MALAM INI HUJAN MENGGUYUR BUMI
Malam ini hujan mengguyur bumi,
dan suami tercinta tak ada di sini
dia mungkin sedang bercanda dan tertawa
bersama istri yang lain..
aku ingin menangis..
aku ingin sedih..
tapi dia berpesan padaku bila ini terjadi
maka kembalilah kepada cinta pada Allah
gelar lagi sajadah dan bersujudlah
baca lagi Al Quran penuh kecintaan
dan tetap genggam bahwa Allah adalah cinta teragung..
lalu kulakukan semua nasehatnya
hingga kudengar langkah kaki syaitan menjauh
syaitan itu sangat-sangat kecewa padaku
sebab tetap Allah tujuanku
di saat penuh rindu seperti malam ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Humairah_bidadarisurga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Syakir mengusap lembut kepala Kirana uang terbalut dengan hijab panjang.
"Siapa namamu anak muda?" tanya Bapak Arif dengan pelan dan suaranya berat bergetar.
"Namaku Muhammad Syakir, panggil saja Syakir," ucap Syakir dengan pelan dan sopan.
Bapak Arif menganggukkan kepalanya dengan pelan sambil memeluk Kirana, putri semata wayangnya.
"Kita duduk Pak, biar lebih nyaman bercerita. Bapak harus menceritakan apa yang sebenarnya terjadi," ucap Kirana pelan lalu menggandeng tangan Bapak Arif untuk duduk di bangku yang sudah disediakan.
Mereka duduk bertiga dalam satu meja. Kirana duduk disebelah Bapak Arif dan Syakir duduk tepat dihadapan Kirana dan Bapak Arif.
"Bapak sudah makan?" tanya Kirana pelan kepada Bapak Arif.
Bapak Arif menggelengkan kepalanya pelan dengan malu-malu.
Kirana mengangguk pelan dan membuka kantong plastik yang ada didepannya. Mengeluarkan nasi bungkus yang dibelinya tadi dan mulai menyuapi Bapak.
"Kiran suapi ya Pak, dulu sewaktu Kiran kecil, pasti Bapak yang menyuapi Kiran, sekarang sudah saatnya Kiran yang menyuapi Bapak," ucap Kiran lirih. Kedua matanya masih basah, sisa air matanya juga masih tercetak jelas di wajah Kirana.
Syakir hanya memperhatikan gerak gerik Kirana yang memang sangat ikhlas dan tulus mengurus Bapak, dengan pelan satu suap demi satu suap pun masuk ke dalam mulut Bapak.
"Enak Pa? Ini makanan kesukaan Bapak, Kiran sengaja beli dan memilih semua menu kesukaan Bapak," ucap Kiran pelan dengan suara yang serak. Rasa sedihnya sudah tidak tertahan lagi, rasanya ingin memeluk tubuh tua dan kurus itu.
"Bagaimana kamu mendapatkan uang Kiran? Bapak belum bisa menguliahkan kamu Kiran, maafkan Bapak," ucap Bapak Arif dengan pelan.
Kirana hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Kirana mau kerja saja Pak," ucap Kirana pelan.
"Kamu yakin Kirana? Lalu cita-citamu bagaimana? Kamu mendapatkan nilai tertinggi bukan?" tanya Bapak Arif dengan rasa penasaran.
"Cukup Pak, jangan pernah suruh Kiran untuk selalu menjadi yang terbaik, jika Bapak tidak bisa mencontohkan sikap dan perbuatan baik pada Kiran!" ucap Kiran dengan rasa kecewa. Kiran tidak habis pikir dengan ucapan Bapak Arif yang selalu menanyakan bagaimana nilai, nilai dan nilai, tapi tidak pernah mau tahu bagaimana perasaan Kiran menjalani prosesnya.
"Kamu tidak tahu apa yang terjadi Kiran! Jangan kamu ikut menghujat Bapak!" ucap Bapak dengan suara yang sangat keras dan lantang.
"Kiran tidak mendapat nilai tertinggi, Kiran lelah dan capek, Pak," ucap Kiran dengan suara lemah.
"Apa?! Bapak kerja banting tulang untuk menyekolahkan kamu, Kiran!! Mana balasannya Kiran!!" suara Bapak semakin meninggi.
Kiran sudah memerah dan kecewa dengan sikap Bapak yang terus menyudutkan Kiran. Syakir hanya menatap Kiran untuk tetap melemah dan sabar. Namun, Kiran tidak mengindahkan peringatan Syakir melalui tatapan matanya.
"Bapak, tidak pernah bisa mengerti perasaan Kiran, Bapak itu jahat!!" teriak Kiran dengan rasa kesalnya.
"Kiran! Dia Bapak kamu, bersikaplah sopan dan hormat. Bapak melakukan itu pasti ada alasannya, bukan tanpa alasan," ucap Syakir pelan namun terdengar sangat tegas.
Kirana menatap Syakir, begitu pula dengan Syakir yang menatap ke arah Kirana sambil memberikan kode keras dengan menggelengkan kepalanya.
Kirana mengangguk pelan dan menundukkan kepalanya lalu melanjutkan menyuapi Bapak hingga makanan itu habis tidak bersisa.
"Maafkan Kiran, Pak. Bapak mau minum?" tanya Kiran pelan dan memberikan satu botol air mineral yang sudah dibuka tutup botolnya.
Pak Sarif menerima botol minuman itu dan meneguknya hingga habis setengah botol.
"Maafkan Bapak juga Kiran, Bapak yang ng membuatmu seperti ini. Bapak selalu menuntut kamu untuk menjadi yang terbaik. Kamu benar Kiran, bahkan Bapak tidak bisa mencontohkan hal baik kepada anaknya sendiri. Bapak ini seorang guru mengaji dengan pendapatan yang pas-pasan untuk membiayai keluarga. Bapak mencari pekerjaan lain dengan menjadi seorang tukang kebun dan mencuci mobil di rumah Miss Sheila," ucap Bapak Arif dengan suara pelan.
