Season 1 dan 2 ....
Yang seharusnya suami kini menjadi anaknya, yang seharusnya ayah mertua kini menjadi suaminya. Dan sahabatnya yang kini menikah dengan calon suaminya! Bagimana pernikahan bisa tertukar seperti ini? Apa sebenarnya yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rizal sinte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08
Sera dan Leo pun berhenti di depan cafe. Leo turun dari mobil lalu ia mengitari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Sera.
"Silahkan, sayang," ujar nya lembut sambil mengulurkan tangannya.
Sera tersenyum lalu meyambut tangan Leo dan turun dari mobil. Setelah mobil terkunci secara otomatis melalui remote kontrol mobil, keduanya pun melangkah beriringan sambil bergandengan tangan memasuki cafe tersebut. Setelah masuk kedalam, keduanya memilih kursi di pojokan agar lebih jauh dari orang-orang menurut mereka yang sudah sering mereka lakukan setiap kali makan di restoran atau cafe-cafe tersebut.
"Kamu mau pesan apa, sayang?" tanya Leo membuka buku menu.
"Em, minuman jus aja deh sama stik kentang, " ujar Sera yang malas mau makan.
"Oke..." Leo pun memesan pesanan yang sama seperti Sera. Setelah pelayan cafe tersebut pergi Leo terus memperhatikan kekasihnya yang nampak murung membuatnya mengerutkan keningnya.
"Kamu ada masalah?" tanya Leo.
"Ah, nggak ada kok," jawab Sera gugup.
Sera nampak bingung bagiamana caranya ia mengatakan mengenai dirinya, dan juga bingung harus mulai dari mana?
Leo tersenyum, memandang lembut pada Sera membuat gadis itu menjadi salah tingkah di buatnya.
"Kamu kenapa ngeliatin aku terus?" gugup Sera.
Leo semakin mengambangkan senyum lebarnya merasa gemes melihat tingkah sang kekasih." Kamu cantik, jadi gak sabar pengen cepat-cepat melamar kamu."
Sera terdesak dengan air liur nya sendiri, untung pesanan air minum yang di pesan sudah datang sehingga Leo pun langung meyerahkan minuman jus alpukat tersebut kepada Sera.
"Minumlah pelan-pelan," ujar Leo.
Sera pun menyudahi menyedot minuman nya, lalu mengelap mulutnya dengan tisu kering yang ada di meja kemudian kembali gugup lagi.
"Em ... Le! Ada yang ini aku kasih tau?" ujar Sera benar-benar gugup, bahkan suaranya pun nyaris tak terdengar oleh Leo.
"Hah, kamu ngomong apaan? Aku gak denger suara kamu."
Sera menghembuskan nafasnya perlahan setelah menariknya dalam-dalam." Aku ingin mengatakan sesuatu sama kamu."
"Emang, kamu mau ngomong apa, hem? pasti tentang pernikahan kita ya," ucap Leo menggoda.
"Le, aku serius."
"Oke-oke, aku siap mendengarkan," ucapnya duduk manis sambil memandangi Sera.
"Le, sebelum kita menikah, aku ingin kita saling berkata jujur. Dan aku ingin kamu jujur, begitu pun juga dengan ku!" ujar Sera dengan wajah serius.
Leo terlihat gelisah, Sera tidak mengerti mengapa Leo terlihat gelisah. Apa ada sesuatu juga yang di sembunyikan oleh lelaki itu? Sera pun memandang penuh selidik.
"Em ... oke! Emang kejujuran seperti apa yang kamu maksud?" ujar Leo menetralkan diri.
"Bagaimana jika di antar kita terjadi kesalahan besar yang tak di sengaja. Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Sera.
Leo menelan ludahnya kasar, dia terlihat nampak gugup tentang yang di tanyakan oleh kekasihnya. Sehingga Leo sedikit bingung harus menjawab apa.
"Le..." panggil Sera.
