Semuanya berawal dari Wasiat yang di berikan Rima. Perempuan yang sudah ia anggap sebagai penolong hidupnya, meminta hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Bagaimana bisa Rima meminta Asyna untuk menikah dengan suaminya? Asyna memang sangat mencintai pria itu, tapi semenjak hatinya patah ia takut melangkah dalam aliran sakit itu lagi. Tapi demi apapun, Asyna akan melakukan semua permintaan perempuan itu, meskipun risikonya adalah di benci oleh laki-laki yang dicintainya, Raihan.
Akankah Asyna mampu membuat Raihan jatuh cinta dan melupakan masa lalunya bersama Rima?
Ikuti terus kisah mereka di novel ini yah. Happy Reading ☺️☺️☺️.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daundia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Kembali Bag.2
Hallo readerku 💞 jangan lupa follow author, like, komen, vote, dan rate cerita ini ya🤗.
Happy Reading........
Asyna berjalan perlahan di belakang pria tegap yang beberapa hari lalu bertengkar dengannya. Hubungan mereka saat ini seperti orang yang tidak mengenal satu sama lain. Pria itu tidak pernah bertanya ataupun meminta maaf padanya.
Harusnya setidaknya Raihan menanyakan apa yang terjadi padanya saat itu. Kalau saja Raihan tahu saat itu maagnya kembali menyerang, pasti semuanya tidak akan menjadi seburuk ini. Sampai saat ini Raihan mengabaikannya, seolah-olah dia adalah debu di matanya.
“Assalamualaikum.” Ucap Raihan lantang.
“Waalaikumsalam, wah cepat sekali pulangnya mas, Asyna juga.” Ucap Rima lembut.
Rima yang menunggu di teras langsung berdiri saat melihat kepulangan mereka.
“Iya sayang biar kamu gak sendirian. Aku kan khawatir.” Raihan mengecup kening dan kedua pipi Rima dihadapan Asyna.
Asyna yang melihatnya hanya bisa mengepalkan tangannya kuat. Hatinya sakit melihat kemesraan mereka.
Rima tidak menyangka Raihan akan melakukannya, ia bahkan tidak bisa menolak sama sekali. Rima memaksakan senyumnya, dia melihat Asyna yang menunduk. “Eh, Rima mau tidur mas, capek.”
Rima berjalan masuk tanpa mampu bertanya apapun pada Asyna. Dia tak sanggup melihat perempuan itu semakin terluka. Rima berjalan masuk diikuti oleh Raihan dan Asyna yang berjalan perlahan.
“Iya, ayok.” Raihan menuntun Rima perlahan sambil memegang tangannya.
Asyna berdiri terpaku menatap dua manusia di depannya. Mereka memang sungguh cocok. Asyna memegang dadanya yang tiba-tiba begitu sakit. Air mata menetes deras dari matanya.
“Hiks, sakit.” Asyna berkata sangat pelan saat pasangan Rima dan Raihan tidak terlihat di pandangannya.
Asyna yang sudah kehilangan mood memutuskan bertahan duduk di kursi teras depan. Matanya sama sekali belum mengantuk. Dia masih menenangkan dirinya, menikmati suasana malam hari yang hening. Mungkin saja dinginnya angina dan bunga cantik mampu menyembuhkan lukanya.
“Asy belum tidur?” Maya memasuki rumah.
“Eh, belum ngantuk Tan.” Asyna berdiri menyalami tangan Maya.
“Udah malam, masuk aja yuk nanti masuk angin.” Maya menarik tangan Asyna, menggiring masuk ke dalam rumah.
Asyna mengikuti langkah perempuan itu. Asyna sangat menyayangi tante Maya. Tante Maya sudah merawatnya tanpa memandang latar belakangnya. Tante Maya seringkali memaksa Asyna untuk memanggilya mama. Tapi Asyna tidak ingin melakukannya, Asyna hanya ingin berhati-hati untuk tidak menyakiti Rima. Asyna akan membuat Rima bahagia meskipun hatinya harus menderita menerimanya.
“Asyna aja yang ngunci rumah. Tante istirahat aja.” Asyna mengambil kunci yang diletakkan di dalam guci hias di ruang tamu.
“Iya Asy, tante tidur dulu ya.”
“Iya..”
Maya melangkah menaiki tangga menuju kamarnya, membiarkan Aysna mengunci pintu rumah.
Asyna menghembuskan napasnya perlahan. Hatinya serasa membaik setelah tangisannya tadi. Asyna merasa sangat lega telah memuntahkan rasa sakitnya. Asyna mengunci pintu rumah dengan cepat. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Asyna harus segera tidur karena besok dia harus berangkat pagi untuk bekerja.
