Cinta terpendam adalah perasaan suka diam-diam. Mencintai sendiri.
Setiap insan pasti pernah merasakan Cinta Terpendam.
Memendam cinta walau hanya sehari, atau bahkan lebih.Terlepas dari cinta itu terbalas atau tidak. Tetap cinta itu itu sempat terpendam.
Beruntung bagi seseorang yang memendam cinta, saat cintanya terbalas. Terlepas berapa lama cinta itu terpendam.
Namun, bagaimana jika cinta terpendam berlabuh pada seorang pembenci?
Khadziya Putri seorang gadis berusia 17 tahun, tiga tahun memendam cinta membuatnya tersiksa akan sakitnya mencintai dalam diam.
Reynan Prayoga laki-laki yang membuatnya berdebar-debar, membuat Ziya salah tingkah, tapi dia juga mematahkan hati Ziya.
Reynan begitu membenci Ziya, setiap berhadapan Reynan akan melontarkan kata kasar dan pedas.
Kenapa Reynan begitu membenci Ziya? Akankah benci berubah jadi cinta?
Mungkinkah cinta terpendam cukup lama akan terbalas?
Ikuti kisahnya di Novel ini. Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marta Linda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Harus Bisa!
Khaira berdecak kesal akan sikap Ziya seolah-olah tidak mengerti arah pembicaraan Khaira.
"Misi untuk melupakan Reynan!" tekan Khaira menatap jengah pada Ziya
"Oh," jawab Ziya yang gagal mencerna perkataan Khaira. Sedetik kemudian dia menoleh beralih menghadap Khaira.
"Misi? Misi seperti apa?" tanya Ziya yang jadi mendadak bodoh jika bersangkutan tentang Reynan.
"Dua hal yang aku katakan kemarin!" tegas Khaira
"Mulai hari ini kau harus memulainya!" perintah Khaira menatap Ziya dengan serius.
Ziya mendesah menghela napas berat, seperti tengah mengeluarkan beban pikiran.
"Baiklah aku akan mencoba," ucap Ziya lemah
Khaira memutar bola matanya, merasa muak dengan sikap Ziya yang terdengar mau tak mau.
"Kau harus bisa!" ucap Khaira dengan penuh penekanan.
"Belum melakukan kau sudah selemah ini, bagaimana bisa kau menghadapi dia nanti. Tekadkan kemauanmu jika kau bersungguh-sungguh, buktikan kau tidak lemah,"sambungnya
"Aku tidak mau kau jatuh pada pria seperti dia, aku tidak rela. Kau wanita baik, belum tersentuh oleh pria manapun. Di sini kau yang rugi jika kau jatuh ke pelukannya." tegas Khaira
"Cobalah untuk membuka hatimu untuk yang lain, buka matamu untuk cinta yang lain. Aku yakin akan ada cinta untukmu, saat cinta itu datang sambutlah. Cinta itu akan menghapus cintamu untuk Reynan." sambungnya.
"Aku tidak ingin kau semakin terluka karena cinta ini," Khaira menatap sendu Ziya
Ziya tersenyum memeluk Khaira, "terima kasih sudah peduli padaku,"
"Terima kasih sudah membantuku, aku akan lakukan semua yang kau katakan," tambah Ziya, "aku janji!" sambungnya
Khaira melepas pelukannya, menatap Ziya.
"Kau sahabatku, aku akan selalu membantumu. Aku sedih melihatmu menangis, aku tidak ingin kau menangisi dia lagi. Aku tidak ingin kau di butakan karena ketampanan Reynan," terang Khaira.
Ziya menyimak dengan serius, terbesit rasa bersalah di hatinya. Khaira begitu peduli padanya namun dia masih dalam keraguan akan memampuannya untuk melakukan hal yang di katakan Khaira.
"Aku harus bisa!" batin Ziya
Di hari ini Ziya lebih banyak diam di kelas, hari pertama menjalankan misi dia memilih untuk di kelas guna menghindari Reynan.
Pilihan ini di rasa lebih aman jika dia harus tetap keluar kelas akan ada resiko dia bertemu Reynan dan dia tidak bisa memastikan apakah dia bisa menghindar jika sudah berhadapam dengan pria itu. Akan sulit baginya untuk memulai dan tentu itu akan mengecewakan Khaira.
Dia tidak ingin itu terjadi akhirnya dia putuskan memilih jalan aman.
---------
Kedua mata Ziya mengerjap saat silau matahari yang menyusup melalui jendela kecil yang ada di kamar Ziya tepat mengenai wajahnya. Dia meregangkan otot saat dirinya telah duduk. Melirik ke arah jarum jam yang menggantung di atas lemari plastik kecil yang ada di kamarnya Ziya terkesiap setelah sadar waktu menunjukkan pukul 06.20.
