Novel berpotensi pilihan editor karena menulis novel dalam 1 bulan dengan cerita horor yang mengerikkan dan menggemaskan.
Konon misteri istri pertama Sultan, dipercaya bahwa nantinya pewaris takhta kerajaan bisnis akan kena kutukan. Pangeran Sepna adalah pewaris takhta kerajaan bisnis, adalah putra dari Sultan Sandi.
Bahwa barang siapa yang nantinya dijadikan istri pertama Pangeran, akan mengalami kematian saat malam pengantin yang disebabkan oleh misteri kutukan itu.
Pangeran oleh Ibunya dijodohkan dengan Rani Apriliani. Namun Ibu tirinya Rani, berniat jahat untuk menjodohkan Pangeran dengan Tina.
Dan terjadilah teror hantu wanita misterius yang selalu menampakkan rupanya pada Rani, Tina, dan juga Ibu tirinya Rani.
Lalu siapakah yang akan dinikahi Pangeran?
Diantara Rani dan Tina, siapakah yang cintanya tulus pada Pangeran?
Kisah ceritanya membuat penasaran dan endingnya gak ketebak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irwan Aboy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rani bertemu dengan Pangeran Sepna di istana
“Untung saja Pak Roni tidak menabraknya. Rani benar-benar takut, Ibu Kintan!” ucap Rani dengan ekspresi wajahnya ketakutan.
“Alhamdulillah kita tidak menabrak sosok wanita hantu itu!” seraya Pak Roni mulai menyetir kembali mobilnya.
Lalu, perjalanan dari jembatan perbatasan itu menuju rumah istananya Pangeran harus menunggu waktu lima belas menit.
Rani menceritakan mimpinya dengan mengatakan, “Ibu Kintan tadi saat Rani pingsan, tak tahu kenapa aku bermimpi bertemu sosok wanita misterius?"
Lalu Ibu Kintan pun menanyakan, “Terus bagaimana ceritanya, kenapa kamu bisa bertemu wanita misterius?”
“Iya wanita misterius itu, menceritakan bahwa barang siapa yang menikahi Pangeran Sepna maka ... istri pertamanya akan mengalami kematian saat malam pengantin nanti. Apa benar itu, Bu?” tanya Rani dengan rasa penasaran dalam hatinya, karena ingin mengklarifikasikan pada calon mertuanya itu.
Ibu Kintan diam sejenak dalam hatinya mengatakan kenapa sosok wanita misterius itu, bisa masuk ke dalam mimpinya Rani dan menceritakan yang sebenarnya soal masalah itu.
Tak lama Bu Kintan mulai menjawabnya, “Oh itu tidak benar Rani, calon menantuku yang calak (elok) ... itu hanya ilusi, Rani! Jadi kamu jangan percaya pada ucapan wanita misterius itu ya!”
“Memang itu tidak betul ya Bu, mengenai perkataan wanita misterius itu?” tanya Rani.
“Iya benar itu hanya omong kosong, lagi pula kan jembatan perbatasan itu memang angker tempatnya dan nyenyat (sunyi). Betulkan Pak Roni kalau soal itu, memang omong kosong belaka?” ungkap Ibu Kintan seraya meyakinkan Pak Roni, bahwa soal masalah mitos itu tidaklah benar.
“Oh iya betul Rani, itu hanya omong kosong belaka, lagi pula kan itu cuman mimpi, Rani! Mimpi itu kan, ibarat bunga tidur jadi roh kita melayang kemana-mana!” ucap Pak Roni dengan ekspresi wajahnya yang meyakinkan Rani.
Rani pun menjawab, “Iya sih, itu hanya mimpi tapi saat ditanyakan siapa nama wanita itu! Eh dia malah pergi dengan kedua tangannya itu penuh dengan berlumuran darah!”
Bu Kintan dan Pak Roni mendengar cerita itu, langsung merinding ekspresi wajah mereka berdua.
“Benar Rani, itu hanya sekedar mimpi jadi tak usah di pikirkan ya! Jangan ceritakan lagi soal mimpimu pada anakku Pangeran, takutnya dia tidak mau akhirnya menikahimu, Rani!” ucap Ibu Kintan dengan penuh kecemasan dalam hatinya, dia takut Pangeran anaknya mengiyakan kalau cerita mitos itu adalah benar adanya.
Rani mengatakannya, “Baik Bu, saya tidak akan menceritakan mimpi itu pada, Pangeran!”
Pak Roni malah menjawab, “Jelas lebih baik jangan dibicarakan soal mimpimu pada Pangeran, supaya dia tidak sakit hati mendengar cerita itu!”
***
Kemudian sampailah mereka bertiga ke depan pintu gerbang istana dan para pengawal pun, membuka pintu gerbang istana.
Mobil yang mereka tumpangi itu, masuk ke dalam istana dan Pak Roni menghentikan mobilnya, parkirkan di samping istana.
