-TAMAT-
Muhammad Faiz Al Ghifari atau Gus Faiz adalah seorang anak laki-laki dari seorang Kyai besar yang memiliki pondok pesantren di pedalaman Jawa. Dia adalah sosok yang sempurna dan selalu menjadi bahan incaran para gadis dan ibu-ibu di manapun dia berada.
Suatu ketika Gus Faiz bertemu dengan Anindya Athaya Zahran, seorang santri putri angkuh yang selalu mencari 1001 cara untuk mengakhiri hidupnya.
Gus Faiz yang selalu tergerak untuk menggagalkan upaya bunuh diri Nindy tidak sengaja terlibat dalam perjanjian yang di luar nalarnya. Perjanjian yang benar-benar mengubah jalan hidupnya, perjanjian yang tidak berterima oleh akal sehatnya, dan perjanjian yang menyalahi aturan hidupnya.
Akankah Gus Faiz menepati janji itu? Bolehkah Gus Faiz melaksanakannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Upi1612, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BB 8 - Kembali ke Pesantren
“Is, udah jam 4 lho. Serius lo mau nungguin tuh cewek?” tanya Ilham.
Gus Faiz makin dilema.
“Dari pada lo dihukum telat mending lo gua anterin sekarang dah, Is.” kata Ilham.
“Bagaimana kalau dia terus mencari saya?” tanya Gus Faiz.
“Lo punya ciri-ciri lain gak selain rambut tirai?” tanya Akbar. “Gue bantuin nyari ntar.” lanjutnya.
Gus Faiz pun memutar otaknya. Satu hal terlintas di benaknya.
“Saya ingat.” kata Gus Faiz.
“Apa, Is?” tanya Ilham.
“Kalau tidak salah kemarin dia memberikan sebuah simbol kepada saya. Namun, saya tidak mengerti apa artinya.” kata Gus Faiz.
“Coba, kayak gimana?” tanya Akbar.
“Seperti ini. Iya, seperti ini.” kata Gus Faiz, dia mencontohkan cara Gadis Tirai membuat hati dengan jempol dan jari telunjuknya.
Seketika Akbar dan Ilham tertawa, lepas sekali. “Hahahahhahahaha, ***** sakit bat perut gue.” Suara tawa Ilham dan Akbar mulai mendapatkan perhatian dari banyak orang. Melihat sahabat-sahabatnya tertawa Gus Faiz menurunkan tangannya.
“Memang itu simbol apa?” tanya Gus Faiz.
Gus Faiz sangat penasaran dengan makna simbol yang tadi sudah dicontohkannya.
“Oke, oke. Kalo cewe kayak begini nih tangannya.” kata Akbar mencontohnya. “Dia kasih hati sama lo. Ya, suka, cinta, atau semacamnya lah. Soalnya ini tuh bentuk hati. Cewek-cewek yang suka korea biasanya suka kasih simbol gitu.” kata Akbar.
“Jadi, gadis itu memberikan hatinya pada saya?” tanya Gus Faiz.
“Hahahahahahaha sumpah, gak tahan gue gak tahan!” seru Ilham.
“Jangan begitu ege, dia kan emang gak ngerti begituan.” kata Akbar menoyor Ilham yang tak kunjung berhenti tertawa.
“Iya, kurang lebih kayak gitu, Is.” kata Akbar.
“Tapi bagaimana mungkin, kami baru bertemu, mengapa dia sudah memberikan hatinya pada saya?” tanya Gus Faiz.
“Love in the first sight, kali.” celetuk Ilham
“Eh, tunggu, Is. Kan katanya tuh cewek pegang pipi lo ya?” tanya Akbar
Gus Faiz mengangguk.
“Nah, mungkin yang di bilang Ilham ada benernya.” kata Akbar.
“Terus lo tau namanya gak?” tanya Ilham.
“Tahu. Namanya An. Ah, Anin, maksud saya Anin.” jawab Gus Faiz.
“Lo kenal gak, Ham? Inikan daerah rumah lo.” tanya Akbar kepada Ilham.
“Kayaknya si gak ada dah yang namanya Anin di sini. Gue bahkan baru denger ada cewek yang namanya Anin.” kata Ilham.
“Gimana si, dari berojol udah di sini juga.” kata Akbar.
“Ye, walaupun gue di sini dari berojolkan, gue tetep bukan anak Pak RT atau petugas sensus.” kata Ilham.
Akbar tertawa. Gus Faiz pun ikut tersenyum. Dalam hati Gus Faiz merasa nyaman berada di tengah-tengah mereka. Meski kelakuan atau kata-kata yang mereka lontarkan kerap kali harus dibenahi olehnya, namun hati kecil Gus Faiz selalu merasa kalau mereka bedua sahabat yang baik.
“Yaudah, Is. Lo balik aja ke pondok nanti gue cari deh cewek yang kayak gitu di sini.” kata Akbar.
“Baiklah.” kata Gus Faiz. “Saya minta tolong ya, Bar.” kata Gus Faiz.
“Lo tenang aja. Gue bakal sering ke sini. Lagian deket rumah Ilham.” kata Akbar.
“Ayok, Is, keburu telat lo.” kata Ilham.
Meski Gus Faiz sempat ragu namun. Dia tetap mengikuti saran sahabat-sahabatnya.
“Saya berangkat dulu. Assalamualaikum.” salam Gus Faiz.
