bagaimana mungkin sakit hati bisa sesakit ini?
bagaimana mungkin keadaan rumit ini menghampiriku?
tolong tuhan, aku juga manusia jika seperti ini aku juga akan melemah, sangat menjadi lemah.
tapi Tuhan memang luar biasa tidak ada rasa sakit yang tidak tergantikan dengan bahagia. semuanya hanya soal waktu.
#Pemeran Utama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widi Nuramalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Minggu ini Teh Mila pulang aku senang dan aku akan cerita semuanya tentang Rio dan pasti aku akan tau keputusan apa yang harus ku ambil. Selama satu Minggu setelah kejadian itu Rio memang meminta maaf, dia juga memberiku kabar tapi tetap saja itu bukan Rio yang ku kenal.
"Teh Mila sehat?" Ku sapa dan kupeluk Teh Mila yang semakin cantik saja
"Sehat sayang. Hila sehat?" Tanyanya
"Sehat ko sehat."jawabku dan melepaskan pelukannya "ayo masuk" kataku "Bundaaaa" teriakku dari depan pintu "nih ratu kita Dateng" kataku dan Teh Mila hanya cekikikan
"Berisik atuh neng teriak-teriak gitu." Kata Bundaku dari dapur dan berjalan menuju ke arahku dan langsung memeluk Teh Mila saat melihatnya
"Teteh sehat?" Tanya Bunda
"Sehat Bunda, bunda sehat kan?" Tanya Teh Mila
"Sehat geulis" jawab Bunda (sehat cantik)
"Ayah mana?"
"Ada di kamar baru selesai mandi" kata Bunda "ayo langsung ke meja makan aja. Mandi mah nanti. bunda udah siapin makanan buat kita makan" kata Bunda dan Teh Mila menganguk . Tak lama setelah itu Ayah datang dan sama-sama menayangkan kabar teh Mila begitupun sebaliknya.
Hari ini aku bahagia bisa berkumpul lengkap. Sepanjang kami makan ayah menanyakan tentang pekerjaan-pekerjaan teh Mila dan seperti biasanya dengan caranya teh Mila membuatku kagum dan untuk kesekian kalinya aku sadar bahwa pantas saja Bunda membangga-banggakan nya.
"Oh iya, Yah, Bun teteh mau ngasih tau sesuatu ke ayah sama Bunda sama Hila juga." Kata Teh Mila
"Apaan? Teh Mila dapet pacar disana?" Kutanya
"Lah ko bisa tau?" Kata teh Mila malu
"Oh teteh beneran dapet pacar? Wiiihhh keren sebulan dijakarta udah dapet pacar" komentarku senang
"Serius teh?" Tanya Bunda dan Teh Mila mengangguk
"Ayah gakpp kan?" Tanya Teh Mila "ayah gak larang teteh pacaran kan?" Lanjutnya
"Ya enggak lah. Masa ayah larang-larang anaknya dapet jodoh. Ayah mah selalu doa'in yang terbaik pokonya buat teteh, semoga teteh jodoh sama pilihan teteh dan teteh tetep tawakal jangan terbawa hal-hal yang negatif." Kata ayahku
"Pasti ayah pasti" jawab Teh Mila senang. Aku ikut senang walaupun tentang hubunganku dengan Rio sedang kusut.
"Aku di doa'in gak Yah?" Tanyaku
"Ayah mana yang gak doa'in anaknya Hila. Ya pasti lah" kata ayahku dan aku tersenyum
"oh iya namanya siapa?" Kutanya Teh Mila
"Namanya Fahri" jawab Teh Mila
"Orang Jakarta?" Tanya Bunda
"Dia keturunan Bandung Bunda tapi sekarang kerja di Jakarta dulu SMA nya disini ko dia" jelas Teh Mila
"Jangan bilang itu cowok idaman teteh pas SMA?" Tanyaku dan Teh Mila mengangguk "hah serius?" Kutanya
"Iyalah. bener kata kamu nothing impossible" kata Teh Mila
"Tuh kan, ih selamet tau." Kataku dan Teh Mila tersenyum. Baru kali ini aku melihat Teh Mila sebahagia ini.
"Euh Yang bahagia. Jadi Udah jadian?" Tanya Bunda
"Dua Minggu yang lalu."
"Itu gimana ceritanya teh? Ko seru si bisa ketemu gitu?" Tanyaku penasaran
"ceritanya tuh dimulai dari hari pertama Mila kerja, Mila dapet pasien bapak-bapak gitu yang katanya dia jatoh di tempat kerjanya terus gak sadarkan diri. Nah kan ada yang nganternya tuh dan yang nganternya tuh tiba-tiba nyapa Mila. Mila awalnya gak kenal tapi setelah dia ngenalin dirinya dan ngingetin sedikit tentang masa SMA dulu Mila langsung inget semuanya dari situ kita chatting terus tuh. Hampir dua Minggu dan dia ngajak taa'ruf sama Mila" jelas Teh Mila dengan wajah berseri-seri bahagia
"Wiiiih keren banget" komentarku "bawa dong ke rumah Teh, biar nanti aku bisa bawa..." Aku menghentikan kata-kata ku karna menyadari ada ayah dan teh Mila juga bunda tersenyum mengerti ke arah ku
"Bawa siapa Hila?" Tanya ayah
"Nggk ko Yah, pokonya harus kenalin ke Hila lah Teh, kenalin ke Bunda ke Ayah juga."
