Medina Khaled, gadis cantik bermata Hazel dari Ghaza yang telah di adopsi oleh seorang dokter relawan bernama Yasmin Ameena, dan suaminya bernama Ardan Mahesa, memiliki putra tunggal Rendra Mahesa.
Dokter Yasmin menolong Medina di bawah reruntuhan bangunan. Gadis itu masih bisa di selamatkan.
Dokter Yasmin merasa iba pada Medina yang sebatang kara, ia membawa Medina pulang ke Indonesia dan menjadikan nya anak angkat.
Setelah dewasa, Medina menolak tawaran dokter Yasmin untuk melanjutkan studinya di Amerika menyusul Rendra yang sudah disana. Medina ingin bekerja, belajar mandiri. Dokter Yasmin tidak ingin kehilangan Medina. Akhirnya ia menyuruh Rendra untuk pulang, dan menikahi Medina. Mau tak mau, ke-duanya harus menuruti keinginan dokter Yasmin, walau Rendra sudah memiliki kekasih. Rendra menyayangi Medina, tapi ia punya selera di luar sana. Membuat Rendra bermain di belakang Medina.
Bagaimana kah kelanjutan Rumah Tangga nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosseroo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Langit New York menurunkan gerimis tipis malam itu. Di antara lampu-lampu kota yang berpendar, Rendra turun dari mobil menuju hotel yang telah lama akrab baginya.
Sebelum nya, Rendra menyuruh agar asisten pribadinya yang berada di Amerika yang menjemput dirinya dari bandara.
Bangunan hotel itu berdiri megah dan dingin, seolah menyimpan jejak masa lalu yang tak pernah benar-benar hilang.
Di lobi, aroma mawar putih tercium samar. Rendra menatap ke arah lift, lalu menarik napas panjang. Ia tahu siapa yang menunggunya di atas sana.
Di kamar lantai dua puluh, Vanessa Queen berdiri di depan jendela besar, tubuhnya diselimuti gaun satin warna pink muda. Tatapannya kosong menembus hujan, namun matanya menyala—campuran antara rindu, kesal dan kemarahan yang disembunyikan rapi.
Ketika pintu kamar berbunyi klik, Vanessa tidak langsung menoleh.
“Kau datang juga,” suaranya datar, namun di balik ketenangan itu terasa getar halus.
Rendra melangkah masuk. “Aku harus ke sini. Kita perlu bicara.”
Vanessa berbalik perlahan. Senyumnya muncul sekilas—senyum yang indah tapi berbahaya.
“Bicara? Setelah berberapa waktu lalu kamu pergi. Kau bahkan menikah dengan gadis polos yang bahkan aku tak tahu siapa dirinya sebenarnya?”
Rendra terdiam. Tatapannya jatuh ke lantai. Rendra menghela nafas, lalu matanya menatap intens wajah gadis yang ada di depannya.
“Vanessa, jangan mulai lagi. Aku… tidak bermaksud menyakitimu.”
“Tapi kau melakukannya,” potong Vanessa pelan. “Kau bilang aku bagian dari hidupmu. Lalu kau menikahi orang lain dan mengharapkan aku tetap diam di sini, menunggu?”
Hening beberapa detik. Suara hujan menjadi satu-satunya saksi ketegangan yang menggantung di udara.
Rendra menatapnya lagi. Ada kelelahan di matanya, tapi juga kerinduan yang sulit dijelaskan.
“Kau tahu aku menginginkan mu, Ness. Tapi hidupku tak sesederhana itu.”
Vanessa melangkah mendekat. Setiap langkahnya terdengar lembut namun pasti.
“Kau selalu punya alasan Rendra,” ujarnya lirih. “Tapi kali ini aku tak mau jadi alasan. Aku ingin jadi pilihan.”
Rendra menunduk, suaranya parau.
“Aku tak bisa melepaskan Medina begitu saja. Dia istriku.”
