Catalea Yoora merupakan salah satu dari pewaris perusahaan Rotasi Company. Perusahaan yang bergerak di bidang makanan, bakery, dan kuliner yang sudah membuka cabang lebih dari lima provinsi. Beberapa menit menjelang akad nikahnya Alea menghilang. Gosip yang beredar Alea pergi karena ia tidak mencintai calon suaminya karena perjodohan keluarga. Kecurigaan itu beralasan, karena tamu yang dimaksud ternyata mantan Alea, Zahran Adrian Adiguna. Mantan kekasih yang pernah menjalin hubungan dengan Alea. Namun hubungan itu berakhir karena hubungan keluarga. Akhir-akhir ini hubungan kedua keluarga itu membaik. Tapi kejadian hilang nya Alea berkaitan Erat dengan Zahran. Beberapa orang menduga Alea di culik oleh Zahran karena dendam. Namun sebagian orang merasa alasan hilangnya Alea sangat sederhana ia masih cinta dengan mantan kekasih nya. Motif yang hanya bisa di ketahui publik ketika Alea di temukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AssaZahara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Labirin Hutan dan Harga Sebuah Kebebasan
Hutan di lereng Gunung Ciremai bukanlah tempat untuk mereka yang tidak terbiasa dengan medan yang kejam. Setelah ledakan kecil di rumah singgah tadi, Zahran dan Alea tidak lagi memiliki kemewahan untuk memilih jalur setapak yang landai. Mereka terpaksa menembus belukar yang rapat, membiarkan duri-duri tanaman hutan merobek kain jaket dan menggores kulit mereka tanpa ampun.
Seumur - umur Alea yang hidupnya terbiasa dengan lantai marmer, karpet bulu, dan AC ruangan yang stabil, kini berjuang melawan gravitasi yang menanjak curam. Napasnya terdengar seperti deru mesin yang rusak, pendek, tajam, dan menyakitkan. Setiap kali kakinya tersandung akar pohon yang menonjol, Zahran dengan sigap menangkap lengannya, menahan beban tubuh Alea agar tidak jatuh ke jurang kecil di sisi kiri mereka.
"Sedikit lagi," bisik Zahran
Suaranya, ya.. suara Zahran berusaha menutupi kepanikan yang mulai merayap di dadanya sendiri. Ia terus memantau arah menggunakan kompas kuno yang ia keluarkan dari sakunya. Tidak ada GPS, tidak ada sinyal seluler, hanya insting arsitek yang terbiasa membaca kontur tanah dan arah aliran air.
"Mereka... mereka masih di belakang kita?" tanya Alea
Suaranya nyaris hilang ditelan embusan angin hutan. Ia berhenti sejenak, membungkuk dengan tangan bertumpu di lutut, mencoba mengambil napas sebanyak-banyaknya. Lantas kemudia Zahran pun ikut berhenti, membalikkan badannya untuk mendengarkan.
Hutan itu mendadak sunyi. Tidak ada kicauan burung, tidak ada suara dahan yang patah. Hanya suara detak jantung mereka sendiri yang beradu dengan gemuruh air terjun kecil di kejauhan. Keheningan itu justru membuat bulu kuduk Alea meremang; itu adalah keheningan seorang pemburu yang sedang berhenti untuk melacak mangsa.
"Gideon tidak akan menyerah secepat itu," jawab Zahran dingin.
Ia mendekati Alea, menyeka butiran keringat yang bercampur dengan debu di dahi wanita itu dengan ujung jempolnya.
"Dia adalah anjing pemburu milik Reynald. Dia punya insting untuk menyukai bau keringat dan ketakutan mangsanya. Kita harus melewati aliran sungai itu sebelum mereka mencapai titik koordinat kita sekarang." Ujar Zahran.
Alea menatap mata Zahran, mata yang sama yang selalu menatapnya dengan kekaguman saat mereka masih kuliah di Bandung, namun kini mata itu telah menajam, beradaptasi dengan kebutuhan untuk bertahan hidup.
