"Ini milikmu sekarang, jangan biarkan orang lain merenggutnya darimu."
Setelah kakek itu berkata demikian, bum! Tiba-tiba aku menjadi penyihir terkuat sedunia yang dibenci semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon queenrexx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rekan
Aku menonton dengan bingung tatkala Zack mencengkram erat pergelangan tanganku. Wujudku begitu ... uh, adakah kata lain yang bisa mendeskripsikannya selain mengerikan? Karena kalau tidak, aku mengerikan. Sepuluh kali lebih parah.
Bukannya aku tidak tahu soal itu; tentu saja, aku sadar sepenuh hati betapa sihir hitam telah mengubah fisikku sedemikian rupa, dan aku membenci kesadaran itu setengah hidup.
Kupikir aku melihat sekilas kegirangan di balik mata Zack yang masih mengaktifkan vectors. Perasaan itu mencurigakan, anehnya juga membuatku lega di saat bersamaan karena setidaknya, kali ini perubahanku tak dianggap sebagai ancaman.
Pak Albert mengamatiku lamat-lamat sebelum kemudian meminta Zack supaya segera mengembalikanku (kami tidak tahu bagaimana sihir hitam dapat menangkal vectors, tetapi kemungkinan terburuk pasti selalu ada). Ia menurutinya tanpa banyak bicara. Dalam sekejap, jiwaku menyatu dengan tubuhku setelah beberapa patah kata terucap dari mulut Zack.
Hal selanjutnya yang kusadari adalah aku terjatuh di tangkapan Zack. Aku memaksakan selarik tawa garing. "Itu cepat sekali."
Zack membiarkanku berdiri lalu mengangkat bahu. "Yah, kita bisa bereksperimen lain kali." Kilat girang barusan kembali muncul meski sihir vectors telah lenyap dari netranya.
Aku bergidik. Sesuatu tentang cara Zack memandang perubahanku membuatku penasaran.
"Kerja bagus, Zack. Mulai sekarang, Varrel bisa percaya kalau kau bisa jadi pengawas yang baik," ujar Pak Albert, satu tangannya menepuk bahu Zack. "Sihir hitam bisa keluar kapan saja ... meskipun Varrel sendiri tak berniat melakukannya."
Bulu kudukku meremang. Pemilik sihir hitam sendiri saja belum tentu bisa mengendalikannya, bagaimana seorang Zack Avcend mampu menjamin keamanan Asrama Xylone beserta isinya? Lupakan soal vectors, atau level tingginya sebagai penyihir, atau potensi lain yang cowok itu miliki. Statusnya masih sama denganku: murid.
"Jangan risau," ucap Zack seolah membaca pikiranku. "Itu sihirmu; kau pasti bisa mengendalikannya."
Salah satu mataku berkedut. Aku hendak berkata, "Bukan, ini punya kakek-kakek yang kutemui di jalanan," tetapi yang terucap justru, "Ya, aku tahu."
"Baiklah, kita sudahi dulu pelajaran hari ini. Kembalilah nanti satu jam usai sarapan." Pak Albert menjentikkan jari, kontan menghilangkan tumpukan buku tebal dan berlembar-lembar kertas di atas mejanya dalam satu kepulan asap biru.
Zack dan aku memang datang satu jam lebih awal ke kelas kami, belum sarapan apa pun kecuali teh yang kuseduh di kamar asrama. Entahlah dengan Zack. Jadwal pagi memang menyebalkan.
***
"Pagi, Varrel." Fiora menyapa datar begitu aku menghampirinya dan Sheila di meja ruang makan. Sarapan hampir dimulai.
"Pagi, Fiora, Sheila," balasku seraya mengambil posisi duduk.
Sheila mengangguk riang. Seceria dan secerah dirinya yang biasa. "Bagaimana kelasmu? Apa ada kemajuan?"
Aku mengedikkan bahu. "Kadang sial, kadang tidak. Keberuntunganku masih banyak rupanya."
Sheila tertawa renyah. "Kau beruntung bisa berduaan bersama seorang prodigy tampan di angkatan kita." Kalimatnya membuatku tersedak ludahku sendiri. Pertama-tama, kupikir maksudnya adalah Pak Albert—lalu aku teringat akan eksistensi Zack. "Bisakah kau fokus dengan dia berada di dekatmu?"
"Ya?" Aku menjawab bingung, memikirkan momen apa saja yang bisa mengalihkan fokusku selain sihir hitam yang sewaktu-waktu bisa membunuh banyak orang. "Kenapa tidak?"
