NovelToon NovelToon
Jarak Antara Kita

Jarak Antara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:207
Nilai: 5
Nama Author: ilham Basri

Arga Ardiansyah baru saja dikhianati setelah tiga tahun berdedikasi saat perusahan tersebut mencapai puncaknya, namun yang membuat dia tetap waras adalah Elina yang sedang berada di Praha.
Arga Ardiansyah kemudian bertekad untuk bangkit kembali dan menyusul cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilham Basri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Sisa Kehormatan Dibawah Hujan

​Jakarta sore itu sedang tidak bersahabat. Langit yang tadinya cuma abu-abu tipis tiba-tiba tumpah begitu saja, mengguyur aspal Sudirman dengan air yang terasa sedingin es. Arga berdiri mematung di depan lobi gedung Winata Tower, sebuah gedung pencakar langit yang angkuh, yang selama tiga tahun terakhir ini sudah dia anggap seperti rumah kedua. Tapi hari ini, gedung itu terasa seperti monster yang baru saja menelan dan memuntahkannya kembali ke jalanan dalam kondisi hancur lebur.

​Di tangan kanannya, Arga menggenggam sebuah map cokelat yang sudah agak basah di bagian ujungnya. Isinya singkat tapi mematikan: surat cerai yang sudah ditandatangani oleh Siska, istrinya, dan surat pemecatan tidak hormat dari posisinya sebagai manajer operasional. Lucu memang. Baru tadi pagi dia memimpin rapat besar tentang keberhasilan proyek ekspansi pelabuhan yang dia susun siang malam selama setahun. Sore ini, dia bahkan tidak diizinkan masuk untuk mengambil botol minum kesayangannya di meja kerja.

​Security yang biasanya menyapa Arga dengan anggukan hormat sekarang berdiri dengan wajah datar, menghalangi pintu masuk. Arga tahu mereka cuma menjalankan perintah. Perintah dari keluarga Winata. Keluarga yang dulu menerimanya dengan senyum palsu karena butuh otaknya untuk memperbaiki perusahaan mereka yang nyaris bangkrut, tapi sekarang membuangnya seperti tisu toilet setelah tujuannya tercapai.

​Arga menghela napas panjang. Uap dingin keluar dari mulutnya. Dia melihat ke arah jalanan yang macet total. Klakson mobil bersahut-sahutan, menciptakan simfoni kebisingan yang biasanya bikin Arga pusing, tapi kali ini suara itu malah terasa jauh. Pikirannya kosong. Dia cuma punya dompet dengan saku sisa beberapa puluh ribu, sebuah ponsel yang layarnya sudah retak di pojok kiri bawah, dan baju yang melekat di badan.

​Ponsel di saku celananya bergetar. Arga merogohnya dengan tangan yang sedikit gemetar karena kedinginan. Sebuah notifikasi pesan masuk muncul. Nama yang tertera di sana seketika membuat dada Arga terasa seperti diremas.

​Elina.

​Di sini salju mulai turun, Ga. Aku baru saja menyeduh kopi dan melihat foto lama kita di taman kampus dulu. Bagaimana kabarmu di Jakarta? Jangan lupa makan tepat waktu ya, aku tahu kamu kalau sudah kerja suka lupa segalanya.

​Arga menatap layar itu lama sekali. Matanya panas. Dia ingin sekali mengetik balasan, memberi tahu Elina kalau dia baru saja kehilangan segalanya. Dia ingin bilang kalau dia sedang berdiri di pinggir jalan, basah kuyup, dan tidak punya tempat tujuan. Tapi jempolnya kaku di atas keyboard virtual. Dia tidak bisa melakukan itu. Elina sedang berjuang di Praha untuk gelar masternya. Elina adalah satu-satunya bagian dari hidupnya yang masih suci, masih bersih dari kotornya permainan politik keluarga Winata.

​Dia menarik napas dalam, mencoba menenangkan degup jantungnya yang tidak beraturan. Arga mulai mengetik dengan perlahan.

