Sejak lama Yordan menyimpan rasa pada Amara, namun rasa itu harus dia simpan dalam-dalam dikarenakan ada sesuatu perbedaan mendasar antara mereka.
Sedih dan sakit tentu saja dia rasakan kini. Omong kosong jika, cinta tak harus memiliki, tapi ia sadar, cinta tak boleh memaksakan diri.
Bisakah Yordan menghapus rasa yang selama ini ia simpan ataukah ia akan menyerah sehingga cinta itu akan menemukan jalannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rintihan kalbu
Meskipun Arif telah memberikan penjelasan panjang lebar, namun entah mengapa hati Amara masih bimbang. Ia tak mau memikirkan pertunangan ataupun pernikahan.
Dia terus berjalan melewati ruang tamu, masuk ke dalam kamar. Membuat paman dan bibinya heran. Keduanya saling berpandangan. Demikian pula dengan Ayu. Dia pun segera menyusulnya. Namun sayang, ia mendapati pintu kamar tertutup rapat.
Ceklek...ternyata pintu itu tidak terkunci. Dia melihat Amara berbaring dengan memeluk guling. Dia pun mendekatinya. Lalu duduk dan mengusap-usap kepala Amara dengan lembut.
“Amara,” panggil mama Ayu lembut.
Ia bergeming. Saat ini, ia benar-benar ingin sendiri. Meskipun ia tak menolak perjodohannya dengan Arif, tapi ada sesuatu yang tidak bisa ia ceritakan pada orang tuanya tentang desas-desus yang ia dengar selama ini. Benar atau salah, ia tak tahu pasti.
Ah, sebaiknya ia jalani saja. Masalah desas-desus itu sebaiknya ia abaikan. Jika memang benar...ah, tak mungkin. Orang sebaik pak Arif, tak mungkin berbuat seperti itu dan membohonginya.
Amara pun berbalik, memandang Mama Ayu dengan senyuman. Orang tua yang paling ia sayangi. Ia khawatir jika mereka tahu, akan membuatnya sedih.
“Mama.” Amara memeluk Ayu erat.
“Apa Arif menyakitimu?”
“Tidak. Aku hanya kaget saja. Aku tak menyangka kalau pak Arif akan begitu cepat mengungkapkan niatnya,” jawab Amara sambil merapikan jilbab pashminanya.
“Itu bisa diatur,” jawab Ayu menenangkan. Ia membelai kepala Amara dengan lembut.
“Jika ada masalah, diselesaikan. Jangan bersembunyi!” ucap Ayu kemudian.
Ia pun mengangguk. Meskipun hati masih bimbang tak ada salahnya kalau terus melangkah. Toh, semua demi kebaikannya.
“Atau hatimu terbelah karena ada Yordan.”
Ha!...Tak pernah terpikirkan. Meskipun ia sangat nyaman berada di sisinya, tapi untuk tertarik secara romantis, tidaklah. Kita berbeda alur. Hehehe....
“Satu saja bikin pusing. Apalagi tambah nama yang nggak penting. Tambah bikin pusing,” gumam Amara dengan cemberut.
Ayu lega. Rasa was-wasnya kini telah sirna. Amara tampak menerima perjodohan ini dengan lapang dada.
“Ayo, kita temui dia!” Ayu segera beranjak meninggalkan kamar Amara.
Amara segera turun dari tempat tidurnya. Ia mengejar Ayu dengan tergesa-gesa. Ia pun memeluk pinggang Ayu dengan manja.
“Mama. Aku yang jalani, mengapa mama yang repot.”
Ayu tersenyum. Satu sentuhan kecil mendarat di pipinya. Dia pun melanjutkan langkahnya menuju ruang tamu.
Hati ibu siapa yang tak sedih bila sang putri pergi tidur di saat ada tamu penting sedang menunggu di depan pintu rumah.
Amara mengikuti langkah Ayu dengan tenang, sambil batinnya berbisik lirih,
Ya Allah, Tuhan penguasa semesta
Aku baru saja mengenal-Mu
Engkau hadapkan diriku pada persoalan yang tak ku mengerti
Aku pun tak tahu bagaimana seharusnya aku menyelesaikannya
Jika aku harus sholat, sholat yang bagaimana yang akan aku lakukan.
Aku sungguh tak tahu
Dan aku tahu,bahwa sholatku pun belum sempurna
Maka ampunilah diriku yang lemah dan tak tahu apa-apa. Dan
Tunjukkan padaku bagaimana harus bersikap dan mengambil keputusan.
Di ruang tamu, semua tampak tertunduk lesu. Menunggu dengan sabar pemeran utama dalam urusan ini, Dia yang menjalani.
“Amara. Bagaimana pendapatmu, Nak?” tanya Marthen begitu Amara menghempaskan tubuh di sampingnya.
Amara pun menunduk. Ia tak bisa memberikan jawaban. Saat ingin mengatakan sesuatu, mengapa hatinya kembali bimbang.
“Ya Amara. Papa mendengar mu.” Marthen mencoba menenangkan.
“Papa. Aku...” Amara tak mampu meneruskan kata-kata. Lidahnya kelu saat ingin mengucapkan ya atau tidak. Beberapa kali dirinya mengambil nafas berlahan, namun semua tak mampu menolongnya untuk segera mengambil keputusan.
“Bagaimana Amara?” Paman Hasan dan bibi Shakila terus mendesak.
Bagaimana pun mereka tak bisa memutuskan persoalan ini secara sepihak. Bukan mereka yang menjalani, tapi Amara. Apa yang menurut mereka baik, belum tentu baik juga bagi Amara.
