Dia dilahirkan bukan dari darah bangsawan, namun takdir memilihnya sebagai pewaris tahta. Elisa, sang putri mahkota justru menolak singgasananya bukan karena takut, tapi karena keyakinan bahwa saudaranya lebih pantas menduduki posisi itu. Namun niat tulusnya justru memicu perpecahan, meninggalkan luka dan kepergian sang kakak dalam diam.
Dalam pencarian untuk memulihkan kehormatan dan cinta keluarganya, Elisa terseret dalam pusaran pengkhianatan, ambisi, dan cinta yang menghancurkannya. Ditinggalkan oleh cinta pertamanya, dikhianati oleh orang-orang yang ia percaya, dan dipertemukan dengan cinta baru yang penuh tantangan. Elisa belajar bahwa "Mahkota" tak selalu berupa logam mulia, kadang mahkota sejati tersembunyi dalam kebenaran, keberanian, dan ketulusan hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sjulerjn29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8. RAMUAN RAHASIA
(Gambar ini hanya ilustrasi belaka, maaf jika tak sesuai ekspektasi)
“Aku harus menemuinya…”
Seseorang yang membuatnya mampu menjadi dirinya sendiri bukan sebagai seorang putri, melainkan sebagai seorang teman biasa.
Elisa merasa beruntung bisa mengenalnya. Di hadapan orang itu, ia bebas mengeluh, bebas mengadu, tanpa rasa dihakimi atau digurui. Entah mengapa, kepercayaan itu tumbuh begitu saja. Segala hal ia ungkapkan, mulai dari persoalan istana hingga rahasia tentang dirinya, ia ceritakan tanpa takut akan dibocorkan.
Ia dikenal dengan nama Liliput.
Tubuhnya kecil, berkulit keriput seolah telah hidup ratusan tahun. Sepasang telinganya lebar, rambut putih tipis tumbuh tak beraturan, sekilas menyerupai kurcaci dalam dongeng lama. Namun di balik penampilannya, Liliput memiliki pengetahuan yang luas dan berbahaya. Cukup berbahaya untuk membuat banyak pihak mengincarnya.
Bukan untuk dihormati, melainkan dimanfaatkan.
Ia pernah disiksa, dipaksa mengungkapkan ilmunya. Tubuhnya dieksploitasi, cambukan demi cambukan mendarat saat ia mencoba melawan atau melarikan diri. Semua demi kepentingan politik yang tak pernah ia pedulikan.
Hingga akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Elisa.
Saat Liliput terdesak dan diburu oleh banyak pihak yang saling berebut ingin memilikinya, Elisa datang sebagai penyelamat. Ia menyembunyikannya di sebuah tempat rahasia, dimana tempat itu hanya mereka berdua ketahui keberadaannya.
Tempat itu terletak di hutan belakang istana. Dikelilingi pepohonan berduri yang jarang disentuh manusia, kawasan itu sunyi, terlalu sunyi. Bahkan kicauan burung pun jarang terdengar. Hanya hembusan angin yang menyambut setiap langkah Elisa, seolah mengingatkannya bahwa ia telah memasuki wilayah yang tak biasa.
Langkahnya terhenti di depan sebuah gua kecil, tingginya tak lebih dari tubuhnya sendiri. Mulut gua itu tertutup semak belukar, nyaris tak terlihat jika tak tahu harus mencarinya ke mana.
Elisa mengatur napas, lalu menempelkan telapak tangannya ke dinding gua.
Sekejap kemudian, angin riuh berhembus. Burung-burung yang semula bersembunyi berterbangan menjauh, sementara kilatan cahaya terang menyambar hingga membuat Elisa memejamkan mata karena silau. Saat pintu gua terbuka, ia melangkah masuk perlahan.
Kakinya bercahaya, seolah menjadi lilin hidup yang menerangi jalan di tengah kegelapan.
Namun kegelapan itu segera sirna.
Bagian dalam gua justru berbanding terbalik, indah, damai, dan tenang. Kicauan burung terdengar lembut seperti nyanyian penyambutan. Angin sepoi-sepoi menyentuh kulitnya, membawa kesejukan yang menenangkan, seakan berbisik pelan, 'Apa kabarmu?'
Gua itu seperti pintu menuju dunia lain. Sebuah tempat yang hanya bisa dibuka dan ditutup oleh tangan Elisa sendiri.
“Put… put… put!”
Elisa berlari menuju sebuah hunian sederhana di dalam gua. Seluruh bangunannya terbuat dari bahan alami dari kayu, daun kering, dan akar-akar pohon yang teranyam rapi. Ia menerobos masuk tanpa mengetuk pintu, kembali memanggil dengan suara lantang.
“Put… put, kau di mana? Kemarilah, aku butuh bantuanmu sekarang!”
Ia menyusuri setiap sudut ruangan dengan harapan Liliput muncul dari balik bayangan. Namun usahanya sia-sia. Tak ada tanda-tanda keberadaannya.
Yang terlihat hanyalah sebuah tong besar berisi cairan mendidih, dibiarkan tanpa pengawasan. Uap panas menyebar ke seluruh ruangan. Di sekitarnya, rempah-rempah dan bahan langka tersusun rapi, menandakan eksperimen yang belum selesai.