Gus Faiz menyodorkan tangan, Akbar pun menjabat tangannya. “Ti-ati lo.” kata Akbar.
Sesampainya di pesantren.
“Terima kasih, Ham.” kata Gus Faiz.
“Jangan lupa minggu besok ke rumah ya. Kita anterin Linda.” kata Ilham.
“Baik.” kata Gus Faiz.
“Yaudah, gue pulang dulu. Assalamualaikum.” salam Ilham.
“Waalaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh.” jawab Gus Faiz.
Setelah Ilham pergi Gus Faiz pun masuk ke dalam pesantren. Tiba-tiba ada dua santri putri datang menghampiri Gus Faiz. Gus Faiz sangat mengenalnya.
“Assalamualaikum.” sapa santriwati tersebut.
“Waalaikumsalam.” jawab Gus Faiz.
Karena merasa tidak memiliki kepentingan, Gus Faizpun hendak pergi. Dia sama sekali tidak tertarik dengan kedua santri putri yang terlihat sedang cari perhatian tersebut.
“Ayo, Ning Aisha. Keburu dia pergi.” salah satu santri putri memperingatkan temannya yang bernama Ning Aisha.
Ning Aisha mengangguk.
“Tunggu, Gus!” kata Ning Aisha.
“Faiz saja.” kata Gus Faiz.
“Tapi Gus, aku tidak bisa memanggil langsung nama kamu.” kata Ning Aisha.
“Saya harus pergi. Permisi.” kata Gus Faiz.
“Tunggu, Gus. Kamu di panggil Abah.” kata Ning Aisha.
“Terima kasih.” kata Gus Faiz.
Gus Faiz langsung pergi meninggalkan Ning Aisha. Ning Aisha adalah anak Abah Kyai pemilik pesantren ini. Gus Faiz paham betul soal ini.
Ning Aisha berwajah cantik. Layaknya seorang Ning, dia memiliki perangai yang sangat baik, selain baik, dia juga cerdas dan taat beragama. Namun, semenjak kedatangan Gus Faiz, dia merasa memiliki perasaan pada Gus Faiz.
“Dinda, sepertinya dia benar-benar tidak menyukaiku.” kata Ning Aisha pada Dinda yang ada si sampingnya.
“Mungkin bukan tidak suka, Ning. Bukannya dia memang seperti itu? Selalu dingin pada perempuan?” kata Dinda.
“Ntahlah, aku merasa dia selalu menjauh dariku.” kata Ning Aisha.
“Ning, percaya deh sama aku, dia tuh bukan menjauh, tapi memang sikapnya seperti itu. Dia menjaga jarak pada perempuan.” kata Dinda.
“Iya si, tapi…” kata Ning Aisha kehabisan kata-kata.
“Nggak ada yang bisa nolak kamu, Ning. Kamu itu cantik, baik, cerdas pula. Menurutku kamu cukup sempurna untuk siapapun termasuk Gus Faiz.” kata Dinda.
“Benarkah aku seperti itu?” tanya Ning Aisha.
Dinda mengangguk mantap. “Yuk, aku anter ke Abah.” kata Dinda.
Ning Aisha mengangguk. Mereka berdua pun menuju rumah Abah. Namun, diperjalanan perut Dinda terasa mulas dan harus ke kamar mandi. Dindapun meminta maaf pada Ning Aisha karena tidak bisa menemani Ning Aisha pulang. Ning Aisha mengangguk mengerti. Dan merekapun berpisah. Sesampainya di rumah Abah, Gus Faiz sudah di sana duduk berhadapan dengan Abah.
“Assalamualaikum.” salam Ning Aisha.
“Waalaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh.” Abah dan Gus Faiz menjawab.
Ning Aisha mencium tangan ayahnya.
“Tolong ambilkan minum untuk Gus Faiz ya, Nak.” kata Abah kepada Ning.
“Baik, Abah. Permisi.” kata Ning Aisha.
“Aisha itu anak yang baik dan rajin.” kata Abah pada Gus Faiz.
Gus Faiz hanya mengangguk. Bingung harus menjawab apa. Di telinganya pernyataan Abah mengandung banyak arti, kalimat itu bisa berarti kalau Abah benar-benar sedang memuji putrinya namun bisa juga berarti sedang memberikan kode kepada Gus Faiz.
Gus Faiz tidak mau salah menjawab. Gus Faiz menanti Abah menjelaskan maksud undangannya. Disuruh datang termasuk undangan bukan?
“Kamu tahu mengapa Abah memanggilmu ke sini?” tanya Abah.
“Tidak, Abah. Kalau boleh saya tahu, ada apa ya?” jawab Gus Faiz.
“Setelah lulus dari sini, kamu akan kemana, Nak?” tanya Abah.
“Saya belum tahu, Abah.” jawab Gus Faiz.
Belum sempat Abah menjawab, Ning Aisha datang membawa minuman.
“Terima kasih.” kata Gus Faiz.
“Dengan senang hati.” kata Ning Aisha.
Meski dalam bahasa Indonesia frasa ‘dengan senang hati’ sama dengan ‘terima kasih kembali’ atau jawaban dari ungkapan terima kasih dalam bentuk formal, namun ditelinga Gus Faiz seperti ada sesuatu yang mengganjal.
Gus Faiz tak berniat menangapi Ning Aisha.