Kisah pilu dari seorang gadis yang mengalami korban pelecehan seksual dari pamannya sendiri. Laila ayyatul Husna 16 tahun kelas 1 SMA yang harus berhenti sekolah karena kejadian memilukan tersebut, dia di siksa agar di sebuah saung di tengah-tengah kebun oleh pamannya sendiri, berhubungan dia bisa selamat dan kesucian nya masih selamat berkat seorang pria yaitu Yusuf Nur Syaikh 34 tahun yang sudah memiliki istri yaitu Siti Maryam
Akankah Laila bisa keluar dari rasa trauma dan syok atas kejadian tersebut, atau malah dia melakukan hal nekad karena malu. Yuk simak ceritanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melaheyko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Cemburu
Setelah makan bersama, Rizky mengajak ayahnya dan Laila mengajak ibunya untuk jalan-jalan disekitar pesantren. Yusuf pergi ke rumah Maryam untuk melihat Maryam sedang apa dan tadi kenapa. Saat hendak masuk ke rumah Yusuf berpapasan dengan Salamah.
” Assalamualaikum”
” Waalaikumsalam a”
” Ibu Maryam sedang apa?”
” Sedang di kamar” jawab Salamah lalu Yusuf masuk dan Salamah keluar.
Yusuf membuka pintu kamar perlahan-lahan, sempat mengucapkan salam tapi Maryam yang sedang meringkuk pura-pura tidur itu tidak menjawab.
” Ibu, kenapa tidur di jam begini? ini sudah sore tidak baik." Seru Yusuf dan Maryam tetap tidak merespon. Yusuf diam dan memperhatikan Maryam.
” Apa aku punya salah? ibu tidak tidur pun pura-pura begini” Yusuf tau istrinya hanya pura-pura, seketika Maryam membuka matanya.
” Aku hanya sedang ingin berbaring, kenapa Abi kemari? orang tua Laila juga masih ada kan?" Maryam berbicara tanpa menoleh sedikitpun.
” Apa ibu sedang cemburu?” Yusuf bertanya lalu duduk ditepi ranjang. Maryam diam dan enggan menjawab, diam nya Maryam sudah menjawab pertanyaan yang Yusuf ajukan.
Di tempat lain, Laila mengandeng tangan ibunya seraya terus melangkah. Ibu Jamilah senang melihat anaknya Laila sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bosan ataupun tidak nyaman tinggal di pesantren. Namun ibu Jamilah melihat raut wajah cantik Maryam murung tadi. Timbul rasa khawatir di benak Bu Jamilah atas Laila.
” Laila, ibu boleh tanya?" seru Bu Jamilah dan Laila mengangguk.
” Ibu kangen kan sama aku? gak ada yang bisa ibu marahi setelah aku pergi" lirih Laila tetap tersenyum dibalik cadar berwarna abu itu.
” Iya ibu kangen sama kamu, bapak yang menjadi korban ibu omelin setiap saat"
Laila tergelak..
” Ibu gak boleh begitu, kasihan bapak" protes Laila dan ibu Jamilah tersenyum.
” Apa ibu Maryam baik sama kamu?” Bu Jamilah bertanya lalu berhenti melangkah.
” Baik" singkat Laila yakin.
” Alhamdulillah, ibu Maryam istri pertamanya ustadz Yusuf. Kamu harus menghormatinya, jika ada masalah diam saja jangan melawan” pinta seorang ibu yang mengenali anaknya Laila yang selalu tidak mau mengalah, ibu Maryam walaupun baik dia juga manusia. Bu Jamilah takut ibu Maryam cemburu dan memperlakukan Laila dengan tidak baik. Laila tersenyum dan mengangguk. Keduanya kembali melangkah dan bertemu dengan Rizky dan pak Abdul.
” Bapak habis baik kuda sama Rizky" pak abdul senang.
” Aku juga mau tapi takut gak di izinkan" seru Laila sedih.
