Tak sedikit perempuan di luar sana setuju dengan istilah bahwa orang ketiga itu adalah perusak, perebut, atau mungkin penghancur.
Banyak dari mereka berkata, bahwa yang berstatus istri kedua itu tidak selalu memiliki "image" buruk.
Ada beberapa alasan mengapa seorang perempuan memutuskan untuk berada di tengah-tengah pasangan yang menikah, bisa jadi karena paksaan, desakan, keserakahan, atau mungkin salah satunya balas jasa.
Itulah yang dialami oleh Rissa, ia harus merelakan kebahagiaanya demi membalas sebuah jasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ina Ambarini (Mrs.IA), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita Pilihan Ibu Anna
Dion telah kembali ke rumahnya, langkahnya begitu lesu. Wajahnya kusut, matanya sendu.
Dion berjalan menuju kamarnya a
seperti biasa, mencari sosok yang selalu ia rindukan.
Dion berdiri di ambang pintu, menatap Melati yang kini tengah tersenyum manis kearahnya.
Wajahnya begitu berseri, seakan kesedihan kini telah menyelinap pergi dari hatinya.
"Apakah aku akan tega menyakiti hati istriku? Membagi cinta hanya untuk mendapatkan kebahagiaan lain."
Desir kesakitan kini menyayat hati Dion.
Dion melangkah masuk mendekati sang istri, jaraknya semakin dekat.
Tepat dihadap Melati, Dion kini merengkuh tubuh istrinya.
Melati sempat merasa heran, ada apa dengan suaminya. Datang dan tiba-tiba memeluknya dengan erat, kegundahan apa yang membuatnya seperti itu.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Melati.
Dion masih memeluk istrinya, air matanya metes dibalik punggung Melati.
"Aku tidak apa-apa, hanya ingin begini saja padamu."
Melati diam, ia memilih untuk membalas pelukan suaminya.
Tak dapat dipingkiri, Dion memang sangat ingin memiliki buah hati. Terlebih ia memikirkan Ibunya, di masa tua sang Ibunda,Dion ingin memberi beliau kebahagiaan.
"Apa yang harus aku lakukan, Mel?" Batin Dion bertanya-tanya.
💔💔💔
Sudah sebulan semenjak Dion berkunjung ke rumah Ibunya, ia tak memberi kabar bahkan tidak menanyakan kabar sang Ibu.
Dion masih belum dapat menerima permintaan Ibu juga mertuanya, terutama ia juga tak tahu dengan perasaannya saat ini.
Hari ini Dion kembali tidak mengunjungi cafenya, karena hari ini ia harus kembali mengantar istrinya ke Dokter kandungan.
Selama diperjalanan, Dion tak banyak berbicara sama sekali. Hal itu membuat Melati kebingungan, ia tak berani untuk menanyakan langsung pada Dion.
"Sayang, kalau hari ini tidak ada perkembangan tentang programku, aku ingin cari Dokter lain."
Dion terhentak, kini ia menoleh kearah istrinya.
Melati berbalik menoleh, dan memperhatikan ekspresi yang ditunjukkan oleh suaminya.
"Kenapa? Apa kamu tidak setuju?" Tanya Melati.
Dion menggelengkan kepalanya dengan cepat, ia harus segera sadar secepat mungkin.
"Tidak bukan begitu, sayang. Maksudku, kenapa harus pindah Dokter?" Tanya Dion.
Melati menghela nafasnya, "namanya juga usaha, Mas. Kalau disatu tempat tidak ada hasil, siapa tahu di tempat lain berhasil. Aku sudah tidak sabar ingin segera hamil lagi," ujar Melati.
Dion tak dapat menimpali perkataan istrinya, ia hanya bisa mengangguk pasrah mengikuti keinginan sang istri.
"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?" Dion mencari-cari agar dapat melindungi rahasia besarnya.
"Mas, kamu kenapa?" Tanya Melati.
Dion kembali menoleh, dan memasang wajah datarnya.
"Aku tidak apa-apa," jawabnya seadanya.
Melati seakan tak puas menerima jawaban dari suaminya itu, ia kini memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya.
"Akhir-akhir ini aku sering lihat kamu murung," ujar Melati.
Dion terdiam, "aku baik-baik saja, sayang. Beneran," jawab Dion seraya meyakinkan istrinya.
"Aku tidak tahu apa kamu berbohong atau tidak, tapi aku memutuskan untuk percaya sama kamu, Mas." Melati menimpali dengan nada melemah.
Seakan tertancap panah, hatinya begitu sakit mendengar perkataan istrinya. Dion benar-benar tengah berperang dengan nuraninya, bertahan untuk tidak menunjukkan keterpurukkannya.
***
Sampailah Dion dan Melati di klinik, tanpa harus menunggu mereka langsung masuk kedalam ruang pemeriksaan.
"Apa kabar, Pak, Buk?" Tanya sang Dokter dengan ramah.
"Baik, Dok." Melati menjawab dengan senyuman.
