Patah hati karena cintanya harus kandas tanpa sempat bersemi membuat Agam Mahardika semakin tidak tersentuh. Meski kerap menghabiskan malam panas bersama banyak wanita cantik yang rela menyerahkan diri untuk menemani malam-malamnya, namun pria tampan dengan berjuta pesona itu tetap memilih menutup rapat pintu hatinya. Menguncinya bersama satu nama yang sudah sedari awal mendiami relung hatinya.
Namun, pertemuan tidak terduga dengan seorang gadis cantik yang terpaut usia jauh di bawahnya, perlahan mulai mengusik relung hati.
Akankah pintu hati yang telah lama tertutup itu kembali terbuka, atau akan tetap terkunci tanpa tersentuh, membiarkan hatinya tetap layu tanpa pernah bersemi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
"Apa yang kau lakukan?" hardik Agam, menatap tajam seorang gadis yang sudah berani menabrakkan troli berisi alat kebersihan hingga pakaian dan celana yang dikenakannya basah dan kotor setelah terkena tumpahan air dari ember bekas mengepel lantai.
Viona terperanjat, kedua tangannya masih menggenggam erat gagang troli. Wajahnya memucat, matanya membesar menatap pria yang berdiri dengan tatapan tajam, rahang mengeras dan bahu yang bergetar seakan tengah menahan amarah. Viona sama sekali tidak menyangka troli yang didorongnya menabrak seseorang dari arah berlawanan, padahal ia sudah berusaha mendorong troli itu dengan sangat hati-hati.
"Sa-saya... maaf, Tuan... saya tidak sengaja," ucap Viona terbata. Saat melihat pakaian pria itu basah, buru-buru ia mengambil lap kering yang tersampir di gagang troli lantas melangkah menghampiri Agam.
Dengan sigap, Viona hendak mengelap kemeja Agam yang tampak basah dengan lap kering bersih yang dibawanya. Namun belum sempat tangan Viona menyentuh tubuh Agam, pergelangan tangannya lebih dulu dicengkram kuat oleh Agam, lantas dihentak kasar. Membuat Viona melangkah mundur karena terkejut dengan reaksi pria di hadapannya.
"Berani sekali pegawai rendahan sepertimu menyentuh tubuhku!" bentak Agam. Suara lantangnya menggema di sepanjang koridor lantai dua.
Suara lantang disertai bentakan Agam sempat membuat nyali Viona menciut. Namun kalimat yang terlontar dari mulut Agam yang terkesan merendahkan status kepegawaiannya benar-benar melukainya. Ternyata tidak hanya Pak Teguh, pria yang berdiri di hadapannya juga memandang seseorang hanya dari status.
Viona menarik napas dalam, berusaha menahan gejolak emosi yang kian merangkak naik. Baru selesai permasalahan dengan Pak Teguh, kini ia harus kembali berhadapan dengan seorang pria asing yang begitu arogan.
"Saya memang hanya seorang pegawai rendahan di sini, Tuan. Tapi kejadian tadi bukan sepenuhnya kesalahan saya," ucap Viona, meski suaranya terdengar bergetar, namun ia tetap mengangkat kepalanya. Ia tidak ingin kembali direndahkan hanya karena status sosial.
Apalagi, Viona yakin ia tidak sepenuhnya bersalah dalam kejadian itu. Saat hendak melintasi tikungan, ia sudah sangat berhati-hati mendorong trolinya, bahkan fokusnya sama sekali tidak teralihkan, namun tiba-tiba pria itu muncul begitu saja tepat saat ia berbelok di tikungan, lalu menabrak troli yang tengah didorongnya. Viona juga sangat yakin, bukan ia dan trolinya yang lebih dulu menabrak, melainkan pria itu sendirilah yang menabrak trolinya.
Agam mendengus pelan, sorot matanya tajam menusuk ke arah Viona. ia melangkah mengikis jarak. "Jadi, sekarang kamu sedang mencoba menyalahkanku?" tanyanya sinis, namun penuh penekanan.
Viona menegakkan tubuh. Menatap datar wajah pria di hadapannya, meski jantungnya berdebar kencang, ia tidak ingin gentar. Tidak perduli setinggi apa status sosial atau jabatan pria yang kini tengah berdiri dihadapannya, karena Viona merasa, ia tidak sepenuhnya bersalah. Ia juga sudah berusaha memperbaiki keadaan dengan meminta maaf lebih dulu dan berusaha membereskan kekacauan dengan hendak membantu membersihkan noda di pakaian pria itu.
Tak jauh dari tempat perdebatan keduanya, beberapa pegawai lain yang hendak melintas buru-buru menghentikan langkah sambil saling berbisik melihat tontonan gratis yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Saya tidak sedang mencoba menyalahkan anda ataupun membela diri," ucap Viona tanpa menaikkan nada bicaranya, berusaha setenang mungkin menghadapi pria arogan di depannya. "Sa-saya hanya menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi," lanjut Viona, kali ini ia sedikit goyah setelah memperhatikan seksama wajah pria itu.
