Bagaimana jadinya jika kedua orang yang memiliki sikap yang bertolak belakang mejalani kehidupan dalam sebuah ikatan pernikahan?
Dewa pria sederhana yang ingin meraih asa si Universitas internasional dengan bermodalkan bea siswa. Bertekad menjadi siswa terbaik, justru mengantarkannya ke jurang kehancuran hingga harus menikah dengan Zoya. Wanita pembuat masalah yang ternyata memiliki kehidupan penuh luka.
Zoya di benci oleh Ayahnya sendiri karena di anggap sebagai pembunuh sang ibu. Kurangnya kasih sayang dan perhatian membuat Zoya menjadi anak yang sangat nakal.
Sampai ia di jebak oleh Kakaknya sendiri hingga menikah dengan Dewa untuk balas dendam.
Bagaimana kisahnya? langsung baca ya ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
All About You.
"Memangnya apa yang akan kau lakukan? bukankah kau tidak berselera denganku" bisik Zoya dengan suaranya yang mesra.
"Ya benar, tapi kalau kau memancingku, aku tak boleh menolaknya kan?" kata Dewa sengaja merengkuh pinggang Zoya dan dengan tiba-tiba ia membalikkan tubuhnya hingga mengungkung Zoya di bawahnya.
"Dewa...Apa yang kau lakukan?" Zoya mendadak panik saat melihat Dewa berada di atasnya.
"Bukankah kau yang memintanya" kata Dewa mendekatkan wajahnya.
"Hei! Jangan coba-coba! Cepat lepaskan aku" kata Zoya berontak dari kungkungan Dewa.
"Aku hanya mengikuti caramu" kata Dewa masih bergeming di tempatnya.
"Jangan gila! Aku tadi hanya bercanda! Lepaskan aku" kata Zoya malah ketakutan sendiri jika Dewa akan berbuat macam-macam padanya.
Dewa hanya diam menatap Zoya yang begitu panik, ia tersenyum tipis dan melepaskannya kemdian bangkit dari atas tubuh Zoya.
"Makanya jangan begitu lain kali, tidak semua orang bisa kau ajak bercanda seperti ini" kata Dewa sedikit lembut.
Zoya terdiam, ia membenarkan perkataan Dewa. "Ya baiklah, aku akan pulang kalau begitu" kata Zoya ingin berlalu dari kamar sumpek itu.
"Eh! Tunggu dulu, Kau harus membayar sewanya" kata Dewa menghentikan langkah Zoya.
"Kenapa harus aku yang bayar? Kau kan yang mengajakku kesini" kata Zoya menekuk wajahnya.
"Ya itu karena aku tidak tau rumahmu" kata Dewa lagi.
"Kan aku tidak memintanya" kata Zoya enteng.
"Tetap saja kita berada disini itu karenamu, jadi kau harus bayar" kata Dewa sebenarnya tak enak menyuruh Zoya untuk membayar, tapi ia juga tak punya uang.
"Ish! Kau memang benar-benar miskin sekali ya. Baiklah aku akan membayarnya, memangnya berapa sih sewa kamar jelek ini" kata Zoya dengan wajah sombong dan menyebalkan.
Dewa memainkan mulutnya kesal melihat wajah sombong Zoya. Tapi ia tak mengatakan apapun, mengikuti saja Zoya yang sudah berjalan terlebih dulu. Resepsionis semalam itu tampak menatap mereka aneh, mungkin karena berpikir kalau sang wanita yang membayarnya.
"Baiklah, karena semua sudah beres, sekarang antarkan aku pulang" kata Zoya ketika mereka sudah keluar dari penginapan.
"Tidak mau, memangnya kau pikir aku tukang ojek" kata Dewa tentu menolak. Ia harus secepatnya pulang karena ibunya pasti sangat khawatir dengannya.
"Sekalian kan, Aku bakalan bayar kok. Tenang saja" kata Zoya benar-benar meremehkan Dewa.
"Tidak semua masalah bisa di selesaikan dengan uang. Sudahlah, aku tidak punya waktu untuk meladeni mu. Aku mau pulang dulu" kata Dewa tak memperdulikan Zoya. Ia segera naik ke motornya dan bersiap untuk pulang.
"Dasar Dewa sialan!" umpat Zoya saat melihat Dewa benar-benar meninggalkannya.
******
Setibanya Dewa di rumah, ia langsung di sambut wajah cemas ibunya. Wanita itu menanyakan dari mana saja ia semalaman. Untuk pertama kalinya, ia harus membohongi Ibunya tentang apa yang terjadi semalam karena ia tak ingin membuat wanita itu khawatir.
Sekarang ia sedang membantu Ibunya membungkus makanan di dalam kotak karena banyak sekali pesanan.