"Kenapa kamu melakukan ini untukku, ran? Sungguh. Kamu bisa saja membiarkanku kembali ke rumah, memberikan alasan bahwa aku diculik, dan kamu akan tetap menjadi direktur sukses di Adiguna. Kamu bisa punya segalanya."
Zahran terdiam sejenak. Ia melihat sekeliling, memastikan tidak ada pergerakan mencurigakan, lalu menarik napas panjang. Ternyata setelah berjalan cukup jauh perdebatan belum lah usai
"Segalanya? Apa gunanya segalanya jika setiap kali aku bangun di pagi hari, aku tahu bahwa wanita yang kucintai sedang duduk di meja makan bersama pria yang menganggapnya sebagai komoditas? Aku membangun karierku selama tiga tahun ini bukan untuk kekayaan, Alea. Aku membangunnya untuk mendapatkan kekuatan agar jika suatu saat aku bisa merebutmu kembali, tidak ada lagi yang berani menyentuhmu."
Zahran memutar tubuhnya, membelakangi Alea, dan memberi isyarat agar wanita itu naik ke punggungnya.
"Naik. Kita tidak bisa berjalan lambat lagi. Mereka pasti sudah membawa anjing pelacak atau drone termal sekarang."
Alea sempat ragu, namun ia tahu ini bukan saatnya untuk bersikap mandiri. Ia memanjat punggung Zahran, melingkarkan lengannya di leher pria itu. Zahran berdiri, kakinya tampak kokoh meski harus memikul beban tambahan di medan yang licin.
Sepanjang perjalanan di punggung Zahran, Alea merenung. Ia teringat kembali pada hari-hari di Rotasi Company. Ia ingat bagaimana ayahnya, Baskoro Yoora, selalu berkata bahwa cinta adalah kelemahan terbesar seorang pebisnis. 'Cinta akan membuatmu tidak rasional, Alea. Cinta akan membuatmu membuat keputusan berdasarkan perasaan, bukan angka-angka di laporan keuangan,' ujar ayahnya kala itu.
Kini, Alea mengerti. Cinta memang membuat mereka tidak rasional. Siapa yang waras akan memilih menjadi buronan di tengah hutan daripada duduk nyaman di atas takhta direksi? Tapi untuk pertama kalinya, Alea merasa bahwa tidak rasional adalah bentuk kewarasan yang paling murni. Ia merasa bebas. Bebas dari ekspektasi, bebas dari perjodohan, bebas dari narasi-narasi palsu yang disusun oleh pengacara-pengacara keluarganya.
"Awas!" teriak Zahran tiba-tiba. Ia melompat ke samping, menghindari sebuah batang pohon besar yang tumbang secara tidak wajar.
Zahran segera menjatuhkan tubuhnya ke tanah bersama Alea, bersembunyi di balik semak belukar yang lebat. Detik berikutnya, sebuah suara plop pelan terdengar, diikuti oleh dentuman kecil di batang pohon tepat di depan mereka. Bukan tembakan peluru tajam, melainkan peluru bius.
Zahran mencengkeram tangan Alea dengan sangat kuat, memberi isyarat agar dia tidak bergerak. Mereka menahan napas. Beberapa meter dari tempat mereka bersembunyi, tampak bayangan tiga orang pria berpakaian taktis hitam-hitam dengan alat penglihatan malam yang terpasang di kepala mereka. Mereka bergerak seperti mesin, terkoordinasi, efisien, dan tak kenal ampun.
Alea bisa merasakan tubuh Zahran menegang. Pria itu sudah memegang pisau taktis di tangannya, siap untuk pertarungan jarak dekat jika mereka ditemukan. Alea menutup mulutnya dengan tangan, berusaha meredam isak tangis yang mulai naik ke tenggorokannya. Ia sadar, satu saja suara yang ia buat, Zahran akan dipaksa untuk bertarung, dan Zahran mungkin tidak akan bisa menang melawan tiga pria terlatih itu.
