Pengumuman! sedang masa di revisi dari bab 85
Maaf, atas ketidaknyamanannya, mungkin akan ada pengubahan jalan ceritanya, terima kasih
Bagaimana jadinya ketika seorang wanita Mafia bertukar tubuh dengan seorang gadis SMA yang merupakan kekerasan sekolah, tak hanya itu gadis itu juga merupakan putri dari cinta pertamanya? Akankah dia bisa menjalani kehidupan itu? Dan membantunya membalas dendam pada orang-orang yang telah menyakitinya? Simak kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xianyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08
Sakitnya Laila membuat semua orang bertanya-tanya, padahal kemarin biasa-biasa saja. Tapi setelah mengantar pulang Dania, perempuan itu tiba-tiba jadi jatuh sakit.
Tak bisa di pungkiri, sakitnya laila memanglah karena perbuatan Ruksa, tapi ia bersumpah bahwa di tak meracuni Laila bahkan untuk setetes pun,
Sebab, penyebab sakitnya Laila yang sesungguhnya adalah karena Ruksa berpura-pura menjadi hantu dan mengagetkannya secara tiba-tiba.
Tapi ia tak pernah menyangka bahwa perbuatan jahilnya akan membuat gadis itu jatuh sakit.
Padahal awalnya ia hanya ingin membuat Laila jera saja, tak kurang dan tak lebih.
Meskipun begitu ia tak menyesali perbuatannya, ia bahkan mengabaikan tatapan- tatapan aneh yang mengarah padanya. Karena saat ini ia harus fokus menyelesaikan ulangan itu agar dirinya bisa segera makan dan mengisi perutnya. Apalagi menu hari ini adalah ayam goreng, makanan favorit dirinya
Karena semua soal itu pernah ada saat dirinya masih berada di bangku SMA dulu, terlebih lagi, dulunya Ruksa merupakan salah satu murid terpandai dan pelajaran matematika adalah salah satu keahliannya, dengan lancarnya tangannya mengisi semua soal di kertas jawabannya. Dan menjadikannya sebagai siswi pertama yang menyelesaikan ulangan tersebut, membuat seisi kelas tercengang.
Bahkan tanpa di sadari ada seorang siswi yang menatapnya dengan penuh kebencian. Tentunya Ruksa sendiri menyadari hal tersebut namun dia tak peduli karena yang ia pedulikan sekarang adalah mengisi perutnya dengan daging ayam.
Dengan santainya ia berjalan keluar kelas dan pergi menuju kantin, dimana di sana hanya terdapat beberapa siswa saja.
Seakan dunia milik sendiri, ia begitu lahap memakan potongan daging ayam goreng itu hingga mulutnya penuh-penuh.
Di selanya makan, ia mengirim beberapa pesan teks singkat pada Dania, menanyakan kabar tentangnya, dan juga tentang Si malaikat maut, apakah dia datang mengunjunginya atau tidak? Dan juga bagaimana perkembangan latihan bela dirinya? Apakah lancar atau tidak?
Kepala Ruksa mangut-mangut membaca teks balasan dari Dania. Ia kemudian membalas chat dengan memuji kepandaian gadis itu karena mampu beradaptasi dengan kehidupannya dengan waktu singkat, padahal dirinya kesulitan menyesuaikan kehidupannya yang baru ini, terlebih lagi saat dirinya berada di dekat Ruslan membuat dadanya terasa sesak
Sampai detik ini ia begitu sulit menekan perasaannya
Saking fokusnya Ruksa berbalas chat dengan Dania, membuatnya tak menyadari bahwa sejak tadi ada yang memanggil namanya berulang kali, hingga sebuah tangan menghentikan langkah kakinya
" Ada apa? " tanyanya sedikit bingung.
Seorang siswi dengan name tag Yuli itu menyodorkan sebuah dompet lusuh yang merupakan milik Dania yang sekarang adalah milik dirinya.
" Oh my god, Thank's yah. " Ucapnya, lalu berjalan meninggalkan Yuli.
Namun langkah Ruksa kembali terhenti, tatkala tangan Yuli menahan kepergiaannya seraya mengatakan bahwa dia ingin menjadi temannya.
Teman?
Ruksa pun terdiam sejenak, netranya menatap siswi tersebut dari atas sampai bawah berulang kali.
Wajahnya terlihat biasa saja, tapi karena memakai aksesoris branded membuatnya terlihat sedikit terlihat modis.
Salah satu tangan Ruksa memangku dagunya, menimbang-nimbang untuk menerimanya. Karena terlihat jelas bahwa gadis di depannya ini memiliki maksud lain seperti yang Laila sebelumnya.
Hanya saja Laila lebih pandai berakting dari pada Yuli yang sangat kentara sekali dengan niat terselubungnya.
