"Boleh saya bicara?" tanya Monika sambil mengangkat tangannya. Kedua laki-laki itu menoleh.
"Apa?" tanya dua pria beda warna mata itu.
Monika nyengir sebelum bicara."Apa tidak ada yang bertanya pendapat saya gitu, yang mau nikah kontrak itu saya lho. Bisa bicara lho, masih idup seger buger di sini."
"Yang bilang kamu mayat hidup siapa?" tanya Yoonji balik.
"Kamu tidak ada hak bicara, mau atau tidak kamu akan menerima pernikahan kontrak ini selama satu tahun, gaji kamu tiap bulan 10 juta dengan kompensasi 1 milyar jika kontrak berakhir, paham!"
Monika tak dapat lagi berkata-kata, angka-angka itu berlari dengan riang mengelilingi kepala. Yoonji tersenyum miring, melihat ekspresi gadis itu yang terkejut sekaligus bahagia. "Semua wanita sama saja, kalau dengar uang langsung ijo."
Melamar sebagai OB malah jadi sekertaris, di paksa nikah pula sama yang punya perusahaan.Begitulah mujur Monika Anggraeni, mujur apa buntung kita simak. kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Butik
"Puas?" Tanya Yoonji sambil melihat Monika tertawa.
"Hem, lumayan terima kasih sudah menepati janji Anda Tuan, " ujar Monika sambil menyeka setitik air di ujung mata, dia tertawa sampai perutnya sakit dan mengeluarkan air mata.
Selain Elsa, dua satpam yang menyeret dia keluar dengan paksa juga diberi peringatan oleh Yoonji. Pria berkulit seputih kapas itu menyodorkan selembar kertas pada Monika yang duduk di sofa dalam ruangan Yoonji.
"Tanda tangani itu," titah Yoonji.
Monika mengangguk, tetapi dia tidak langsung menandatangani kontrak itu. Gadis yang baru saja puas balas dendam itu membacanya dengan seksama. Isi kontrak itu sama seperti kemarin hanya di tambah poin yang Monika ajukan kemarin, Mata Monika menyipit saat melihat point paling bawah kontrak.
"Pihak kedua akan melakukan apapun untuk membuat Pihak pertama senang, dan tidak akan selingkuh atau dekat dengan laki-laki!"
"Ini apa maksudnya, tidak boleh dekat dengan laki-laki, apa harus jaga jarak gitu? Gimana kalau di bis yang penuh penumpang kan nggak bisa tuh jaga jarak, oh kalau naik ojek juga masak aku naik bemper? Terus-terus kalau ke dokter dan dokternya cowok gimana? Kan nggak bisa nggak pegang-pegang, kalau sama yang lebih tua kan harus salim kan biar sopan, kan harus deket biar bisa saling, ter-"
"Diam!" Sentak Yoonji seraya membekap mulut Monika yang tidak berhenti bicara seperti rel kereta api.
"Aku tidak perduli kau mau deket sama tukang ojek, tukang parkir atau tukang gali kubur yang penting jangan di depanku!" Monika menagngguk dengan cepat, dia tidak mau kehabisan nafas meski tangan Yoonji wangi.
Yoonji pun mengelepaskan tangan yang membekap mulut Monika, megambil selembar tisue basa untuk membersihkan noda lipstik yang menempel di telapak tanganya. Monika mencebik kesal, Yoonji melihat Yoonji mengusap tangan dengan kasar, seolah baru saja memegang sesuatu yang sangat kotor. Mau marah tapi Monika mnahanya dia sedang tidak inging bertengkar dengn Tuan Min, lagipula Tuan antartika itu sudah sangat baik membiarkannya membalas Elsa dan dua satpam itu.
"Tuan, kenapa Anda ingin menikah dengan saya?" tanya Monika pada Yoonji yang sedang sibuk dengan laptopnya.
Monika merasa bosan karena harus duduk di sofa yang ada di ruagan Yoonji. Nyaman memang, tapi sepi. hanya suara ketikan keyboard dan desiran angin dari pendingin ruangan yang terdengar lirih.
"Karena kamu bodoh," jawan Yoonji tanpa menoleh.
"belum juga nikah udah di katain bodoh, apa nggak kebalik tuh. Tuan Min Yoonji yang kaya raya, tampan dan rupawan mau nikah sama saya, saya dibayar lagi buat nikah ama Tuan," cibir Monika, gadis itu menatap Yoonji dengan bertopang dagu sambil mengayunkan kakinya.
"Ssttt!" Yoonji meletakkaan ujung telunjuknya di bibir , tanda dia tak ingin mendengarkan Monika.
Mungkin apa yang dikatakan Monika benar, tetapi gadis itu tidak tahu ada sesuatu yang lebih mengerikan andai Yoonji tidak menikahi Monika. Lebih baik kehilangan sedikit uang uantuk membayar Monika daripada harus mengikuti kemauan ayahnya.
Monika mencebik kesal, kebosanan semakin melanda gadis itu lahir dan batin. Mau main ponsel, ponsel bututnya jatuh di kamar mandi dan sekarang mati total, perlahan tapi pasti mata lentik Monika bertabrakan pelan dan saling merapatkan diri membawanya ke pulau kapuk.
"Hey bangun!" perlahan Monika membuka mata saat merasakan tubuhnya terguncang, ternyata kaki Yoonji sedang menendng pelan kakinya.
"Emh ... sudah siang kah?" gumam monika dengan suara serak khas bangun tidur.
"Ya, cepat cuci muka, waktumu ltiga menit dari sekarang."
"Hem ...apa?" Monika masih menggaruk rambutya yang sedikit berantakan. Nyawanya masih belum sepenuhnya terkumpul.
