NovelToon NovelToon
BUNGA TANPA MAHKOTA

BUNGA TANPA MAHKOTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Pengganti
Popularitas:59.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Min Ziy. Minfiatin FauZiyah

Di malam kelulusan sekolahnya, Yaressa mendapat perlakuan buruk dari Arsaka -kekasihnya- yang mabuk. Kesuciannya direnggut paksa, menjadikannya seorang korban pemerk*sa'an.

Namun Arsaka tak bersedia bertanggung jawab dengan menikahi Yaressa, ia justru pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya.

Dan Bara, kakak Arsaka, terpaksa menikahi Yaressa, kekasih sekaligus korban pemerkosaan adiknya, menggantikan Arsaka yang telah pergi, sedangkan Bara sendiri memiliki Kanaya, wanita yang ia cintai jauh di kota lain sana.

Kisah yang rumit, tentang perjuangan, pengorbanan, keikhlasan, akan melengkapi cerita cinta mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Min Ziy. Minfiatin FauZiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Papah Mamah kecelakaan

POV Yaressa.

Saat jam menunjukkan pukul sembilan malam, sebuah mobil polisi berhenti tepat di tepi jalan depan rumahku yang sederhana, rumah yang nampak gelap karena lampu-lampu penerang rumah itu yang enggan aku nyalakan.

Dua polisi turun dari mobil, satu orang pria dan satu lagi wanita, mendekat ke arahku yang masih menangis sambil menunduk.

"Selamat malam, dengan adek Yaressa Hermawan," ucap seorang polisi pria.

Aku mendongak, melihat seseorang yang datang dan menyebut namaku.

"Iya, saya pak!" Aku berdiri, menghadap dua polisi yang datang ke rumahku.

Saat itu perasaanku sangat takut, jantungku berdegup kencang, Papah dan Mamah pergi dan belum pulang, tapi justru dua orang polisi yang datang.

Polisi pria dan wanita itu saling memandang sebelum kembali berbicara padaku, saling mengangguk seolah mereka berbicara lewat bahasa isyarat.

"Mari ikut kami,"

"Ke mana?"

"Bertemu orang tua adek,"

Hening.

***

Mobil polisi melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan ramai padat lancar pusat kota.

Sepanjang perjalanan aku hanya diam, sempat bertanya mereka akan membawaku ke mana? Ada apa? Di mana Mamah Papah? Namun jawaban yang diberikan kedua polisi itu sama.

"Kau akan tahu nanti, semoga kau kuat." begitu ucap polisi wanita yang duduk di jok sebelahku sambil mengelus bahuku.

'Kuat? Kenapa aku justru merasa takut?Papah, Mamah, kalian di mana?'

***

Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, mobil polisi itu memasuki halaman sebuah rumah sakit yang sangat besar, di sini hatiku terasa semakin berdebar, rasa takutku bercampur dengan rasa sedih yang dominan, entah mengapa.

Setelah turun dari mobil, Aku mengikuti langkah kedua polisi yang berjalan cepat menuju sebuah ruangan paling dekat, IGD.

Pikiranku sudah sangat kacau tak karuan, ingin bertanya namun tak memiliki kesempatan, karena polisi wanita berbicara dengan Dokter yang baru saja keluar dari ruangan IGD, dan polisi pria berbicara dengan petugas di meja yang bersebelahan dengan ruang IGD, membaca beberapa berkas yang Aku tak mengerti.

"Dia anaknya?" tanya Dokter pria yang sudah terlihat tua.

"Iya, Dok. Dia putri pasien." jawab Polisi wanita.

Dokter itu mengangguk. Kemudian menghembuskan napas berat.

"Bawa dia masuk, pasien tidak memiliki banyak waktu," ucap Dokter lalu pergi.

"Ayo Yaressa," kini polisi wanita itu menggandeng tanganku untuk masuk ke dalam ruang IGD. Namun langkahku sontak terhenti saat suara seorang perempuan yang menangis bersahutan dengan suara lirih dari seorang pria yang sangat ku kenal, suara Papah.