"Gimana sehat?" Tanya dokter itu.
Melati mengangguk, "Dok, kenapa aku belum juga hamil, yah?" Tanya Melati.
Sejenak Dokter itu menatap Dion, dan kembali beralih melihat Melati.
"Program kehamilan setiap orang berbeda, ada yang prosesnya cepat ada juga yang sedikit lambat."
"Kalau begitu, aku ingin melakukan program bayi tabung secepatnya, Dok."
Dion terkejut, dengan refleks ia menatap istrinya.
Dokter pun nyatanya cukup terkejut dengan permintaan pasiennya, namun ia masih bisa menahan diri agar tidak menampakkannya.
"Program bayi tabung bisa saja dilakukan secepatnya, dengan catatan sudah ada persetujuan antara Ibu dan suami. Karena balik lagi, kami para dokter hanya sebagai perantara, tetapi tetap Tuhan yang akan menentukan. Apakah kita memang dipercaya untuk kembali mendapat momongan dengan segera atau tidak," jawab sang dokter.
Melati bernafas pelan, ia juga mengerti akan hal itu. Namun apa salahnya jika ia berusaha sebisa mungkin, karena ia benar-benar ingin segera memiliki buah hati.
"Tanpa aku meminta persetujuan, suamiku juga pasti tidak akan keberatan kan, Mas?" Tanya Melati pada Dion.
Dion menelan salivanya dengan sulit, ia hanya dapat menganggukkan kepalanya tanpa berkata apapun.
Selesai itu, Dion dan Melati kembali pulang kerumah. Melati sedikit kecewa, karena belum juga ada tanda-tanda yang memungkinkannya hamil dengan segera.
Sedangkan Dion, pikirannya kini tengah jauh melayang.
"Berpikir, Yon. Cari cara biar Melati tidak menuntut untuk ikut program bayi tabung secepatnya," Dion terus mencari-cari cara.
"Habis ini kamu ke cafe atau tidak, Mas?" Tanya Melati.
Dengan cepat Dion menjawab, "aku harus kerumah Ibu."
Melati mengangguk, sedangkan Dion mengutuk dirinya yang telah asal bicara.
"Astaga, kenapa juga aku jawab gitu. Jadi beneran harus ke rumah Ibu, kan."
***
Dion telah duduk di sofa, tepatnya kini ia telah sampai di rumah Ibunya.
Tak ada percakapan antara Ibu dan anak itu, hening tanpa suara.
Sampai akhirnya, sang Ibulah yang memulai membuka pembicaraan.
"Kenapa mukamu seperti itu? Apa ada masalah?" Tanya sang Ibu.
Benar, pikir Dion. Naluri seorang Ibu memang tak pernah salah, Dion hanya menganggukkan kepalanya.
"Masalah apa? Apa Ibu boleh tahu?" Tanya Ibu Anna lagi.
"Melati..."
"Kenapa istrimu?" Tanya Ibu Anna.
"Dia... Ingin melakukan program bayi tabung," ucap Dion.
Ibu Anna tampak tak terkejut, hal sejauh itu telah ia dan besannya duga.
"Lalu, setelah ini kamu bisa apa?" Tanya Ibu Anna.
Dion tertegun, ia tak tahu harus berbuat seperti apa.
"Kalau kau tidak menyetujui usulan Ibu dan mertuamu, jalan terakhir hanya ada dua. Berkata jujur pada istrimu, dan mengadopsi anak." Ibu Anna menuturkan.
Dion mengangkat kepalanya, "tapi aku ingin memiliki anak dari darah dagingku sendiri."
"Ya sudah, kamu menikahlah lagi." Ibu Anna membuat Dion kembali tak dapat berkutik.
"Bu, menikah itu harus ada calonnya. Sedangkan aku sama sekali tidak memiliki teman wanita. Dan satu hal lagi, poligami itu tanggung jawabnya besar, Bu. Aku takut tidak dapat berbuat adil," jawab Dion.
"Ibu sudah siapkan wanitanya, dan untuk masalah keadilan, Ibu yakin kamu bisa!" jawab Ibu Anna, membuat Dion terperangah.
Suasana hening seketika, mereka kembali tak berbicara.
Dari arah dapur, datang Rissa sembari membawa minuman untuk Ibu dan anak itu.
Rissa berjongkok, menaruh gelas di atas meja.
"Rissa yang akan menjadi istri keduamu," ucap Ibu Anna.
Dion terkejut, begitupun dengan Rissa. Nampan yang sedari tadi di pegangnya, kini terjatuh seketika.
Dion menatap tak percaya pada Ibunya, dan Rissa seakan meminta penjelasan. Wanita itu benar-benar tidak mengetahui apapun duduk perkaranya.
Dion beralih menatap Rissa, tatapannya tajam membuat bulu kuduk Rissa merinding.
"Apa yang Ibu Anna katakan? Mengapa namaku dibawa-bawa?" Rissa bertanya-tanya dalam batinnya, tangan dan kakinya bergetar hebat.