Pesantren yang sangat luas, tidak jauh dari pondok pesantren ada arena pacuan kuda. Banyak yang sering datang( orang dari luar pesantren) beberapa pesantren laki-laki yang mengurus kuda-kuda di sana. Apalagi jika hari Minggu banyak santriwati dari pesantren lain sengaja datang untuk berlatih. Bukan hanya pacuan kuda, di belakang pesantren terhalang kebun singkong ada tanah luas milik pesantren yang sering di jadikan tempat menunggangi kuda dan memanah disana. Santri dan santriwati bisa berlatih kapanpun tanpa harus mengkhawatirkan soal biaya, biaya hanya untuk para pengunjung dari luar pesantren.
” Pasti aa ngizinin kamu Laila" seru Rizky." Aam dan teman-teman kamu yang lain juga sering berlatih” tambahnya.
” Kenapa aku gak tahu a, kalau mereka sering latihan?”
” Kamu kan belum lama tinggal disini, nanti kamu juga tahu pesantren seperti apa" tutur Rizky dan Laila cemberut dia berniat untuk meminta izin kepada Yusuf nanti.
” Laila, Rizky bapak sama ibu gak bisa lama-lama. Kalian jaga diri, jaga perilaku. Jangan sampai membuat ustadz Yusuf malu” kata pak Abdul dan kedua anaknya mengiyakan dengan mengangguk.
” Jaga diri baik-baik, sabar” kata Bu Jamilah seraya mengusap lembut bahu Laila, di kampung Laila dia menjadi bahan gibah setelah di nikahi Yusuf menjadi yang kedua. Bu Jamilah sudah biasa tapi dia takut Laila mendengar bagaimana orang-orang membicarakannya dengan buruk, Laila sama sekali tidak datang meminta di nikahi. Tapi Yusuf yang datang membawa lamaran setelah melakukan sholat istikharah meminta petunjuk dan Maryam terus mendesaknya untuk menikah kembali. Laila, menerima Yusuf bukan karena Yusuf dia idolakan. Selama satu Minggu Yusuf harus menunggu jawaban dari Laila mau apa tidak menerima lamarannya, dan Laila mau setelah merasa yakin dan sholat tahajjud yang membuatnya semakin yakin.
” Iya Bu” singkat Laila." Sebentar Laila panggil dulu ustadz Yusuf" kata Laila dan melangkah tapi dia berhenti saat melihat Yusuf berjalan ke arahnya sambil terus menatap Laila. Laila menundukkan wajahnya dan bu Jamilah tersenyum.
” Kamu jangan sampai lupa meminum pil KB ya Laila" Bu Jamilah berbisik di telinga Laila, bukan tidak mau dia memiliki cucu tapi Laila masih kecil. Laila menggeleng kepala mendengar bisikan ibunya.
” Ustadz kami mau pamit pulang, sudah sore" kata pak Abdul.
” Kenapa buru-buru? padahal Laila masih ingin sama ibu dan bapak" Yusuf tersenyum dan berdiri di sebelah Laila.
” Insya Allah, nanti kami datang lagi. Ustadz Yusuf, saya minta maaf sebelumnya saya mau meminta tolong, tolong jaga Laila” pinta Bu Jamilah dan langsung di sikut lengannya oleh pak Abdul.
” Insya Allah, mohon do'anya semoga saya bisa menjaga Laila dengan baik” Yusuf berucap seraya melirik Laila.
” Laila ibu sama bapak pulang ya, kamu harus nurut sama pak ustadz" Bu Jamilah meraih tangan Laila mengusap dan menggenggamnya sekilas.
Laila tersenyum dan kedua matanya berkaca-kaca, Bu Jamilah memeluk Laila dan Yusuf mundur menjauh. Laila meneteskan air matanya dan pak Abdul memintanya untuk berhenti menangis.
Laila, Yusuf dan Rizky menganggarkan Bu Jamilah dan pak Abdul sampai di pintu gerbang.
” Laila bapak sama ibu pulang, assalamualaikum” seru pak Abdul.
" Assalamualaikum"
” Waalaikumsalam” jawab Laila, dan Yusuf Rizky juga pergi untuk mencarikan angkot untuk ayah dan ibunya. Laila terus menangis dengan kepala menunduk dan Yusuf menundukkan tubuhnya melihat kedua mata Laila banjir. Laila membuang muka dan malu melihat Yusuf seperti itu.
