NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Status: tamat
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Kontras Takdir / Tamat
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya tidak pernah membayangkan hidupnya akan diputuskan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.



Satu kejadian membawanya masuk ke lingkaran keluarga Adinata--sebuah dunia di mana keputusan tidak dibuat berdasarkan benar atau salah,
melainkan berdasarkan kepentingan.



Ia hamil. Tanpa suami.
Dan itu cukup untuk menjadikannya bagian dari permainan.



Sagara Deva Adinata tidak mencari cinta. Apalagi ikatan. Ia hanya butuh pewaris
agar posisinya tetap tak tergoyahkan.



Dan Shafiya… adalah variabel yang terlalu berharga untuk dilepaskan.






Di balik kesepakatan yang terlihat seperti solusi,
tersimpan kendali, tekanan, dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.




Karena di dunia mereka,
yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan--melainkan batas antara dosa… dan pahala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 08

Tak perlu ada kalimat yang disampaikan.

Tak perlu gestur yang menjelaskan.

Tak juga perlu ditelaah terlalu dalam.

Raka dan Agam tahu--kemarahan itu sudah ada di sana, tepat di ambang.

Menunggu dimuntahkan.

Langkah Sagara mendekat. Terlihat tetap tenang.

Tapi udara di sekitarnya terasa menekan.

“Jelaskan.” Satu kata, dengan suara datar.

Tapi cukup untuk merobek diam.

Agam tidak menunda untuk menjawab.

“Ariana meninggal.”

Tidak ada jeda untuk memilih kata.

“Dia kecelakaan."

Raka melanjutkan, suaranya lebih rendah, tapi tak kalah tegas.

“Meninggal di tempat.” Jeda sejenak.

“Dan kami juga … baru tahu.”

Sagara tidak langsung bereaksi.

Tidak ada perubahan ekspresi.

Itu justru yang salah.

Karena Raka dan Agam tahu--ini bukan tenang.

Ini fase sebelum sesuatu diputuskan.

“Sejak kapan?”

Pertanyaan singkat.

Agam menjawab, tetap lurus.

“Empat minggu lalu.”

“Dan kalian tetap membawanya padaku."

Bukan pertanyaan. Tapi pernyataan.

Sunyi kembali jatuh. Lebih berat.

Tatapan Sagara berpindah dari Agam ke Raka.

Satu per satu. Menilai. Mengukur. Menghitung sesuatu yang tidak mereka ketahui.

“Perempuan itu,” ucapnya pelan.

“Siapa?"

Sagara tidak bergerak.

Tatapannya tetap pada dua orang di hadapannya.

Tidak ada amarah yang meledak.

Tapi cara tenang Sagara itu membuat udara terasa lebih berat.

“Aku beri satu kesempatan untuk jujur.”

Kalimat itu turun pelan.

Rata. Tanpa tekanan suara.

Tapi justru di sanalah tekanannya.

Raka menahan napas.

Agam juga tidak langsung menjawab.

Keduanya tahu--ini bukan sekedar permintaan.

“Kami tidak tahu Ariana sudah meninggal saat proses itu berjalan,” ujar Raka akhirnya. Terukur. Hati-hati.

Sagara tidak menyela.

“Dan perempuan yang ada di dalam sekarang--" Agam mengambil alih,

“--bukan bagian dari rencana awal.”

Sagara memiringkan kepala sedikit.

Bukan bingung.

Lebih seperti… menilai ulang sesuatu.

“Bukan bagian,” ulangnya pelan.

“Lalu bagaimana dia bisa ada di sini. Sekedar kesalahan, atau pengkhianatan?"

Agam menggeleng. "Bukan." Suaranya tegas, tanpa iringan helaan napas.

"Dia jawaban dari apa yang harus kamu hadapi besok, Sagara."

Sagara diam.

Bukan karena setuju--tapi karena kata besok tidak memberinya pilihan.

Besok adalah batas akhir dari sesuatu yang sejak awal tak pernah ia anggap sebagai kesepakatan.

Lebih tepat disebut tuntutan.

Kursi pimpinan Adinata yang ia duduki hari ini tidak benar-benar miliknya.

Tidak, selama satu syarat itu belum ia penuhi.

Seorang penerus.

Bukan soal menikah.

Bukan tentang perempuan yang ia pilih.

Hanya hasil.

Sagara harus punya anak.

Dan nyonya Anjani--si penentu syarat-- tidak pernah memberi ruang untuk kegagalan.