Tampaknya, Fioralah yang paling mengerti kebingunganku. Ia menggeleng ke arah Sheila. "Kau tahu, Varrel punya hal lain yang jauh lebih penting buat dikhawatirkan." Dia melirikku.
Aku mengangguk menyetujui sementara Sheila menggaruk kepalanya, gagal paham. "Yah, aku berharap ada gosip seru di antara kalian. Semua orang sudah merumorkannya."
"Rumor macam apa?" Aku tak tahu kenapa aku bertanya.
"Kedekatan kalian berdua." Fiora yang menjawab sambil bersedekap. "Hubungan lebih dari teman ... hm, apa lagi, ya? Ah, beberapa berpikir kau pura-pura tidak sanggup mengendalikan sihir hitammu agar bisa menghabiskan banyak waktu dengan Zack."
Siapa pun yang menyebarkan rumor terakhir, dia bego. Aku mendengus mendengar penuturan Fiora. "Konyol sekali. Aku sama sekali tidak berniat mendekatinya buat alasan apa pun." Bersandar ke kursi, aku menghela napas berat. Mataku menelaah keberadaan Zack di antara keramaian yang menyesaki ruang makan. Cukup mudah menemukan kepala pirangnya di bagian tengah ruangan, tepat di meja di mana anak-anak populer—setidaknya, aku menyimpulkan demikian—berkumpul.
Mendekati Zack berarti mendekati teman-temannya. Populer. Aku bergidik membayangkan diriku dikerumuni banyak orang setiap waktu. Tidak deh, terima kasih. Mungkin, hanya mungkin, aku lebih memilih ditakuti ketimbang disukai.
Pemikiran itu membuatku tersenyum di balik sendok makan yang kudekati ke mulutku. Ditakuti karena ... ini? Cahaya hitam memercik di antara kelima jariku. Aku mengernyit, refleks mengepalkan tanganku agar sihirnya lenyap sebelum menjadi berbahaya.
Dilarang menggunakan sihir di ruang makan, terutama untukmu, Nona Penyihir Hitam.
Aku hampir tersedak makananku sendiri begitu mendengar suara familier Zack di pikiranku. Kepalaku menoleh, lekas mencari sosoknya dengan perasaan bingung luar biasa. "Ha—?" Aku melongok bagai orang bego.
Zack melempar senyum jail, seolah mengetahui sesuatu tentangku yang justru tidak kuketahui.
Aku melongok lebih lama. Masih tak mengerti apa-apa.
Hingga sebuah kesadaran menghantamku seperti godam raksasa: kami bisa mengirim telepati kepada satu sama lain.
Dilarang menggunakan sihir, ulang Zack dalam benakku.
Aku memaksakan senyum kecil. Ini memalukan. Padahal belum lama ini Pak Albert baru membimbing kami mempraktikan telepati, ruang memoriku sudah tidak muat saja. Yeah, tentu, balasku.
Kemarilah, Varrel.
Maaf? Aku menalengkan kepala.
Zack menepuk-nepuk kursi kosong di sebelahnya. Duduk bersamaku, katanya. Aneh. Aku yakin ada seseorang yang menempati kursi itu tadi.
Kenapa? Kutanyakan keherananku.
Entah, tidak ada alasan. Nada suaranya mengindikasikan keinginan kuat. Hampir terkesan ... memaksa. Mengapa dia tidak mengajakku duduk bersamanya sejak awal alih-alih sekarang saat aku sudah jelas-jelas duduk dengan yang lain?
Apakah karena sihir hitam yang kuaktifkan membuatnya waspada?
Kemungkinan tersebut, secara janggal, memancing kekesalan dalam diriku. Aku menahan diri agar tidak menggertakkan gigi sebelum menjawab, Oke. Aku duduk di sana.
Itu bukanlah pilihan terbaik yang pernah kubuat.[]
habis baca ini hatiku kosong serta berat
bener-bener ilang begitu aja ya, Varrel
huhu
mau lanjut simak lagi thor....sepertinya seruuuuuu nih story..🔥🔥🔥❤
habis?😳
masa habis Thor 😳
terus? gimana lagi ini? 😂
tarik nafas panjang..
beneran mati Verrel nya Thor?
itu sihir hitamnya belom ilang gitu 😳
agar dia menjadi kuat sendiri begitu?
aslinya mah dia gak mau tersaingi kan Thor
kreji Napa Thor 😐
kreji up Thor
terjawab sudah siapa yang memberi Zack energi