Selena Maheswari, adalah sosok gadis mandiri dan pekerja keras, dia tidak sengaja menyaksikan sendiri seseorang bertangan dingin yang dengan gampangnya mengeksekusi rekannya yang berkhianat, tanpa rasa bersalah ataupun menyesal.
Di dalam kejadian itu ternyata ada anak buah dari mafia tersebut yang mengintai Selena hingga pada akhirnya Selena terjerat ke dalam lingkaran sang Mafia.
Mampukah Selena keluar dari jerat sang Mafia atau malah sebaliknya?? Nantikan kisah selengkapnya hanya di Manga Toon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terjebak dengan ucapannya sendiri.
Aura kemarahan Valen sudah tidak terbendung lagi, meskipun saat ini posisi keduanya masih tertidur bahkan kecantikan wajah Selena dihadapannya tidak mengurangi sedikitpun amarahnya terhadap gadis yang masih berada diatasnya itu.
"Bangun!" perintah Valen dengan nada pelan namun menusuk.
Selena segera bangun dengah rasa takut dia sadar kalau pria dihadapannya itu benar-benar murka terhadapnya. Setelah bangun tangan kokoh Valen langsung menyeretnya dengan begitu kencang, bahkan rintihan Selena yang merasa kesakitan tidak ia hiraukan.
"Auuuu ... Tuan jangan kencang-kencang," rintih Selena.
"Kau yang mencari masalah denganku gadis bodoh!" sarkas Valen sambil terus menyeret tangan Selena dengan kuat.
Valen masih menarik dengan kuat hingga melewati lorong-lorong panjang rumahnya, tak sedikitpun ia memperhatikan rintihan Selena dan darah segar yang berceceran menetes di lantainya.
Sesampainya di dalam kamar Valen langsung Manarik kuat tangan Selena hingga gadis itu terjatuh di kasur empuknya, setelah itu Valen langsung mengunci pintu kamar rapat-rapat.
Dengan amarah yang memancar dan emosi yang meledak-ledak Valen langsung mendekat ke arah gadis tawanannya itu.
"Kau ... begitu lancang sekali Selena!" desis Valen. "Kau pikir dengan kabur dariku duniamu akan aman? Oh tentu tidak segampang itu hah!" sambungnya kembali dengan nada yang mencengkam.
Selena hanya bisa memejamkan matanya sambil menahan rasa sakit yang ada di telapak kakinya yang sampai saat ini masih mengeluarkan darah.
Seketika wajah Valen menunduk dan melihat darah segar yang masih keluar dari kaki Selena, entah kenapa melihat gadis itu meringis kesakitan hatinya sedikit merasa iba. Dalam kemarahan tangan kokoh itu mulai mengambil air hangat ke dalam baskom dengan cepat tangan Valen mulai membersihkan luka di kaki Selena.
"Dasar ceroboh," cibir Valen sambil membasuh luka Selena lalu mengolesinya dengan salep pengering luka sebelum akhirnya dibungkus dengan perban.
Selena merasakan sakit di area kakinya sedikit berkurang, akan tetapi ini bukan pertolongan yang sebenarnya melainkan jeratan yang lebih lama, untuk sekarang ia hanya bisa pasrah hidup dibawa jeratan pria kejam itu.
"Mulai sekarang penjagaan mu akan lebih ketat lagi, bahkan kau tidak boleh keluar dari kamar kalau tidak denganku, ingat! Jangan mencoba melakukan tindakan bodoh lagi, kalau kau masih nekad melakukan ... maka biar aku sendiri saja yang membunuhmu!" ancam Valen.
Jantung Selena semakin berdegup kencang ketika mendengar ancaman yang tidak main-main itu, entah kenapa hidupnya merasa hancur ketika peristiwa malam itu, ingin kabur pun sulit bahkan nyaris tidak ada harapan karena memang kuasa Valen begitu besar dibanding dirinya yang hanya butiran debu bagi Valen.
"Ta ... tapi Tuan bagaimana jika aku ingin menjenguk kedua orang tuaku?" tanya Selena memberanikan diri.
"Kau beloh menengok mereka dengan pengawalan," sahut Valen datar.
Selena merasa semakin terancam, akan tetapi dengan cara pria itu memperhatikan lukanya membuat ia sedikit merasa aman, entah kenapa di saat ia dihadapkan dalam situasi rumit seperti ini sentuhan tangan Valen membuatnya sedikit nyaman.
"Tuan terima kasih sudah membersihkan luka ku," ucap Selena.
Valen hanya menyeringai. "Jangan salah paham dulu, aku merawat mu bukan karena peduli melainkan kau adalah milikku, dan aku tidak suka jika milikku sampai terluka apalagi di sentuh tangan lain," sahutnya mempertegas.
