Novel ini berkisahkan tentang pernikahan yang terjadi karena adanya perjodohan,
Namun pernikahan yang mulanya berjalan tanpa Cinta itu, dapat berubah. Dua insan yang mulanya tidak saling mengenal, kini saling tidak ingin meninggalkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANISA RANI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HUJAN
"Dia ini manusia atau bunglon sih?! sikapnya berubah-ubah. Tadi dia membentakku, bersikap angkuh, tukang menyuruh, tapi kenapa sekarang bisa lembut begini?" gumam Zahra bertanya-tanya
"ya-yaaa aku mendengarnya" (Jawab Zahra dengan gugupnya)
"Baiklah, aku harap kamu ikhlas memaafkanku. Dan apakah kamu mau berteman denganku?" (Tanya Izzan dengan senyum manisnya)
"Haduuhhh! ternyata senyumnya manis juga. Oh Tuhannn.. kenapa aku jadi seperti iniii" gumam Zahra, Zahra merasa kini banyak kupu-kupu dalam hatinya karena melihat senyum manis yang diberikan oleh Izzan padanya. Meskipun banyak pria yang menyukai Zahra, dan kerap kali melayangkan lamaran untuk Zahra tetapi baru Izzan lah yang mampu membuat Zahra tertarik
"I-iyaa, aa-akuu mau" (Jawab Zahra yang tanpa sadar sudah memberikan senyum manisnya pada Izzan juga, sehingga lesung pipinya itu menjadi sangat terlihat)
"Arrghhh!! manisnyaa, rasanyaa aku ingin sekali memakan pipi chubbynya itu" gumam Izzan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
"eemm kamu"
"kamuu"
Ucap Izzan dan Zahra bersamaan sambil menunjuk satu sama lain,
"Silahkan" (Ucap Izzan mempersilahkan Zahra bicara duluan)
"Aku juga minta maaf ya, aku tadi sudah menggebrak meja" (Ucap Zahra lirih, tetapi masih bisa didengar oleh Izzan)
"Zahra, kamu tidak perlu minta maaf padaku. Karena bagaimanapun, yang membuat kamu marah seperti itu adalah aku" (Ucap Izzan dengan tatapan lembutnya)
"Heemm.. baiklah, karena sudah jam 15.20 jadi ayo kita pulang" (Ucap Izzan lagi sambil berdiri dari duduknya)
Zahra hanya mengangguk dan memakai tas selempangnya,
"Ehh tunggu, jangan panggil aku Anda lagi. Panggil aku Izzan saja" (Pintanya pada Zahra dengan sedikit menekan kata 'Anda')
Lagi-lagi, Zahra hanya mengangguk untuk mengiyakan
"Mari.." (Izzan mempersilahkan Zahra untuk mendahuluinya)
Mereka berdua pun keluar ruangan rapat organisasi bersama. Dan ketika mereka baru tiba dikoridor sekolah, Hujan pun turun dengan derasnya yang disusul dengan sambaran petir ringan
Izzan yang melihat Zahra tampak kedinginan, memutuskan untuk memberikan jaket yang dia kenakan pada Zahra
"Ini, Pakailah" (Ucap Izzan sembari memberikan jaketnya pada Zahra)
"Ga usah zan, ga terlalu dingin kok" (Ucap Zahra yang sesekali melirik Izzan)
"Jangan keras kepala Ra, telapak tanganmu terasa sangat dingin" (Ucap Izzan sambil memegang tangan Zahra, namun dengan cepat Zahra menarik tangannya dari genggaman Izzan)
"Maaf, bukannya aku bermaksud yang tidak-tidak" (Ucap Izzan lagi yang sudah mengarahkan pandangannya ke arah lain)
"Ya Tuhan, tangannya sangat dingin dan bibirnya gemetar juga pucat sekali" gumam Izzan sambil melirik pada bibir Zahra
Ssrrekk
Zahra tersentak kaget ketika Izzan memakaikan jaketnya asal dipundak Zahra, Namun Zahra kini sudah tidak bisa menolaknya karena memang cuaca menjadi sangat dingin
"Terimakasih" (Ucap Zahra singkat)
"Heemm, ngomong-ngomong.. kamu pulang naik apa?" (Tanya Izzan pada Zahra)
"Aku naik motor, fikirku hari ini aku akan pulang terlambat karena rapat" (Jawab Zahra dengan suara sedikit bergetar karena dingin)
"Kalau begitu, aku akan mengantarmu pulang. Soal motormu, biar orang papa yang nanti mengantarkannya kerumahmu" (Ucap Izzan sambil menatap singkat Zahra)
"engga, enggaa! aku bisa pulang sendiri. Aku pun ga biasa berdekatan sama cowo" (Sahut Zahra dengan nada dinginnya)
"Zahra.. lihatlaahh.. hujannya deras, dan bibirmu sudah sangat pucat. Kamu bisa jatuh sakit kalau nekat pulang dengan motormu itu" (Ucap Izzan dengan lembut dan tiba-tiba berhenti dihadapan Zahra, membuat Zahra menghentikan langkahnya juga)
"Huhh! Gadis ini, sangat keras kepala sekali. Tuhan, tolong luluhkanlah hatinya" gumam Izzan yang tak habis fikir betapa keras kepalanya wanita yang ada dihadapannya itu
"Benarr, tiga hari lagi acara Pesta Pelajar.. kalau aku jatuh sakit, bagaimana aku bisa membantu mengkoordinasi acaranya" gumam Zahra dalam hati membenarkan apa yang dikatakan Izzan
"Baiklah, aku mau diantar olehmu" (Ucap Zahra setuju, membuat Izzan mengembangkan senyum terbaiknya)
"Terimakasih Tuhan, terimakasih" gumam Izzan dalam hati sambil terus mengembangkan senyumnya
"Kenapa dia jadi senyam-senyum sendiri sih?" Zahra bertanya dalam hatinya.