"Iya-iya kamu juga harus bawa Rio yah mumpung ada ayah" kata Teh Mila
"Rio? Siapa Rio?" Tanya Ayah
"Yah Teh Mila mah ah." Dan Teh Mila menahan tawa
"Udah bilang aja ke ayah kamu kan udah dewasa sekarang" kata Teh Mila
"Rio pacar Hila Yah hehe. Hila udah gede kali Yah masa gak boleh pacaran terus? Kan kata ayah batasnya sampe lulus SMA. SMA kan udah Lulus. Lagian Hila bisa jaga diri kali ayah ih jangan marah"
"Euh kamu yah. Tapi ayah seneng anak-anak ayah udah pada punya pacar mungkin bentar lagi ninggalin kita yah Bun, karena sudah pasti mereka dibawa suaminya." Kata ayah membuatku dan Teh Mila diam
"Apaan si Ayah ah masih jauh kali Hila, kalaupun Teh Mila bentar lagi tapi Hila mah masih jauh Yah. Ayah ah kaya kalo udah nikah kita gak bakal ngangagap ayah jadi ayah kita lagi. Kita mah tetap anak ayah sama bunda yah teh? Sekalipun kita udah nikah nanti ya masa kita lupain Ayah sama Bunda terus gak pulang-pulang. Mau sejauh apapun nanti kita di bawa suami kita tetap aja rumah kita tuh ini yang ada ayah sama bundanya iya nggak Teh?" Kataku ke Teh Mila dan teh Mila tersenyum mengangguk.
"Tuh dengerin ayah" kata Bundaku
"Hila udah dewasa yah sekarang Bun. Fikirannya udah luas gak cuma soal tidur makan uang main sama cowok aja kaya dulu" kata ayahku
"Ah ayah mah gitu ah" aku menggerutu jengkel dan semuanya hanya tertawa "jadi aku boleh pacaran kan Yah?" Tanyaku
"Boleh asal bisa jaga diri dan mikir kedepan tentang masa depan" kata ayah
"Siap komandan laksanakan" kataku dan memberi hormat seperti pada bendera dan ayahku membalasnya seperti kepada pasukannya.
"Wah militernya keluar" kata Bunda dan semaunya tertawa dan aku sangat-sangat bahagia dan sejenak aku tidak lagi memikirkan Rio yang berubah.
☘☘☘
Malam ini juga aku langsung menceritakan semuanya kepada Teh Mila tentang Rio dan semua perubahannya.
"Jadi gitu Teh, aku bingung harus gimana? Apa yang aku inginkan wajar kan? Dan aku juga tau kalo Rio sibuk tapi bayangin aja kalo teteh di posisi aku siapa yang gak marah coba kalo cowoknya bersikap kek gitu. Jadi aku harus gimana Teh? Jujur aku gak mau udahan sama Rio" kataku
"Agak rumit si yah. Tapi menurut teteh ini harus cepet-cepet di selesain Neng, dan soal masalah kamu harus gimana menurut teteh emang kamu harus menerima dia apa adanya aja kaya gini kalo kamu emang masih cinta sama dia"
"Tapi aku capek teh. Aku pengen dia kembali kaya dulu lagi"
"Kalo kamu nyerah kenapa gak lepasin dia aja?"
"Yah Teteh."
"Solusinya cuma itu sayang. Kalo gak dilepasin yang pertahanin Dengan kamu bertahan semoga saja Rio bakal ngerti dan akan sadar kalo oh ternyata ada kamu yang setia sama dia." Kata Teh Mila dan aku mengerti apa maksudnya dan aku sudah punya keputusan sekarang. "Ngerti kan maksud Teteh gimana?" Tanya Teh Mila
"Ngerti teteh. Makasih yah" aku memeluk Teh Mila
"Sama-sama" jawabnya
"Yaudah Hila ke kamar dulu yah, Teteh istirahat aja. Night" ucapku lalu pergi setelah teh mengiyakan dan membalas ucapan selamat malam ku.
Aku kembali ke kamar dan manyambar hpku dan ternyata ada pesan dari Rio.
Rio ❤
Selamat malam Hila ❤
Hila ❤
Malam Kembali. Emmh kapan ke Bandung?
Rio ❤
Rindu?
Hila ❤
Iya
Rio ❤
Minggu depan aku ke Bandung ada yang mau aku omongin juga ke kamu
Hila ❤
Oh iya. Aku juga
Rio ❤
Oke see you last week Hila ❤ kamu cepet tidur. Sweet dream 😚
Hila ❤
Iya sayang ❤
Aku tersenyum dan mulai sadar mungkin Rio memang stres dengan pekerjaannya. Aku lega dan sudah mempunyai keputusan dan semuanya akan segera berakhir bahagia. Setelah semuanya kembali normal Aku akan memaksa Rio untuk datang ke rumah dan berkenalan dengan ayah dan Bundaku.
☘☘☘
semangat thot buar bsa up trus 😁😁
up dong...