Sebelum lanjut membaca di sarankan membaca (Terjebak pernikahan dingin) kali ini menceritakan pasal pernikahan kedua yang mangakibatkan banyaknya prahara dalam rumah tangga Raditya bersama kedua istri. Memiliki dua wanita sekaligus tidak lantas membuat Raditya bahagia, justru akan membuatnya terjerat benang mereh. Dan bagaimana proses yang harus di lewati Liona selaku istri pertama? lalu sikap apa yang akan Zahra perlihatkan sebagai istri kedua Raditya? ikuti terus kelanjutkan kisah mereka, jangan sampai lupa like and tanda hatinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Nur Hastaman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentang Rasa
Sore hari Liona baru saja pulang mengajar, kebetulan di jalan bertemu seorang ibu ibu tengah membawa kantong palatik hitam dan satu lagi membawa tabung gas. Ia berusaha menawarkan tumpangan kepadanya tapi justru di tolak secara tidak sopan. Orang itu malah mengatai Liona dengan kata kata kurang baik. Liona terkejut bagaimana bisa ada orang menawari tumpangan tapi malah di sangka cari muka, padahal niatnya tulus tanpa pamrih.
"Kenapa ibu tadi berkata sepeeti itu, apa salahku?" Sepanjang jalan pukang ia selalu kepikiran salab apa yang di perbuat sampai orang tadi mengatainya dengan kalimat kasar.
Sesampainya depan rumah, ia melihat Zahra duduk bersama beberapa orang di teras rumah. Sepertinya mereka sedang makan rujak. Liona segera turun dari motor lalu menyapa mereka dengan mengangguk kepala sambil tersenyum.
"Sok senyum padahal hatinya busuk" Lirih salah seorang tetangga. Banyak orang kemakan hasutan Zahra sampai mereka tidak mencari kebenarannya terlebih dahulu. Begitulah manusia, mereka akan lebih percaya dengan apa yang mereka dsngar dari pada mencari bukti sendiri.
Liona ikut duduk bersama mereka "Tumben ibu ibu di sini lagi pada ngapain?" tanya Liona.
"Emang kenapa? Nggak boleh? Udah berasa rumah sendiri?" Sinis Zahra sembari memutar bola mata seolah jengah.
Liona tidak habis pikir bagaimana bisa Zahra punya pikiran seburuk itu padanya, padahal selama ini Liona tidak pernah menaykiti hatinya, bahkan untuk menjawab sindiran Zahra sekalipun ia tidak pernah.
"Ya udah yuk ibu ibu kita pulang. Tuan rumah nggak suka kita main di sini" Mereka semua langsung bubur seperti serangka kepanasan.
Zahra bangkit lalu memaki Liona "Gara gara kamu mereka pada pulang, dasar pengacau"
Ucapan Zahra kali ini membuat hati Liona memanas "Cukup. Sudah cukup kamu melimpahkan semua kesalahan padaku, bagaiman abis kamu menyalahkan aku padahal aku tidak tau apa apa"
Zahra menaikkan nada bicara "Jelas kamu salah. Ucapan kamu tadi membuat mereka tersinggung tau nggak?"
Kalau bukan berhadapan dengan wanita hamil pasti Liona akan membela diri, melihat kondisi wanita hamil yang kadang kala mood naik turun, ia memakluminya "Ya sudahlah terserah mau kamu berpikir seperti apapun tentang aku,itu hakmu. Yang jelas aku tidak pernah berpikiran buruk tentang kamu" Liona tak mau ambil pusing, segera ia masuk dalam rumah.
Tatapan sinis Zahra tak lepas dari diri Liona (Kamu lihat saja apa yang akan aku lakukan setelah ini) Niat jahat selalu terpikir oleh orang jahat pula.
