Demi mendapatkan mu, aku rela mengubah jenis kelaminku.
Ya, cinta ini gila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chaesal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sensitif
Hu... Hu..Hu...
Flo ternyata sangat tersentuh mendengar ceritaku. Cerita masa remajaku bersama sahabatku yang sangat baik yang bernama Ali, yang kini kami sudah lama sekali tidak bertemu.
" Hei sayang, kamu kenapa menangis? Apa ceritaku semengharu biru gitu, sehingga kamu menangis." ujarku lembut mengusap-usap lengannya. Ia sedang pasrah bersandar di bahuku. ku kecup sesekali puncak kepalanya dengan penuh cinta. Aku ingin menenangkan dirinya. Sepertinya dia sangat sensitif saat ini.
Ia menatapku dengan mata sendunya "Aku hanya terharu, aku merasa senang sekali, kamu punya sahabat yang sangat menyayangimu. Ingin rasanya punya sahabat seperti itu tapi tak ada yang menyayangiku. Aku hanya hidup Sebatang Kara di dunia ini."
Hiksss...
Hikkss....
Flo semakin terlihat bersedih. Air matanya tak henti hentinya bercucuran membasahi pipinya yang putih. Bahkan hidungnya sudah mengeluarkan cairan dan memerah, karena menangis. Aku jadi merasa bersalah menceritakan kisah persahabatanku kepada Flo.
Ku meraih kedua bahunya, sehingga kini bisa ku lihat dengan jelas, wajah murungnya. kuseka air matanya dengan jemariku yang sudah menganak sungai di pipi putihnya.
"Nanti setelah sampai di kampung akan ku kenalkan kamu pada keluarganya Ali. Aku akan minta nomor hp nya Ali pada keluarganya dan kita akan melakukan panggilan video call, biar kamu bisa kenal dengan sahabat-sahabatku yang begitu baik padaku."
Flo menjauhkan tubuhnya dariku, ia terlihat terkejut mendengar ucapanku. " kok ditelepon, memangnya sahabatmu Ali itu, ada di mana sayang?" Flo bicara, tak berani menatapku. Ia yang memunggungiku, terlihat mengusap air matanya sendiri.
Ku raih ia kembali ke dalam pelukanku. " tak usah kita bahas lagi mengenai Ali. Kita ke sini mau happy-happy mau mencetak anak." Ujarku dengan menahan senyum.
"Iihh... Flo memukul manja dadaku. Aku dibuat semakin gemes dengan tingkahnya. Ku tangkap tangan nakalnya dengan lembut. Dan mata ini tak berkedip menatapnya yang kini terlihat salah tingkah.
" Apaan sih? jangan menatapku seperti itu?" ujarnya tersipu malu.
Aku tak menanggapi ocehan mesranya. Tingkahnya yang menggodaku, membuatku tak sabar untuk melum at habis, bibirnya yang berwarna cery menggoda itu. Ternyata tak hanya aku yang lagi bergairah. Flo juga, bahkan ia lebih terlihat tak sabaran membalas luma tan bibir yang tercipta.
Flo bukan jenis wanita yang fasip. Tangannya lebih lincah merayap di seluruh Tubuhku. Dan tangan mulus dan nakal itu, akan berhenti di persimpangan tiga, tepat di selan gkanganku. Kalau ia sudah memainkan milikku itu. Aku akan menggila, karena ingin lebih.
Kubaringkan tubuh langsingnya Flo di atas ranjang, dengan tatapan mata penuh dengan gairah yang membuncah. Ia lepas satu persatu kancing kemeja yang membalut Tubuhku. Aku tak tinggal diam tangan nakal ini pun mulai meremas gundukan kembarnya yang padat dan sangat mentok itu. Miliknya itu sepertinya dibentuk sedemikian rupa. Sekilas tubuhnya Flo, sangat sempurna. Tapi, bagian intinya menurutku sedikit berbeda.
Aaahhkkk..
Mungkin bagian inti setiap wanita mempunyai sedikit perbedaan. Aku harus memaklumi itu. Flo juga sudah menyadari kelemahannya dan itu tak perlu kupermasalahkan yang penting ada lubang untuk memasukkan batangan ini
Hahahahhaha..
Aku merasa lucu dengan pemikiranku. Kenapa aku sampai mikirnya kesitu sih?
Aku tak mau memikirkan itu lagi. Aku kini fokus ingin memberikan kenikmatan pada Flo.. Ku mulai menggoyangkan panggulku di atas tubuhnya. Menggagahinya dengan bira hi yang membuncah. Awalnya ia terlihat menikmati tapi lama-kelamaan ia terlihat kesakitan ini ketiga kalinya kami bermain setelah menikah. Terbilang jarang untuk pengantin baru m, karena biasanya seminggu setelah menikah kegiatan seperti ini hampir setiap jam dilakukan untuk pasangan pengantin baru, tapi kami baru tiga kali melakukannya.
Hal itu disebabkan oleh ia yang mengeluh kesakitan saat pertama kali kami melakukan hubungan intim. Dan kini ia juga mengeluh kesakitan. Aku jadi merasa tak nyaman melakukan hubungan intim dengan Flo. Ku cabut milikku yang masih tegang itu. Menggulingkan badan di sebelahnya. kutatap langit-langit kamar dengan frustasinya, kalau tak mengingat aku mencintainya, aku tak akan mempedulikan dia yang merasakan kesakitan.