Vanessa menatapnya tajam, lalu menarik napas dalam-dalam.
“Dan aku?”
Pertanyaan itu menggantung di antara mereka—tajam, menusuk. Rendra tak mampu menjawab. Ia hanya mengulurkan tangan, mencoba menjembatani jarak yang terbentuk. Vanessa menatap uluran itu lama sekali, sebelum akhirnya menghela napas dan membiarkan dirinya merasakan sentuhan itu sebentar. Rendra membelai pipi putih bersemu merah Vanessa dengan senyuman tampannya.
"Maaf, aku tak bisa menolak keinginan bunda. Aku tak ingin di cap sebagai anak durhaka."
"Kau lebih tahu tentang diriku Ness. Apa yang ku mau, apa yang ku senangi, kau paling pandai mengolah rasaku menjadi kesenangan dan kehangatan yang nyata, Honey..."
“Kau masih pandai mengucap kata-kata manis,” katanya akhirnya, suaranya melembut tapi tetap dingin. “Mantra cintamu selalu bekerja, Rendra. Tapi aku tak tahu… sampai kapan aku mau terperangkap di dalamnya.”
Rendra menatapnya dalam-dalam. Lalu mencumbu bibir merah itu.
“Aku akan berusaha membuatmu percaya lagi. Jangan pergi ya, aku sangat membutuhkan mu. Aku juga menginginkan mu hari ini dan seterusnya.”
Vanessa memalingkan wajah, menyembunyikan senyum malu.
“Kau tahu aku tak akan pergi. Itu masalahnya. Aku terlalu lemah akan cintaku padamu Ren.”
Di luar, hujan mulai berhenti. Di dalam kamar itu, dua hati masih berdiri di antara cinta dan kesalahan, terikat oleh sesuatu yang terlalu rumit untuk dinamai.
Rendra menarik tangan Vanessa, hingga terjatuh di atas ranjang. Rendra membuka kancing kerah bajunya yang terasa sesak.
Vanessa tersenyum menggoda. Ia bangun dan membuka seluruh kancing kemeja milik Rendra. Bahkan ia melepas belt milik Rendra dan melempanya ke sembarang arah.
"Kau sudah rindu?"
"Tentu saja.. Aku rindu semua yang ada di dirimu." goda Vanessa saat jemari lentiknya meraba dada yang berotot di depan matanya.
Malam itu, terjadi lah pergulatan panas antara Rendra dan Vanessa. Bersama Vanessa, Rendra bebas mengeksplor segala imajinasinya dan beraksi brutal terhadapnya. Namun, saat bersama Medina, ia akan berlaku lembut dan penuh kasih sayang.
*****
Di sisi lain, Medina tak sengaja menjatuhkan cangkir kopi hangat yang baru saja ia buat.
Seorang asisten rumah tangga langsung berlari mendekati arah suara.
"Astaghfirullah, non Medina. Non tidak papa?" tanya bi Surti khawatir.
"Gak papa bi, tadi kayaknya tangan ku licin jadi terjatuh." jawab Medina saat akan membungkukkan badan untuk mengambil pecahan beling.
"Tidak usah non, biar bibi saja. Nanti tangan Non Medina tergores. Bibi bakal di marahi nyonya."
"Tapi bi, ini saya yang teledor. "
"Udah gak papa, Non Medina tunggu di kamar saja. Nanti bibi buatkan yang baru ya."
"Terimakasih bi. Maaf ya.." ucap Medina lagi merasa tidak enak, bi Surti hanya mengangguk.
Lalu Medina berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Di dalam kamar, Medina memeluk bantal tidurnya. Masih tercium aroma wangi Rendra disana.
"Kenapa, perasaan ku tiba-tiba tidak enak, mas Rendra juga belum kasih kabar. Ya Allah, lindungi suamiku..."
Medina berdoa lirih demi keselamatan suaminya.
...----------------...