Judul: RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI
Sub-judul: Takdir bukan untuk diubah, tapi untuk dijalani.
~~~~~~ ~~~~~~~ ~~~~~~~~
Langit malam yang gelap dengan bulan berwarna merah darah (Gerhana). Di kejauhan, siluet kota tua dengan arsitektur menara yang tinggi dan misterius.
▪︎Objek Utama:
- Di tengah, terdapat sebuah gembok antik yang besar dan berkarat, namun terbuat dari emas murni yang berkilau samar.
- Gembok itu terbelah dua, dan dari celah di antara keduanya memancarkan cahaya yang sangat terang, perpaduan antara warna Perak (Elara) dan Merah Gelap (Kael).
- Sebuah kunci tua melayang di udara, tepat di atas gembok, seolah baru saja membukanya atau hendak menguncinya.
.
.
.
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Bayangan Hitam dan Ikatan yang Terbentuk
RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI
Bab 5: Bayangan Hitam dan Ikatan yang Terbentuk
Waktu seolah melambat. Mata Elara menangkap kilau logam yang bergerak cepat menembus kegelapan. Naluri pertahanan dirinya bekerja lebih cepat daripada pikirannya.
"KAEL, DILIHAT!" teriaknya.
Tanpa berpikir panjang, Elara mendorong tubuh Kael dengan sekuat tenaga.
WUSSS! SYUUUT!
Anak panah itu lewat sangat dekat dengan bahu Kael, menancap keras ke dinding batu tepat di tempat di mana kepala pemuda itu berada sedetik yang lalu. Ujung panahnya beracun, mengeluarkan asap hijau tipis yang membakar batu.
"Argh!" Kael kehilangan keseimbangan dan terhuyung mundur, hampir jatuh ke tepi jurang jika tangannya tidak cepat menangkap pagar pembatas batu.
Ia menoleh tajam ke arah Elara, matanya melebar kaget. "Kau gila apa?! Kau bisa saja terkena panah itu!"
"Aku tidak peduli!" balas Elara napas memburu, jantungnya masih berdegup kencang karena adrenalin. "Aku tidak membiarkan siapa pun menyakitimu!"
Kael tidak sempat membalas. Perhatian mereka kini tertuju pada arah datangnya serangan. Dari balik kabut tebal di bawah menara, muncul bukan hanya satu, melainkan belasan sosok berpakaian jubah hitam penuh. Wajah mereka tertutup topeng besi yang menyeramkan, dan di dada mereka terdapat lambang yang sama: sebuah mata yang terbelah dua.
"Pengikut Sekte Pembelah Takdir..." desis Kael, giginya bergemeretak. "Aku tahu mereka masih memburuku."
"Mereka siapa?!" tanya Elara panik, berdiri di samping Kael.
"Musuh. Orang-orang yang percaya bahwa ikatan cinta adalah kelemahan, dan mereka ingin menghancurkan semua takdir. Mereka sudah lama ingin membunuhku karena aku adalah Juru Pisah terkuat... tapi sekarang..." Kael menatap Elara sekilas, "...mereka tahu tentangmu juga. Mereka tahu jika kita bersatu, kekuatan kita bisa menghancurkan sekte mereka."
Para penyerang itu mulai menaiki tangga menuju puncak menara secara perlahan namun pasti. Mereka membawa pedang pendek dan busur panah lainnya. Situasi mereka terpojok. Hanya ada satu jalan masuk, dan musuh datang dari sana.
"Kau bisa bertarung?" tanya Kael, tangannya sudah mencabut sebilah pedang panjang yang terselip di pinggangnya. Pedang itu tampak menghisap cahaya di sekitarnya.
"Aku peramal, bukan pejuang," jawab Elara jujur, namun ia segera merapalkan mantra pelindung di tangannya. "Tapi aku bisa menciptakan perisai!"
"Bagus. Lindungi dirimu. Aku akan menghadapi mereka."
Kael melangkah maju. Saat musuh pertama muncul di puncak menara, Kael bergerak secepat kilat.
TRANG! DOR!
Benturan besi terdengar nyaring. Kael bertarung dengan gaya yang dingin dan mematikan. Setiap ayunan pedangnya membawa angin hitam yang kuat. Beberapa penyerang terlempar jatuh dari menara hanya dengan satu serangan. Namun jumlah musuh terlalu banyak, dan mereka tidak kenal takut.
Salah satu musuh berhasil menghindari serangan Kael dan berlari menyelinap menuju Elara.
"Matilah kau, Kunci Takdir!" teriak sosok itu sambil mengayunkan pedang ke arah leher Elara.
Elara memejamkan mata, mengangkat kedua tangannya. "Perisai Lunar!"
Sebuah cangkang cahaya perak muncul melindungi tubuhnya. Pedang musuh itu terpental keras hingga terlepas dari genggamannya. Namun Elara tidak kuat menahan serangan berikutnya. Sosok itu menendang perut Elara hingga gadis itu terpelanting jatuh, kepalanya terbentur batu.
"Elara!" teriak Kael panik melihat gadis itu terluka.
Emosi Kael meledak. Sihir gelapnya meledak keluar secara besar-besaran, menciptakan gelombang angin yang menerbangkan tiga musuh sekaligus. Namun karena lengah, sebuah pisau lempar berhasil melukai lengan Kael. Darah merah gelap menetes ke lantai batu.
