Langit Elarion tidak pernah benar-benar diam.
Ia bernapas.
Bukan seperti makhluk hidup—tidak dengan paru-paru atau denyut nadi—melainkan dengan ritme kosmik yang tak terlihat, gelombang halus yang mengalir di antara bintang-bintang seperti bisikan yang terlalu tua untuk diingat. Warna ungu kebiruan yang membentang di ufuk fajar bukan sekadar fenomena cahaya, melainkan residu dari hukum-hukum yang terus menulis ulang dirinya sendiri, detik demi detik, tanpa pernah berhenti.
Di dunia manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vi nhnựg nười Nĩóđs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: KEPUTUSAN DI FAJAR
Malam yang panjang dan mencekam akhirnya berlalu. Awan hitam yang menutupi langit selama berjam-jam kini perlahan bergeser, digantikan oleh cahaya samar yang mulai menyelinap di ufuk timur. Fajar telah tiba, membawa warnanya yang kelabu dan dingin, namun menyimpan janji akan sebuah hari yang baru.
Namun bagi Lira, waktu seolah berhenti berputar sejak ia terbangun dari mimpi itu.
Ia masih duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya erat-erat. Matanya tidak terpejam lagi, tapi tatapannya kosong, menembus dinding kayu kamarnya, menembus atap jerami, dan menjangkau jauh ke angkasa yang tak terbatas.
Rahasia itu kini terbentang jelas di hadapannya, meski masih terbungkus kabut misteri.
Ia bukan Lira. Atau lebih tepatnya, ia bukan hanya Lira. Di dalam tubuh kecil dan rapuh ini, tersimpan jiwa yang agung, sebuah cahaya yang pernah menyelamatkan dunia dari kehancuran total. Nama Myrrha bukan lagi sekadar kata asing yang menyakitkan. Itu adalah identitasnya. Itu adalah takdirnya.
“Jadi… aku adalah dewi?” bisiknya pada kebisuan kamar itu.
Pertanyaan itu terdengar aneh di telinganya sendiri. Bagaimana mungkin gadis kecil yang suka bermain dengan kupu-kupu, yang takut gelap, dan yang selalu menangis jika dimarahi Bundanya, adalah sosok yang setara dengan dewa?
Namun denyut yang terasa di dalam nadinya menjawab pertanyaan itu. Kekuatan yang kini terbangun, energi yang meluap-luap seolah ingin meledak keluar, itu adalah bukti nyata. Ia merasakan hubungannya dengan angin, dengan tanah, dengan cahaya matahari pagi, semuanya terasa ribuan kali lebih kuat daripada sebelumnya.
Ia bisa merasakan detak jantung dunia ini.
Tapi di balik rasa kagum dan bangga itu, ada rasa takut yang jauh lebih besar.
Jika ia benar-benar Myrrha, jika ia benar-benar memiliki kekuatan sebesar itu… lalu apa yang harus ia lakukan sekarang?
Pria misterius bernama Nyxarion pernah berkata bahwa ia harus menghadapi takdirnya. Mimpi itu memperlihatkan wajah-wajah orang yang sepertinya sangat merindukannya, atau mungkin sangat membutuhkannya.
Namun di sisi lain, ada Bunda Mira. Ada desa yang damai ini. Ada kehidupan sederhana yang penuh kasih sayang yang telah memberinya rumah dan keluarga. Jika ia mengakui siapa dirinya, jika ia pergi mencari asal-usulnya… apakah ia harus meninggalkan semua ini?
Apakah ia sanggup meninggalkan Bunda?
Pikiran itu saja sudah membuat hatinya terasa perih, seolah-olah ada pisau tajam yang mengiris-irisnya.
“Tidak…” gumam Lira, menggigit bibir bawahnya hingga terasa sakit. “Aku tidak mau menjadi dewa jika aku harus sendirian. Aku ingin di sini. Aku ingin menjadi Lira saja.”
Namun suara hati yang lain berbicara, suara yang lebih dalam dan lebih bijaksana.
“Dunia butuh kau, Lira. Bahaya belum selesai. Dan kekuatan sebesar ini tidak bisa disimpan selamanya. Jika kau tidak belajar mengendalikannya, kau justru bisa menyakiti orang-orang yang kau cintai.”
Itu benar. Ia ingat bagaimana cahayanya meledak keluar secara tak sengaja saat ia marah atau takut kemarin. Bayangkan jika suatu saat ia kehilangan kendali sepenuhnya di tengah desa ini.
Pintu kamarnya berderit pelan terbuka.
Cahaya samar dari luar koridor masuk menyelinap. Sosok Bunda Mira muncul di ambang pintu, membawa nampan berisi segelas air hangat dan sepotong roti. Wajah wanita itu penuh dengan kekhawatiran yang tak disembunyikan.