"Sepuluh ... sembilan .. delapan ...."
Sadar Yoonji sedang menghitung waktu, Monika bergegas berdiri. Dia melangkah cepat menuju kamar mandi yang ada di dalam ruangan Yoonji, Monika tahu karena kemarin Yoonji juga menyuruh dia membersihkan kamar mandi itu.
Dengan gerakan kilat Monika menghapus bekas singai yang menganak dari sudut bibirnya. Meski dia cantik, Monika tetap bisa ileran, namanya juga manusia, manusiawi bukan.
"Dua .."
"Sudah ... sudah...!" Teriak Monika sambil berlari kearah Yoonji yang berdiri di depan pintu.
"Satu," ucap Yoonji mengakhiri hitungan waktunya. Dengan tatapan yang tidak bisa di artikan Yoonji mentap Monika dari atas ke bawah kaku ke atas lagi. Alis Monika mengerutkan keningnya.
"Ada yang salah Tuan?" tanya Monika yang sudah risih dengan cara Yoonji menatapnya.
"Iya," jawab Yoonji singkat.
"Apa?"
"Kau." Kerutan di kening Monika semakinmerapat dengan alis yang menyatu, apa? Yoonji bilang dia sebuah kesalahan?
"Apa maksudnya?" tanya Monika sambil mempercepat langkah mengikuti langkat cepat dan lebar Yoonji.
Yoonji tak menjawab, pria itu terus saja berjalan tak perduli Monika bisa mengejarnya atau tidak. Kantor terlihat sepi, mungkin karena sekarang jam makan siang jadi semua sedang memanfatkan waktu untuk makan dan istirahat sejenak.
Saat mereka sampai di luar gedung seorang laki-laki bertubuh kecil berlari menyambut mereka. Ia menunduk kemudia membukakan pinyu untuk Yoonji dn kemudia mempersilahan Monika duduk dari sisi pintu mobil yang lain. Kali ni Yoonji memakai sopir, tidak seperti tadi pagi.
Pria yang memkai seragam khas pengemudi itu menoleh sejenk memastikan kedua penumpangnya telah duduk dengan nyaman, kemudia ia mulai menjalankan mesin.
"Tuan kita mau kemana?" tanya Monika yang tidak tahan dengan keheningan abadi di mobil itu, hais kalau boleh dia mau memutar lagu BTS favoritnya, dia tidak suka jika di minta bersemedi kecuali saat marah.
"Diam dan duduk saja yang benar," jawab Yoonji.
"Dari tadi juga duduk, masa aku gelantungan," gumam Monika, dia tidak tahu bagaimana dia kan menjalani pernikahan dengan patug es antartika itu, untung cuma nikah kontak ada masa kadaluarsanya.
Bosan, Monika mulai mengumamkan lagu "Life goes on milik BTS, meskipun tidah hafal semua liriknya.
"Like an echo in the forest
haluga dol-aogessji
amu ildo eobsdan deus-i
Yeah life goes on .....!
Like an arrow in the blue sky
tto halu deo nal-agaji
On my pillow, on my table
Yeah life goes on
Like this again ....!" Tanpa sadar laagu yaang tadinya bergumam semakin keras Monika senandungkan, terutama saat lirik yang ia hafal. Yoonji yang pura-pura tidur sengaja dia menikamati suara Monika yang tidak terlalu buruk.
"Tuan kita sudah sampai," ujar sang sopir sat Mobil berhenti sepenuhnya di depan sebuah butik mewah.
"Hem,"gumam Yoonji seraya membuka matanya.
Monika pun tersentak dari lamunanaya, ya wanita itu sedari tadi larut dalam dunia halunya. ia menoleh saat meliha Yoonji kan turun dari mobil, belum sempat Monik membuka pintu, sng sopir sudah membukakan pintu untuknya.
"Terima kasih," ujar Monika dengan senyum ramah.
"Sama-sama Nyonya," sahut sopir itu dengan menunduk, Monika sampai heran sopir itu sedari tadi didak amu mengangkat wajahnya saat mereka berhadapan. Apa Monika sejelek itu, tapi dulu emak bilang monika cantik kok. Apa mungkin emaknya bohong?
"Jangan buang waktu, cepat kemari!"Suara Yonji langsung membuat monika bergerak melesat menuju kearahnya.
"Iya Tuan," sahut Monika saat sudah berdiri di depan Yoonji.
Beberpa pegawai langsung menyambut mereka dengan ramah, tentu saja siap yng tidak tahu Tuan Min ini. Pewaris tungga perusahaan Emerlad company.
"Selamat datang Tuan Min, kedatangan Anda kehormatan untuk kami ," ujar Pria paruh baya, yang tak lain adlah meneger butik itu.
"Hem, berikan dia yang terbaik yang klian punya." Yoonji sedikit mendorong tubuh Monika.
"Tentu Tuan tentu, mari nyonya silahkan. saya akan menunjukan koleksi terbaru kami," ajak pria itu.
"I-Iy baik," sahut Monika dengan kikuk, dia sangat canggung di perlakukan seperti ini.
Dan tempat mewah seperti ini bukanlah tempat dia biasa belanja, paling mentok di kan pergi toko pinggir jalan kalau sedang ada diskon itupun saat hari raya saja. Satu persatu gaun indah dengan harga fantastis mereka tunjukan pada Monika, membuat gadis itu kewalahan. Monika menoleh berharap Yoonji akan menyelamatkan dia, tapi laki-laki itu bahkan tidak meliriknya sama sekali, kulkas lima pintu itu sedang mode cs dengan ponselnya.
perjanjian kalian harus dibatalkan