Perempuan itu bukan sekadar nama dalam silsilah Adinata.

Ia adalah istri dari pendiri pertama Adinata Holding--dan tangan yang memastikan semua tetap berdiri setelahnya.

Apa yang dibangun Adinata, dijaga oleh Anjani.

Apa yang diputuskan Anjani, tidak pernah benar-benar bisa ditolak.

Termasuk syarat yang kini menggantung di leher Sagara.

Besok, ia tidak diminta datang.

Ia diminta membawa bukti persyaratan.

Agam melihat diamnya Sagara adalah celah untuk menampilkan alasan dari pilihannya. Ia tidak menunggu lebih lama.

“kamu tau sendiri, besok bukan sekadar pertemuan,” ucapnya. Suaranya rendah, tapi terukur. “Itu verifikasi.”

Sagara diam. Tapi tatapannya cukup untuk memaksa Agam melanjutkan.

“Jika kamu tidak membawa bukti,” lanjut Agam, “kursi yang kamu duduki sekarang akan dialihkan.”

Hening.

“Dan bukan hanya itu.”

Agam menahan sejenak, memastikan setiap kata yang keluar tidak bisa ditarik kembali.

“Sekalipun kamu membawa buktinya, mereka tidak akan percaya begitu saja.”

Tatapan Sagara berubah tipis. Lebih gelap.

“Perempuan yang kamu bawa akan diperiksa. Dipastikan dia mengandung."

Agam diam sejenak.

“Juga akan dipastikan apakah benar milikmu… atau hanya sesuatu yang kamu hadirkan untuk memenuhi syarat," lanjutnya, tegas. Semua yang ia sampaikan adalah informasi akurat yang ia dapat dari nyonya Anjani sendiri.

Sunyi jatuh lebih berat.

“Dan kamu tahu bagaimana mereka bekerja, Sagara,” tambah Agam. “Mereka tidak akan berhenti sampai menemukan celah.”

Sagara tidak bergerak.

Agam menutup dengan satu kalimat--yang kali ini bukan sekadar penjelasan.

“Itu alasan aku membawa perempuan itu."

Ia sejenak menghela napas.

"Iya, dia bukan Ariana. Tapi dia juga tengah mengandung."

"Anak?" Raka menatap Agam. Curiga.

Agam menggeleng cepat. "Aku tidak tau."

"Apa kau melenyapkan suaminya?" Raka lebih menajam.

"Dia anak pesantren. Hamil, tanpa suami. Dan aku tidak tanya lebih lanjut. Itu bukan urusanku."

"Lalu bagaimana caramu paksa dia kemari?"

"Sebuah kesepakatan." Agam tersenyum tipis. "Untuk menjaga nama baik keluarga dan pesantren."

Tak ada pertanyaan lagi.

Raka dan Agam sama-sama melihat Sagara.

Menunggu keputusannya.

Sagara menatap keduanya bergantian.

Lalu, tanpa perubahan ekspresi.

“Dia tetap di sini.”

Sagara menyatakan keputusan.

Bukan persetujuan. Tapi, vonis.

“Besok,” lanjutnya pelan, “dia ikut denganku.”

"Dan tentang Ariana." Sagara diam sejenak menatap dua orang di depannya dengan terarah. "Usut tuntas. Semua kebenarannya aku tunggu, tiga hari lagi."

Agam mengangguk.

..

..

Di ruangan yang lain, Shafiya tidak duduk tenang.

Sejak pintu itu tertutup, ruang kerja itu terasa terlalu luas… dan terlalu sunyi.

Tangannya saling menggenggam, lalu terlepas. Kembali menggenggam. Jemarinya dingin. Napasnya tidak stabil, meski ia berusaha menahannya pelan-pelan.

Ia tidak tahu harus melihat ke mana.

Ke meja kerja yang terlalu rapi.

Ke dinding yang terlalu bersih.

Atau ke pintu… yang sejak tadi tak juga terbuka.

Waktu berjalan. Lambat. Terasa menekan.

Dan setiap detiknya seperti memperjelas satu hal--ia berada di tempat yang bukan miliknya.

Hingga akhirnya suara itu terdengar. Klik

Pintu terbuka.

Shafiya refleks berdiri.

Sagara masuk tanpa tergesa. Langkahnya tenang. Terukur seperti biasa. Seolah ruangan itu bergerak mengikuti ritmenya, bukan malah sebaliknya.

Pintu tertutup kembali. Tidak ada sapaan.