“Lira… Kau belum tidur lagi?” tanya Bunda lembut, berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang di samping anaknya.
Lira mengangkat wajahnya, dan saat itulah Bunda Mira tersentak.
Ia melihat mata anaknya. Mata cokelat keemasan itu kini tidak lagi hanya berisi kepolosan anak kecil. Di sana ada kedalaman, ada kesedihan, dan ada kekuatan yang jauh melampaui usianya. Seolah-olah di dalam tubuh itu bersemayam jiwa yang telah hidup ribuan tahun.
Bunda Mira menghela napas panjang, lalu perlahan mengulurkan tangannya, membelai rambut merah muda Lira dengan penuh kasih sayang.
“Bunda… tahu, kan?” tanya Lira pelan, suaranya bergetar. “Bunda tahu kalau aku bukan anak biasa.”
Bunda Mira tersenyum tipis, senyum yang penuh dengan kerelaan dan cinta yang tulus.
“Sejak pertama kali Bunda menemukanmu terbaring di padang rumput itu, Bunda sudah tahu,” jawabnya pelan. “Kau bersinar, Nak. Tidak secara kasat mata, tapi hatimu bersinar. Bunda tidak pernah tahu dari mana kau berasal atau siapa orang tuamu yang sebenarnya. Tapi Bunda tahu satu hal: kau ditakdirkan untuk hal-hal yang besar.”
Air mata Lira akhirnya tumpah lagi. Ia memeluk erat pinggang Bundanya, membenamkan wajahnya ke dada wanita itu, menghirup aroma yang familiar dan menenangkan.
“Lira takut, Bunda…” isaknya. “Semua ini terlalu besar untukku. Aku ingat hal-hal aneh, aku merasa kuat tapi juga merasa sangat kecil. Aku tidak tahu harus ke mana.”
Bunda Mira mengelus punggung anaknya perlahan, menenangkannya seperti yang selalu ia lakukan sejak kecil.
“Kau tidak harus tahu segalanya sekarang, sayangku,” bisiknya bijak. “Hidup ini adalah perjalanan. Kau tidak perlu langsung sampai ke tujuan dalam satu langkah.”
Ia melepaskan pelukannya sedikit, menatap wajah Lira dalam-dalam.
“Tapi Bunda juga tahu… burung yang sayapnya sudah kuat tidak bisa selamanya dikurung dalam sangkar, betapapun indahnya sangkar itu. Ia harus terbang untuk melihat langitnya sendiri.”
Kata-kata itu seperti palu yang mengetuk kesadaran Lira.
“Jadi… Bunda mau aku pergi?” tanya Lira sedih.
“Bunda tidak mau,” jawab Bunda Mira jujur, matanya juga mulai basah. “Tapi Bunda mengizinkan. Karena Bunda mencintaimu, dan kebahagiaanmu serta tujuanmu adalah yang terpenting bagi Bunda.”
Lira terdiam. Angin pagi berhembus masuk melalui celah jendela, membawa udara sejuk yang menyegarkan pikirannya.
Kabut di kepalanya perlahan mulai menipis. Keputusannya mulai terbentuk.
Ia tidak bisa lari dari siapa dirinya. Ia tidak bisa membiarkan kekuatan ini tidak terkontrol. Dan ia juga penasaran… ia ingin bertemu dengan orang-orang dalam mimpinya. Ia ingin tahu apakah mereka baik-baik saja.
Tapi ia juga tidak akan melupakan siapa dirinya sekarang. Ia akan tetap menjadi Lira yang baik hati, Lira yang penuh kasih sayang, meski ia juga menjadi Myrrha yang kuat.
“Baiklah,” ucap Lira akhirnya, suaranya tenang namun tegas.
Ia mengusap air matanya, menegakkan punggungnya. Tatapannya kini berubah. Tidak ada lagi keraguan yang besar di sana.
“Aku akan pergi,” kata Lira. “Aku akan mencari tahu kebenarannya. Aku akan mengingat segalanya. Tapi aku berjanji, Bunda… suatu hari nanti, aku akan kembali.”
Bunda Mira tersenyum bangga, meski hatinya hancur harus berpisah.
“Ke mana pun kau terbang, ingatlah bahwa rumah ini selalu terbuka untukmu. Dan Bunda akan selalu mendoakanmu dari sini.”
Di luar sana, matahari mulai menampakkan sisi terangnya di atas cakrawala. Cahaya emas pagi menyinari bumi, sama persis seperti warna cahaya yang pernah Lira pancarkan di masa lalu.
Perjalanan panjang telah dimulai. Dari sebuah desa kecil yang damai, gadis berambut merah muda itu akan melangkah keluar, menuju dunia yang luas, menuju petualangan, dan menuju takdirnya yang sebenarnya.