"Pesanan siapa Bu?" tanyanya ingin tau.
"Bu camat, nanti kamu anter ya ke kantor kecamatan" kata Ibu Dewa.
"Beres Bu" kata Dewa setuju saja.
Sekitar pukul 10 pagi, ia sudah bersiap membawa pesanan nasi kotak itu untuk di antar ke kantor kecamatan. Dewa tak membawa motor karena lokasinya cukup dekat dari rumahnya.
"Makasih ya Nak Dewa ganteng udah di anterin" kata Bu camat dengan senyum khasnya yang berlebihan menurut Dewa.
"Iya Bu, Saya permisi" kata Dewa langsung undur diri karena tak ingin wanita itu terlalu banyak bicara dengannya.
Saat di perjalanan pulang, Dewa tak sengaja melihat beberapa anak jalanan yang tampak berlari ke arah satu titik. Dewa langsung tau kalau pasti ada orang yang membagi makanan karena setiap minggu memang selalu ada. Tapi ia sedikit penasaran saat melihat siluet orang yang cukup ia kenal.
Tanpa sadar langkahnya mendekat, ia tak bisa langsung melihat wajahnya karena wanita itu menggunakan topi. Tapi begitu wanita itu mengangkat wajahnya, Dewa sedikit kaget.
"Zoya...." ucapnya spontan.
Zoya tampak tersenyum saat melihat anak-anak jalanan yang berebut makanan. Zoya memang sering membagi makanan setiap minggunya. Karena di antara hidupnya yang menyedihkan, setidaknya Tuhan masih memberinya kehidupan yang berkecukupan. Zoya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau ia harus bekerja keras untuk menyambung hidup seperti anak jalanan itu.
"Eh! Inget apa kata kakak tadi? Nggak boleh berebut ya?" ucapnya ketika melihat aksi dorong antar anak.
"Iya kak" sahut mereka berbaris rapi dan siap menerima kotak makanan dari Zoya.
"Habisin ya makanannya" kata Zoya kembali tersenyum saat melihat anak-anak itu makan dengan lahap.
"Makasih ya kak" kata mereka serempak.
"Sama-sama" kata Zoya mengelus lembut pipi salah satu dari mereka.
"Kakak minggu depan kesini lagi kan?" tanya dari salah satu dari mereka.
"Kakak usahakan ya, Sekarang kakak mau pamit dulu" kata Zoya sedikit tersenyum sebelum pergi dari sana.
Dewa masih berdiri di depan salah satu toko, ia sedikit bersembunyi karena tak ingin sampai ketahuan oleh Zoya. Dewa tak menyangka, dibalik sifat Zoya yang sombong dan menyebalkan itu ternyata ada sifat murah hati dan ketulusan. Zoya bahkan tak jijik saat menyentuh anak jalanan yang kumuh itu.
Kagum, ya Dewa merasa kagum dengan sifat Zoya yang satu ini.
******
Hari senin pagi semua murid tampak berdiri di lapangan untuk mengikuti Apel pagi. Hari ada pengumuman penting dari ketua Rektor kampus dan semua murid sudah berbaris rapi untuk mendengarkan pesan-pesan dari ketua Rektor itu.
Dewa juga sudah berdiri dengan sikap sempurnanya. Tapi ia malah tidak fokus dengan apa yang di bicarakan karena melihat Zoya yang sejak tadi sedang mencoba menempelkan permen karet di rambut teman di depannya.
Seolah mengetahui niat busuk Zoya, orang itu terus menoleh membuat Zoya kesal sendiri. Tanpa sadar Dewa tersenyum saat melihat wajah kesal Zoya yang begitu lucu menurutnya.
"Pemenang siswa teladan Se-provinsi Jawa Barat adalah..." suara ketua Rektor itu mengembalikan Dewa dari keterpanaanya pada Zoya.
"Zachary Mattew Davies" ucap Ketua Rektor itu langsung disambut gemuruh tepuk tangan riuh dari semua murid.
"Zachary!"
"Zachary!"
Semua murid tampak bertepuk tangan dan meneriakkan nama Zachary berkali-kali. Bahkan suara Tara sangat keras sendiri. Tapi tidak dengan Zoya yang malah menyumbat telinganya karena ia tak suka nama Kakaknya selalu di bangga-banggakan seperti itu.
Hal itu tentu menarik perhatian Dewa, karena menurutnya sikap Zoya aneh. Seharusnya wanita itu bangga kan. Kalau kakaknya menjadi pemenang.
Dewa lalu melihat Zachary yang kini berjalan penuh percaya diri ke depan dan menerima piala dari ketua Rektor.
"Aku harus seperti dia" batin Dewa bertekad dalam hatinya.
Happy Reading.
Tbc.