Seorang putri kerajaan yang memiliki segel dewa naga merah pergi berpetualang mencari 12 zodiak lainnya untuk membantunya dalam merebut kembali tahta kerajaannya.
Mampukah sang putri menemukan 12 zodiak itu? untuk meminjamkan kekuatannya dalam merebut kembali tahta yang seharusnya menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ren Chan~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Princess's First Trip
"Nenek harap kalian baik-baik saja selama perjalanan panjang ini, perjalanan yang akan menunjuk jati diri tuan putri yang sebenarnya aku sedih bahwa melihat cahaya matamu yang redup mata biru yang secerah langit biru kau sudah banyak menangis tuan putri. Aku harap kau akan segera menemukan cahaya biru mata indahmu itu," ujar nenek tetua tersenyum sambil mengelus rambut merah Rin.
"Tenang saja nek aku akan melindungi tuan putri," ujar Ryou menunjuk dirinya sembari tersenyum.
***
Ryou dan Rin pun meninggalkan kuil Aries melanjutkan pencarian mengumpulkan 12 zodiak untuk meminjam kekuatan mereka agar Rin bisa balas dendam dan merebut kembali tahta nya.
Sepanjang perjalanan Rin berjalan di belakang Ryou ia terus mengamati punggung Ryou yang begitu lebar serta mempunyai senjata yang kuat, Ryou bisa menggunakan dua pedang untuk bertarung. Entah mengapa keinginan Rin untuk menjadi kuat ia tidak mungkin mengandalkan Ryou terus untuk melindunginya ia sudah memutuskan untuk berjalan. Berjalan di luar istana ia juga berharap jika memang adalah tuan bagi para zodiak setidaknya ia bisa berjalan di depan Ryou dan yang lainnya tapi itu pasti mustahil ia hanya manusia biasa yang tidak terlahir dengan bakat apapun. Rin pun tersenyum sendiri ketika mengkhayalkan hal yang tidak mungkin ia lakukan.
"Tuan putri perhatikan langkahmu,"
"Kyaaa,"
Dengan sigap Ryou langsung menopang badan Rin yang hampir jatuh karena tersandung batu.
"Huh sudah ku bilang perhatikan langkahmu, bahkan kau akan membebani ku dengan langkah kecilmu itu," ujar Ryou geleng-geleng kepala tidak percaya sekarang ia mengawal tuan yang berjalan saja susah.
"Ma... Maaf," ujar Rin dengan wajah memerah karena malu.
Langkah Ryou terhenti ketika ia mulai mendengar langkah-langkah kaki, Ryou pun memegang tangan Rin dengan erat.
"Dengar tuan putri jangan lepaskan tanganmu dari ku," ujar Ryou yang mulai sigap memberi aba-aba.
"Ah... Iya," ujar Rin mulai merasa ketakutan luar biasa mungkinkah ada yang menemukan mereka?
"ada sekitar 100 orang membawa senjata... Lari_"
Ryou pun segera berlari ketika hampir terkena panah, ia pun menarik Rin berlari bersama menghindari panah-panah yang mereka.
"Itu mereka," sorak salah satu tentara yang ternyata dari suku api.
"Tembak!"
Serangan panah-panah api itu mulai berterbangan di udara menyerang mereka. Yang Ryou pikirkan sekarang adalah berlari menghindari ia tidak bisa mengamuk di sini jika ia mengamuk itu akan menjadi masalah yang panjang.
Rin yang tidak memperhatikan langkahnya terjatuh, genggamannya terlepas dari Ryou.
"Putri, jangan serang putri bagaiamana pun kita harus membawanya keistana," perintah kapten panglima Aki.
Aki menangkap Rin dan hendak membawanya keistana bersamanya.
"Putri kau mau lari kemana, jika aku berhasil menikahimu maka aku akan menjadi penguasa tahta sebelum tuan Yan menjadi raja aku akan menikahimu dan menjadi raja," ujar panglima Aki ia merupakan anak dari menteri suku api bernama Kaji.
"Jangan mimpi kau, lepaskan aku!" ujar Rin memberontak. Ia melihat dari kejauahan bahwa Ryou mulai bertarung dan mengalahkan beberapa pasukan.
"Ryouuuu,"
"Tuan putri, sialan bagaiaman ini?"
Ryou pun mulai tidak fokus bertarung ketika Rin hendak di bawa oleh kapten panglima suku api itu, Ryou masih harus bertarung hingga mencapai Rin tapi pasukan slalu menghalangi jalan.
"Arghhh," pekik Ryou ketika salah satu panah mengenai tangannya.
