Sejak menjalankan misi dari SKAK, kehidupan Fabian Bara Akalanka mulai membaik. Bahkan, dia bisa membalas dendam kepada mantan kekasihnya—Adara Sandria.
Namun, belum sempat Fabian menuntaskan semua misi, system tersebut mendadak rusak. Lantas, dia dihadapkan pada rahasia besar yang ada di balik SKAK.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gresya Salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendapatkan Vila
Seperti biasa, Fabian pulang pada sore hari. Karena kali ini membawa motor sendiri dan tidak naik angkot seperti hari-hari sebelumnya, maka Fabian hanya membutuhkan waktu yang sebentar untuk tiba di kontrakan.
Usai memarkirkan motornya, Fabian bergegas masuk dan langsung merebahkan tubuh di ranjang.
"Ah, lelah banget," keluh Fabian sambil merenggangkan otot-ototnya yang lelah akibat berkendara seharian.
"Mau mandi, tapi kok ya capek banget. Pengennya langsung tiduran aja dan bangun-bangun besok pagi," sambung Fabian. Kemudian, dia menggeliat dan tengkurap sembari memeluk guling yang sudah kusam.
Ketika Fabian masih asyik menikmati rasa lelahnya, tiba-tiba pintu kontrakan diketuk dari luar. Fabian tersentak dan bangkit seketika.
"Masa orang dari SKAK udah dateng, ya?" Fabian bangkit dan mengintip dari balik tirai.
Benar saja, orang-orang dari SKAK sudah berdiri di depan pintu dengan pakaian yang serba hitam. Akan tetapi, kali ini mereka membawa mobil pribadi, bukan truk seperti kemarin.
"Wih, selalu tepat waktu. Untung aku tadi belum mandi, bisa-bisa keluar telan*ang karena buru-buru." Fabian membatin sambil berlari menuju ruang tamu.
Karena langkah yang sangat cepat, serta ukuran kontrakan yang tidak luas, maka dalam hitungan detik Fabian sudah tiba di ruang tamu dan membukakan pintu untuk orang teristimewa.
"Selamat, Tuan Fabian, Anda berhasil lolos dalam misi kedua. Anda berhak mendapatkan vila mewah seperti yang telah tercatat di dalam sistem."
"Terima kasih banyak, Pak. Saya ... sangat senang." Fabian tersenyum lebar. Mati-matian dia menahan diri agar tidak melompat girang.
"Ini kunci dan alamat vilanya, bisa Anda tinggali mulai malam ini. Dan ini surat kepemilikannya, silakan disimpan dengan baik." Orang dari SKAK menyodorkan kunci dan surat kepemilikan vila.
"Terima kasih, Pak. Mmm, silakan duduk! Saya buatkan teh atau kopi dulu," ujar Fabian.
"Terima kasih tawarannya, tapi kami harus segera kembali," jawab salah seorang dari mereka.
"Kami menunggu keberhasilan Anda di misi selanjutnya. Tetap semangat dan jadilah billionare selanjutnya," sahut yang lain sebelum pergi meninggalkan kontrakan Fabian.
"Dibikinin kopi nggak mau, tahu kali ya kalau aku lagi nggak ada gula. Ah, mudah-mudahan aja deh misi selanjutnya hadiahnya duit gitu biar nggak gini-gini amat hidupku. Sumpah, udah ngiler banget pengin makan martabak yang mangkal di depan, tapi gajian masih lama." Fabian menggerutu sambil menatap mobil orang-orang SKAK yang mulai melaju meninggalkan halaman kontrakan.
"Ah, daripada mikirin martabak, lebih baik lihatin dulu alamat vila ini. Aku penasaran vila baruku ada di mana," gumam Fabian.
Lantas, dia duduk di kursi usang dan membaca alamat dan surat kepemilikan vila barunya.
"Hah! Ini kan___" Mata Fabian membelalak lebar.
Alamat yang tertera di sana sangat tidak asing, bahkan baru tadi siang Fabian mendatanginya. Ya, vila baru milik Fabian ada di dekat vila milik Zayan. Bahkan, nomornya hanya selisih satu.
"Ini bersebelahan berarti ya." Fabian berdecak kesal. "Kenapa bukan vila di tempat lain aja sih?" sambungnya.
Untuk sesaat, Fabian sempat kecewa dan kurang semangat. Pasalnya, dia tidak mau lagi bertemu Zayan dan Adara, yang selalu menghina dan menginjak-injak harga dirinya.
Namun, sesaat kemudian Fabian kembali bersemangat.
"Tapi ... kalau lihat aku punya Harley dan punya vila, kayaknya mereka nggak bakal ngeremehin lagi deh. Ya ... walaupun belum sebanding dengan mereka, tapi seenggaknya udah lebih baik lah," ucapnya.
"Oke deh, buruan mandi dan langsung otewe sana. Nggak ketemu syukur, ketemu juga syukur, sekalian bisa pamerin vila baruku." Fabian bangkit dan kemudian menuju kamar. Dia menyimpan dulu surat kepemilikannya, lantas menyambar handuk dan bergegas mandi.
Bersambung...