"Aku tidak cacat, mas. Menikah denganmu juga bukan kehendakku." Kemala.
Peristiwa kebakaran yang dialami oleh Kemala akibat menyelamatkan seorang ibu-ibu membuat ia harus menelan pil pahit jika sebagian wajahnya rusak karena luka bakar.
Atas kebaikannya ini lah yang membuat Kemala mau tidak mau harus menikah dengan seorang pria yang tidak ia cintai apa lagi ia kenal. Pria tersebut bernama Devanio, anak laki-laki dari orang yang sudah Kemala tolong. Bagaimana kehidupan rumah tangga Mala dan Deva? Mampu kah Deva menerima kekurangan Mala? Atau justru pernikahan mereka harus berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 08
Seisi perusahan dibuat kaget dengan Deva yang bekerja sebagai cleaning servis. Masa bodoh, Deva sama sekali tidak peduli dengan gunjingan orang. Pria ini hanya bekerja di lantai lima, ruangan kakaknya sendiri.
Bukannya kerja, Deva justru duduk santai di ruangan David. Bahkan pria ini meminum kopi David sampai habis. Melihat kelakuan adiknya, David hanya bisa bergeleng kepala.
"Beri uang tips kepada hamba yang mulia." Pinta Deva sambil mengulurkan tangannya seperti anak kecil.
"Berhenti bersikap seperti anak kecil, lanjut kerja sana!" Usir David.
"Mas, ayolah. jangan seperti itu."
"Uangmu masih banyak, mustahil sudah habis...!"
"Ada, aku simpan. Lagian, aku tidak pernah makan di luar selama beberapa hari ini. Aku makan masakan Mala." Ujarnya memberitahu.
"Beri dia uang, kau pikir beli bahan masakan menggunakan daun?"
"Sampai kapan mama menghukumku?"
"Sampai kau berubah dan bisa menghargai uang dan orang lain. Sampai kau sadar jika yang kau padang buruk belum kotor." Jawab David seketika membuat Deva merasa kesal.
Pria ini keluar dari ruangan David, ia lebih memilih pergi ke atap. Deva membawa sebotol minuman kaleng, pria ini duduk di sana sambil menikmati pemandangan kota yang cukup padat.
"Sekolah tinggi-tinggi malah jadi babu di perusahaan sendiri." Ucap Deva yang menertawakan dirinya sendiri.
Pria ini tiba-tiba teringat pada Melia, hatinya terasa sangat sedih sekali karena pada kenyataannya Deva baru mengetahui kelakuan buruk Melia dibelakang dirinya.
Deva meremas kaleng minumannya kemudian membantingnya untuk membuang perasaan patah hatinya.
Duduk sampai sore, bahkan pria ini pulang lebih awal dari pada karyawan yang lain. David dan bu Resti hanya bisa bergeleng kepala melihat kelakuan Deva.
"Sedang merenung lah itu, seharian berada di atap." Ucap Bu Resti.
"Biarin aja, kalau pun dia sadar, sudah pasti akan melakukan pekerjaannya dengan baik." Jawab David.
Ibu dan anak ini pun memutuskan untuk pulang. sedangkan Deva yang baru saja sampai di kontrakan, Deva yang merasa tidak ada apa-apa memutuskan untuk pergi lagi.
Satu jam kemudian Deva pulang bersamaan dengan Mala yang baru pulang kerja. Mala merasa heran dengan barang yang dibawa oleh suaminya ini.
"Ngelihatin aja, bantuin dong!"
Buru-buru Mala membantu Deva menurunkan barang-barang tersebut dari atas motor lalu mereka masukan ke dalam motor.
"Mas beli kulkas punya uang dari mana?" Tanya Mala tampak heran.
"Aku tidak miskin seperti yang kau pikirkan." Jawab Deva. Pria ini juga membeli satu buah kipas angin yang lain ia bawa masuk ke dalam kamar.
Mala tidak peduli, gadis ini mengambil handuknya hendak mandi.
"Mala, Kemala, Kemangi." Panggil Deva.
"Iya, mas. Ada apa?''
Deva memberikan sejumlah uang kepada Mala.
"Beli makanan yang enak, camilan dan minuman. Pergi sana!"
"Bisa nggak nyuruh itu baik-baik? Aku ini manusia, bukan hewan!"
"Banyak omong. Cepat pergi sana!"
"Aku mau mandi dulu...!!"
Mala tidak menghiraukan Deva, gadis ini menyimpan uang pemberian Deva setelah itu masuk ke dalam kamar mandi.