Salah satu dari pria itu berhenti tepat di samping semak tempat mereka bersembunyi. Ia mencium udara, lalu mengarahkan senter infra-merahnya ke arah dedaunan. Sinar hijau yang samar menyapu tanah di depan mata mereka. Jantung Alea serasa berhenti berdetak. Ia melihat mata Zahran berkilat sebuah tekad untuk melindungi yang melampaui rasa takut akan kematian.
Pria itu terdiam selama beberapa detik. Alea berdoa dalam hati, memohon agar keajaiban terjadi. Dan seolah semesta menjawab, suara riuh gerombolan babi hutan yang berlari dari arah yang berlawanan memecah konsentrasi para pengejar. Pria di dekat mereka itu menoleh, memberikan isyarat kepada rekan-rekannya, dan mereka pun bergerak menjauh ke arah kebisingan babi hutan tersebut.
Zahran menunggu sampai suara langkah mereka benar-benar hilang sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang. Ia menoleh ke arah Alea, wajahnya basah oleh keringat dan lumpur, namun matanya masih memancarkan keyakinan yang luar biasa.
"Kita lolos dari ronde pertama," bisik Zahran.
Alea menyentuh wajah Zahran, tangannya gemetar hebat.
"Zahran, kita tidak bisa terus seperti ini. Jika mereka punya drone, jika mereka punya anjing... mereka akan menemukan kita lagi. Kamu tidak bisa melindungiku selamanya jika kita hanya berlari."
Zahran terdiam. Ia tahu Alea benar. Lari adalah tindakan pengecut jika tidak dibarengi dengan rencana untuk menyerang balik. Ia menatap ke arah sungai yang terletak beberapa ratus meter di bawah sana.
"Kita tidak akan terus berlari," ujar Zahran dengan nada suara yang perlahan berubah menjadi sangat dingin dan penuh perhitungan, nada suara seorang direktur yang sedang merancang strategi akuisisi perusahaan.
"Kita akan menuju ke sebuah pos logistik milik salah satu supir truk yang berhutang budi padaku. Di sana, aku menyimpan peralatan yang kubutuhkan untuk mengakses jaringan internal Pratama Logistics. Jika kita ingin selamat, kita tidak boleh lagi menjadi mangsa yang lari. Kita harus mengubah permainan ini menjadi medan perang kita sendiri."
Alea menatap Zahran dengan takjub. Di tengah hutan yang gelap dan mematikan, ia melihat suaminya pria yang sudah ia pilih sedang merancang sebuah strategi untuk menumbangkan raksasa. Ia bukan lagi sekadar buronan yang ketakutan. Ia adalah Zahran Adrian Adiguna, pria yang akan meruntuhkan imperium yang mencoba memisahkan mereka.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Alea, kali ini suaranya mantap, tidak ada lagi keraguan.
Zahran tersenyum—senyum predator yang sudah menemukan celah di pertahanan musuh. "Kamu cukup tetap bersamaku. Kita akan membuat Reynald Pratama dan ayahmu menyesali hari di mana mereka memutuskan untuk memburumu sebagai komoditas."
Mereka bangkit kembali, melanjutkan perjalanan menuju sungai di bawah sana. Di setiap langkah yang mereka ambil, Alea merasa beban di pundaknya semakin ringan. Bukan karena perjalanannya lebih mudah, melainkan karena ia akhirnya tahu bahwa ia bukan lagi orang yang pasif dalam takdirnya sendiri. Ia adalah bagian dari strategi ini. Dan di tengah hutan yang penuh bahaya ini, mereka bukan hanya sedang melarikan diri, mereka sedang menyiapkan serangan balik yang akan mengguncang pondasi bisnis Jakarta sampai ke akar-akarnya.
Badai belum berakhir, namun sekarang, mereka bukan lagi korban yang tertiup angin; mereka adalah pusat dari badai itu sendiri.