Waktu pun berlalu.
Elisa menunggu terlalu lama hingga rasa bosan tak lagi bisa ia pungkiri.
“Aaargh… lama sekali. Dia ke mana? Aku sangat bosan,” gerutunya kesal.
Karena terlalu banyak berteriak, alhasil tenggorokannya terasa kering. Ia menoleh ke sana kemari, hingga pandangannya tertuju pada segelas cairan keruh di atas meja. Tanpa berpikir panjang, ia meraih dan meminumnya.
“Aku haus sekali. Sepertinya ini hanya air biasa,” ujarnya sambil meneguk cepat hingga tak bersisa.
Elisa tak menyadari bahwa minuman itu bukanlah air biasa. Itu adalah sebuah ramuan rahasia milik Liliput.
Ia sering bereksperimen dengan cairan-cairan ajaib, sekadar menguji batas kemampuan dan dampaknya. Dan kali ini, tanpa sengaja, Elisa telah menjadi bagian dari salah satu uji cobanya.
Lama menunggu tanpa hasil, Elisa akhirnya memutuskan untuk pergi.
“Aku harus pulang sebelum semua orang curiga jika aku tidak berada di kamar.”
Elisa menghela napas panjang. Dadanya terasa sedikit hangat, namun ia mengabaikannya. Mungkin hanya karena kelelahan. Hari itu pikirannya terlalu penuh tentang istana, tentang tatapan orang-orang yang selalu menuntutnya sempurna.
Ia duduk di bangku kayu, menatap tong besar yang masih mendidih pelan.
“Apa pun yang sedang kau buat kali ini, semoga tidak meledak,” gumamnya lirih, berusaha bercanda dengan dirinya sendiri.
Keheningan gua terasa berbeda. Terlalu hening. Angin yang sebelumnya lembut kini seolah berhenti berembus. Elisa mengusap lengannya, merasakan bulu kuduknya meremang tanpa alasan yang jelas.
Ada sesuatu yang aneh.
Penglihatannya berkunang sesaat. Ia mengedipkan mata, menegakkan punggung, mencoba menenangkan diri. Namun jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
“Tenang, Elisa… kau hanya lelah,” bisiknya pada diri sendiri.
Ia bangkit berdiri, namun langkahnya sedikit goyah. Hangat di dadanya merambat naik ke tenggorokan, lalu menyebar ke seluruh tubuh seperti aliran air yang terlalu cepat. Bukan sakit lebih seperti sensasi asing yang sulit dijelaskan.
Kenangan-kenangan kecil tiba-tiba berkelebat di benaknya.
Suara tawa masa kecil. Tangis yang ia pendam di balik tirai kamar. Tatapan ayahnya yang penuh harap sekaligus ragu. Semua muncul bersamaan, terlalu jelas, terlalu nyata.
Elisa menekan pelipisnya.
“Aku benar-benar harus pergi…” ujarnya pelan.
Ia meraih meja, menstabilkan tubuhnya. Matanya kembali tertuju pada gelas kosong di tangannya. Untuk sesaat, firasat buruk menyelinap ke dalam hatinya.
"Jangan-jangan…"
Namun pikiran itu segera ia tepis.
"Liliput tidak akan ceroboh. Dan jika pun ramuan itu berbahaya, pasti ia sudah memberi peringatan. Atau mungkin… ia lupa."
Elisa menghela napas, lalu mengambil secarik kertas dan menuliskan pesan singkat. Tangannya sedikit bergetar, tapi tulisannya tetap terbaca jelas. Ia menjepit surat itu dengan gelas kosong, memastikan Liliput akan langsung melihatnya saat kembali.
Ia menoleh sekali lagi ke sekeliling hunian sederhana itu.
Tempat ini selalu menjadi pelariannya. Satu-satunya ruang di mana ia tak perlu bersikap sebagai putri, tak perlu menjaga tutur kata, tak perlu mengenakan mahkota yang terasa semakin berat setiap harinya.
Namun hari ini, tempat itu terasa berbeda. Seolah menyimpan rahasia yang belum ingin terungkap.
Dengan langkah cepat, Elisa meninggalkan gua. Saat telapak tangannya kembali menyentuh dinding, cahaya menyelimuti dirinya. Pintu dunia itu tertutup perlahan, menyisakan keheningan seperti semula.
Elisa tak tahu bahwa sejak tegukan terakhir ramuan itu, sesuatu di dalam dirinya telah berubah.
Dan perubahan itu cepat atau lambat akan menuntut jawaban.
Dengan langkah tergesa, Elisa meninggalkan tempat itu, tanpa tahu bahwa keputusannya malam ini akan membawa perubahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Bersambung...
Apa yang akan terjadi setelah Elisa minum ramuan itu ya?
Semoga gak terjadi hal buruk dengannya dan berharap Liliput segera kembali..
Kawal terus kelanjutannya ya jangan lupa kasih suport seperti vote, like, komen dan subscribe. Terimakasih 🥰