Mala tidak bisa mandi dengan tenang karena Deva terus memanggil namanya. Tidak sampai lima belas menit, Mala pun akhirnya keluar. Gadis ini sudah berpakaian dan menggunakan masker.
"Itu masker sebenarnya ganti apa nggak sih?" Protes Deva.
"Ganti kok, aku tidak sebodoh itu." Jawab Mala.
Tidak menghiraukan Deva, gadis ini pun bergegas pergi ke minimarket terdekat untuk membeli apa yang diminta oleh Deva. Sedangkan Deva yang penasaran apakah Mala mengganti masker atau tidak, ia membongkar kotak yang berisi barang-barang milik Mala.
"Wah, dia memiliki banyak stok." Ucap Deva yang baru percaya.
Tapi, tiba-tiba saja pria ini tertarik pada buku harian yang berada di paling dasar kotak tersebut. Merasa penasaran, Deva langsung mengambil.
"Kemala Anjani. Kampungan banget!"
Sungguh, mulut pria ini minta dihajar.
Tanpa sepengetahuan pemilik buku, Deva membukanya. Di halaman pertama ia hanya melihat beberapa lembar foto anak-anak panti asuhan. Tentu saja hal ini membuat Deva semakin penasaran.
......................
Aku bahkan tidak tahu bagaimana rasanya diberi kasih sayang.
......................
Deva tertegun saat membaca lembar kedua dari buku tersebut.
......................
Seperti apa rasanya hangat sebuah keluarga? Hehe, aku belum pernah merasakannya.
......................
Deva semakin tertegun saat ia membaca lembar ketiga. Merasa waktunya mepet, Deva menyimpan kembali bulu Mala. Meskipun ia penasaran, tapi Deva akan membacanya besok saat Mala bekerja.
"Mala anak panti asuhan kah? Ah, masa iya dia tidak punya keluarga?"
Deva pun mulai penasaran pada gadis yang telah ia nikahi ini. Meskipun Deva belum pernah melihat wajah asli Mala, tapi pria ini tetap saja penasaran.
Setengah jam kemudian, Mala pun pulang dengan membawa banyak barang belanjaan. Deva hanya memperhatikan istrinya menyusun belanjaan ke dalam kulkas.
"Ini sisanya, mas." Ujar Mala seraya memberikan sisa uang belanjaan.
Deva hanya memandang, bukannya mengambil, pria ini justru memberi tambahan uang lagi kepada Mala.
"Heh, ambil cepat!"
Mala melirik, gadis ini merasa aneh dengan perubahan sikap Deva yang sangat cepat sekali berubah.
"Lama sekali...!!" Seru Deva langsung meletakan uang tersebut ke atas kulkas lalu masuk ke dalam kamar.
Masa bodoh, Mala pun mengambil uang tersebut. Meskipun ia memiliki gaji sendiri dan setiap bulan bu Resti selalu menjatah sejumlah uang, tapi Mala hanya diam saja sesuai permintaan dari ibu mertuanya.
Di tempat yang berbeda, saat ini Melia merasa sangat kesulitan untuk mendapatkan uang. Sifat yang malas bekerja tapi ingin hidup seperti sosialita padahal ia sendiri berasal dari kalangan kurang mampu. Ayahnya pengangguran dan suka bermain judi, sedangkan ibunya seorang butuh cuci yang selalu kekurangan uang untuk biaya adik Melia yang masih sekolah.
Biasanya Deva yang akan membantu Melia, tentu saja dengan segudang alasan untuk mendapatkan uang dari Deva. Bahkan pernah pernah beberapa kali ibunya Melia datang menemui Deva untuk meminta uang secara langsung.
"Sial...!" Umpat Melia yang merasa kesal karena wanita ini bisa merasakan hidupnya sulit tanpa Deva. "Uangku menipis, job tidak ada. Kalau seperti ini caranya, bisa-bisa aku hidup miskin."
Seolah tak sadar diri dari mana ia berasal? Melia menghalalkan segala cara agar gaya hidupnya bisa bersaing dengan orang kaya pada umumnya meskipun ia harus menjual tubuhnya.
Melia pun bersiap-siap untuk pergi ke clubs malam karena di tempat itulah ia bisa menemukan orang yang mau membayar dirinya seharga yang ia tentukan sendiri. Ada pun Frans yang selalu menjadi teman tidurnya sama sekali tidak pernah memberi Melia uang kerena apa yang mereka lakukan semata-mata hanya untuk saling memuaskan.