Agam terkesiap, baru kali ini ia bertemu dengan seorang gadis yang berani menatapnya dengan tatapan berbeda. Bukan tatapan penuh dambaan seperti yang biasa ia dapatkan dari wanita yang berada di sekelilingnya. Gadis yang berdiri tegak dihadapannya malah seolah tengah menantang dirinya saat ini.
"Kamu... masih tidak sadar sedang berhadapan dengan siapa?" ucap Agam yang justru menurunkan nada bicara sambil menatap intens wajah Viona yang cukup membuatnya penasaran.
Viona menelan keras saliva, meski pria dihadapannya tidak lagi berbicara lantang dan cenderung menurunkan intonasinya, namun ia justru merasa takut. Tatapan pria itu seolah tengah menelisik isi pikirannya.
"Sa-saya memang tidak tahu siapa anda," ucap Viona sedikit terbata. "Tapi... anda bisa mengetahui kejadian yang sebenarnya lewat rekaman CCTV," lanjut Viona. Satu tangan serta wajahnya menunjuk ke arah sebuah kamera CCTV yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Viona sendiri baru ingat, jika terdapat sebuah kamera pengintai yang terpasang tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
"Saya yakin, anda bisa melihat semuanya dari sana." kali ini Viona berkata sembari sedikit menundukkan wajah dan melangkah mundur.
Agam menarik tipis sudut bibirnya. Ia kembali melangkah mengikis jarak, bahkan nyaris membuat tubuh belakang Viona terbentur tembok saat gadis itu melangkah mundur untuk tetap memberi jarak. "Jadi...sekarang kamu bahkan berani mengaturku untuk melihat rekaman CCTV?" tanya Agam datar. Emosi yang sebelumnya sempat meledak-ledak entah mengapa bisa surut dengan begitu cepat saat menatap intens wajah gadis yang berhasil membuatnya semakin penasaran.
Viona yang nyaris terpojok dengan jantung yang berdetak kencang dan panik yang mulai menyergap, akhirnya bisa sedikit bernapas lega, saat melihat pria yang tadi sempat bertemu dengannya, tiba-tiba muncul dan menepuk bahu pria arogan itu hingga membuat pria itu sontak menghentikan langkah.
"Agam, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Hyun setelah menepuk keras bahu Agam untuk menghentikan pergerakan sahabatnya.
Agam mendengus kasar, ia menoleh sekilas lantas berbalik badan untuk bertatapan langsung dengan Hyun. "Seharusnya, akulah yang bertanya seperti itu padamu!" ucap Agam ketus. Kesal karena Hyun sudah berani mengganggu kesenangannya tadi. Padahal tinggal sedikit lagi, ia berhasil membuat gadis angkuh itu merasa terpojok.
Hyun dibuat melongo dengan ucapan Agam. "Bukannya, kau sendiri yang tadi menyuruhku menemui Pak Teguh?" sahut Hyun yang tidak habis pikir dengan pikiran sahabatnya. Padahal Agam sendiri yang tadi menyuruhnya pergi menemui Pak Teguh, sekarang dia malah balik bertanya padanya.
Belum juga Agam kembali menjawab, Hyun lebih dulu menelisik pakaian dan celana Agam yang tampak basah. "Ada apa dengan pakaianmu?" tanyanya sambil menahan tawa. Meski sebenarnya ia paham dengan apa yang terjadi pada sahabatnya. Pakaian dan celana panjang Agam yang basah dan terlihat kotor, terdapat tumpahan air tergenang di atas lantai, troli berisi alat kebersihan dan sebuah ember plastik yang tergeletak di atas lantai sudah cukup menjawab pertanyaan Hyun tentang kondisi Agam saat ini.
Namun, Hyun sengaja bertanya untuk mengalihkan atensi Agam sekaligus memancing kembali kekesalan Agam.
Agam sendiri hanya menatap jengah wajah tengil sahabatnya. Namun merasa enggan menanggapi pertanyaan yang sebenarnya sudah pasti Hyun ketahui jawabannya, hingga Agam memilih melangkah pergi.
"Badanmu juga bau. Mandilah lebih dulu," ledek Hyun. Ia tentu tidak akan membiarkan Agam pergi begitu saja.
Ucapan Hyun kali ini berhasil membuat Agam menghentikan langkah, lalu kembali berbalik badan. Namun bukan Hyun yang ia tatap, melainkan Viona yang masih berdiri diam.
"Hyun, pastikan gadis ceroboh itu menyerahkan surat pengunduran dirinya saat ini juga!" ucap Agam, membuat Viona sontak kembali mengangkat wajahnya. Sementara Hyun mengangkat satu alisnya lantas tersenyum tipis.
****