, matanya nggak lepas dari wajah Ezra yang lagi tidur pulas. Di luar, hujan mulai turun pelan, kayak ikut menenangkan kepalanya yang penuh pikiran.

Hendra...

Nama itu masih nyangkut di kepalanya, nggak bisa dihapus begitu aja. Marah? Iya. Kecewa? Banget. Tapi di sela-sela itu, ada satu kenyataan yang nggak bisa dia bantah—Hendra tetap ayah Ezra. Darah itu nggak bisa dipotong cuma karena satu lembar kontrak dan satu keputusan bodoh.

Dia ingat tatapan Hendra waktu sidang terakhir. Kosong. Kayak orang yang baru sadar semua yang dia kejar selama ini hancur dalam semalam.

“Nggak ada uang yang bisa beli waktu, Hendra,” gumam Nadin pelan. “Nggak ada harta yang bisa beli harga diri orang yang udah kamu injak.”

Untuk sekarang, Nadin nggak mau balas dendam. Dia udah capek.

Tapi dia juga nggak mau memaafkan terlalu cepat, seolah semua luka itu nggak pernah ada.

Hendra harus duduk di sel itu. Harus ngerasain gimana rasanya kehilangan waktu, kehilangan keluarga, kehilangan hak buat lihat anaknya tumbuh. Biar dia ngerti, bahwa uang 500 juta itu nggak bikin dia punya kuasa buat jual orang lain seenaknya. Apalagi orang miskin yang selama ini dia anggap nggak punya suara.

Nadin mengusap pelan punggung Ezra.

“Kamu nggak akan tumbuh jadi anak yang dibeli, Nak. Kamu akan tumbuh jadi anak yang tau nilainya.”

Dia nggak tau apakah Hendra bakal berubah atau nggak. Tapi satu hal pasti—pelajaran ini harus jadi tamparan yang cukup keras, biar kalau suatu hari dia keluar, dia nggak berani lagi memandang orang lain dari bawah.

Malam itu, Nadin memilih diam. Bukan karena dia lemah.

Tapi karena dia lagi ngajarin Hendra, dari kejauhan, arti kata ‘keadilan’ yang sebenarnya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!