Menghempaskan badan di atas ranjang "Kenapa hari ini ibu ibu itu sepertinya kesal sama aku, memang apa salahku?" Mencari cari kesalahan yang tidak pernah di lakukan, sampai terlintas pikiran buruk tentang Zahra "Astagfirullah....aku tidak boleh berburuk sangka"
Ting....
Sebuah pesan singkat masuk "Mas Raditya...." Sigap Liona membaca pesan singakt dari suaminya itu. Raditya memberitahu jika ia akan pulang malam nanti, dan ia bertanya adakah sesuatu yang Liona mau biar sekalian di bawakan.
Senyum Liona mengembang "Serius ini mas Raditya? Apa mungkin mas Raditya mulai...." belum sempat membalas pesan sang suami, nada pesan kembali terdengar.
"Oh....ternyata salah kirim" Merasa kecewa sebab Raditya bilang jika pesan tersebut di tujukan kepada Zahra selaku istri kedua. Hati yang tadinya berbunga seolah melayu seketika "Mungkin aku saja yang terlalu berharap" Meletakkan kembali telepon genggamnya lalu kemudian bangkit menuju kamar mandi.
"Aduh kok jadi canggung gini sih? Padahal dia juga istriku, tapi kenapa malah aku.....argghhhhh" Sebenarnya pesan memang di tujukan kapada Liona, tapi entah kenapa Raditya bilang jika pesan itu bukan untuknya melainkan untuk Zahra "Dasar bodoh...." Perasana Raditya tengah di hadapkan oleh situasi membingungkan.
Seseorang menepuk pundak Raditya "Kenapa bro, mukanya kaya kurang piknik gitu" tanya rekan kerja Raditya.
"Nggak tau kenapa setelah menikah lagi pikiran gue terus tertuju sama bini tua gue, bro" Ujar Raditya berterus terang. Rekan kerjanya saat ini adalah sahabat lamanya juga, jadi dia berbagi suka duka dengan rekan kerja.
Menahan tawa saking geli mendengar ucapan Raditya "Nah kan sekarang kamu baru sadar kalau yang pertama tak akan pernah bisa tergantikan. Itu yang di namakan cinta sejati" Tuturnya sembadi duduk samping Raditya "Lagian lo aneh bro kita aja baru ounya bini satu eh nggak taunya yang nikah belakangan udah punya bini dua"
"Apaan sih, bro. Nggak lucu tau. Tapi masa sih iya gue jatuh cinta sama dia?" Raditya masih belum tau pasti perasaan yang di miliki untuk Liona itu seperti apa. Apa parasaan Raditya hanya karena malam itu, atau memang semua karena cinta. Entahlah, ia belum bisa menyimpulkan.
Dari tatapan mata Raditya temannya tau jika dia tengah jatuh cinta dengan istri pertamnya, hanya saja Raditya gengsi mengakuinya "Dari pada lo galau kaya gini mending coba deh tanya sama diri lo sendiri apa bener kalau lo itu cibta samadia atau hanya sekedar opsesi malam saja.....hahaha" Sengaja ia menggoda Raditya setelah mengingat tanda merah di leher Raditya beberapa waktu lalu.
Wajah Raditya memerah "Apa sih ngawur kalo bicara" Menepis kenyataan bahwa memang malam itu telah membuatnya teringat selalu wajah Liona.
Seketika wajah teman Raditya berubah menjadi serius "Eh kalau boleh tau cinta li itu full ke siapa sih?"
"Jelas buat bini kedua gue dong, dia itu ngandung anak gue"
"Terus bini tua lo gimana? Apa lo nggak naruh hati padanya?"
Pertanyaan itu belum bisa ia jawab sebelum yakin atas perasaan itu "sudah ah gue mau beres beres sebentar lagi mau otw pulang" Bangkit dan lalu membereskan meja kerja.
Sang teman hanya bisa menatap sembari bergumam (Gue tau Dit kalau cinta lo mulai bersemi buat bini tua lo)
sekarang wanita tangguh2 sentil buang😏