Asyna yang hendak menaiki tangga menghentikan niatnya saat melihat Raihan berjalan menuruni tangga. Asyna menggigit bibirnya agar tak meluapkan emosinya. Tapi percuma saja, mulutnya yang lancang malah dengan berani mengajak pria itu bicara setelah pertengkaran mereka.
“Kamu sengajakan?” Asyna menatap nyalang mata pria yang berdiri menjulang di hadapannya.
Raihan membisu tak menanggapi pertanyaan Asyna. Hanya tatapan datar dan kosong yang Raihan tampilkan.
“Kenapa?” Asyna kembali menangis. Matanya tertutup seolah bisa menahan rasa sakit yang terus menggerogoti hatinya.
“Kamu nyakitin aku, Rai.” Asyna berkata pelan sambil menekan dadanya yang terasa sakit.
Raihan menelan salivanya, tenggorokannya terasa kering. Apakah benar ia bertindak terlalu jauh? Sebenarnya Raihan tidak ingin menyakiti Asyna lebih jauh, apalagi melihat tangisan yang sudah kedua kali ia lihat. Tapi di otaknya, semua cara jahat adalah hal terbaik yang bisa dilakukannya untuk membuat perempuan di depannya ini menyerah pada perasaannya dan beralih membencinya.
“Iya aku sengaja. Dari awal aku sengaja melakukannya, dan aku akan terus melakukannya di depanmu!” Raihan sekuat tenaga menahan diri berkata lembut. Suaranya terdengar menggeram di telinga Asyna.
“Aku tahu, aku gak pantas, dibandingkan Rima aku sangatlah jauh darinya. Kamu gak perlu lakuin ini untuk menyadarkanku Rai.” Asyna berucap sedih. Kembali ia pandang Raihan yang juga turut memperhatikannya dari atas tangga.
Raihan turun menuruni tangga satu per satu. Asyna masih berdiri diam di bawah tangga. “Aku …..ingin… membuatmu menjauh Asy, akan lebih mudah untukku menjadi jahat.” Ucap Raihan dalam hati.
Raihan tidak menggubris pertanyaan Asyna dan melewatinya begitu saja.
“Aku benci kamu Rai.” Asyna berkata sedikit keras agar terdengar oleh Raihan yang berjarak beberapa meter darinya.
Raihan mengabaikannya dan terus melangkah menuju dapur. Jam tidurnya selama ini sangat buruk. Dia bahkan tidak bisa tidur nyenyak. Perempuan itu selalu menghantui mimpinya. Raihan tidak bisa melupakan tangisan Asyna saat di rumah sakit. Apalagi hari ini dia melihat tangisan Asyna lagi. Apakah dia akan terus memikirkan perempuan itu? Raihan pasti sudah gila.
Raihan menghela napasnya pelan. Raihan merasa jika dirinya telah menjadi penjahat yang menyakiti semua perempuan. Raihan hanya kalut karena saat itu Rima tidak sadarkan diri. Raihan tidak memiliki pikiran lain kecuali memarahi Asyna. Saat itu hanya Asyna yang bisa dia salahkan, bahkan dia melupakan maag akut yang selama ini diderita oleh Asyna.
Raihan mengambil botol air mineral di dalam kulkas dengan gerakan asal-asalan. Rasa dingin botol bahkan tak terasa ditelapak tangannya. Raihan membuka tutup botol dan langsung menenggak minuman tersebut. Rasa dingin membasahi tenggorokannya saat air mineral itu ia minum. Rasa hausnya seakan sirna, tapi tidak dengan kepalanya yang pusing. Memikirkan Asyna akan membuat kepalanya selalu pusing. Perempuan itu memang sumber masalahnya saat ini.
🍂🍂🍂🍂🍂
TBC ......
Hai semua apa kabar? Semoga kalian baik-baik saja. Aku gak bosan-bosan buat minta doa kalian guys🤭. Minta doa baik kalian guys, semoga doa itu juga kembali pada kalian yang mendoakan🤗.
Jangan lupa untuk vote, komen, dan juga vote cerita aku. Rate juga ya, karena setiap like, vote, juga komen serta rate kalian itu sangat berarti bagiku🤗.
Oh ya jangan lupa jaga kesehatan, memakai masker, dan menjaga jarak , serta seringlah mencuci tangan sebagai upaya perlindungan diri dari virus Corona.
Juga buat kalian jangan lupa untuk bahagia🤗. Tetap berpikir positif dan jalani hidup ini sebaik mungkin. Sesedih apapun kalian, seburuk apapun hal yang menimpa kalian, semoga kalian bisa melewati segalanya dengan baik, Aamiin.
Sampai jumpa di next chapter 😁, papay
Salam Sayang dari AZ💞