Semua mata memandang pada Amara. Menunggu keputusan darinya.
Meskipun masih banyak keraguan yang membayangi hatinya, Amara pun mengangguk.
“Alhamdulillah, “ucap mereka. Demikian juga Arif. Tampak senyumnya merekah sempurna.
“Tapi aku ingin selesaikan kuliah dulu. Apakah Bapak bisa menunggu “
“Ya. Kita bisa tunangan dulu.”
“Eeee...” Amara tampak ragu. Ia berfikir keras. Ini berarti Arif sudah membatasi kebebasannya.
“Baiklah,” ucap Amara kemudian. Yang membuat semua lega.
Dengan terpaksa Amara pun menerimanya. Apalagi Arif berjanji akan setia menunggu sampai Amara benar-benar siap. Untuk sementara lamaran pun dilangsungkan sesuai dengan rencana. Namun pernikahan, menunggu Amara selesai kuliah. Dan itu masih sangat lama.
🌺
Yordan
Kadang kala apa yang kita impikan, jauh dari harapan. Sebuah nama yang telah tersimpan sekian lama dalam jiwa, mau tak mau harus ia lepaskan sebelum mampu mengatakannya.
Sebuah gitar yang tergantung di sudut kamar, mungkin bisa ia jadikan tempat untuk meluapkan emosi yang melanda jiwanya, yang kini tengah merintih sedih, menghadapi kenyataan yang jauh dari apa yang ia bayangkan.
Mungkin juga beranda belakang rumah adalah tempat yang tepat untuk menepis beban yang hendak ia lepaskan tanpa sisa. Ia pun memainkan senar-senarnya, sambil menatap lembayung senja yang akan menghilang.
Petikan-petikan senar membawanya pada lagu bernada melankolis romantis. Mencoba mengungkapkan apa yang kini ia rasa. Hingga tak terasa sebuah lagu tercipta. Lirik-lirik syair mengalir lembut dari bibirnya. Beberapa kali ia mencoba menyesuaikan nada, agar lebih berirama dan bermakna. Tak lupa ia menuliskannya pada kertas yang ia siapkan sebelumya.
Ia memandang lirik lagu yang telah ditulisnya. Gambaran suasana hatinya yang merintih pilu akan impian yang tak akan pernah menjadi kenyataan. Hingga tak terasa embun bening menetes dari sudut matanya hingga berkaca-kaca.
🎶
Terlalu lama rasanya
Kau coba aku ya Tuhan
Terlalu jauhku berjalan
Mencari dan mencari
Adakah lagi yang lebih sakit
Dari yang kurasakan kini
Mampukah aku bertahan
Janganlah terlalu lama
Kau biarkan aku
Aku takut kehilangan
Iman di dadaku
Bukan berarti aku tak percaya
Kau maha pengatur segalanya
Tapi ini kenyataan takdirku juga
Lamunanku terhempas saat aku berlari
Menuju ujung senja sangat ketakutan
Masih adakah harapanku
Masih adakah kesempatan
Untuk meraih rembulan
Akan tetap ku pertahankan
Di jalan-Mu ya Tuhan
Tantangan berat telah Kau berikan
Membuat aku goyah akan hidup
Kembali kusadari diriku
Terasa ada yang tak sempurna
Bukan ku sesali keadaan namun kenyataan
Lamunanku terhempas saat aku berlari
Menuju ujung senja sangat ketakutan
Masih adakah harapanku
Masih adakah kesempatan
Untuk meraih rembulan
🎶
Ah, mengapa syairnya terlalu menyayat hati.Tapi...biarkan saja. Ini lagunya, liriknya, dan mungkin hanya dia yang akan menyanyikannya.
Dengan diiringi petikan gitar, ia melantun sekali lagi lirik yang baru saja ia ciptakan. Hingga Ia tak mendengar suara pintu diketuk berulangkali.
“Yordan, ”panggil Yohana dengan kesal.
Ia segera menghentikan permainan gitarnya dan tersenyum
“Nenek panggil beberapa kali nggak datang-datang. Tak tahunya, Kamu malah asyik main gitar. Aku sudah masakan kamu, lho.”
“Nah, ini yang aku tunggu. Aku sudah rindu dengan masakan nenek."
Yordan melangkah lebih dulu meninggalkan Yohana. Yohana terbengong-bengong memandangnya.
Manakala melihat hidangan yang ada di atas meja makan, ia tersenyum senang. Ada ayam dan tempe goreng, makanan favoritnya saat kecil dulu, serta lalapan mentimun dan daun kemangi. Sangat menggugah selera.
Tanpa menunggu lagi, ia segera membuka piringnya dan menyeduh nasi yang uapnya masih mengepul. Hingga lupa pada Yohana, orang yang sudah susah payah membuat hidangan untuk dirinya.
"Eh, Nenek." ucap Yordan ketika menyadari Yohana telah berdiri di hadapannya. Ia pun tersenyum lebar dan segera menghentikan suapan nasi yang akan ditelannya.
"Sudah. Nikmati saja. Nenek malah senang kalau semua ini bisa habis."
Yohana segera membuka piring dan juga menyiapkan makanan untuk dirinya sendiri.
"Bagaimana Amara?"
"Beres. Sudah aku antar sampai rumah. Masak aku tega mau menurunkannya di jalan," kelakar Yordan.
"Syukurlah kalau begitu."
"Oh ya. Tadi Keysa kemari. Tampaknya dia kesel banget." kata Yohana.
Ups... Wah gawat ini. Ia telah berjanji akan ....
aku dah sabar menunggumu ❤️
jangan bosan untuk baca karyaku. ♥️