Bu Kintan dan Rani turun dari dalam mobil, langsung mereka berdua masuk ke dalam istana.
“Pangeran, kamu dimana anakku?” ucap Ibu Kintan seraya melihat ke sudut ruangan istana.
Rani pun berjalan mengikuti langkah kaki Bu Kintan, seraya ia membawa koper yang berisi pakaiannya.
“Iya Bu, Pangeran datang ada apa? Oh ternyata ada tamu!” ungkap Pangeran.
“Betul Pangeran ini ada tamu, perkenalkan ini Rani anak tirinya, Ibu Sinta!” jawab Ibu Kintan pada anaknya itu.
“Pangeran perkenalkan, saya Rani Apriliani.” pungkas Rani seraya memberikan tangan kanannya, untuk bersalaman kepada Pangeran.
“Oh ini Rani anak tirinya Ibu Sinta, sungguh calak (cantik) kamu ini ya. Saya Pangeran Sepna, senang bertemu denganmu, Rani!” ucap Pangeran Sepna seraya ia memberikan tangan kanannya pada tangan kanan Rani, hingga saling bersalaman dengan memberikan senyuman di raut wajah mereka berdua.
“Terima kasih, Pangeran Sepna juga sungguh menawan. Senang juga hari ini Rani bertemu dengan, Pangeran!” pungkas Rani dengan hati yang riang, ia tidak menyangka kalau Pangeran orangnya ramah.
“Ayo ke ruang keluarga Rani, mari kita cokol (duduk berkumpul). Koper baju milikmu, biar saya panggilkan dulu Bibi pembantu istana! Bibi kesini, ini ada tamu tolong bawakan ini koper bajunya!” ucap Pangeran.
Bibi pembantu istana datang dari sudut dapur, mendengar perkataan yang memanggil namanya hingga ia berjalan menghampiri Pangeran, seraya berkata, “Baik Pangeran Sepna, sini Nona koper baju milikmu ... biar Bibi bawakan ke ruang kamar tamu!”
"Baik Bibi, ini koper baju Rani. Terima kasih sebelumnya ya!” ucap Rani seraya tangan kirinya memberikan koper baju kepada Bibi, dengan memberikan senyuman yang calak (elok) pada Bibi pembantu istana.
“Oh iya sama-sama, Rani!” pungkas Bibi Pembantu Istana seraya membawakan koper baju Rani, berjalan menuju ruang kamar tamu.
Rani pun ikut berjalan bersama Pangeran Sepna, ke ruang keluarga untuk cokol (duduk berkumpul). Dan Ibu Kintan malah pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya.
“Rani, Ibu tirimu bernama Bu Sinta kenapa tidak ikut kemari ke rumah istana, Pangeran?” tanya Pangeran dengan ekspresi wajah yang bingung.
“Oh Ibu tiriku, tidak ikut karena Tina adik saudariku belum pulang ke rumah. Nanti Ibu tiriku bersama Tina, besok mau datang kemari ke istana kesini!” jawab Rani dengan raut wajah yang ramah.
“Begitu ya Rani, apakah Ibuku sudah tahu maksud kedatangan ke rumah Ibu tirimu tadi sore?” tanya Pangeran dengan ekspresi wajah yang gugup saat mengatakan hal itu.
“Tentu saja tahu, Pangeran!” pungkas Rani.
“Syukurlah kalau Rani sudah tahu hal itu. Tunggu dulu ya, saya bawakan air buat kamu!” pungkas Pangeran seraya ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju sudut dapur.
“Boleh, Pangeran!” jawab Rani di dalam hatinya, ia tak menyangka kalau sikap Pangeran begitu baik kepada tamu yang datang ke rumah istananya.
Tak lama Bu Kintan dari arah kamarnya berjalan menghampiri Rani yang duduk di ruang keluarga, seraya berkata, “Rani, Pangeran lagi kemana?”
Rani pun menjawab, “Pangeran lagi ke dapur, Bu!”
Langsung Ibu Kintan duduk di sofa dekat Rani dan dari arah dapur, Pangeran datang dengan membawakan secangkir teh manis untuk Rani seraya bertanya, “Ini Rani, minumlah teh manis buatan Pangeran, pasti kamu haus kan?”
Rani menerima secangkir teh dari tangan kanannya Pangeran seraya mengatakan, “Iya Pangeran Sepna terima kasih! Saya minum teh manisnya!”
***
Sedangkan Ibu Sinta di kediaman rumahnya, dia sedang menunggu anak kandungnya bernama Tina, yang belum pulang juga ke rumah.
Bu Sinta segera menelepon anaknya dengan mengatakan, “Halo, masih dimana kamu, Tina? Kamu belum pulang juga, Bunda di rumah sendiri nih!”
Tina mengangkat telepon dari Ibu kandungnya seraya menjawab, “Halo, ini Tina lagi menyetir mobil. Dalam perjalanan pulang ke rumah, Bunda!”