"Mas, tolong jangan bicara seperti itu, kau akan selamat, kau akan tetap hidup, hiks hiks hiks." ucap perempuan muda yang menangis di dekat brangkar tempat papah terbaring.

Aku dan polisi wanita itu terdiam tanpa pergerakan, mendengarkan apa yang tengah dua orang itu bicarakan.

"T-to tolong j-ja jaga E-ca," suara lirih Papah terdengar menyayat hatiku, seperti sebuah pesan terakhir yang disampaikan oleh seseorang yang akan meninggal.

Tubuhku menegang, air mataku tumpah ruah, tapi aku masih terdiam mendengarkan apa yang mereka bicarakan, yang akhirnya membuat hatiku semakin hancur berantakan.

"Mas, kau sudah berjanji akan menikahiku, kita akan hidup bersama dengan bahagia, mas. Tolong jangan begini, aku mencintaimu, mas, jangan tinggalkan aku, aku tidak mau hidup tanpamu,"

'DEG!'

Apa yang aku dengar ini? Perempuan itu? Dan Papah? Mereka?

"E-e Eca!" lirih Papah yang akhirnya melihatku berdiri mematung di dekat pintu, tangan Papah menjulur ke arahku yang menangis terluka oleh kecurangannya.

"Ayo, Yaressa, mendekatlah, Papahmu memanggil." polisi wanita menggandeng tanganku agar mendekat.

"Papah!" lirihku sedih.

Wajah dan tubuh Papah terluka parah, darah di mana-mana. Ia mencoba tersenyum saat aku sudah menggenggam tangannya.

"Se selamat u ulang tahun, sayang!" ucap Papah terbata, nafasnya tersengal.

"Papah kenapa?" tangisku pecah, menepis rasa sakit hati atas kecurangan papah terhadap mamah, dan kami, yang aku lihat saat ini adalah papah terluka parah, dan aku tidak tega, aku takut papah kenapa-kenapa.

"Ma ma maafkan papah," napas papah semakin berat dan tersengal, aku menggenggam tangan papah semakin erat. Tangan yang selalu menggendongku sejak kecil hingga dewasa ini, tangan yang menyelimutiku saat di tengah malam, tangan yang mengajariku berjalan dan bersepeda, tangan yang selalu hangat itu kini terasa sangat dingin.

Aku menggeleng.

"Pah,,,," lirihku pilu.

"M-ma maafkan Papah, maaf!" Papah tiba-tiba mengalami kejang, tautan tangan kami terlepas dan aku mundur karena takut, polisi wanita memegangi tubuhku cepat.

"Mas,,, mas,,,," teriak perempuan muda yang tak aku kenal itu, tapi jujur aku tiba-tiba membencinya meski kami belum pernah bertemu, perempuan yang kuyakin menjadi sumber hancurnya keluargaku dan penyebab terjadinya semua ini.

Tiba-tiba tubuh papah melemah, matanya terbuka tanpa ada pergerakan, dan,,,,,

"Papah!" aku berteriak keras, memanggil namanya berulang sambil menggoyang tubuhnya kasar, berharap Papah akan bicara kembali, namun, itu tidak terjadi.

Polisi wanita memegangi tubuhku dan aku memeluknya, membenamkan wajahku ke dalam dada polisi wanita yang tak ku kenal itu.

Beberapa perawat masuk, meminta kami semua keluar, dan seorang Dokter yang menyatakan jika Papah telah meninggal.

"Papah,,,, Papah,,,," aku hanya bisa menyebut namanya lirih berkali-kali dengan Isak tangis yang sangat menyakitkan hati. Aku tidak mau kehilangan Papah, aku tidak mau papah meninggal, kembalikan papah padaku, Tuhan....

"Mamah?" lirihku pada polisi wanita.

Setelah beberapa saat aku baru teringat dengan Mamah, kasihan dia, pasti saat ini Mamah sedang menangis terluka karena pengkhianatan papah, aku akan memeluknya, aku akan menguatkannya.

"Apa kau siap? Jika tidak, kau tidak,,,, kau tidak perlu melihatnya," ucap polisi wanita itu pelan penuh perasaan. Kasihan. Yang membuatku semakin takut sekarang, apa lagi ini?