Tidak ada basa-basi.

Sagara berhenti beberapa langkah darinya. Menatap, dengan tatapan membaca.

"Nama, Anda, Elara?"

Shafiyya mengangguk, beberapa kali, sebelum satu kata terucap, gugup.

"I--ya."

Sagara tak mengalihkan tatapan, cuma kali ini lebih rendah.

“Besok pagi,” katanya, “Anda ikut saya.”

Tidak ada penjelasan.

Tidak memberi pilihan.

Hanya tegaskan keputusan.

Shafiya menatapnya. Untuk pertama kalinya benar-benar menatap. “Ke--kemana.?

"Bertemu keluarga saya."

"Untuk apa?"

Sagara tidak menjawab langsung.

Ia menatap balik. Lurus. Tegas. Tanpa celah.

“Untuk memastikan,” ucapnya akhirnya, “Apa yang, Anda jaga tetap aman.”

Satu detik.

Dua detik.

Lalu,

“Dan saya tetap di posisi saya.” Sagara melanjutkan

Shafiya menarik napas. Dalam. Tapi terasa sempit.

Ia tahu--ini bukan permintaan. Ini kesepakatan yang terlihat saling menguntungkan.

Dan ia… sudah terlalu jauh untuk menoleh ke belakang.

Selanjutnya, Sagara terlihat menekan tombol kecil di ujung meja. Tak sampai menunggu satu menit, ketukan di pintu terdengar.

"Masuk."

Seorang wanita usia 40an, berpenampilan rapi. Atasan blazer yang dipadukan rok span di bawah lutut. Mendekat, di jarak yang sudah terukur, berhenti.

"Bawa nona Elara ke kamarnya untuk beristirahat." Perintah yang tegas, jelas.

"Baik, Tuan."

Wanita itu menyilakan Shafiya dengan tangannya. Dua langkah memimpin keluar ruang.

Sampai di ambang, satu perintah lagi terdengar.

"Siapkan semua kebutuhannya dengan baik."

"Baik, Tuan."

1
Ayuwidia
Betul sekali, takdir memberikannya pada orang yang tepat, meski melalui proses yang memilukan. Shafiya gagal nikah dengan calon suaminya, dan harus menanggung beban lain yg lebih berat, kepercayaan Abinya, nama baik Pesantren yg mungkin saja bisa tercoreng
Ayuwidia
Dokter Raka datang di waktu yang sangat tepat
Ayuwidia
Ravendra sengaja memancing amarah, membuat Shafiya runtuh perlahan. Tapi usahanya itu nggak akan berhasil, kita lihat saja nanti 😏
Ayuwidia
Ravendra selalu punya cara mengusik ketenangan, memberi warna kisah Shafiya & Sagara. Keren, Kak Naj
Ayuwidia
Sagara ini, perwujudan authornya yang cerdas. 😍
Erna Riyanto
kaget q...tiba" end aja...TPI JD tenang stlh tau bakal dilanjutin di buku lain... semangat Thor bikin cerita mereka lebih seru.
Najwa Aini: Makasih Akak..Dukung selalu ya..biar tambah seru
total 1 replies
Hayyina Saidah
dobel dong Thor,satu bab lagi🤭
Nurilbasyaroh
selamat sagara ternyata itu bener anak mu
Deuis Lina
kasihan sekali kamu kaluna,
Murnia Nia
akhirnya terjawab sudah
Amalia Siswati
terlalu banyak jeda intonasi,padahal karakter tokoh sudah terbaca.
Deuis Lina
lanjuuut teh siiin,,
Amalia Siswati
terlalu banyak jeda pembicaraan..padahal karakter sudah terbaca tidak perlu mengulang2.
Deuis Lina
waw siapa tuh ,,,
Deuis Lina
orang niat jahat emang selalu d cari terus d cari sampe ke akarnya itulah sipat manusia yg rakus ,,,ravendra terlalu ambisius untuk mengalahkan sagara
Ayuwidia
Ravendra sangat berambisi, dia tidak akan mundur sebelum apa yang diingkan diraih. Ini mengingatkanku pada... Kuku Prima
Ayuwidia
Woahhhh, jadi mengingatkanku pada mantan kekasih Abimana 😁
Deuis Lina
masih keukeuh banget ya ravendra,,,
Deuis Lina
ada lagi yg penasaran tentang anak itu,,,
Ayuwidia
Ngopi, Kak. Sambil Nongki bertiga ☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!