NovelToon NovelToon
Secret Admirer

Secret Admirer

Status: tamat
Genre:Teen School/College / Persahabatan / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Tamat
Popularitas:11.6k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Macet

Ketika Laura mendapatkan surat cinta, dia dengan tekad bulat akan menyusuri jejak sang pengagum!

....

Laura ingin rasanya memiliki seorang pacar, seperti remaja di sekitarnya. Sayangnya, orang-orang selalu menghindar, ketika bersitatap dengannya. Jadi, surat cinta itu membawanya pada ambisi yang kuat! Mampukah Laura menemukan si pengagum dan mendapatkan akhir bahagia yang ia impikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Macet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Hukuman

Hukuman

"Sudah mantan banyak gaya!" seruku dengan menjambak rambut Cindy, dia juga balas menjambakku. Tidak ada yang melerai kami, ya biarkan saja, ini malah menguntungkan untukku.

Aku kepalang emosi pada Cindy, jika dia tidak bermain kasar dan hanya menggunjing, aku tidak akan berbuat seperti ini. Dikira aku lemah dan diam saja jika diperlakukan kasar?

"Ayo, Cindy, jambak terus!!!"

"Si Laura boleh juga, tetapi jambakannya kurang keras. Sekalian kulit kepalanya ditarik."

"Drama apa lagi ini? Siapa yang pelakornya?"

Dasar mulut-mulut tak berguna! Kalian bisa-bisanya berkata seperti itu dengan lantang. Aku tidak habis pikir dengan mereka.

Pipiku terasa panas akibat tamparan tiba-tiba dari Cindy, dia menamparku bukan main kuatnya! Aku hendak membalas saat tanganku dicekal oleh seorang siswa. Kutatap tajam dan berkata, "Lepaskan! Jangan menghalangiku, aku harus membalas perbuatannya."

Dia kekeh dan menarikku menjauh dari Cindy. Kulihat juga seorang siswi menarik lengan Cindy seolah menghentikan kami. Almamater OSIS sudah membuktikan siapa mereka.

"Ikut aku ke ruang BK!" katanya tajam. Aku menggeleng. Kenapa aku harus ikut dengannya, padahal bukan aku penyebab semua ini.

Siswa itu menarik lenganku dengan kasar, aku berontak tetapi tak berguna. Kulihat juga anggota OSIS menyuruh Wafi dan Zen untuk ikut sebagai saksi. Zen tampak tidak masalah, dan menatapku mengejek sebelum berlalu pergi.

"Ini masih belum selesai!" kata Cindy ketika melewatiku, aku mengepalkan tangan dan berjalan juga menuju ruang BK.

***

"Dia yang salah, kok saya juga dihukum Pak?" Aku protes dengan kebijakan Pak BK. Dia dengan santai berkata menghukum kami berdua menghormat bendera di teriknya sinar matahari.

"Kerusuhan itu terjadi karena ke dua belah pihak, Bapak hanya menjungjung keadilan," katanya. "Jangan banyak protes, sekarang lakukan saja hukumanmu! Siapa suruh terpancing emosi dan membuat kerusuhan. Lihat penampilan kalian sekarang, seperti orang tidak terdidik."

Aku memutar bola mata malas, penampilanku saat ini memang buruk saking berantakannya.

"Kita lanjut sepulang sekolah!" kata Cindy. Dia ini keras kepala sekali, sudah tahu ada guru BK.

"Cindy, hukumanmu dua kali lipat! Dua jam berdiri di sana!"

Mampus, sudah kukatakan dia pasti kena batunya. Lihatlah muka masam Cindy yang hanya bisa tersenyum gentir.

Aku dengan bangga keluar dari ruang BK. Jangan lupakan mengibaskan rambut tepat di depan Cindy, dia pasti sudah kesal bak cacing kepanasan. Walaupun begitu aku masih saja kesal perihal hukuman, kenapa Zen dan Wafi tidak ikut dihukum? Aku tahu mereka tidak terlibat, tetapi ini masalah solidaritas.

