Asyifa yang lugu dan polos, menjadi korban permainan kotor dari sepasang suami istri.
Pernikahan Asyifa dengan Randa, ternyata hanyalah bagian dari rencana busuk Randa dan Nikita untuk segera mendapatkan keturunan.
Setelah Asyifa melahirkan anaknya, Asyifa shock ketika Nikita datang tiba-tiba membuka jati dirinya sebagai istri pertama Randa dan berniat untuk merebut Safina anaknya.
Asyifa berjuang keras mempertahankan anaknya Safina. Segala cara yang dilakukan Nikita, selalu bisa ia gagalkan.
Namun suatu hari, Randa yang sudah dilanda cemburu buta karena melihat Asyifa bersama pria lain, berhasil kabur membawa Safina anaknya dari tangan Asyifa.
Bagaimanakah kisah selanjutnya? Apakah Asyifa dan Safina bisa bertemu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afriyeni Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Perjalanan yang ditempuh Wahyu dan Asyifa ternyata lumayan jauh. Setelah 2 jam perjalanan, mobil yang dikendarai Wahyu memasuki sebuah kota besar yang dulu pernah dikunjungi Asyifa sesekali jika dia ada urusan saja. Mobil Wahyu pun tak lama memasuki sebuah komplek perumahan yang lumayan bagus.
Didepan pagar sebuah rumah minimalis modern, Wahyu menghentikan mobilnya. Pria itu segera turun dan membuka pintu pagar lebar-lebar, kemudian kembali masuk ke dalam mobil. Asyifa yang sedari tadi cuma diam tak bersuara di sepanjang perjalanan, memperhatikan gerak gerik Wahyu yang terlihat diam dan tenang tanpa ada tindakan yang mencurigakan.
Wahyu memarkir mobilnya di garasi rumah itu dan segera turun mengeluarkan barang-barang Asyifa yang ada dalam bagasi mobilnya beserta koper bajunya yang sempat ia bawa sewaktu datang ke rumah Asyifa.
"Kau mau tidur dimobil atau didalam rumah heh?!" hardik Wahyu kesal melihat Asyifa yang masih diam tak bergerak turun dari mobil.
Asyifa terkesiap. Walau hatinya bimbang, Asyifa memilih turun dari mobil daripada tidur dimobil yang pengap.
Dengan langkah pelan, Asyifa mengikuti Wahyu yang telah lebih dulu berjalan membuka pintu rumahnya.
"Ini rumahku, mulai hari ini kau boleh tinggal sesukamu disini. Tapi ingat! Kau tak boleh keluar dari rumahku tanpa ada izin dariku. Apa kau mengerti?" ujar Wahyu menatap Asyifa yang tampak sangat lelah dengan perasaan kasihan.
Asyifa hanya mengangguk pelan mengikuti kemauan Wahyu. Matanya yang indah dan lentik sejenak berpendar ke sekeliling rumah Wahyu yang cukup bagus dan mewah. Pria itu sepertinya orang yang hidup berkecukupan. Rumahnya pun tertata rapi, seperti rumah yang selalu dirawat pemiliknya.
"Apa kau akan tinggal disini juga?" tanya Asyifa curiga.
Perasaannya terasa janggal jika Wahyu memang tinggal bersamanya. Jika memang Randa menyuruh Asyifa pergi kabur dari rumah? Apakah Randa akan membiarkan dirinya tinggal berdua dengan Wahyu dirumah itu? Kapan Randa akan datang menjemputnya nanti? kenapa Asyifa sekarang merasa seperti lepas dari mulut harimau masuk dalam kandang buaya?
"Tentu saja, bukan kah ini rumahku?! Apa kau mau mengusir dari rumahku sendiri? Jangan melucu Asyifa! hehehe...," Wahyu terkekeh pelan.
Dia menaruh tas dan koper Asyifa kedalam sebuah kamar yang tak jauh dari ruang tamu.
Mata Asyifa tak berkedip mengawasi tindak tanduk Wahyu yang tetap santai dan cuek mengabaikan sikap Asyifa.
"Aku sudah menaruh barangmu kedalam kamar itu. Kau dan anakmu bisa tidur disana. Oh ya, kalau kau lapar. Kau bisa cari makanan di dalam kulkas. Besok pagi kau harus bangun, aku akan mengantarmu ke pasar tradisional dekat sini. Kau bisa belanja semua kebutuhan sehari-hari sekaligus kebutuhan Safina." Ujar Wahyu sembari menghempaskan pantatnya diatas sofa empuk di ruang tamu.
Asyifa melirik kamar yang ditunjuk Wahyu sekilas. Dia masih berdiri didekat pintu masuk tanpa ada keberanian melangkahkan kakinya kedalam rumah itu.
"Hei...,! Apa kau tidak lelah? Kenapa masih bengong disitu? Apa kau takut padaku?" hardik Wahyu gregetan melihat sikap Asyifa yang tampak tegang menyembunyikan rasa takutnya.
Wahyu melonjak bangkit dan bergegas menghampiri Asyifa yang seketika tersurut mundur melihat Wahyu yang datang mendekatinya dengan kesal.
"Lihatlah, ini sudah lewat tengah malam. Lebih baik kau baringkan Safina didalam kamar. Jika kau lelah, beristirahatlah. Aku tak mau bicara panjang lebar denganmu. Aku lelah! Aku mau istirahat!" ujar Wahyu sembari memperlihatkan jam tangannya kemudian mengunci pintu rumah dan pergi meninggalkan Asyifa sendirian didekat pintu masuk tanpa mempedulikan Asyifa lagi.
