"Gak bisa begini. Pokoknya, bagaimana pun caranya, aku harus dapetin perempuan ini dan jadiin dia istriku. Harus!" gumam Ryu dalam hati penuh tekad.
***
"What's!? Kenapa sih ni Dosen satu maksa banget buat gue mau terima dia buat jadi pacarnya!? Aih.." gerutu Arin dalam hati.
***
Lalu, sebenarnya apa sih yang sudah terjadi pada mereka?
Kita coba baca yuk..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Friska Nanda Raisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arin terjebak
Malam harinya, tepatnya pukul 8 malam. Arin yang akhirnya telah menyelesaikan semua pekerjaannya ini pun langsung membersihkan tubuhnya dan kemudian merebahkan dirinya di atas tempat.
“Aaaaaaaaaa.. hari yang cukup terasa panjang jika dibandingkan dengan hari sebelumnya,” gumam Arin yang kemudian entah mengapa tiba-tiba saja memejamkan matanya.
Hingga saat jam 11 malam, tiba-tiba saja Arin terbangun dengan tubuh yang terasa sangat tidak nyaman sekali.
Dia pun terduduk dan kemudian memegangi kepalanya sambil bergumam, “Kenapa rasanya sama seperti waktu itu?”
Arin pun segera melangkahkan kakinya ke luar dari kamar dengan tujuan mencari segelas air.
Namun entah mengapa, langkah Arin tidak bisa dia kendalikan. Dia bukannya jalan ke arah dapur, melainkan melangkahkan kakinya ke sebuah kamar dan kemudian...
'Bruk'
Ryu yang saat itu belum tidur dan masih mengerjakan pekerjaan kampusnya ini pun tiba-tiba terkejut dengan bunyi gaduh yang berasal dari luar kamarnya.
Karena penasaran, dia pun berjalan ke arah pintu dan kemudian membuka pintu kamarnya tersebut.
Betapa terkejutnya dia saat melihat Arin sedang bersikap sesuatu yang menunjukkan bahwa dirinya kurang nyaman di atas lantai.
Dengan segera Ryu pun langsung menggendongnya dan memastikan tidak ada satu pun yang melihat.
Di bawanya Arin masuk ke dalam kamarnya dan kemudian direbahkannya di atas tempat tidur.
“Arin! Rin, Arin! Sadar sayang,” ucap Ryu sambil menepuk-nepuk pelan pipi kiri Arin.
Arin pun membuka matanya dan dalam keadaan setengah sadar, Arin pun berkata, “Ba—Bapak, kenapa Bapak bisa ada di Rumah Tuan? Emangnya ini di mana? Aaaaaaaa..”
Arin pun menggulung-gulungkan tubuhnya ke sana kemari sehingga membuat Ryu kebingungan.
“Haisss, Rin. Kamu ini kenapa? Ini di tempatku, Rin. Sadar sayang,” ucap Ryu khawatir sambil menahan tubuh Arin agar berhenti bergulung-gulung lalu kemudian langsung terpikirkan untuk mengambil segelas air dan diciprat-cipratkan ke arah muka Arin.
Namun kondisi Arin tidak juga jauh lebih baik. Dia masih mengerang-erang seolah dia benar-benar sedang merasakan sesuatu yang gak nyaman di tubuhnya.
“Rin, kamu ini kenapa? Apanya yang sakit, Rin?” tanya Ryu.
“P—Pak, panas Pak. Benar-benar gak nyaman,” ucap Arin yang kemudian ingin melepaskannya pakaiannya.
Ryu yang menghadapi situasi seperti ini pun tiba-tiba teringat akan kejadian beberapa waktu lalu yang kemudian membuat dirinya menghela nafas.
“Rin, kamu ingin melakukan itu?” tanya Ryu.
Dengan nafas yang tersengal-sengal, Arin pun mengangguk.
Melihat respons yang diberikan oleh Arin, Ryu pun berkata, “Baik. Jika emang ini mau mu. Tapi setelah ini, kamu benar-benar tidak akan bisa lepas lagi dariku.”
Ryu pun langsung memastikan pintu sudah terkunci dan kemudian sesuai yang diinginkan oleh Arin, akhirnya mereka pun melakukan hal tersebut.
Keesokan pagi harinya, Ryu yang sengaja bangun terlebih dahulu ini pun langsung pergi mencari tahu sebenarnya apa yang menyebabkan Arin seperti itu semalam.
Sementara itu, Arin yang masih terasa pusing ini pun pelan-pelan mengerjapkan matanya dan kemudian pelan-pelan melihat ke sekeliling.
“I—ini di mana? Perasaan ini bukan kamarku,” ucap Arin yang kemudian hendak bangun dari tempat tidur.
Namun ketika dia hendak duduk, dia merasa ada yang aneh dengan tubuhnya dan kemudian akhirnya dia sadar kalau dirinya sedang tidak memakai selembar pakaian pun. Hanya selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya saat ini.