​Di sini cuma hujan biasa, El. Jakarta memang lagi hobi bikin macet. Aku baru saja selesai rapat besar dan mau cari makan malam. Kamu juga jaga kesehatan di sana, jangan terlalu banyak minum kopi. Nanti kalau sudah senggang, aku telepon ya.

​Berbohong ternyata terasa sesakit ini. Arga memasukkan kembali ponselnya. Dia melangkah keluar dari kanopi lobi gedung, membiarkan dirinya benar-benar basah oleh hujan. Dia berjalan tanpa tujuan, melewati trotoar yang penuh dengan orang-orang yang berlari menghindari air. Arga tidak lari. Dia tidak punya tempat untuk dituju, jadi buat apa terburu-buru?

​Pikiran Arga melayang ke kejadian satu jam yang lalu di ruang kerja mertuanya, Surya Winata. Pria tua itu duduk di kursi kebesarannya dengan cerutu di tangan, menatap Arga seolah Arga adalah kotoran yang tidak sengaja terinjak sepatunya yang mahal.

​Kamu itu harusnya sadar posisi, Arga. Dari awal kamu itu cuma menantu yang menumpang. Kamu pikir dengan proyek ini berhasil, kamu jadi punya hak bicara di meja ini? Siska sudah setuju. Kami tidak butuh orang luar seperti kamu di dalam silsilah keluarga kami lagi. Silakan keluar, dan jangan bawa apa pun yang bukan milikmu.

​Arga ingin tertawa kalau mengingat kata-kata itu. Apa pun yang bukan miliknya? Padahal hampir semua sistem efisiensi di perusahaan itu dia yang buat. Tapi di dunia orang-orang seperti mereka, kertas legalitas lebih berharga daripada keringat dan dedikasi. Siska, istrinya, bahkan tidak menatap matanya saat surat itu disodorkan. Perempuan itu cuma asyik dengan kuku-kukunya yang baru saja dimanikur, seolah-olah pernikahan tiga tahun mereka tidak lebih dari sekadar kontrak sewa apartemen yang sudah kedaluwarsa.

​Arga terus berjalan sampai kakinya membawanya ke sebuah taman kecil yang agak sepi. Dia duduk di salah satu kursi kayu yang sudah basah. Kepalanya tertunduk. Air hujan menetes dari ujung rambutnya, jatuh ke atas map cokelat yang sekarang sudah benar-benar hancur bentuknya.

​Kenapa hidup bisa berubah secepat ini?

​Dia teringat kakeknya. Pak Broto. Seorang pria tua yang dulu selalu bilang kalau dunia ini luas, dan manusia tidak boleh mengukur dirinya dari seberapa besar gedung yang mereka miliki. Kakeknya meninggal setahun yang lalu, meninggalkan sebuah rumah tua kecil di pinggiran Jakarta yang sekarang menjadi satu-satunya aset yang Arga miliki, karena keluarga Winata terlalu sombong untuk mau menyita rumah butut di gang sempit itu.

​Arga merogoh saku jaketnya, mencari kunci rumah peninggalan kakeknya. Di sana, selain kunci, dia menemukan sebuah benda kecil yang selama ini dia simpan tapi jarang dia perhatikan. Sebuah koin perak tua yang kakeknya berikan tepat sebelum meninggal.

​Simpan ini, Ga. Kalau kamu sudah merasa tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, pulanglah ke rumah kakek. Ada sesuatu di sana yang lebih berharga dari sekadar dinding dan atap.

​Arga menimang koin itu. Dinginnya logam terasa kontras dengan kulit tangannya yang mulai mati rasa. Dia berdiri, membulatkan tekad. Dia tidak boleh mati di sini. Setidaknya bukan hari ini. Dia harus sampai ke rumah kakeknya di daerah pinggiran yang kumuh itu. Dia butuh tempat untuk berpikir, untuk menyusun kembali puing-puing hidupnya yang berantakan.

​Dia berjalan menuju halte bus terdekat. Di sana, dia menunggu sambil menggigil. Orang-orang di sekitarnya menatapnya dengan pandangan aneh. Seorang pria dengan kemeja kantor mahal tapi basah kuyup dan tampak berantakan. Arga tidak peduli. Dunianya sudah runtuh, dan pandangan orang asing tidak akan membuatnya lebih hancur lagi.