Dengan terpaksa aku harus berdiri di depan tiang dan menghormat bendera merah putih kebanggaan bangsa. Cindy juga sudah sampai dan menjalankan hukuman. Beruntung sekali, jam istirahat telah usai jadi kami tidak menjadi sorotan.

"Tetapi ada satu yang membuatku penasaran, kau benar adalah mantan pacar Wafi atau sekadar pengagum saja?" kataku memulai obrolan. Bisa saja Cindy hanya mengada-ada berkata dia adalah pacar Wafi kan?

Cindy berdecak kesal. "Jangan pasang wajah bodohmu! Dia memang adalah mantanku tidak pacarku, karena kami putus sebatas persetujuaannya. Aku tidak setuju!" Bisa begitu juga, ya?

"Cih, mantan saja belagu. Aku saja yang sudah berteman lama dengannya tidak menyombongkan apa-apa," kataku. "Kamu melabrak orang tanpa alasan yang logis."

"Mau memulai babak kedua?" tanya Cindy tajam kemudian menunjukkan otot tangannya yang lembek. "Aku tidak keberatan masuk BK dua kali jika itu membuatmu babak belur."

Aku membuang muka memilih abai. Kemudian memicing lantaran seorang siswa mendekat ke sini, dengan sebotol mineral. Itu Zen.

"Ini untukmu." kata Zen kemudian menyerahkan air mineral pada Cindy. Perempuan itu menerima dengan enggan dan langsung meminumnya tandas. Si sialan Zen ini tidak punya hati atau bagaimana?

"Apa?" kata Zen ketika kami bersitatap.

"Tidak!" kataku ketus dan membuang muka. Apa yang kuharapkan darinya? Aku berharap dia membawa dua botol air mineral dan membaginya satu untukku? Tentu saja, tidak akan terjadi.

"Tidak jelas sama sekali, aneh!" kata Zen kemudian mengalihkan atensi pada Cindy. "Kaulelah? Bagaimana kalau beristirahat saja di UKS. Aku akan meminta izin pada guru BK."

Cindy mengangguk saja dan mereka pergi begitu saja. Padahal yang kutahu Zen dan Cindy itu tidak begitu dekat, mengapa hari ini mendadak Zen begitu perhatian? Bukan itu masalahnya, jadi sekarang hanya aku seorang yang dihukum?

"Zen sialan!"

Di bawah teriknya sinar matahari, aku hanya mampu misuh-misuh. Apa lagi di ujung koridor terlihat siluet anak OSIS. Dia pasti disuruh Pak BK untuk mengawasiku selama masa hukuman.

Kakiku lemas, tetapi masih dapat menopang tubuh. Jika bisa, aku ingin pingsan saja supaya dibawa ke UKS, tetapi aku tahu, aku tidak dapat bertahan dalam kepura-puraan.

"Aku baik-baik saja, kembali saja ke kelasmu. Aku akan istirahat di sini sampai tubuhku lebih baik," kata Cindy. Tidak tahu kenapa mereka kembali kemudian Cindy duduk di bangku yang tidak jauh dari tempatku, maka dari itu suaranya terdengar.

Aku menatap mereka berdua dengan malas, mengalihkan pandang dan seketika itu juga aku berbinar! Wafi dan dan menyodorkan sebotol air mineral padaku, dia berkata, "Kau pasti haus, aku membelikan ini untukmu. Minum saja."

Dengan senang hati aku membuka tutup botol dan meneguk isinya hingga habis setengah.

"Kenapa kau ada di sini?" tanyaku. "Jam pelajaran masih dimulai, tidak mungkin kau bolos, bukan?"

"Untuk melihat keadaanmu, aku merasa bersalah meninggalkanmu dalam masa hukuman. Terdengar seperti teman yang sangat jahat," kata Wafi lantas duduk di samping tiang bendera. "Kenapa hanya kau yang berdiri di sini? Kenapa dia tidak menjalanku hukumannya juga?"

Wafi menatap Cindy nyalang, di sana perempuan itu sedang bersantai dengan gawainya. Yang lebih menyebalkan Zen masih di sana dengan tatapan tajam mengarah padaku, siapa peduli?