” Kamu pasti merindukan bapak sama ibu, nanti insya Allah aku akan ajak umi Laila menjenguk orang tua umi" ucap Yusuf dan Laila menatapnya.
” Abi serius?”
” Insya Allah”
” Nuhun nya Abi" Laila tersenyum tapi kedua matanya masih basah. Yusuf menarik ujung sorbannya dan mengusap air mata Laila perlahan-lahan. Laila dua dan menatap Yusuf lekat.
Keduanya melangkah bersama dan Yusuf akan menganggarkan Laila ke rumah.
” Abi apa aku boleh latihan memanah dan berkuda?" Laila melirik Yusuf disebelahnya sekilas.
” Umi mau?” Yusuf melangkah sambil terus menatap istrinya dengan kedua tangannya ke belakang.
” Iya, apa boleh?” Laila berharap suaminya mengizinkan.
****
Di tempat pacuan kuda, Laila duduk di hadapan dengan membelakangi suaminya yang sedang menarik-narik tali kuda agar kuda terus berjalan. Laila bisa merasakan hembusan nafas kasar dan aroma tubuh Yusuf dalam jarak sedekat itu. Yusuf yang melihat Laila menoleh padanya juga menatapnya, berulang kali tatapan keduanya bertemu dan sama-sama malu. Pacuan kuda sepi karena sudah sore dan pengunjung sudah pulang. Tertinggal Laila dan Yusuf, Yusuf meminta semua santri yang mengurus pacuan kuda untuk pulang lebih cepat. Dia tidak mau posisi dirinya dan Laila di atas kuda menempel menjadi bahan tontonan.
” Abi pelan-pelan aku takut jatuh" Laila mencengkram kuat lututnya.
” Sudah ya?" Yusuf mengajak Laila untuk pulang.
" Sebentar lagi" Laila tersenyum tipis dan menyenderkan kepalanya di dada suaminya itu. Yusuf terdiam dan kuda pun berhenti berjalan. Laila menoleh karena suaminya malah berhenti.
” Abi kenapa?"
" Tidak apa-apa" Yusuf kembali menarik tali dan kuda kembali melangkah.
Laila terus menoleh ke belakang menatap wajah suaminya sedekat itu, Yusuf melihat jalan dan sesekali melihat Laila yang terus menatapnya.
” Leher umi sakit nanti" kata Yusuf dan Laila kembali menatap lurus ke depan. Kuda melangkah putar balik, sudah sore dan Yusuf sudah harus ke mesjid. Sesampainya di depan kandang kuda. Yusuf turun duluan Laila tidak bisa turun. Naik juga karena Yusuf mengangkat tubuhnya.
” Abi aku gak bisa turun Abi" Laila menggerakkan kakinya seperti anak kecil yang sedang merengek. Yusuf tersenyum dan mengulurkan tangannya. Laila meraih tangan Yusuf dan menggenggamnya kuat. Yusuf merangkul pinggang Laila dan menariknya, Laila melepaskan genggaman tangannya dan berpindah dengan berpegangan pada bahu kekar suaminya itu. Laila akhirnya turun dan berjinjit dengan tangan masih di kedua bahu Yusuf dan Yusuf masih memeluk pinggangnya.
” Kenapa Abi tinggi sekali? aku pegal berjinjit” kata Laila dan Yusuf melepaskan pelukannya dan Laila melepaskan bahunya.
” Mungkin umi Laila yang terlalu pendek" kata Yusuf grogi dan menarik tali kuda untuk dia bawa ke kandang, Laila cemberut mendengar ucapan suaminya.
” Abi aku masih 16 tahun, Abi lihat saja nanti aku akan lebih tinggi dari Abi" Laila terus melangkah mengikuti suaminya.
” Tapi kalau perempuan lebih tinggi dari laki-laki tidak lucu" sahut Yusuf menggoda.
” Benar juga" Laila berbisik.
Yusuf yang mendengar Laila berbisik seketika tertawa kecil
tp y di novel ini memang yg salah si karakter Maryam ini
padahal bacanya dah berkali-kali masih ajha 😘😘😘😘