​Di dalam bus yang pengap, Arga menempelkan keningnya ke kaca jendela yang berembun. Dia melihat pantulan wajahnya sendiri. Matanya terlihat lelah, tapi ada kilatan kecil di sana. Kilatan yang muncul dari rasa marah yang mulai berubah menjadi bahan bakar.

​Dia teringat Elina lagi. Dia teringat janji mereka di taman kampus dulu, sebelum Elina berangkat ke Eropa.

​Aku akan menyusulmu, El. Kita akan punya kehidupan yang tenang di sana, jauh dari semua kegilaan ini.

​Arga mengepalkan tangannya. Dia tidak akan membiarkan keluarga Winata menang begitu saja. Mereka boleh mengambil hartanya, jabatan dan statusnya, tapi mereka tidak bisa mengambil otak dan semangatnya.

​Bus berhenti di sebuah persimpangan becek dekat gang menuju rumah kakeknya. Arga turun, kakinya terperosok ke dalam genangan air yang kotor. Dia berjalan menyusuri gang sempit yang aromanya bercampur antara bau sampah dan tanah basah. Akhirnya, dia sampai di depan sebuah pagar besi yang sudah berkarat. Rumah itu kecil, catnya sudah mengelupas di sana-sini, dan tampak sangat tidak terawat.

​Arga memasukkan kunci ke lubangnya. Bunyi klik yang dihasilkan terasa seperti suara paling indah yang dia dengar sepanjang hari ini. Dia masuk ke dalam, menyalakan lampu kuning yang redup, dan duduk di lantai ruang tamu yang berdebu.

​Dia tidak langsung mencari tempat tidur. Dia malah berjalan menuju sebuah lemari kayu tua di pojok ruangan. Dia ingat kakeknya sering menyimpan buku-buku lama di sana. Arga mulai mencari, tangannya bergerak cepat membongkar tumpukan kertas tua sampai dia menemukan sebuah kotak kecil dari besi yang tersembunyi di balik tumpukan buku catatan.

​Dengan tangan gemetar, Arga membuka kotak itu. Di dalamnya tidak ada uang. Tidak ada emas. Hanya ada sebuah buku catatan kecil bersampul kulit hitam yang sudah mengelupas. Arga membukanya perlahan.

​Halaman pertama berisi daftar nama. Di samping nama-nama itu, ada nomor telepon dan catatan kecil tentang apa yang sudah kakeknya lakukan untuk mereka. Ada nama pengusaha besar, ada nama pejabat tinggi, bahkan ada nama orang-orang yang Arga tahu sangat berpengaruh di luar negeri.

​Di bagian paling bawah halaman itu, ada tulisan tangan kakeknya yang sudah agak kabur.

​Hutang budi lebih tajam dari pedang, Arga. Gunakan dengan bijak. Mereka semua menunggu untuk membalas apa yang kakek berikan dulu.

​Arga menyandarkan punggungnya ke dinding yang lembap. Dia mulai tertawa kecil. Tawa yang awalnya terdengar getir, tapi perlahan berubah jadi penuh keyakinan. Hujan di luar masih deras, tapi di dalam ruangan kecil itu, Arga merasa seperti baru saja menemukan kunci untuk membakar seluruh dunia yang sudah membuangnya.

​Dia mengambil ponselnya, mengabaikan layar yang retak, lalu mulai menyalin satu per satu nomor telepon itu. Malam ini baru dimulai, dan bagi keluarga Winata, mereka tidak akan pernah menyangka kalau menantu yang mereka buang di trotoar Sudirman baru saja menemukan senjata yang bisa meratakan gedung mereka dengan tanah.

​Arga menatap foto Elina di layar ponselnya sekali lagi sebelum mematikan lampu.

​Tunggu aku, El. Jarak di antara kita memang jauh, tapi aku sedang dalam perjalanan pulang kepadamu dengan cara yang tidak akan pernah dibayangkan siapapun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!