Dengan terburu-buru Ziya turun dari tempat tidur kecil usang itu menuju keluar kamar dan segera masuk ke kamar mandi. Kesiangan hari ini membuat Ziya memilih untuk tidak mandi, sikat gigi lalu mencuci wajah juga bagian yang di rasa perlu di bersihkan turut di cuci.
Setelah selesai bersih-bersih badan dengan kilat, Ziya dengan langkah sedikit berlari menuju kamar lalu meraih seragam sekolah yang tergantung di dinding kamar kemudian bergegas mengenakannya.
Ibu yang melihat tingkah Ziya geleng-geleng kepala dengan senyum terus mengembang. Ibu melihat Ziya jalan keluar kamar dengan terburu-buru mendekati ibu. Ziya mengulurkan tangannya meraih tangan ibu lalu mencium punggung tangan itu dan pamit untuk pergi berangkat sekolah.
"Ibu kenapa tidak membangunkan Ziya?" Ziya bertanya sembari mengenakan sepatu.
"Tadi ibu sudah membangunkanmu, tapi sepertinya kamu kelelahan karena tidak juga bangun setelah ibu bangunkan berkali-kali," ucap ibu pada Ziya yang kini telah berdiri di ambang pintu depan. Ziya tidak menimpali karena waktunya tidak banyak.
"Baiklah bu, Ziya pergi," pamit Ziya, "Assalamualaikum," salam Ziya
"Wa'alaikumsalam," balas ibu, "Hati-hati di jalan," teriak ibu karena Ziya sudah melangkah jauh. Langkah setengah berlari membuat dia dengan cepat menjauh dari ibu.
Kini Ziya sudah turun dari bus, hari sabtu ini hari terakhir dia sekolah sebelum dia benar-benar memulai ujian kelulusan. Iya, waktu ujian sudah dekat. Dua minggu dari hari ini ujian akan di adakan. Mulai senin minggu depan yaitu 2 hari dari hari ini sekolah akan di liburkan untuk kelas tiga guna menyiapkan diri untuk menghadapi ujian.
Ziya setengah berlari menuju gerbang, beruntung murid masih terlihat di mana-mana dan gerbang belum di tutup. Artinya dia tidak terlambat.
Ziya menuju kelas seperti biasa dia memilih jalan yang berlawanan dengan jalan yang melewati kelas Reynan. Hal ini sudah dia lakukan sejak misi itu, dan itu membawa sedikit perubahan dalam dirinya. Dia lebih tenang setelah menjauh dari Reynan.
Ziya tampak memasuki ruang kelas, setelah di depan meja dia melangkah menuju bangku dan duduk. Mataya mengedar mencari sosok sahabatnya yang tidak dia lihat di bangku tempat biasa sahabatnya itu duduk.
Tidak lama berselang Ziya mendapati Khaira tengah berjalan memasuki kelas, dia tersenyum mengarah pada Khaira yang juga tersenyum padanya.
Setelah Khaira mendekat, Ziya langsung melayangkan pertanyaan.
"Kau terlambat? kenapa bisa masuk? apa gerbang sekolah di jaga?" Pertanyaan-pertanyaan di benak Ziya keluar begitu saja.
"Ais, aku baru saja duduk. Kau sudah banyak sekali bertanya." Protes Khaira
"Kau banyak bicara saat tidak di butuhkan dan irit bicara saat di perlukan. Menyebalkan!" ucap Khaira dengan wajah pura-pura kesal
"Kau tidak ingat, ini hari terakhir kita sekolah. Tentu hari ini kita di liburkan untuk tidak belajar. Artinya kita bebas, datang sedikit terlambat tidak masalah bukan. Terbukti pintu gerbang tidak di tutup." Jelas Khaira
"Oh..," jawab Ziya singkat
"Lihatlah dirimu, setelah aku bicara panjang lebar hanya itu tanggapanmu. Benar-benar menyebalkan." Khaira merengut
"Terus... kau ingin aku seperti apa? apa aku harus loncat-loncat?" tanya Ziya datar.
"Tidak harus seperti itu juga, setidaknya kau menanggapi ucapanku dengan sedikit opini mengenai hari ini. Ayolah jangan terlalu pelit bicara!" kata Khaira
"Kita sudah lama berteman dekat tapi kau masih seperti awal kita berteman. Kau sedikit bicara, tidak akan bercerita bila tidak di tanya, tidak akan terbuka jika tidak di paksa. Apa kau tidak menganggapku sahabat?" sambungnya
"Bahkan kau selalu menolak saat aku menawarkan kebaikan. Kau selalu menolak saat aku akan menantarmu pulang, kau bahkan tidak ingin mengajakku maen ke rumahmu?" tutur Khaira yang tidak bisa menahan diri untuk tidak mengutarakan apa yang ada di benaknya selama dia berteman dengan Ziya.
.
.
.
salam dari "Diakah Jodohku, Jodohku dari Kakaku "☺
Jangan lupa tinggalkan jejak 😉