“I—ini!?” ucap Arin yang benar-benar terkejut.
Dan dalam keadaan terkejut ini, Arin pun berusaha mencoba mengingat kembali apa yang sebenarnya telah terjadi.
Samar teringat dalam ingatannya sesosok pria yang saat itu berkata bahwa setelah melakukan hal itu maka dirinya tidak akan pernah bisa lepas dari pria itu.
Setelah mengingat kejadian itu, Arin pun langsung memukul-mukul kepalanya dan mengatakan kalau dirinya sangat bodoh. Kenapa bisa-bisanya melakukan hal itu dengan laki-laki yang dia tidak kenal.
“Bodoh.. bodoh.. bodoh,...” rutuknya pada dirinya sendiri, “eh, tapi ini kamar siapa?”
Arin pun pelan-pelan turun dari tempat tidur sambil memakai pakaiannya lagi dan kemudian secepat mungkin pergi dari kamar tersebut.
Ketika dia sedang melangkahkan kakinya menuju kamarnya, tiba-tiba saja...
“Udah jam segini kamu habis dari mana, hah!?” bentak seseorang dari arah belakangnya yang tak lain dan tak bukan adalah Bu Weni.
Arin yang mendengar suara itu pun spontan langsung menghentikan langkahnya dan kemudian berbalik.
“Hehehe.. Bu. A—aku tadi dari kamar mandi,” sahut Arin.
“Benarkah!? Kamar mandi atau kamar seseorang di luar sana?” tanya Bu Weni.
Mendengar pertanyaan dari Bu Weni, Arin pun tiba-tiba 'deg’.
“Ma—maksud Ibu apa?” tanya Arin.
“Cih, gak usah berlagak bodoh deh. Aku tahu semalam tubuhmu terasa gak nyaman kan!?” ucap Bu Weni.
“Semalam!? Ibu tahu dari mana?” tanya Arin.
“Hahahahaha.. ya tahu lah. Masa’ kamu masih belum sadar juga!?” ucap Bu Weni.
Mendengar ucapan Bu Weni, tiba-tiba saja Arin teringat akan kejadian semalam sebelum tidur, tepatnya pukul 7 malam.
\=\=Flash back On\=\=
“Rin, ini buat lo dari Bu Weni. Tadi dia buatnya banyak jadinya di bagikan ke semua pembantu yang ada di sini,” ucap salah satu pembantu sambil memberikan segelas capuccino hangat.
\=\=Flash back Off\=\=
“Jangan-jangan capuccino yang semalam itu,” ucap Arin yang tidak dia lanjutkan ucapannya namun tetap diangguki oleh Bu Weni.
Melihat respons Bu Weni, Arin pun berkata, “Tapi kan semuanya juga dapatkan!? Masa’ aku sendirian yang seperti itu.”
“Menurutmu!?” ucap Bu Weni yang akhirnya tertawa lepas.
Arin yang melihat sikap Bu Weni seperti ini pun bertanya, “I—ibu kenapa tega melakukan hal itu padaku? Apa salahku pada Ibu?”
Mendengar ucapan Arin seperti ini, Bu Weni pun sontak menjadi emosi dan kemudian berkata, “Apa salahmu!? Kamu bilang tadi, apa salahmu. Salahmu itu,...”
Tepat di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja terdengar suara seseorang berdehem sehingga membuat Bu Weni pun menghentikan ucapannya lalu kemudian langsung melihat ke arah sumber suara dan terkejut.
Sama halnya dengan Bu Weni. Arin pun langsung sontak melihat ke arah sumber suara dan dia pun juga ikut terkejut.
Dalam hati ke duanya...
“Tu—tuan!?” gumam Bu Weni.
“Ba—bapak Ryu!?” gumam Arin.
Ryu yang melihat ekspresi ke duanya ini pun tahu benar kalau dua orang di hadapannya ini sedang merasa terkejut. Tapi ini sudah tidak bisa di sembunyikan lagi. Baginya, melindungi dan menjaga Arin jauh lebih penting dibandingkan harus berpura-pura menutupi.
“Kalian berdua, ikut aku!” perintah Ryu yang kemudian berjalan terlebih dahulu meninggalkan mereka berdua.
Sementara itu, Bu Weni yang merasa akan terjadi sesuatu ini pun untuk ke sekian kalinya hanya bisa pasrah namun herannya tidak juga jera.
Dan Arin, antara bingung dan juga heran melihat Ryu ada di rumah itu pun akhirnya hanya bisa mengikuti perintah.
Dengan sambil larut dalam pikirannya masing-masing, mereka berdua pun melangkahkan kaki mengikuti langkah Ryu.
Bersambung...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu
Tingkahmu melebihi majikan yang menggajimu.
ap gk ad cctv to dirumahmu ryu biar kamu tau perlakuan weni ke arin tu kek gimana
lanjut
lanjut
lanjut
lanjut