"Ya sudah, ayo!" (Ajak Izzan yang kini sudah mulai melangkahkan kakinya lagi)
Zahra mengangguk, dan mengikuti langkah Izzan dibelakang. Ketika mereka sampai didepan mobil, dengan sigap Izzan membukakan pintu mobil untuk Zahra dan setelahnya dia pun membuka pintu kemudinya
...Hening...
Suasana hening dalam kendaraan beroda empat itupun, menambah dinginnya cuaca hujan kala itu. Dua remaja yang satu mobil itupun, tampak saling mencuri pandang
"Tolong fokuslah mengemudi Izzan, cuaca sangat buruk sekarang" (Ucap Zahra mengingatkan Izzan yang dilihat Zahra terus-menerus meliriknya dengan menyertakan senyum manis)
Izzan tidak menjawabnya, dia hanya memfokuskan matanya kedepan sekarang. Karena memang benar adanya, cuaca tampak semakin buruk. Bahkan, tak sedikit mobil yang menepi dipinggiran jalan
Zahra terus menunjukkan jalan menuju rumahnya pada Izzan. Dan sesampainya didepan pintu gerbang rumah Zahra, Izzan pun mendekatkan dirinya pada Zahra. Zahra merasa semakin gugup dan diapun memejamkan matanya, dia mengira Izzan akan menciumnya. Tetapi...
Cekrek
Ternyata, Izzan hanya ingin membukakan sabuk pengaman Zahra. Dan Izzan yang melihat Zahra memejamkan matanya itupun, berniat mengerjainya
"Apa dia mengira aku akan menciumnya? Waktunya bermain-main kelinci kecil" gumam Izzan sambil berseringai jahil
"Ekheemm" Dehem Izzan yang membuat Zahra membuka matanya
"Apa kamu mau aku menciummu? baiklah" (Tanya Izzan sambil mendekatkan bibirnya pada Zahra, dan...)
Plaakk!!
"Apa-apaan si kamu! Baru aja dimaafin, udah bikin orang kesel lagi aja" (Ucap Zahra dengan kesalnya)
Sementara, yang ditampar pun hanya memasang senyum diwajahnya. Karena, untuk pertama kalinya tangan Zahra memegang pipi Izzan walaupun itu sebuah tamparan
"Hemm.. tak apaa, setidaknya tangannya itu sudah memegang kulitku. Sedikit perih memang, tapi aku suka dan itu tandanya dia tidak pernah dekat dengan laki-laki" gumam Izzan dalam hati merasa senang
"Aneh! sangat aneh, dimana-mana kalau ditampar itu ada pembelaan. Kenapa dia senyam-senyum sendiri sih?" gumam Zahra yang semakin kesal dengan respon Izzan pada tamparan yang diberikan Zahra untuknya
"Terimakasih atas tumpangannya tuan muda yang terhormat" (Ucap Zahra dengan nada ketusnya dan tatapan sinisnya)
"Hahahaha! lucu sekali, pipimu saat sedang marah seperti ini mirip sekali dengan udang rebus" (Izzan tertawa terbahak-bahak karena melihat wajah Zahra yang menurutnya menggemaskan sekali ketika marah)
"Dasar orang anehh!!" (Ucap Zahra kesal dan sedikit teriak)
Dan, ketika Zahra akan keluar dari mobil dengan cepat Izzan menahannya. Izzan menarik tangan Zahra, sehingga membuat Zahra masuk kedalam pelukannya
Dagg digg dugg dagg digg dugg
Detakan jantung keduanya pun kini terasa sangat kencang, Zahra pun sudah terpaku dalam posisi itu. Sementara, Izzan menikmati posisi itu karena dia bisa menghirup lebih lama harumnya tubuh Zahra
"Aroma tubuhnya ini, tidak membuatku mual. Parfume apa yang dipakainya ini?" gumam Izzan dalam hati
Duaaarrr
Suara guntur pun membuat mereka berdua tersentak dari posisinya, dan mereka berdua saling salah tingkah. Zahra mencoba menetralkan nafasnya itu,
"Eeemm ma-maaf, apa aku bisa meminta nomormu?" (Tanya Izzan dengan gugup)
"Untuk apaa?" (Zahra berbalik bertanya pada Izzan)
"Ck.. ayolah Zahra, jangan berfikir negatif dulu. Aku tau kamu adalah sekretaris diorganisasi kita kan? jadi, kalau nanti ada yang ingin aku sampaikan padamu tentang organisasi kita.. aku bisa dengan mudah menghubungimu" (Ucap Izzan dengan jujur. Tetapi dilain sisi, Izzan juga ingin mendekati Zahra)
"Baiklah, ini" (Ucap Zahra sambil menunjukkan nomor hanphonenya agar disimpan oleh Izzan)
"Gadis Kacamata" Izzan menyimpan nomor Zahra dengan nama itu
"Sudah, terimakasih" (Ucap Izzan sambil tersenyum tipis)
"Hemm.. baiklah aku masuk dulu. oyaa, ga mau mampir dulu?" (Tanya Zahra ketika sudah diluar mobil)