Bapak menatap lurus ke arah tembok mengingat kejadian beberapa hari lalu yang terjadi begitu cepat.
"Lalu, bagaimana Pak?" tanya Syakir dengan suara lembut.
Pak Arif menatap Syakir dan menganggukkan kepalanya pelan lalu melanjutkan cerita tentang kejadian dua hari yang lalu.
"Saat itu Bapak sedang menyiram tanaman di taman bagian belakang rumah dan membersihkan rumput liar yang sudah mulai meninggi. Miss Sheila sedang menerima tamu, ada satu mobil berwarna putih yang terparkir di depan rumah. Bapak hanya menyelesaikan pekerjaan Bapak dan masuk ke dalam rumah untuk berpamitan dengan membawa gunting rumput yang sangat tajam. Saat masuk ke dalam rumah, Ria, gadis yang bekerja di rumah Miss Sheila sedang membuka kamar Miss Sheila dan beberapa laki-laki yang menjadi tamu itu mulai bersikap tidak pantas pada Miss Sheila, kalau Bapak menolongnya. Miss Sheila berteriak minta tolong, saat itu juga Ria mengarahkan gunting rumput yang Bapak pegang ke arah perut Miss Sheila, astagfirullah ..." ucap Bapak Arif pelan dan mengucap istighfar berulang kali.
Kedua wajah Bapak Arif ditutupi dengan kedua tangannya yang mulai berkeriput dan urat urat hijau yang terlihat tersembul dalam kulit.
"Jadi pembunuh itu Ria? asisten rumah tangga Miss Sheila?" tanya Syakir dengan rasa penasaran.
"Bapak yang memegang gunting rumput itu, namun yang mengarahkan Ria, siapa yang harus disalahkan? Saat barang bukti masih Bapak pegang, dengan darah yang berceceran di lantai dan muncrat ke baju Bapak," ucap Bapak Arif lirih dan sedikit ngilu menceritakan kejadian nahas itu.
"Lalu Ria kemana?" tanya Syakir pelan.
"Ria berteriak kepada warga sekitar dan memberikan informasi palsu, bahwa Bapak yang menusuk Miss Sheila karena tidak diberi pinjaman untuk menguliahkanmu Kiran. Padahal, sore itu Miss Sheila akan memberikan uangnya dengan cuma-cuma untuk Bapak menguliahkanmu dengan catatan Kirana mau bekerja paruh waktu di restoran milik Miss Sheila," ucap Bapak Arif menjelaskan secara detil.
"Tamu itu?" tanya Syakir menyelidik.
"Mereka pergi membawa tas besar yang dibawa Ria," jawab Pak Arif pelan.
"Berarti ini semua sudah direncanakan, perampokan yang berakhir pada pembunuhan. Keji sekali orang yang melakukannya. Satu-satunya Ria harus diinterogasi, biar nanti Syakir yang membantu Bapak agar cepat keluar dari tempat ini," ucap Syakir pelan.
"Tidak perlu Nak Syakir, semua sudah berlalu, Ria sudah pergi entah kemana," ucap Pak Arif dengan wajah sedih.
"Tapi Pak?" ucap Syakir pelan.
"Tidak ada tapi, semua sudah terlambat dan yang paling penting, ini semua takdir. Dengan kejadian ini menyadarkan Bapak untuk tidak terus menemenekan seseorang untuk melakukan sesuatu yang mungkin dilakukan secara terpaksa, maka hasilnya akan buruk juga," ucap Pak Arif dengan bijak.
Kirana tersenyum dan memeluk Bapak Arif dengan penuh kasih sayang.
"Kirana sayang dengan Bapak," ucap Kirana dengan rasa bahagia.
miris pola pikir mu thor
belajar lagi ajaran islam
*islam melaknat pelakor dan pebinor
*islam melaknat lelaki mendekati istri orang
*islam melaknat istri mencerita masalah rumah tangganya pada lelaki lain
*islam melaknat istri yang dekat dengan pria lain
*islam melaknat istri yang membela pria lain didepan suaminya
*islam melaknat istri menjatuh kan kehormatan suaminya didepan pria lain
*islam melaknat istri yang tidak bisa menjaga kehormatan suaminya
*islam melaknat istri yang bisa membuat fitnah dengan dekat dengan pria lain
belajar agama lagi dengan benar, ingat thor walaupun ini hanya novel tapi cara kau membenarkan sebuah kesalahan niscaya kau akan diminta pertanghunh jawaban
renungkan lah
kelakuan Kirana lebih menjijikan dari seorang pelacur sekalipun, tapi miris, tidak bermoral nya, munafik nya novel ini dan pemikiran author malah membenarkan semua kelakuan Kirana
mudah mudahan saja author punya suami yang sifatnya kayak Kirana dan punya teman wanita yang baiknya kayak fahad, amin
*melaknat kelakuan pelakor fatma tapi kalian memuja kelakuan pebinor fahad
*kalian melaknat intrkasi syakir dan fatma tapi kalian malah membenarkan intrkasi Kirana dan fahad
Orang lelaki ketika kamu menikah keluarga kecilmu adalah tanggungjawab utama , Anak-anak boleh patuh pada orang tua tapi itu berlaku kalau orang tua masih hidup berlandaskan syariat agama , Ini orang tua seperti ibu bapa Syakir tak wajib ditaati lelaki itu boleh bersikap keras kerana mereka nakhoda setiap bahtera rumah tangga .
ibu ayu terlalu memaksakan dan telah memisahkan antara Syakir dan Kirana