"Ryouuu," panggil Rin melihat Ryou yang mulai melemah karena terluka. "Lepaskan aku, lepaskan aku," ujar Rin memberontak. tanpa pikir panjang Rin menginjak kaki Aki dan cengkraman itu terlepas Rin pun berlari sekuat tenaga menuju arah Ryou.
"Tuan putri bahaya jangan kesini!" larang Ryou yang masih bertarung sekuat tenaga dengan luka di tangan kirinya ia tidak bisa menggunakan pedang di tangan kirinya.
"Ryou,"
Tanpa sadar bahaya muncul di depan Rin ada panah yang melayang kearahnya sehingga Rin tidak ada waktu untuk menghindar.
"Kyaaaa,"
Terdengar bunyi panah yang menancap serta darah yang berjatuhan, Rin membuka matanya melihat Ryou yang melindunginya dari panah itu dengan badannya, Ryou menggunakan badannya sebagai perisai. Ryou pun terjatuh tepat di depan Rin.
"R... Ryou,"
Rin langsung ingat kejadian pada malam kematian ibunya serta kematian kakeknya ia melihat banyak darah, membuat Rin ketakutan serta merasa marah. Ini salahnya ikut dengan Ryou sehingga Ryou terluka. Ia ingin menjadi kuat, menjadi kuat sambil menangis memangku Ryou yang masih bertahan.
"Sudah cukup Ryou, cukup jangan bertarung lagi aku akan melindungimu," ujar Rin tanpa pikir panjang langsung mengatakan hal seperti itu.
"Tuan putri apa yang kau lakukan? lari, lari sejauh mungkin jangan pedulikan aku karena aku memang adalah perisaimu gunakan aku untuk lari," ujar Ryou memeluk Rin erat.
"Tidak Ryou, aku tidak akan lari dan membiarkan kau terluka di sini," Rin pun berdiri menutup matanya serta mengambil nafas panjang ia merentangkan tangannya melindungi Ryou sekarang ia bertindak sebagai perisai Ryou.
"Apa yang kau lakukan? lari ini adalah perintah lari," ujar Ryou yang masih bersekukuh menyuruh Rin meninggalkannya. "Apa yang kau pikirkan kau bisa saja terbunuh di sini,"
Rin maju beberapa langkah dan mengambil salah satu pedang Ryou, pertama kalinya Rin memegang senjata. Kakinya gemetaran, keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya ia menatap tajam para tentara dan Aki yang berdiri di depannya dengan tatapan bingung. Pedang yang berat ia juga merasa takut, tapi ia tidak takut mati demi melindungi Ryou.
"Ryou kau masih bisa berdirikan, larilah!" ujar Rin.
"Oi tuan putri, meskipun kau perempuan aku tidak segan-segan mencincangmu hidup-hidup disini aku hanya baik pada orang yang mematuhi perintahku meski kau seorang putri sekarang," ujar Aki juga maju sambil menghadang Rin dengan pedang.
Rin melihat pedang-pedang yang menghadang kepadanya rasanya takut, tapi juga muak karena di istana ia juga mendapat perlakuan seperti itu.
"Kau tidak akan bertarung dengan kaki gemetaram seperti itu, ikut aku dan jadi istriku," ujar Aki menertawai Rin.
Rin mengangkat pedangnya dan menatap tajam Aki, tatapan tajam dengan kobaran api, rambut merahnya yang indah dihembus angin sepoi, berdiri dengan gagah sambil memegang senjata. Menggetarkan hati Ryou baru pertama kali ia melihat bahwa sang putri yang ia anggap manja bisa berdiri dengan gagah di depan sana, meski kakinya gemetaran tapi matanya tidak menunjukan ketakutan.
Aki merasa ketakutan dengan suasana yang mulai membakar, ia tak berani menatap mata Rin. Pantulan cahaya matahari menyinari rambut merahnya yang indah, rambut merah sang fajar mungkinkah ini adalah putri yang sesungguhnya?
"Jangan berani kau sentuh Ryou, akan ku bunuh kalian," ujar Rin dengan suara berat tanpa ada rasa takut.
"Kau,"
"Tuan putri lariiii," ujar Ryou yang hendak melindungi Rin.
Aki pun mulai melayangkan pedangnya tanpa ada rasa kasian lagi, ia ketakutan setelah melihat mata Rin tapi itu hanya gadis biasa anak kecil yang hanya berdiam di kastil kasian sekali jika hidupnya berakhir seperti ini. Ketika pedang Aki hampir mengenai Rin sesuatu menghalangi seperti sebuah perisai melindungi Rin.
"Tepat,"
Seseorang misterius muncul dan melindungi Rin.
Next