"Jelas dia sedang beristirahat oleh karena saran dari Zen. Perempuan itu berarti dalam hidup Zen sehingga Zen meminta izin BK demi kesehatan si Cindy." jelasku dongkol. Entah kenapa, aku sedikit tidak senang melihat kedekatan mereka. Pasalnya, Cindy dan Zen itu baru kenal, mungkin. Tiba-tiba saja Zen sangat perhatian padanya. Padahal aku yang sudah kenal dengannya sangat lama, malah tidak pernah diperlakukan baik.

"Eh apa yang aku pikirkan? Aku berharap dia memperhatikanku? Tidak!" elakku dalam hati.

Aku menghela nafas lelah, kemudian mendudukkan diri di atas rerumputan hijau di belakang ruang musik. Tempat ini asri dengan pemandangan yang begitu indah.

"Apa yang sedang kaurenungkan?" kata Wafi yang kemudian duduk di sampingku. "Tidak biasanya datang ke sini."

"Aku tidak merenungkan apa-apa, dan tolong jangan berlagak seolah kau tahu segalanya tentangku." kataku sinis. Ketahuilah aku tidak benar-benar kesal dengan pertanyaan itu.

Wafi terkekeh kemudian menatap lurus ke depan. Laki-laki ini selalu sempurna dilihat dari segi mana pun.

"Jam istirahat seharusnya kau berada di kantin, kenapa datang ke sini?" tanyaku. Pasalnya Wafi tidak pernah melewatkan jam istirahat. "Biasanya, teman-temanmu itu selalu bersamamu."

"Lupa, hari ini aku berjanji akan berbincang berdua denganmu?" kata Wafi. "Kau belum pikun Laura."

Kata-katanya ambigu, membuatku memikirkan hal lain. Seolah mengajak berkencan, ya kali, ada drama baru "Teman Tapi Mesra". 

"Ngomong-ngomong tadi aku ke kelas, hendak mengambil sesuatu. Dan ya, aku menemukan sesuatu hal yang menarik di dalam laci mejamu," kata Wafi kemudian mengeluarkan banyak amplop. "Menurutmu apa isinya?"

Mendadak aku gugup sekali, melihat banyak amplop berserakan di rumput hijau. Dengan hati-hati aku meraih satu amplop, membukanya... dan sesuai dugaanku, di dalamnya ada selembar kertas.

"Sebuah surat?" kataku gugup menatap Wafi yang terdiam. Dia menaikkan alis. "Aku tidak tahu apa-apa, jadi tolong tatap seperti biasa saja."

Wafi menghela nafas kemudian tersenyum, matanya menyipit dengan tajam. Ini lebih parah dari sebelumnya dan aku meneguk ludah kasar.

"Kepingan Rindu," kataku membaca tajuk surat. Aku merasa sangat kesal kepada si pengirim karena judul yang sangat alay. "Apaan sih, aku tidak ingin melanjutkan membaca. Aku muak sepintas melihat!"

Jika kulanjutkan membaca, aku bisa sangat malu menghadapi Wafi yang diam menyimak. Dan kata selanjutnya yang terlontar dari mulut Wafi membuatku menjerit dalam hati, "Lanjutkan!"

"Oke!" kataku dengan pasrah.

"Hari ini aku merasa kecewa tidak dapat melihatmu lama-lama karena urusan pribadi. Ya, ketika melihatmu bersama laki-laki lain, aku kepalang kesal dan ingin sekali memukul mereka. Kau tidak lagi memperhatikanku, mencari jejakku dan akhirnya lupa siapa aku. Apakah aku tidak lagi berharga? Aku merindukan masa-masa di mana kau bersusah payah mencariku. Aku ingin sekali menemuimu dengan pengakuan, membekapmu dan mengungkungmu hingga kau hanya bisa melihat aku."

Aku menyesal patuh untuk membaca. Tajuknya sama sekali tidak mencerminkan isinya! Kenapa si pengagum rahasia ini suka sekali membuatku malu, isinya memang begitu manis tetapi bukankah kata-katanya terlalu berlebihan?