"I-iya, aku akan mencoba memanfaatkannya apapun kesalahan yang terjadi, asal kita selalu bersama," jawab Leo yakin.
"Sungguh?"
"Iya, emang kesalahan seperti apa yang kamu maksud?" tanyanya.
"Em ... misalnya seperti penghianatan yang benar-benar tidak di sengaja," ujar Sera yang benar-benar nampak gugup.
"Misalnya?" selidik Leo.
"Em, mi-misalnya ... se-seprti..."
Tiba-tiba handphone milik Leo berdering, dan Sera menghentikan ucapannya. Leo melihat layar ponselnya tersebut." Pak Sam," gumam Leo melihat nama yang tertera di layar tersebut.
"Aku jawab telepon sebentar, ya."
Sera mengangguk, dengan helaan nafas yang panjang.
"Halo, pak Sam! Ada apa?" Leo menjawab panggilan tersebut," oh, oke. Saya segera ke sana!"
Leo pun mematikan sambungan telponnya lalu menatap Sera sendu karena panggilan tersebut dari kantor sehingga dirinya mengharuskan segera kembali kekantor sekarang juga mengingat ada meeting penting dengan klien tersebut. Namun ia tidak enak hati karena harus berpisah dengan sang kekasih yang baru juga ia temui.
"Pergilah, lagi pula aku mau ke rumah Keyra," ujar Sera yang mengerti.
"Tapi ... aku antar kamu ke sana ya!" tawar Leo.
"Tidak perlu, karena pesanan kita masih belum di makan. Jadi aku harus menghabiskan nya dulu baru ke sana setelah selesai, " tolak halus Sera.
"Em, baiklah kalau itu mau kamu. Aku ke kantor dulu ya? Nanti kamu naik taksi nya hati-hati," pamit Leo sambil mengelus kepala Sera lembut kemudian mengucap keningnya sekilas.
"Iya, kamu juga hati-hati."
"Pasti, tunggu kedatangan aku di rumah ya. Karena aku pasti akan datang melamar kamu!" teriak Leo yang sudah berjalan sedikit menjauh dari meja yang Sera duduki sehingga banyak pengunjung yang menoleh ke arahnya.
"Aku sangat menantikan nya, Le. Tapi apa mungkin itu terjadi?" gumam Sera memandang kepergian Leo yang sudah menghilang dari pandangannya.
Sera kembali duduk dan memakan makanan yang ia pesan dalam lamunan. Ia pun menjadi tidak berselera lagi untuk menelan makanan tersebut sehingga ia pun menyudahinya.
Tanpa sengaja Sera nampaknya menabrak seseorang pada saat hendak bangkit dari tempat duduknya sehingga minuman jus yang ia bawa pun tumpah mengenai baju seseorang yang ia tabrak tersebut.
"Ah, maaf-maaf ... Maafkan aku!"
Sera langsung mengambil tisu yang ada di meja lalu membersihkan tumpahan minuman tersebut.
"Sudahlah, tidak apa-apa," ujarnya.
Sera merasa tidak asing dengan suara itu, ia pun langsung mendongakkan kepalanya dan menatapnya dalam.
"Om Angga," gumam Sera. Angga tersenyum, terlihat senang di wajah lelaki itu.
"Hey, kita bertemu lagi."
Sera mengalihkan pandangannya ke arah laen, tak ingin menatap mata indah lelaki di hadapannya ini karena takut akan terpesona oleh hipnotis nya.
"Maaf," cicit Sera, kemudian memutar balik tubuhnya hendak melangkah pergi.
"Kamu mau kemana? Setelah menabrak ku maen kabur begitu saja. Tidak mau tanggung jawab?" goda Angga menarik tangan Sera hingga jatuh menabrak dada Angga yang bidang itu.
"K-kamu mau apa?"
Angga tersenyum smirk." Sebagai gantinya, kamu harus menemaniku makan siang disini."
"Apa..."