"Aku ingin bertemu Mamah." tegasku tak mau dibantah.

Langkah lebar dan cepat dari polisi wanita itu menjadi penunjuk arah, kami melewati lorong demi lorong Rumah Sakit yang nampak sepi lengang, hanya dua atau tiga orang saja yang kutemui duduk di kursi tunggu, atau bersandar di pintu ruangan.

Aku terus berjalan dengan linangan air mata yang membanjir, kehilangan papah membuat hatiku begitu hancur, sekarang yang ada di benakku hanyalah Mamah, dengan bertemu Mamah dan memeluk tubuhnya, aku berharap bisa sedikit mengurangi rasa sakit dan sesak yang memenuhi dada.

Namun, lagi-lagi harapanku dipatahkan oleh kenyataan.

Sebuah papan kayu bertuliskan kamar mayat di atas pintu ruang yang terdapat di depan sana membuat langkah kakiku terhenti, jantungku berdetak lebih kencang sekarang, apa lagi ini? 'Tidak.' Aku tidak akan kuat jika satu-satunya harapanku juga direnggut begitu saja.

"Mamah,,,," lirihku berlinangan air mata.

Polisi wanita itu kembali memeluk tubuhku, mencoba memberikan kekuatan padaku yang benar-benar hancur dan rapuh.

"Mamah,,,," teriakku terdengar pilu, tubuhku merosot ke lantai, kekuatanku tiba-tiba hilang entah kemana.

Ini adalah hari ulang tahunku, hari yang seharusnya menjadi sejarah kebahagiaan di hidupku, tapi kenapa justru semua malah berbalik dengan sebuah kesedihan yang sangat dalam?

Papah yang selingkuh, lalu meninggal dalam sebuah kecelakaan bersama Mamah. Meninggalkan aku seorang diri di dunia yang kini terasa hampa penuh luka.

***

1
Nona Aan Chayank
sedih banget jadi Yaressa. 😥
Semoga author cepat nulis lagi dn buat Bara menyesali sikap dn kata2nya pada Yaressa
Teguh Sayangnya
lanjut
Atik Nurdiana
ayo dong kak up lagi,,jgn lama"
Sue ciutt..
Bila sambungan ceritanya...
Frida Fairull Azmii
semoga author nya dalam keadaan sehat dan karena Lg sibuk yaa...
jgn karena apa"..khawatir jg karena gda kabar Lg dri novel nya
Erlin Novianti Ahmad
3bln..nggk up.. up... digantung trs.. smoga authornya sehat selalu jd bsa berkarya lagi... aamiin...
andima
apa thor nya sakit yaa
atau gmna, gaa ada kejelasan novel ini
padahal udah ditunggu tiap hari kelanjutan nya
klo thor nya sakit, semoga lekas sehat yaa thor, qta semua menunggu karya mu
semangat 💪💪💪
andima: iyaa
kan kesel yaaa , udah terlanjur gini
setengah jalan
paling ngga kasih lha pnjelasan ke qta2
total 2 replies
Ridha Anugrah
Ayo dong Thor up lagi ceritanya😭😭😭😭😭😭
Erlin Novianti Ahmad
up.. up. up.. sdh 2bln nih..
Erlin Novianti Ahmad
up.. up. up.. sdh 2bln night..
Ridha Anugrah
ayo dong lanjut lagi Thor lagi seru-serunya nihh
Mohammad Badrul
baik
Mohammad Badrul
lanjutan
Mohammad Badrul
lanjutan donk
Emelia Franciska Silalahi
aduhhhh.....digantung
Nona Aan Chayank
kenapa gk dilanjutkan up ya??
padahal ceritanya sangat bagus,,,
konflik nya lain daripada yang lain,,,
Emelia Franciska Silalahi
yachh...digantung..
Emelia Franciska Silalahi
lama menunggu tak kunjung up..
Emelia Franciska Silalahi
udah ga up lg yach thor
Emelia Franciska Silalahi
belom up ya thor...ceritanya bagus banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!