" Aku sudah melihat apa yang dilakukan Queensha pada mu, ma-maksudku video itu, meski keluargaku tak sekaya mereka, tapi ku rasa aku bisa membantumu sedikit. " Terangnya dengan nada sedikit gugup.
" Baiklah, kalau begitu kita berteman, YULI. " Timpalnya seraya menyunggingkan salah salah satu bibirnya.
Setelah mendapat jawaban yang diinginkannya, gadis itu tampak sangat kegirangan.
Meski tak tahu siapa dalang di balik punggung Yuli. Namun untuk sekarang, Ruksa memilih mengikuti rencana orang itu.
Sejak ia mengiyakan untuk menjadikan Yuli sebagai temannya, gadis itu tak pernah meninggalkannya bahkan dia tak membiarkan Ruksa menjauh darinya walaupun itu hanya berjarak satu meter saja.
Membuat Ruksa mendengus, sehingga ia tahu apa yang akan terjadi padanya selanjutnya .
" Oh iya ku dengar kemarin, kamu habis di anterin sama Laila yah? " tanyanya sekedar basa-basi.
Keduanya berjalan kaki dengan tangan Yuli yang memegang tangan Ruksa dengan erat.
Terlihat jelas dari air muka gadis itu yang tampak sangat ketakutan setengah mati, takut. Jika Ruksa lepas dari genggamannya .
" Iya, kenapa? " tanya balik Ruksa
" Tidak, hanya saja kamu sangat hebat. " pujinya.
Salah satu alis Ruksa terangkat sebelah. Hebat? Hebat dari mananya? . Batinnya.
" Oh iya, karena Laila tidak masuk hari ini, bagaimana kalau kamu ikut dengan ku? kebetulan papaku yang menjemput ku hari ini, dan juga kita bisa memintanya untuk mentraktir kita makan enak. " ajaknya dengan penuh harap.
" Sungguh? Apa tidak masalah? Kita kan baru kenal. " timpal Ruksa dengan nada terkejut.
" Tapi kitakan teman. " timpal Yuli kembali.
Teman, Ruksa mendengus di dalam hati. " Kalau begitu terima kasih dan maaf sudah merepotkan mu. Teman. "
" Tentu, tapi tak masalahkan kalau kita jalan kaki sebentar, soalnya papaku bilang akan menungguku di kedai Metromini. "
" Tak masalah, lagi pula aku sudah terbiasa jalan kaki, jika hanya sampai di sana sih, itu mah kecil."
Yuli pun tersenyum kegirangan.
*
" Yuli? Bukankah kita akan menuju kedai Metromini? Kenapa kita malah ke sini? " Tanya Ruksa, sebab jalan yang mereka tempuh itu bukanlah jalan menuju kedai Metromini melainkan menuju gedung olahraga yang sudah lama tak terpakai.
Tanpa menggubris pertanyaan dari Ruksa, Yuli terus menyeret tubuh Ruksa dengan langkah kaki yang semakin tergesa-gesa.
" Aw sakit, bisa pelan nggak sih nggak usah terburu-buru! " rengek Ruksa yang mulai tak tahan dengan genggaman Yuli yang semakin kesini semakin erat saja, membuatnya meringis kesakitan.
Meski pun Ruksa sudah beberapa kali meringis kesakitan. Namun gadis di depannya itu tak menggubrisnya sama sekali.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di dalam gedung tersebut, tampak ada enam orang anak laki-laki yang sama-sama memakai seragam yang memiliki logo yang sama dengan seragam yang dikenakan oleh Ruksa.
Ke enam siswa itu tampak tengah menunggu kedatangannya seraya menyesap sebatang rokok di tangan mereka masing-masing.
" Kak Roland! Orangnya sudah aku bawa. Aku boleh pergi kan? "
Ujar Yuli dengan nada tinggi.
Pria yang bernama Roland pun menoleh, pria itu memiliki tinggi badan sekitar 173cm, fitur wajahnya tampan namun terkesan brengsek
Meski dia masih terbilang masih anak SMA, tapi tak bisa di pungkiri, bahwa Roland memiliki tubuh yang seksi.
Pria itu berjalan sombong, tangannya terangkat ke atas yang menandakan bahwa Yuli boleh pergi.
Tanpa membuang kesempatan, Yuli pun bergegas pergi meninggalkan Ruksa bersama Roland dan kelima temannya.
" Yuli! Tunggu! Jangan tinggalkan aku. " Teriak Ruksa seraya mencoba menyusul Yuli, namun sayangnya sebuah tangan besar menggenggam erat tangannya, bahkan salah satu tangannya memeluk tubuhnya dengan agresif
" Gadis secupu lo ternyata punya body oke juga. " bisiknya serata menjilat daun telinga Ruksa