"Siapa yang mengirimnya?" Nada berat membuatku langsung menoleh ke arah Wafi. Wajah laki-laki itu semakin suram. Entah apa yang ia pikirkan.

"Aku tidak tahu," kataku. "Pengirimnya anonim, mungkin ini sudah yang kedua kali."

"Oh, masih orang yang sama dengan yang kauceritakan?" kata Wafi. "Dia benar-benar sangat romantis, ya!"

Aku menatap Wafi dalam, laki-laki itu kembali dengan ekspresi tenangnya. Dia tersenyum samar dan menatapku teduh. Aku mengedip dua kali karena takjub dengan perubahan emosi Wafi.

"Ya, seperti yang kaukatakan, di surat itu juga sudah dijelaskan."

Wafi tidak lagi merespon, dia akhirnya berdiri dan menepuk kepalaku. Sebelum pergi dari sini dia berbisik, "Semangat, kau pasti menemukannya! Dia mungkin ada di sekitarmu."

Ya Tuhan, itu adalah aspek yang menandakan kalau dia mendukung apa yang ingin kulakukan. Tetapi hati kecilku berpendapat, bahwa pernyataan itu mengarah pada hal lain, mungkin saja dia adalah si pengagum itu.

Aku menampar pipiku pelan, berkata, "Ayolah Laura! Mengapa kau selalu saja berhalu tentang sesuatu yang tak pasti."

Tetapi jika benar Wafi adalah si pengagum rahasia, aku tidak masalah, karena dia memang adalah laki-laki tipe idamanku. Sangat pengertian.

Aku merentangkan kedua tangan ke atas dengan menggenggam surat yang telah dibuka. Semakin bertekad untuk mencari si pengagum rahasia, aku merasa dia adalah Wafi.

"Mari memulai babak baru dari kisah percintaan yang penuh sandiwara ini."  kataku kemudian terduduk lemas, yeah tenagaku habis tak tersisa karena dilanda gugup yang kentara.

***

Aku mengaduh karena menabrak punggung seseorang, buku di tanganku habis berserakan. Aku berdecak kesal, berkata, "Jalan itu pakai mata!"

"Jalan itu pakai kaki dengan mata sebagai penglihat,"

Aku mendongak ke atas, melihat Wafi yang kemudian berjongkok untuk membantuku membereskan buku yang besmrserakan. Ini buku tugas para murid yang harus dikumpulkan ke ruang guru.

"Ya, mungkin aku yang ceroboh." kataku akhirnya mengalah. Aku ingin cepat pergi dari sini, tidak ingin berlama-lama bersama dengan Wafi. Tetapi tanganku sudah terlebih dahulu dicekal.

"Mau ke mana?"

"Ruang guru." kataku dengan ketus, menyodorkan buku tepat ke arah mata Wafi. Lihat, matamu tidak buta atas keberadaan buku ini.

"Mau kubantu?" tawarnya. Tentu aku menggeleng dengan sejuta alasan yang terbenam dalam benak.

"Ayolah Laura jangan bersikap acuh tak acuh padaku. Perkataanku di belakang ruang musik hanya omong kosong yang tidak perlu kaupikirkan," kata Wafi.

"Aku bersikap seharusnya, tidak acuh tak acuh." kataku berusaha melepas cekalan di pergelangan tangan, bukannya melepas, Wafi semakin mengeratkan. Dia pasti memiliki dendam terselubung!

"Pemberontakan ini sudah menunjukkan segalanya. Laura yang biasanya patuh dan baik hati tidak akan memberontak," kata Wafi. "Jadi, aku ikut denganmu ke ruang guru."

Wafi menarik tanganku meninggalkan kelas, dengan aku yang tidak lagi memberontak. Aku tidak akan menghindari Wafi hanya karena perasaan malu.

1
tishabhista
lanjutttt...
Pena Macet: ceritanya udah tamat kak/Smile/
total 1 replies
Mona
lanjut kakkkk
Mona
Asekk dapat surat cinta 🔥
Queen Woo
absen dl kk
Shinn Asuka
Tidak bisa menunggu untuk membaca karya baru dari author yang brilian ini.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!