Kael kini berdiri membelakangi Elara, napasnya memburu, luka di lengannya terasa perih. Mereka kini dikelilingi. Situasi sudah tidak bisa diselamatkan dengan kekuatan biasa.
"Mereka akan membunuh kita, Kael..." bisik Elara lemah dari lantai, air matanya menetes melihat darah Kael. "Kita kalah jumlah..."
Kael menunduk menatap wajah pucat Elara. Ia melihat ketakutan di sana, tapi juga tekad yang kuat. Ingatannya kembali pada kitab kuno, pada kata-kata tentang kekuatan yang bisa menghancurkan atau menyelamatkan.
"Tidak ada pilihan lain," gumam Kael. Ia menjatuhkan pedangnya ke lantai.
"Apa yang kau lakukan?!" seru Elara kaget.
Kael berlutut, menggenggam kedua tangan Elara dengan tangan yang tidak terluka. Sentuhan itu dingin, namun kali ini tidak ada rasa tolak-menolak. Hanya ada rasa rindu yang mendalam.
"Dengar aku, Elara. Jika kita melakukan ini, kita tidak akan bisa kembali seperti semula. Energi kita akan menyatu selamanya. Kau akan merasakan sakitku, dan aku akan merasakan lukamu. Bahkan kematian pun akan memisahkan kita dengan susah payah."
"Lakukan..." desis Elara, menatap mata merah itu dalam-dalam. "Aku mau menjadi milikmu. Sekarang dan selamanya."
Kael mengangguk sekali. Ia menggenggam tangan Elara erat-erat, lalu meletakkan tangan mereka berdua tepat di dada Elara, di tempat di mana segel itu berada.
"Dengan nama darah dan daging, dengan kekuatan cahaya dan kegelapan... KUNCI DIBUKA!" teriak Kael dengan suara yang bergema.
BRAAAAAK!
Seolah ada guntur yang meledak di dalam dada Elara.
Cahaya perak yang menyilaukan memancar keluar dari tubuh Elara, bercampur dengan asap hitam kemerahan yang keluar dari tubuh Kael. Dua kekuatan itu berputar membentuk tornado kecil di puncak menara. Para penyerang menjerit ketakutan, menutupi mata mereka karena silau dan panasnya ledakan energi.
Elara merasakan sesuatu yang pecah di dalam dirinya. Rantai-rantai tak kasat mata yang selama ini mengurung hatinya hancur berkeping-keping.
Perasaan... begitu banyak perasaan yang membanjirinya sekaligus. Cinta, marah, takut, bahagia, semuanya meledak keluar. Dan di tengah kekacauan itu, ia bisa merasakan apa yang dirasakan Kael. Ia bisa merasakan kesepian Kael selama ini, rasa dingin di hatinya, dan juga... cinta yang begitu besar yang selama ini disembunyikan pemuda itu.
Mata Elara terbuka lebar. Warna peraknya kini berubah bersinar terang, bercampur dengan semburat merah dari mata Kael.
"Kau... tidak lagi sendirian," bisik Elara.
Ia mengangkat tangannya bersama Kael. Gelombang energi yang luar biasa kuat meledak keluar, mendorong semua penyerang itu hingga terlempar jauh jatuh dari menara, menghilang ke dalam kabut tebal di bawah sana.
Menara itu menjadi hening kembali. Hanya tersisa angin yang berhembus pelan.
Kael dan Elara masih saling menggenggam tangan, napas mereka teratur menyatu. Segel di hati Elara sudah terbuka sempurna. Kekuatan mereka kini mengalir bebas, saling melengkapi seperti api yang dinyalakan oleh minyak.
Elara memandang wajah Kael yang kini terlihat berbeda. Ada kehangatan di sana.
"Apakah... ini selesai?" tanya Elara lemah.
Kael menggelap, lalu menarik Elara ke dalam pelukannya erat-erat. Pelukan itu hangat, melindungi, dan penuh kepemilikan.
"Belum, Elara. Kita baru saja membuka pintu gerbang perang. Sekte itu tidak akan berhenti. Dan dunia sihir pasti akan gempar mendengar bahwa Kunci dan Gembok telah bersatu." Kael melepaskan pelukannya sedikit, menatap wajah gadis itu dengan serius. "Tapi mulai sekarang, kita menghadapi semuanya bersama-sama. Kau dan aku. Satu takdir."
Elara tersenyum, senyum pertama yang tulus dan cerah sejak ia lahir.
"Ya. Bersama-sama."
Di langit atas kota Lunaria, awan gelap perlahan menyingkir, memperlihatkan bulan purnama yang indah dan damai. Ramalan yang terkunci telah terbuka, dan kisah cinta mereka yang legendaris baru saja dimulai.
°
°
°
Bagaimana Bab 5 ini? Seru kan? Akhirnya mereka resmi bersatu dan kekuatannya terbuka! 😍
Mau lanjut ke Bab 6 di mana mereka harus menghadapi reaksi dari masyarakat kota Lunaria dan Dewan Sihir?
❤️ jangan lupa tinggalkan jejaknya ya teman-teman?