Hidup tanpa orangtua memang sulit. Adea adalah gadis yatim piatum yang di tinggal mati oleh kedua orang tuanya. Hingga membuat Dea menjadi hidup bebas.
Suatu hari, paman dan bibinya datang ke kota untuk menjemput Dea. Mereka mengajak Dea tinggal bersama.
Dea terpaksa tinggal bersama paman dan bibinya. Yang ada di lingkungan pesantren. Gaya hidup Dea sangatlah bertentangan dengan masyarakat sekitar.
Walau demikian, Dea di lamar oleh seorang ustadz. Yang mencintai Dea.
Bagaimana perilaku Dea setelah menikah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RA_TMYHU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mandi Wajib
بسم الله الرحمن الرحيم
▪︎▪︎▪︎
Ustadz Azmi melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam kamar mandi. Setelah membersihkan diri ia kembali menghampiri sang istri yang sedang memangku laptop.
“Udah aku hapus mas,” Dea mengalihkan pandangannya menatap ustadz Azmi.
Ustadz Azmi mengangguk, “Dek jangan ulangin lagi ya sayang. Apa Adek sering nonton film begituan?”
“Iya, aku gak akan mengulanginya lagi. Maaf, sebelum menikah itu film favorite aku dan juga Ulma.” Dea tersenyum malu.
Ustadz Azmi menggeleng kepala, ternyata ke nakalan istrinya semalam karena sudah biasa dengan menonton film dewasa.
“Sekarang Adek sudah punya suami, apa yang Adek suka tinggal praktekin aja sama mas. Gak perlu melihat di film kegituan, Adek tau kan dosa?”
“Iya aku tau,” ketus Dea.
“Udah malam ayo tidur.” Ustadz Azmi merebahkan tubuhnya.
Dea pun ikut merebahkan tubuhnya di dekat sang suami. Lalu ia melingkarkan tangan di leher suaminya. Ustadz Azmi hanya diam, karena sudah dua malam ini Dea selalu seperti itu. Maka ustadz Azmi pikir itu sudah kebiasaan Dea.
Sebelum menjelang solat subuh, ustadz Azmi terlebih dulu bangun. Ia membersihkan tubuhnya, usai membersihkan diri ia membangunkan sang istri yang lagi nyenyak di balik selimut.
“Dek? Ayo bangun.”
“Dek mandi dulu, kita mau solat bareng.”
Dea menggeliat, lalu membuka lebar ke dua matanya. Ia tak pernah mandi sepagi ini sebelumnya.
“Apa kamu gila? Ntar aku kedinginan gimana?” tanya Dea penuh emosi.
“Mas udah siapin air hangat, gak akan kedinginan sayang.” Jawab ustadz Azmi dengan sangat lembut.
Dea membuang napas kasar, percuma saja marah. Sama sekali tak berguna. Ia turun dari ranjang menuju kamar mandi, tiba di dalam kamar mandi Dea membalikan badan. Ia melihat ustadz Azmi berdiri di depan pintu.
“Aku mau mandi, kenapa kamu malah di sini? Apa jangan-jangan kamu mau ngintip?”
“Astagfirullah Dek, dosa menuduh orang seperti itu.” Ustadz Azmi menghampiri Dea.
“Tapi ini fakta, kamu malah mendekat.”
“Mas mau bantuin Adek, karena Adek harus mandi wajib.”
“Gak mau ahh, aku bisa mandi sendiri. Dan gak perlu juga mandi wajib, aku gak habis datang bulan.” Tolak Dea.
“Kita mau solat subuh Dek, harus mandi wajib dulu. Kita semalam melakukan hubungan suami istri, jadi harus mandi wajib. Mandi wajib itu bukan hanya orang yang habis datang bulan saja.”
“Udah buruan, malah ceramah lagi.” Gerutu Dea kesal.
▪︎▪︎▪︎
Setelah solat subuh, ustadz Azmi mengajak Dea belajar membaca Al-Qur'an. Karena Dea belum tau sama sekali maka yang terlebih dulu di lakukan ustadz Azmi, yaitu mengajarkan Dea membaca huruf hijaiyah.
Dea yang awalnya malas dan tidak peduli, lama kelamaan ia mulai memahami satu persatu huruf hijaiyah. Bahkan ia sudah bisa menghafal semua huruf.
“Alhamdulillah, Adek sudah bisa.” Ustadz Azmi tersenyum senang. Walau istrinya bandel tapi cepat mengerti dan terbilang pintar.
Dea membalas senyuman sang suami, lalu ia berpamitan ke dapur untuk membuat sarapan pagi. Sedangkan ustadz Azmi segera bersiap-siap, karena hari ia akan mengajar di pasantren.
“Mas ...” Teriak Dea.
Ustadz Azmi yang ada di lantai dua, langsung menuruni tangga. Ia khawatir dengan istrinya, takutnya terjadi apa-apa. Terlebih lagi Dea berteriak memanggil namanya.
“Kenapa Dek?” tanya ustadz Azmi, dengan begitu khawatir.
“Sarapannya udah siap, ayo!” Seru Dea, menggandeng tangan suaminya.
Ustadz Azmi menghembuskan napas kasar. Ternyata hanya mengajaknya sarapan.
▪︎▪︎▪︎
Rumah ustadz Azmi bersama istrinya!!Sederhana namun indah.