Selena hanya terdiam pasrah hingga beberapa menit kemudian matanya terpejam dalam keadaan benci dan tertekan.
Valen menoleh dan mulai naik keatas ranjang, matanya menatap wajah gadis yang mulai terpejam dalam tidurnya itu, sejenak rasa bersalah mulai menjalar ke dalam hatinya, entah mengapa melihat Selena yang sudah terlelap membuatnya menyesal, akan kemarahannya tadi terhadap gadis itu, menariknya dengan paksa tanpa peduli luka di kakinya tambah menganga.
"Ah bodoh ... seharusnya aku menghabisi dia pada malam itu tapi kenapa malah sulit untuk membiarkannya pergi," ucapnya dengan penuh sesal.
Valen terus menatap hingga tanpa sadar tangannya reflek memeluk tubuh sang gadis. Entah kenapa tidur di samping Selena mata Valen langsung dilanda kantuk, padahal sebelumnya pria itu susah tidur di malam hari.
"Jangan kabur lagi ya, kau tahu aku takut kehilanganmu," ucapnya sambil mengecup kening Selena untuk yang pertama kali.
☘️☘️☘️
Keesokan harinya, matahari mulai terbenam di ufuk timur, cahaya silaunya menembus masuk melalui jendela kamar, di sini Selana mulai membuka matanya, yang langsung disuguhi dengan pemandangan wajah tampan pria itu, hidung mancung dan rahang tegas berubah menjadi sendu di saat terlelap seperti ini.
Selena merasa dunia sedang mempermainkannya, padahal kemarin-kemarin ia hanya tidur sendiri beralaskan kasur tipis di kamar kosnya sekarang hidupnya berubah 180° ia tidur di tempat yang begitu nyaman dan selalu dipeluk oleh pria yang terkenal akan kekejamannya.
"Dia tampan ... tapi sayang, dia jelmaan iblis," gumamnya lirih.
Selena menelan ludah berusaha menahan diri kalau ini hanyalah mimpi buruk berwajah indah, akan tetapi lengannya benar-benar merasa terikat oleh dekapan hangat dan kokoh dari pria di sampingnya itu.
Dia mencoba menatapnya perlahan jantungnya berdetak kencang ketika pria itu mulai membuka mata, dan tatapan keduanya saling bertautan, Selena terperangkap oleh tatapan itu.
"Jangan mencoba kabur lagi dariku!" ancamnya seolah makanan tiap hari untuk Selena.
Selena terdiam lidahnya terasa keluh bahkan sekujur tubuhnya membantu, di saat deru nafas pria itu semakin kuat dan mendekat ke arah wajahnya. "Mulai sekarang kau paham, dengan tugasmu, cukup diam dan jangan berontak," ucapnya dengan bibir yang hampir menempel di bibir Selena.
Gadis ini benar-benar dibuat syok, hampir saja ia ingin memberontak di saat pria itu hendak mencuri ciuman pertamanya, akan tetapi aksi Selana terhenti, karena pria itu tidak benar-benar melakukannya, dan dia pun menyadari kalau pria disampingnya itu tidak sembarangan menyentuhnya.
"Tuan ... Kau boleh memelukku dengan ijin ataupun tanpa ijin ku, tapi hanya satu yang ku pinta, jangan sentuh area wajahku, karena selama ini aku sudah menjaganya dari laki-laki manapun," ucap Selena sedikit memberi tekanan terhadap pria itu.
Seketika ada rasa bersalah sedikit di dalam hati Valen karena kemarin ia sudah berani mencium kening gadis itu tanpa ijin, akan tetapi rasa itu kontrak dari luar yang terlihat tidak merasa bersalah justru Valen memperlihatkan keangkuhan dan kekuasaannya. "Oh, siapa kamu berani mengaturku?" tanya Valen sedikit menekankan.
"A ...aku memang bukan siapa-siapa Tuan, ta...tapi aku berhak menjaga titik area berhargaku dari siapapun kecuali suamiku," sahut Selena dengan cepat.
Valen sedikit tertegun, jaman sekarang jarang bahkan hampir minim seorang gadis yang menjaga kesuciannya. "Bagus kalau begitu, berarti aku pria pertama yang sebentar lagi akan memiliki tubuhmu," ucap Valen yang merasa membuat Selena terjebak akan ucapannya sendiri.
'Ah bodoh kenapa aku bisa keceplosan seperti ini dihadapan pria kejam itu,' batin Selena.
Bersambung ....
Pagi Kakak ... Semoga suka ya
my queen
queen mafia pantang mundur,dan satu tidak ada kata maaf