Asyifa terus memperhatikan pria itu yang terlihat berjalan masuk dalam sebuah kamar dengan membawa kunci rumah ditangannya. Suara pintu kamar ditutup, membuat Asyifa sedikit bernafas lega.
Sepertinya Wahyu tidak sejahat yang dia kira. Ataukah Wahyu memang tidak bermaksud jahat? Asyifa masih memendam keraguan dalam hatinya.
Perlahan ia memasuki kamar yang ditunjukan Wahyu padanya. Dia memandang sekeliling kamar yang rapi dan bersih itu sejenak. Wahyu ternyata pria yang menyukai kebersihan. Asyifa tak sadar sedikit memuji Wahyu.
Setelah mengunci pintu kamar, Asyifa menaruh Safina hati-hati diatas kasur empuk yang ada dikamar itu. Tanpa mengganti pakaiannya, Asyifa coba berbaring, memejamkan matanya di samping Safina.
"Akh, ssh..,!" sesaat Asyifa meringis merasakan perih di bagian punggungnya yang tadi sempat terkena hantaman pintu.
Sambil menahan rasa perih, ia mencoba memejamkan matanya. Hingga menjelang dini hari, Asyifa baru bisa memejamkan matanya setelah ia merasa cukup aman.
"Uwa..., uwa...,uwa...,!" suara tangis Safina saat subuh, membangunkan Asyifa yang baru satu jam lebih tertidur pulas.
Asyifa memandang Safina dengan mata yang teramat berat. Adzan subuh yang terdengar dari kejauhan memaksa Asyifa untuk membuka mata. Dia mengganti popok Safina yang ternyata sudah penuh dan berat dengan ompol dengan popok yang baru. Setelah menidurkan Safina kembali, Asyifa pun beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi yang ada didalam kamar itu.
Asyifa mengambil wudhu dan berniat hendak menunaikan sholat subuh. Setelah memakai mukena dan hendak membentangkan sajadahnya, Asyifa sejenak tertegun sambil menepuk jidatnya pelan.
"Astaga! Aku tak tahu kiblatnya kemana." Desah Asyifa menyadari kebodohannya.
Sesaat Asyifa dilanda kebingungan. Dia ingin bertanya pada Wahyu. Namun, pria itu mungkin sedang tidur nyenyak.
"Haruskah aku membangunkannya?" hati Asyifa jadi gundah.
Setelah berpikir sekian lama, Asyifa pun nekat mendekati kamar Wahyu yang terlihat gelap tanpa cahaya lampu. Asyifa mendekatkan daun telinganya ke pintu kamar. Tak ada suara yang ia dengar dari dalam sana. Asyifa pikir, Wahyu memang masih tertidur nyenyak.
"Coba saja ku bangunkan. Mungkin dia akan terbangun." Hati Asyifa tetap bersikeras ingin membangunkan Wahyu dari tidurnya agar bisa menunjukkan arah kiblat.
"Mas Wahyu, mas Wahyu!" Asyifa mengetuk pintu kamar Wahyu dengan pelan.
Satu kali, dua kali, tiga kali, tak ada sahutan yang ia dengar. Asyifa berniat mengetuk pintu kamar itu sekali lagi. Namun, pintu itu tiba-tiba terbuka menunjukkan wajah Wahyu yang spontan terkejut melihat Asyifa berdiri di depan pintu kamarnya dengan memakai mukena putih.
"Astagfirullah!" pria itu langsung kaget dan mengucap istighfar seraya mengusap-usap dadanya yang berdetak kencang saking terkejut melihat penampilan Asyifa diwaktu subuh.
Ekspresi wajah Wahyu yang tampak lucu dan memberikan reaksi yang menggelitik perut itu membuat Asyifa tersenyum geli.
"Tidak lucu Asyifa! Kau mengagetkanku saja. Kau sengaja ya? Mengejutkanku seperti ini?" Wahyu memandang Asyifa yang tampak bersih dan bercahaya dengan dada berdebar tak beraturan.
Pria itu terpukau melihat penampilan Asyifa yang jarang ia temukan dari perempuan yang ia kenal selama ini. Asyifa memang lain dari yang lain. Begitu penilaian Wahyu terhadap Asyifa.
"Maaf, aku mau tanya. Kalau mau sholat, arah kiblatnya kemana?" tanya Asyifa dengan suara yang terdengar sangat merdu ditelinga Wahyu.
"Oh..., itu..., lurus saja menghadap sana...," jawab Wahyu sedikit gugup seraya menunjuk ke suatu arah pada Asyifa.
"Oh..., makasih mas. Maaf kalau aku mengganggu tidurmu." Ucap Asyifa yang tanpa berlama-lama langsung pergi meninggalkan Wahyu yang termangu didepan pintu kamarnya.
Suara merdu Asyifa yang menyebutnya dengan panggilan 'mas', membuat dada Wahyu kian bergemuruh kencang. Pria itu hanya melongo memandang Asyifa yang tengah berjalan cepat masuk ke dalam kamar untuk melakukan sholat subuhnya yang sudah cukup lama tertunda.
"Pantas saja si Randa klepek-klepek. Emang agak lain itu perempuan." Decak Wahyu membayangkan raut wajah Asyifa yang tampak teduh dan sejuk dipandang mata apalagi saat pakai mukena tadi.
"Sadar Wahyu! Sadar...,! Istri si Randa bloon itu...," Wahyu memukul kepalanya pelan mengusir perasaan aneh yang sempat hinggap dalam hatinya.
.
.
.
BERSAMBUNG